
Butuh waktu tiga jam untuk polisi agar bisa melumpuhkan delapan orang perampok yang mencoba menyandra pengunjung bank.
Bank yang tadinya rapi terlihat berantakan, kursi dan sofa hancur. Dan bercak darah mengotori lantai berwarna putih itu. Bisa di tebak betapa dahsyat perjuangan para petugas yang berjibaku melumpuhkan kawanan penjahat.
"Nona Cansu, terima kasih." Sekuriti yang pahanya di balut perban menyampaikan ungkapan terima kasihnya pada Cansu. Berkat Cansu peluru yang bersarang di paha pria itu bisa di keluarkan. Memang butuh waktu, namun semuanya bisa di kendalikan.
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban ku. Yang harus mas lakukan adalah menjaga kesehatan dan menjaga tempat ini agar tetap aman." Seloroh Cansu dengan senyuman tipis. Ia hanya ingin menghibur pria itu agar tidak merasakan kesakitan, setidaknya setelah hari yang berat senyuman masih bisa terukir di wajah mereka.
"Sekali lagi, terima kasih. Sampai kapan pun saya tidak akan bisa melupakan kebaikan nona Cansu." Ucap Sekuriti itu lagi, sedetik kemudian tim medis datang dan membawanya masuk kedalam ambulan.
Tanpa Cansu sadari, sepasang mata sedang menatapnya dengan tatapan kerinduan. Sosok rupawan itu berdiri jarak sepuluh langkah darinya, pria itu masih diam. Ia menyaksikan sikap manis Cansu.
"Bagaimana rasanya?"
"Apa itu enak?"
"Hm. Aku yakin anda kesakitan, apa aku benar? Jika anda kesakitan, maka orang lain pun sama. Tangan dan kaki ini Tuhan ciptakan agar kita berbuat kebaikan. Jadi jangan berbuat onar." Gerutu Cansu sembari mengobati tangan dan kaki pria jangkung yang tadi sempat menakutinya dengan senjata apinya.
Walau masih kesal karena mengingat perlakuan pria itu, tetap saja Cansu mengobatinya. Wajah dan tingkahnya menjelaskan kalau gadis itu belum memaafkan pria itu sepenuhnya.
"Jujur, aku masih marah pada anda. Walau seperti itu tatap saja akal sehatku tidak membiarkan ku mengumpat anda dengan kata-kata kasar." Cicit Cansu sembari mengambil lembaran berukuran telapak tangan dari dalam tas medisnya.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Aku tahu hidup anda menyedihkan, bukan berarti Tuhan membenci anda. Asal anda tahu saja, Tuhan menguji seorang hamba menurut kesanggupannya." Ujar Cansu dengan suara lembutnya, tangannya telaten membersihkan luka pria itu kemudian membalutnya.
Pria itu tampak meneteskan air mata, entah ia sedih karena mendengarkan nasihat receh Cansu atau sedang merindukan istrinya, Cansu tidak tahu itu, yang ia tahu ia sudah melakukan hal yang benar dengan mengobati pria itu.
"Setelah anda bebas dari penjara, temui aku di alat itu. Aku akan menerima anda dengan sepenuh hati untuk bekerja.
Dan ingat, jangan ulangi lagi perbuatan seperti hari ini, tidak semua orang bisa bersikap lapang dada seperti ku untuk mengobati orang yang menyakitinya. Apa anda paham?"
__ADS_1
Pria paruh baya itu hanya bisa mengangguk pelan, wajahnya tertunduk. Ia terlalu malu menatap Cansu. Seandainya bidikannya tepat sasaran, sudah di pastikan Cansu tidak akan selamat. Untungnya tembakannya meleset hingga melubangi dinding yang ada di belakang Cansu.
"Terima kasih atas kebaikan nona dokter. Bapak janji, di masa mendatang bapak tidak akan mengulangi perbuatan buruk ini lagi." Ucap pria paruh baya itu, ia mencoba meyakinkan Cansu. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan mata ber air. Tidak ada balasan dari Cansu selain anggukan kepala pelan.
"Ayo, Pak. Sudah waktunya anda pergi." Ucap seseorang di belakang punggung Cansu.
Glekk!
Cansu menelan saliva. Ia kembali mendengar ucapan seseorang yang suaranya nampak akrab di telinganya. Pelan Cansu menoleh kebelakang.
Terkejut! Hanya satu kata itu yang saat ini memenuhi dirinya. Bagaimana Cansu tidak terkejut saat menatap sosok yang pernah mengisi hatinya itu.
Austin!
Pria itu muncul lagi. Kemarin Mehek nenyebut namanya dan sekarang sosok rupawan itu sudah berdiri di belakangannya. Seandainya Cansu tidak di penuhi oleh amarah, sudah di pastikan ia akan berlari ke dalam pelukan pria itu untuk mengekspresikan betapa besar kerinduan yang mengisi relung jiwanya.
"Apa kabar?"
"Aku bahagia bisa melihat mu di sini."
"Bagi ku, bertemu dengan mu adalah karunia luar biasa."
"Tuhan sangat baik padaku sehingga kita bisa bertemu saat aku sangat merindukanmu." Ucap Austin tanpa menghiraukan wajah masam Cansu.
"Pak, terima kasih." Manager bank menyapa Austin. Ia mengajak pria itu untuk mengikutinya, ia ingin menjamunya sebagai ungkapan terima kasih.
"Nona Cansu, anda juga harus bergabung bersama kami. Berkat kalian berdua kondisi buruk di tempat ini bisa di kendalikan." Sambung manager itu lagi.
Austin tersenyum, ia tampak bahagia karena ia berpikir akan menghabiskan sedikit waktu berharganya bersama Cansu, wanita yang sangat ia rindukan selama tiga tahun terakhir. Austin mengangguk, ia mengikuti langkah pria paruh baya itu, namun tidak dengan Cansu. Gadis anggun itu masih mematung di tempatnya, ia terlalu terkejut. Bertemu dengan Austin sungguh di luar prediksinya.
__ADS_1
"Maaf. Saya tidak bisa ikut. Ada hal penting yang harus saya lakukan." Ucap Cansu cepat, kedua pria beda generasi yang berdiri di depannya menghentikan langkah kakinya.
"Saya harus pergi." Sambung Cansu lagi. Kepalanya tertunduk, ia berbalik kemudian pergi.
"Maaf, aku juga harus pergi. Kita akan minum teh di lain waktu." Ucap Austin cepat, ia langsung pergi dan mengejar Cansu hingga parkiran.
"Kita harus bicara."
"Aku ingin kau tahu alasan ku meninggalkanmu."
"Asal kau tahu saja, aku masih Austin yang sama. Austin yang selalu mencintaimu tanpa pamrih."
Austin bicara tanpa jeda, ia bahkan mengikuti langkah Cansu tanpa menghirukan wajah masam gadis itu.
"Cansu, kita harus bicara." Austin menggenggam pergelangan tangan Cansu. Sontak hal itu memantik amarah gadis itu. Sekuat tenaga Cansu menepis tangan Austin, matanya menyala. Ia terlalu marah sampai ingin menghajar pria di depannya.
"Kamu siapa?"
"Aku tidak mengenal mu!"
"Apa kita benar-benar saling mengenal? Tidak, kan?"
"Ooo, atau kau mencoba memaksakan kehendak mu padaku karena kau petugas dengan gelar bintang tiga? Apa aku salah?" Cansu mencecar Austin dengan ucapan tajamnya, ia terlalu marah hingga membuat tubuhnya bergetar.
"Da-darah. Kau terluka, biarkan aku melihatnya." Austin tampak panik melihat tangannya memerah terkena darah Cansu. Tanpa berpikir panjang Austin langsung menggenggam jemari Cansu. Namun lagi-lagi Cansu menepisnya.
"Jangan sentuh aku. Aku tidak sudi berada di dekatmu. Kau bilang pa tadi?" Cansu mendorong tubuh kekar Austin hingga tubuh jangkung itu mundur tiga langkah.
"Ahh, iya. Kau bilang kau tidak berubah. Tapi sayangnya, aku yang berubah. Jadi, jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku, atau aku akan selalu mengutukmu." Ujar cansu sambil menunjuk wajah menyesal Austin.
__ADS_1
Jangan salahkan Cansu, ia pantas marah saat pria yang sangat ia cintai dengan sepenuh hati meninggalkannya di pelaminan hanya demi karir semata. Tiga tahun berlalu namun perihnya penghianatan masih menyelimuti hatinya yang selembut sutra.
...***...