Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Perkenalan (Arsenio&Cansu)


__ADS_3

Aaahhh!


Pria yang ada di bawah tubuh Cansu mendesah, ia kesakitan. Baginya yang memiliki tubuh kekar, tubuh Cansu bukanlah masalahnya. Namun yang jadi masalahnya, kepala pria itu membentur kaki ranjang.


"Ini benar-benar sial, apa kau merasa nyaman berada di atas tubuhku?" Cecar pria itu sambil menatap Cansu dengan tatapan tak terbaca, tubuh mereka saling menempel, dan tentu saja ini murni karena kecelakaan.


Secepat kilat Cansu beranjak bangun dari tubuh pria itu, sedetik kemudian pria itu pun bangun menyusul Cansu. Mereka berdiri saling menatap dengan tatapan tajam.


"Sekali lagi, aku minta maaf. Karena mati lampu, tanpa sengaja aku menerobos masuk kedalam kamarmu." Ucap Cansu menjelaskan.


"Aku tidak punya niat buruk padamu atau keluarga ini, namaku Cansu. Cansu Abigail. Aku dokter baru yang bertugas merawat tuan Arnold." Cansu kembali menjelaskan posisinya di mansion Lefrand. Ia berharap pria menyebalkan yang berdiri di depannya tidak salah paham padanya, apa lagi sampai menuduhnya pencuri, itu benar-benar penghinaan besar.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memaafkan mu. Tapi, jika kejadian ini terulang kembali kau akan tahu betapa menakutkannya diriku. Keluar!" Ucap Pria itu dengan lantang, ia mengusap kepalanya yang masih terasa berdenyut. Maklum saja, kepalanya menghantam kaki ranjang cukup keras.


Tanpa berpikir panjang, Cansu langsung berlari keluar kamar. Kondisi ini membuatnya merinding, dalam hati ia berdo'a semoga kejadian menyebalkan seperti yang ia alami beberapa menit yang lalu tidak akan pernah terjadi lagi dalam kehidupannya yang berangsur tenang.


...***...


Mentari pagi ini membelai lembut wajah cantik seorang gadis manis bernama Cansu Abigail, ia memejamkan mata sembari menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Ia baru saja menyelesaikan olahraga paginya, sebuah handuk kecil berwarna putih bertengger di pundaknya. Sesekali ia bahkan menghapus keringat yang membasahi keningnya. Sungguh, berolahraga membuatnya bahagia. Ia bisa merasa tenang menjalani hari-harinya walau ia tahu hari-hari yang ia lewati tidak semulus jalan tol.


"Sepatu ini terlalu berat, gunakan sandal agar bapak bisa nyaman. Aku yakin bapak pasti merasa kesakitan di malam hari." Ujar Cansu menjelaskan, ia berusaha menggerakkan kaki pria itu.


"Kau terlalu banyak bicara, aku tidak suka pada orang yang cerewet." Gerutu pria paruh baya itu dengan ucapan datarnya.

__ADS_1


"Ayo, Jo. Kita pergi, sekarang." Sambung pria paruh baya itu sembari menatap pelayannya dengan tatapan kesal.


"Hay, pak. Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mengucapkan omong kosong, kau bisa percaya ucapanku, aku dokter. Seorang dokter." Ucap Cansu dengan suara cukup keras, tanpa ia sadari sepasang mata menatapnya dengan tatapan heran. Ia melihat Cansu seolah berasal dari dunia lain, tak pernah ia melihat atau mendengar orang lain berani bicara pada Daddy-nya dengan nada suara tinggi, namun baginya Cansu sedikit unik. Ia merasa tertarik.


"Nona Cansu Abigail." Sapa pria itu dengan ramah, dia pria yang sama, pria yang Cansu masuki kamarnya tanpa disengaja.


"Iya sa...!" Ucapan Cansu tertahan di tenggorokannya, akhirnya ia kembali bertemu dengan pria rupawan yang sejak semalam mencuri ketenangannya. Iya, semalam Cansu tidak bisa tidur, ia sangat kesal sampai-sampai ia menamai pria yang berdiri di depannya dengan sebutan 'serigala menakutkan' Cansu yakin jika pria itu tahu julukan yang ia berikan, pria itu pasti akan menghajarnya seperti yang ia ucapkan semalam.


"Semalam kita belum sempat berkenalan, namaku Arsenio." Ucap Arsen memperkenalkan diri, ia mengulurkan tangan, berharap Cansu mau menerima uluran tangannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2