Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Tidak Suka Cansu (Arsen)


__ADS_3

"Aku pikir tuan muda Arsen adalah sosok yang sopan, tidak tahunya dia hanya..." Ucapan Cansu menggantung di udara, ia bahkan terlihat malas meladeni pria dingin di depannya.


Tiga tipe pria yang wajib di hindari. Pertama, membentak di pertemuan pertama. Kedua, peminum. Ketiga, mata-mata. Bagi Cansu Arsen masuk dalam ketiga tipe yang paling ia benci.


"Hanya apa?" Arsen bertanya, sorot matanya setajam mata elang. Merinding, itulah yang di rasakan Cansu, rasanya ia ingin meninggalkan taman belakang dengan segera.


"Aku rasa, kita tidak sedekat itu sampai harus berbagi cerita. Dan kita pun tidak sedekat itu untuk saling bicara. Aku memang bekerja disini, tapi itu hanya untuk tuan Alnold, titik." Cansu menegaskan dengan ucapan yang bisa di pahami. Walau bagaimanapun, ia harus membatasi dirinya dari urusan keluarga Arnold, dipandang buruk oleh nyonya Begum membuatnya tidak ingin merapatkan diri lagi dengan hal yang bukan urusannya.


Cansu mencoba untuk pergi. Namun, langkah kakinya terhenti karena Arsen menahan pergelangan tangannya.


"Aku sedang bicara padamu. Kau harus menjawabku."


"Tuan muda yang terhormat, maafkan aku, aku tidak punya kesabaran untuk meladeni pria peminum sepertimu. Permisi." Ujar Cansu dengan wajah yang memamerkan senyuman paksaan. Ia berjalan pelan meninggalkan Arsen yang masih di liputi kemarahan.

__ADS_1


"O iya, satu lagi. Kita bisa bicara di lain waktu." Sambung Cansu sok ramah.


Dua menit setelah kepergian Cansu, Arsen kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Arsen masih marah, namun sebisanya ia terlihat baik-baik saja di depan rekannya. Ia tidak ingin terlihat seperti pria labil yang gampang terpancing emosi.


"Siapa gadis tadi? Apa dia gebetan barumu?" Salah satu rekan Arsen bertanya, wajahnya terlihat penasaran.


"Iihh, amit-amit. Petasan sepertinya tidak layak untukku." Jawab Arsen secepat kilat.


"Iya, itu mungkin saja jika pada orang lain. Tapi, padaku? Tidak akan pernah. Aku bisa pastikan itu. Lagi pula, apa kau pikir aku akan menukar berlian dengan batu karang seperti wanita itu? Caranya bicara, caranya berpakaian, caranya menatapku, dan caranya mengabaikanku, aku tidak suka semua yang ada dalam dirinya. Bagiku dia hanya petasan, dan petasan tidak akan pernah bisa di genggam." Ujar Arsen penuh percaya diri. Sorot matanya menjelaskan seolah ia mengetahui masa depan, masa depan yang selalu menjadi rahasia.


"Kenapa? Tidak ada yang salah dengan wanita itu. Dia manis, dia juga cantik, cara berpenampilannya pun sangat sopan. Wanita sepertinya sangat langka, jika aku belum menikah aku pasti akan mendekatinya. Ngomong-ngomong sedang apa dia disini?"


Arsen kembali merasa kesal mendengar sahabatnya menyanjung Cansu, sanjungan yang sebenarnya sama persis seperti keadaan yang ada dalam diri Cansu.

__ADS_1


"Dokter. Dia dokter baru yang akan merawat Daddy dalam enam bulan kedepan."


"Waw, menarik. Dia luar biasa."


"Jangan katakan apapun padanya, apalagi sampai merayu wanita itu. Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan di telpon? Dia bilang dia akan menggunduli kekasihnya jika si payah yang bicara dengannya itu berani selingkuh. Dan kau?" Arsen berucap sambil menatap rekannya dengan tatapan tajam.


"Apa kau ingat berapa jumlah wanita yang selalu mengelilingimu? Dalam sepekan kau bahkan memacari tiga wanita. Jadi jangan pernah berharap mendekati petasan itu, aku sendiri yang akan menjadi penghalangmu. Aku tidak suka melihatnya berkeliaran di sekitar kita." Celoteh Arsen sambil membayangkan wajah jutek Cansu, wajah yang selalu saja tersenyum palsu di depannya dan hal itu membuat Arsen kurang nyaman.


"Sorry, bro. Kali ini aku tidak akan mendengarmu. Jika dokter Cansu menerimaku, why not? Kita bisa mencobanya." Sambung rekan Arsen percaya diri. Arsen yang mendengar ucapan sahabatnya rasanya ingin muntah, kenapa ia mendengar ucapan tidak berguna di hari liburnya, ia kesal namun tidak bisa melampiaskan kekesalannya.


"Ya sudah, terserah kau saja. Yang penting aku sudah mengingatkanmu." Balas Arsen pasrah. Dan di menit selanjutnya, Arsen dan ketiga rekannya kembali menyesap minumannya, membahas banyak hal tentang pekerjaan dan juga tentang hubungan asmara yang sedang mereka jalani.


...***...

__ADS_1


__ADS_2