
Chapter 1
😴😴😴
Ambang batas kemampuan bertahanku dari pembullyan yang dilakukan mereka, tidak dapat bertahan lama. Lewat beberapa bulan setelahnya aku memberitahukan semua pada ibuku, ibuku yang menganggap itu biasa awal-awal begitu melihatku menangis, jadi sedikit tak enak hatinya. Ia membawaku ke rumah Zura dan kulaporkan semua perbuatannya pada ibunya..., Ketika ia melihatku ia malah melarikan diri entah kemana lewat jendela. Beberapa hari kemudian hal itu didengar oleh guru, mereka menjanjikan keselamatanmu. Setelah itu semua terasa mereda, walau pun diasingkan aku tak mengalami hal yang buruk lagi, dan dia tidak menggangguku walau cemo'ohan nya masih sedikit ia gunakan, bahkan ada waktu dimana ia berubah baik dan menolongku hatiku yang telah benci padanya tidak bisa diubah, bahkan walaupun ia menyesalinya. Orang tua ku yang sibuk membuatku jarang datang ke tempat les, karena aku lebih suka membantu mereka ketimbang les, beberapa bulan berikutnya aku memutuskan berhenti.
Suatu hari, ketika aku jalan bersama ibuku untuk keperluan kedai, di jembatan tikungan jalan didekat rumah Zura, aku melihatnya bersama Vani yang tak lain salah adik sepupunya sedang bersama nya. Aku heran kenapa ekspresi Zura kala itu begitu merah wajahnya. Aku hanya jalan tanpa melihat mereka , ibuku menyuguhkan senyum ramahnya. Aku hanya tidak menyangka perkataan gadis kecil disebelahnya menjadikan akar permasalahan yang begitu rumit dari sebelumnya.
" Bibi..., Bolehkah aku mengatakan sesuatu tentang putrimu...?!" Dengan senyum manis yang mengundang seribu tanda tanya itu ." Bolehkah aku mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa kakang ku ini begitu menyukai putrimu..." Timpalnya dengan ekspresi wajah yang sama.
" HM... Tanyakan sendiri pada anak bibi ya..." Ucap ibuku santai.
Kulihat raut wajah Zura yang ketika itu memerah, layaknya kepiting rebus.
" AKU....? Bagaimana aku bisa menyukai anak nakal seperti dia... Melihatnya saja aku sangat marah..!!" Tegasku. Wajahnya seketika berubah agak shock dengan ucapannya.
__ADS_1
Tak lama kami pun meninggalkan mereka, mamaku tidak mengatakan apapun, kami hanya beranjak pergi dari mereka. Sesampainya di rumah mamaku berkata
"Chi jangan terlalu membenci seseorang nak..., Kau tau nak.. terkadang seseorang mengekspresikan perasaan untuk dekat dengan orang lain, tidak selalu seperti apa yang mama ajarkan padamu... Sopan... Lemah lembut... Dan ucapannya ditata, seperti anak laki-laki kecil tadi... Mama bisa merasakan kalau sebenarnya dia hanya ingin menjalin pertemanan dengan mu... Hanya saja caranya sedikit berbeda... Kau harus mengerti nak..." Ucap mama sambil tersenyum padaku...
Aku hanya tertegun dengan kata-kata mamaku. Sebenarnya jika dipikir ulang perkataan mama ada benarnya, Zura hari itu juga tidak sepenuhnya menjahili, ada waktu dimana dia mencoba menemaniku disaat teman-teman ku menjauhiku karena aku jarang les, dan selau duduk berdekatan denganku. Perasaan benciku padanya pun runtuh perlahan meskipun masih tersisa sedikit. Aku tidak tau itu doa atau ucapan kata-kata ibukulah yang nantinga akan menjadi bumerang tersakit yang menyayat hatiku, karena perlahan-lahan mataku slalu tertuju padanya... Dan jantungku selalu sakit karena ia selalu memberontak ketika melihatnya. Tiap berjumpa dengannya, aku kerap kali mendengar kata dari buku yang ku baca, maupun kata orang yang sedang jatuh cinta perasaan akan seperti diguyur air dan tersambar petir, bahkan suhu tubuhmu akan mendidih laksana air panas yang menguap. Apakah kau tau...
"kenapa harus aku yang memiliki perasaan seperti ini, dari sekian banyak orang mengapa harus dia...!!! Apakah itu karma yang berujung suka" itulah yang selalu terlintas di pikiranku.
Ketika itu tahun berlalu... aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dimana hal itu adalah cerita hidup yang terberat bagiku. Keluarga ku mengalami kesusahan, itulah mengapa aku harus Sekolah di tempat Buangan, setidaknya begitulah kata orang. Namun aku bersyukur masih sekolah, setidaknya itu tak jauh dari rumah dan menghemat biaya. Takjubnya walau demikian aku masih menemukan teman yang memukau ia punya gingsul pada giginya alis mata dan bulu matanya tampak panjang, wajahnya sendu dan kalem, kulitnya berwarna kuning Langsat, tubuhnya kecil dan ramping, dan ia mempunyai tutur kata yang lemah-lembut, dalam berpakaian dia selalu rapi dan anggun, bernama Laila. Yeah... Dirimu dapat membayangkan bagaimana cantiknya dia dan menjadi perhatian, hal itu jauh berbanding terbalik denganku, kendati demikian karena sejak kecil aku peka dengan gestur wajah seseorang dan bisa membaca apa yang terihat dengan perilakunya, aku mengerti Bagaimana liciknya Laila, dalam mendapatkan hati guru dan pandai menjilat orang yang disenanginya, dan bagaimana tidak sukanya ia serta memandang sebelah mata dan meremehkan aku serta teman-teman ku. Pernah ketika kulihat ia merasa terancam dengan murid baru yang tak lain berteman baik dengan ku, dan pesonanya tak kalah jauh darinya, bagaimana licik dan cerdiknya ia memecah belah hubungan kami. Aku tidak menyangka Laila lah yang nantinya akan menyebabkan hatiku retak, bagaikan kaca yang dihantam sebongkah batu, dimana hal itulah yang menjadikanku rendah diri, dan aku terus menunduk meskipun orang banyak menyanjungku hingga kini.
Hari itu aku ingat jelas pelajaran sore yang tampak membosankan namun langit tampak mendukung dengan sinarnya serta awan yang berseri-seri tampak putih keabuan sedang melintas di langit-langit. Terdengar ada yang mengetuk jendela samping kelas, tempat duduk anak laki-laki.
"Dik Duk duk" suara ketukan tangan itu berbunyi.
"Ah... Ternyata kau Zura... Ku kira siapa....?" Jawab Ivas, yang satu kelas denganku, dan ia juga tampak menyukai Laila.
__ADS_1
"Hei bro... Laila ada...? Dari tadi kok aku tak melihatnya ya...?!" Ucapnya penasaran. Karena guru sedang keluar aku sedikit bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Hahaha... Laila sih dari tadi ga masuk bro... Kata guru yang ngabarin dia sakit tuh... Sttt kalau anaknya Cepot sih ada tuh... Duduk di pojokan" mendengar hal itu dari mulut Ivas sedikit membuatku terkejut,namun aku berusaha tenang.
"Ha... Kamu nawarin dia ke aku bro... Lalu dia sih... Di jual dipasaran aja ga laku... Udah jelek itam kurus... Dikasih aja aku ogah, jijik lah yaw " ucapnya terkekeh dengan Ivas, seraya mencemoohiku bersamaan. Ucapan itu sampai ke telingaku karena suaranya cukup keras...
Bagi seorang anak-anak yang usianya beranjak dewasa, apakah dirimu tau hal itu merupakan fase pertama kita menyukai seseorang. Hari itu jugalah aku merasakan hatiku ini serasa seperti seuntai bunga yang akan mekar perlahan, ia kecil dan rapuh, lalu tiba-tiba seorang pemuda datang menarik satu persatu kelopaknya, lalu mencabut paksa sehingga hanya tersisa batang bunga yang menunggu tunas baru... Aku khawatir... Walaupun tunas baru masih bisa tumbuh karena batangnya bercabang, kejadian seperti ini dapat terulang lagi, dan dilukai oleh orang yang sama karena hatiku kecilku telah menempat untuknya... Rasanya hanya mendengar kata itu sakit... Hancur... Sedih... Tersiksa... Dan bagaimana begitu menJIJIKkannya aku di depan matanya... Jalan tengah yang aku pilih di kemudian hari adalah mengunci hati rapat-rapat, bagai dikunci dengan gembok beras dan kokoh laksana karang yang diterjang ombak laut serta ditutup dengan lapisan baja yang tak terhitung jumlahnya, kemudian kuncinya ku telan kusimpan di dasar hati sehingga tak ditemukan siapapun... Jikapun ketemu seseorang... ia harus tega menguak luka dalam itu.
Perubahan ku yang dirasakan oleh keluargaku maupun orang yang mengenal diriku mulai terlihat... Aku tak lagi banyak bicara... Terlebih dengan orang yang tak kenal dekat, jarang berinteraksi dengan orang lain dan menutup rapat diriku. Aku memilih melakukan apa yang kusenangi dan menyegarkan pikiran ku, meski begitu aku berpegang kokoh dengan apa yang ingin kucapai kedepannya, kata orang-orang yang kadang menyakitiku, kuibaratkan diriku sebagai orang tuli.
Namun sialnya seberapa tangguhnya aku menghindari Zura. Ucapan yang ia lontarkan bukan apa-apa baginya, ia selalu tetap rajin menyapaku sesudahnya walaupun diriku saat itu tidak meladeninya, dirinya yang kuanggap bagai angin dan aura kebencian ku yang kian menumpuk ... namun ia selalu bisa menemukanku dalam keadaan gelap meski diriku selalu membuang muka dan penolakan ragaku terlihat jelas di matanya... Terlebih orang-orang sekitar ku yang kerap kali membicarakan dirinya, membuatku terpaksa menahan perasaan amarahku.
Beberapa tahun mendatang setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas. Aku Bertekad meneruskan pendidikanku di Universitas yang cukup ternama di Indonesia, di Pulau Sumatera bagian Barat . Aku jarang pulang ke desa, walau pulang sekalipun aku sangat menghindari pertemuanku dengan Zura dan bisa terbilang nihil baginya melihatku. Aku semakin jarang mendengar kabarnya karena kesibukanku, begitu lulus aku langsung mendaftar sebagai guru Seni di beberapa SMP salah satunya tempat paman ku bekerja sebagai honor, telaknya lumayan jauh dari desa meskipun masih di salah satu wilayah Sumatera Barat yaitu kabupaten Agam. Aku hanya mendengar kabar terakhir Zura sudah menjadi pengusaha jual beli kelapa sawit yang cukup sukses di desa. Cukup kuberi tahukan kepadamu kelapa sawit di tempat kami tinggal kawasan Pasaman merupakan mata pencarian utama disana, kebanyakan orang yang punya perkebunan kelapa sawit merupakan orang kaya, serta memiliki hidup yang berkecukupan, tidak heran jika ditempat tinggalku banyak orang-orang yang menyuruh anak mereka melanjutkan usahanya dalam perkebunan sawit, dari pada harus sekolah tinggi.
Namun orang tuaku tidak demikian adanya, mereka ingin aku mengembangkan sayapnya setinggi-tingginya meskipun dalam keadaan kekurangan, itulah kebanggaan yang terbesar kurasakan dari kedua orang tuaku. Menjelaskan beberapa bulan kemudian aku mendengar ia telah bertunangan dengan seorang gadis bernama Viona, rumahnya masih di satu desa dengan kami. Naas... Takdir tuhan yang menimpa umat memang tak bisa dihindari ketika waktunya tiba manuasia tak bisa mengelak, Zura terkena kecelakaan mobil yang cukup parah di bagian kepalanya. Waktu itu ibu segera mengabarkannya padaku, mungkin karena ibu cukup tau dimana hati anaknya berlabuh. Anehnya bagaimanapun ucapan kasar yang pernah ia berikan padaku, bagaimanapun caci makiannya ia lontarkan padaku, hatiku masih bisa menyisihkan bisikan tangisan di mataku.
__ADS_1