
Dua jam berlalu sejak Cansu dan Arsen duduk diam di mobil, kini kedua makhluk indah itu sedang berada di pinggir jalan. Cansu mengeluhkan kalau dirinya kehausan, mau tidak mau Arsen harus berhenti di pinggir jalan hanya untuk membeli air. Tanpa Arsen sadari, Cansu mengikutinya dari belakang.
"Bu ai..." Ucapan Arsen menggantung di udara saat seseorang tanpa sengaja menabrak punggungnya.
Perlahan, Arsen berbalik. Dan mendapati Cansu sedang mengusap keningnya. Pria itu tersenyum. Entah Cansu kesakitan atau tidak, Arsen tidak tahu itu. Yang ia tahu Cansu terlihat seperti kelinci menggemaskan saat gadis itu mengusap keningnya.
"Kenapa kau tersenyum?" Cansu mengurai tanyanya, ia menatap tajam pada sosok rupawan di depannya, Arsenio Lefrand.
"Kepala ku sakit!"
"Aku merasa seperti sedang menabrak kayu, dan bukan punggungmu." Cicit Cansu yang di sambut oleh gelak tawa dari Arsen, percaya atau tidak, untuk pertama kalinya Arsen tertawa selepas itu di depan orang asing, dan orang asing itu adalah Cansu Abigail.
"Tuan dan nyonya pengantin baru ya?" Penjual pinggir jalan itu mulai bertanya melihat intraksi manis pasangan berbeda jenis kelamin itu. Baru saja Cansu berniat akan menjawab, namun dengan cepat Arsen merangkul pundaknya.
"Iya, bu. Kami pengantin baru. Kami baru saja menikah dan sekarang aku akan menjenguk keluarga istri ku yang ada di Bandung." Arsen menjelaskan tanpa beban, membuat Cansu melotot tak percaya. Gadis itu terlalu kaget, bagaimana mungkin Arsen berbohong semudah itu tentang hubungan mereka. Bagaimana jika Malaikat mengaminkan ucapannya? Cansu tidak akan menyukainya. Kenapa? Jawabannya sangat sederhana, karena ia tidak suka pria peminum, dan Arsen secara terang-terangan menenggak minuman beralkohol itu di depannya.
__ADS_1
"Iya kan sayang?" Sambung Arsen lagi, melihat tatapan intimidasi Arsen membuat Cansu terpaksa mengiyakan. Apakah Cansu bodoh? Jawabannya mungkin saja iya karena gadis itu merasa tidak tenang jika harus membuat Arsen berada dalam masalah.
"I-iya." Jawab Cansu singkat, ia gugup, bibirnya tersenyum namun hatinya menolak keras.
"Selamat tuan dan nyonya. Kalian terlihat sangat serasi, semoga kalian di lindungi dari mata jahat." Wanita paruh baya itu mendoakan dengan tulus. Jujur, Cansu merasa bahagia. Namun ia tidak pantas untuk itu.
"Kembaliannya ambil saja, Terima kasih untuk doanya. Ayo sayang." Arsen berpamitan setelah membayar air yang ia ambil, ia menggenggam jemari Cansu dengan erat sesaat setelah mereka meninggalkan pedagang kaki lima.
"Mm! Udahan megangnya." Cansu melepaskan jemarinya dari genggaman erat Arsen.
"Kenapa harus bohong? Kan gak ada untungnya? Lain kali, aku tidak akan berbohong untuk mu." Celoteh Cansu dengan wajah datar.
Dada Cansu semakin berdebar, suara detakannya mungkin saja bisa di dengar oleh Arsen. Bukannya memundurkan tubuh kekarnya, Arsen malah menatap lekat wajah cantik Cansu, wajah yang semakin memerah.
Arsen tersenyum, ia begitu bangga karena pesonanya sanggup menggetarkan dada gadis cantik di depannya. Bagi Arsen, itu merupakan prestasi besar.
__ADS_1
"Cantik." Sanjung Arsen dengan mata berbinar, ia takjub menatap kesempurnaan peciptaan Tuhan di depannya. Kulit mulus, hidung bangir, mata yang indah dengan bulu mata letik nan hitam, gigi putih dan tertata rapi layaknya semut yang berbaris rapi. Dan satu lagi, bibir merah semerah delima.
Glekk!
Arsen menelan saliva, ia ingin meraup bibir itu, mengabsen setiap gigi yang ada dengan lidahnya. Cansu terlalu menggoda, entah kenapa jiwa kejantanannya ingin merengkuh Cansu dalam kebahagian dunia yang memabukkan, membawa gadis itu ke dalam kamar untuk saling berbagi rasa dalam kenikmatan tiada tara. Arsen telah di butakan oleh hasratnya, hampir saja ia meraup bibir Cansu, dan di saat bersamaan Cansu mulai membuka mata, melihat bibir Arsen yang semakin mendekati bibirnya Cansu langsung menempelkan botol mineral yang ada di tangannya di bibir Arsen untuk mencegah aksi nakal pria itu.
"Kau mau apa?"
"Jangan macam-macam dengan ku!"
"Kita bukan mahram."
"Dan aku?" Cansu menunjuk dirinya sendiri.
"Walau aku belum memakai jilbab, aku tahu batasanku sebagai seorang wanita lajang. Aku tahu bagaimana cara menjaga diri." Gerutu Cansu dengan mata memerah, ia kesal hingga ke tulang-tulangnya.
__ADS_1
Sementara Arsen yang tertangkap basah, sekujur tubuhnya membeku karena malu. Ia merasa bersalah karena berpikir semua wanita sama saja seperti wanita yang ia temui di sepanjang jalan yang ia lewati, menginginginkan dirinya karena uang, ketampanan, dan popularitas.
...***...