
Pagi ini, semua orang terlihat sarapan dengan tenang. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Cansu maupun keluarga Lefrand lainnya. Untuk pertama kali dalam sejarah kehidupannya, Arsen ingin tertawa lepas di meja makan, melihat gerak gerik Cansu membuatnya ingin menyudahi sarapannya.
Dia gadis yang unik, menyebal. Tapi, manis. Batin Arsen sambil meletakkan sendok dan garfu di piringnya.
"Kenapa, apa itu bukan selera tuan muda?"
"Kau makan seperti gadis yang sedang malakukan diet ketat. Apa itu benar?" Cansu mulai membuka suara di antara senyapnya udara, dia memang tipe gadis yang selalu blak-blakan. Namun buruknya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya mengingat nyonya Begum sedang memperhatikannya.
Arsen yang di ajak bicara tampak diam, ia sedang mencerna keadaan yang ada. Sekarang, ia justru sedang mengkhawatirkan Cansu, ia yakin Mommy-nya tidak akan tinggal diam.
"Mom, aku sudah selesai. Aku akan kembali kekamar." Arsen berdiri dari kursi yang ia duduki sejak lima belas menit yang lalu. Nyonya Begum yang tadinya berniat untuk mengingatkan Cansu, kini beralih menatap putra tampannya.
__ADS_1
"O iya, Mom. Hari ini beberapa rekan kerja ku akan berkunjung, mereka bilang ingin menyapa Mommy." Sambung Arsen lagi.
"Iya, itu bagus." Balas Nyonya Begum singkat. Sedetik kemudian ia juga menyusul putranya untuk berdiri, menyudahi sarapannya.
"Kalian lanjutkan sarapannya, aku akan melihat kondisi Daddy kalian sebelum berangkat ke kantor." Ujar Nyonya Begum sembari menatap ketiga buah hatinya secara bergantian, tatapannya terhenti pada Cansu yang terlihat masih menikmati sarapannya.
"Dokter Cansu Abigail, kita harus bicara. Ada hal penting yang harus kita selesaikan sebelum anda mulai bekerja. Dengan begitu saya bisa merasa tenang meninggalkan suami saya bersama anda." Nyonya Begum kembali menunjukkan kuasanya, ia bertingkah seolah Cansu hanya dokter amatiran.
"Iya, tentu saja." Jawab Cansu singkat. Ia menyudahi sarapannya kemudian berjalan mengikuti langkah nyonya Begum menuju ruang kerjanya yang terletak tak jauh dari tangga. Kepergian Cansu dan nyonya Begum tak lepas dari tatapan Arsen, ia takut Mommy-nya yang pemarah akan menunjukkan kuasanya sehingga dokter yang datang akan memutuskan pergi di pekan pertama mereka tinggal di mansion Lefrand.
"Entahlah!" Jawab Arsen cuek.
__ADS_1
"Semoga saja kak Cansu tidak memutuskan untuk pergi, aku menyukainya." Sara berucap sambil mendekati Arsen. Ia menatap kakak tampannya dengan tatapan takjub.
"Kakak? Kalian memanggil wanita itu kakak? Sejak kapan? Aku pikir kalian juga tidak menyukainya sama seperti Mommy yang bersikap dingin padanya." Arsen bertanya karena ia merasa heran, tidak biasanya kedua adik gadisnya dekat dengan seseorang.
"Kenapa memangnya?" Sara kembali angkat suara.
"Kak Cansu gadis yang manis, aku menyukainya." Sambung Ayswa tanpa melepas tatapan dari wajah Arsen yang terlihat tidak percaya.
Manis? Hah! Dia bahkan tidak terlihat manis walau dilihat dari sisi manapun. Dia seperti petasan yang siap meledak di waktu tak terduga. Batin Arsen sambil menatap kedua adiknya secara bergantian.
"Terserah kalian saja, aku akan kekamarku." Arsen tidak ingin mendengar ucapan sanjungan dari kedua adiknya untuk Cansu lagi. Sekuat apapun orang menyanjung Cansu, untuk Arsen itu terdengar bagai angin lalu yang tidak akan membekas di hatinya, kesalahan patal Cansu yang telah berani melompat kedalam kamar Arsen di malam pertanya di mansion Lefrand telah menghapus nilai positif seorang Cansu Abigail dalam pandangan Arsenio, sampai kapanpun pendapatnya tentang Cansu tidak akan pernah berubah.
__ADS_1
Walau aku tidak menyukainya, aku berharap petasan itu tidak akan menangis disudut tak terlihat gara-gara ucapan Mommy. Arsen bergumam di dalam hatinya sembari berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
...***...