Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Perasaan Aneh?


__ADS_3

Cansu menatap Ayswa yang terlihat semakin gusar, gadis cantik itu sangat menyukai akting, dan buruknya keluarga besarnya tidak akan pernah mendukungnya. Nyonya Begum terlalu protektif. Sementara suaminya, tuan Lefrand? Pria paruh baya itu terlalu larut dalam dukanya sendiri sampai tidak menyadari kalau putrinya juga butuh dukungan dan kasih sayang.


Yang membuat Cansu terganggu adalah Arsenio. Pria itu benar-benar menyedihkan, ia kakak laki-laki dari dua gadis manis namun perannya sama sekali tidak ada. Apa gunanya memberikan uang untuk adik-adiknya jika kasih sayangnya jauh lebih berharga? Tanpa Cansu sadari, ia telah memasuki kehidupan anggota keluarga Lefrand cukup dalam, semoga saja ia tidak terluka di masa depan.


"Apa kau benar-benar menyukai akting?" Cansu bertanya, ia memegang pundak Ayswa, berusaha menemukan jawabannya.


"Maksudku, jika kau sangat menyukainya, aku bisa membantumu." Sambung Cansu lagi.


Bagi seorang Ayswa, ucapan Cansu terdengar bagai hujan yang membasahi kehidupannya yang tanpa harapan. Sangat menenangkan hingga tanpa sadar Ayswa mulai memeluk Cansu dengan senyuman mengembang sempurna.


Di tempat berbeda, berdiri seorang pria sembari melipat kedua lengan di depan dada, dan tanpa Cansu sadari, sepasang mata itu sedang mengawasinya, menatapnya dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu sanggup melumpuhkan lawannya.


"Kau dan keluargamu adalah orang yang sulit, aku bahkan tidak bisa bicara bebas seperti yang biasa ku lakukan di luaran. Tapi, jangan khawatir. Aku adalah kakak perempuanmu, dan aku akan membantumu, percayalah padaku." Cansu berusaha meyakinkan Ayswa, ia sendiri tidak yakin akankah ia bisa membantu gadis itu. Yang jelas, ia akan mengerahkan tenaganya untuk masalah ini.


Cansu memeluk Ayswa kemudian ia pergi meninggalkan gadis itu sendirian, membiarkannya larut dengan pikiran rumitnya.


Apa yang harus ku lakukan agar tuan Lefrand mau menerima perawatan dariku? Dia harus berjalan seperti sedia kala sehingga aku bisa pergi dari mansion ini dengan segera. Cansu bergumam di dalam hatinya sembari berjalan pelan, ia bahkan tidak sadar kalau dirinya hampir saja terjatuh. Dan ini untuk kesekian kalinya ia memikirkan rencana, namun sayangnya ia selalu saja gagal untuk meyakinkan tuan Lefrand.

__ADS_1


Gdebuk!


Dag.Dig.Dug.


Dada Cansu berdebar sangat kencang seolah jantungnya akan loncat keluar. Kedua matanya terpejam, namun perlahan netra teduhnya mulai terbuka dengan sempurna. Ia merasa terbang ke awan. Ia menatap ke arah depan, mengunci pada satu titik, wajah tampan milik seorang Arsenio Lefrand. Aroma minyak wangi yang menguar dari tubuh atletis Arsen membelai lembut hidung Cansu, sangat menenangkan sampai-sampai Cansu lupa kalau dirinya berada dalam dekapan pria tertampan yang pernah ia lihat di semesta. Apakah Cansu tergoda? Jawabannya, mungkin saja tidak. Yang jelas, Cansu masih terpaku pada pesona indah hasil kreasi sempurna Tuhan semesta alam, Allah.


"Aku memang tampan!" Cicit Arsen dengan suara pelan.


"Apa kau tergoda?"


"Berapa lama kita akan berada dalam posisi ini? Kau sangat berat. Tangan ku terasa sakit." Cicit Arsen tanpa melepas pandangannya dari wajah memerah Cansu.


"Ma-maaf. Aku tidak sengaja. Dan, terima kasih." Ujar Cansu, ia melepaskan dirinya dari kungkungan Arsen.


"Aku melihat mu!"


Deg.

__ADS_1


Cansu terdiam, ucapan Arsen bagai panah yang menembus jantungnya.


"Iya, kau melihat ku. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika aku melakukannya? Aku bukan orang yang mudah menyerah. Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku akan meninggalkan Ayswa sendirian." Ujar Cansu menegaskan, ia menunjuk Arsen. Setelah itu ia berjalan mundur berusaha menjauhkan dirinya. Entah kenapa setiap kali ia berada di samping pria itu amarahnya selalu saja meledak seperti kembang api. Pria itu terlalu berbahaya hingga ia ingin membatasi intraksinya.


Setelah mengatakan semua yang ia inginkan, Cansu segera beranjak meninggalkan Arsen yang terlihat tampak terkejut dengan reaksi berlebihan yang ia tunjukkan. Cansu sadar ia harus bersikap lunak pada pria yang merupakan putra dari orang ternama di ibu kota. Mau bagaimana lagi, setiap kali ia melihat pria itu, bayangan saat pertemuan pertama mereka berbaring di ranjang yang sama membuat moodnya berubah buruk.


"Maksudku, aku melihat mu bersama Ayswa. Anak itu terlihat nyaman berada di dekat mu." Arsen berjalan mendekati Cansu, mereka kembali saling berhadapan, terpisah oleh jarak dua langkah saja.


"Sepertinya, adik ku itu sangat menyukai nona Cansu. Dan aku sebagai kakak merasa senang untuk itu." Sambung Arsen lagi.


"Kesibukan di dunia penerbangan membuat ku tidak terlalu dekat dengan kedua adik perempuanku. Aku tidak tahu impian mereka, dan pria seperti apa yang ingin mereka kencani. Bukankah aku kakak yang buruk?" Arsen terlihat menghela nafas. Namun sedetik kemudian ia mulai tersenyum untuk menyembunyikan perasaannya.


Cansu bisa merasakan dilema yang ada dalam diri Arsen, entah kenapa hatinya kembali berdebar. Kenapa semua ini bisa terjadi? Cansu sendiri tidak tahu jawabannya, yang ia tahu, tiba-tiba ia merasakan ketenangan.


Kenapa perasaan aneh ini tiba-tiba muncul? Apa aku mulai kagum pada si sok keren ini? Oh my God. Ini sangat buruk. Cansu bergumam di dalam hatinya sembari memegang dadanya. Ia berujar tidak mungkin untuk meyakinkan dirinya kalau ia tidak akan pernah jatuh cinta pada pria manapun selain Austin, pria penghianat yang ia habisi ribuan kali di dalam mimpinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2