Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Terjatuh!


__ADS_3

Mati lampu adalah satu-satunya momen yang paling Cansu benci di dalam hidup ini. Ia tidak suka dengan kegelapan, baginya yang memiliki jiwa periang, mati lampu itu sama artinya dengan kesedihan. Kesedihan mendalam.


"Huh!" Cansu membuang nafas lega, akhirnya ia kembali kekamarnya. Rasa lapar yang tadi mendera hilang begitu saja. Tanpa berpikir panjang Cansu langsung berbaring di ranjang, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, untungnya lampunya kembali menyala hingga rasa takutnya menghilang.


Baru saja Cansu bersiap untuk memejamkan mata, ia merasa ada pergerakan aneh disisi kirinya, dengan membaca 'Bismillah' perlahan ia mulai membuka mata. Sedetik kemudian.


"Aahhh." Teriakan panjang terdengar bergema di kamar yang Cansu tempati. Seorang pria asing dengan tubuh terbuka di bagian atasnya berdiri di depannya, pria rupawan itu menatap Cansu dengan tatapan tajam. Seolah tatapan itu akan menguliti lawan bicaranya.


"Kamu siapa?" Pria itu bertanya setelah ia bisa mengendalikan emosinya. Dengan cepat ia meraih bajunya, memakainya, kemudian kembali menatap gadis tidak tahu malu yang telah berani melompat kedalam kamarnya, siapa lagi kalau bukan Cansu Abigail, gadis cantik yang terkadang bersikap sangat ceroboh.


"Kamu bertanya padaku? Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau benar-benar tidak tahu malu, kau berani masuk kedalam kamar gadis lugu sepertiku. Lihat saja nanti, aku pasti akan melaporkanmu pada nyonya Begum." Ucap Cansu tanpa beban.


Pria rupawan yang berdiri di depan Cansu terlihat menghela nafas panjang, ia bahkan mengusap wajahnya dengan kasar. Jarak mereka terpisah oleh ranjang.

__ADS_1


"Hai, nona. Hari ini aku sangat kelelahan, jadi untuk kali ini aku memaafkanmu. Kau bisa pergi dan cari kamarmu." Celoteh pria itu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ia tampak dingin, setiap ucapan dan gerak geriknya terkesan sangat angkuh.


Cari kamarmu! Ucapan pria itu terasa bergema di indra pendengaran Cansu.


Apa aku melompat kedalam kamar orang lain gara-gara mati lampu? Oh, no! Cansu bergumam sembari menatap kesetiap sudut kamar yang ia tempati.


Ini bukan kamarku. Pantas saja pria kejam ini terlihat menakutkan. Cansu kembali bergumam, otaknya sedang sibuk menyusun kata-kata untuk meminta maaf, walau ia tahu pria asing di depannya ini tidak akan mudah untuk memaafkannya.


"Hihi! Maaf."


"Apa kau pencuri? Kenapa kau bisa masuk kedalam kamarku?" Pria itu kembali bertanya pada Cansu, raut wajahnya menjelaskan kalau ia sangat kesal dan itu juga menjelaskan kalau pria rupawan itu belum memaafkan gadis aneh yang berdiri di depannya.


Dasar aneh. Penampilannya terlihat seperti gadis yang datang dari mesin waktu. Dia bahkan tidak tahu cara mengikat rambutnya dengan benar. Gumam pria itu, ia menatap Cansu dari rambut hingga ke ujung kaki. Sontak, hal itu membuat Cansu melingkarkan kedua tangannya untuk menutupi bagian dada.

__ADS_1


"Melihat tingkahmu sekarang, aku yakin kau pasti berpikir kalau aku pria mesum?"


"Ka-kata siapa? Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Itu hanya pikiran dangkalmu." Balas Cansu tak ingin kalah.


"What? Kau bilang apa tadi? Dangkal! Wah, aku benar-benar kesal. Untuk pertama kalinya aku ingin menghajar seorang wanita." Gerutu Pria itu dengan raut wajah di penuhi amarah.


Cansu yang awalnya berniat pergi kini mengurungkan niatnya, ia berjalan kearah pria itu dengan raut wajah tak kalah menakutkan.


Dasar pria menyebalkan, dia bilang dia ingin menghajarku? Mari kita lakukan, kita akan lihat siapa yang lebih kuat. Gerutu Cansu di dalam hatinya, ia berjalan dengan cepat hanya untuk mendekati pria itu. Malang tak bisa di hindari, kakinya tanpa sengaja tersandung oleh karpet merah yang ia injak.


Gedebuk!


Dan di detik selanjutnya, dua makhluk indah itu terjatuh membentur lantai dengan tubuh Cansu berada di atasnya. Malu, perasaan itu kembali memenuhi diri Cansu, rasanya ia ingin tenggelam di dasar lautan sehingga ia tidak perlu berada dalam kondisi ini.

__ADS_1


...***...


__ADS_2