Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (27)


__ADS_3

Ibu kota siang ini terasa sangat panas. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini rasa panasnya dua kali lipat. Cansu yang mengendarai skuter tampak mengusap wajah cantiknya saat ia berhenti di lampu merah.


Setelah menyelesaikan terapi sesi pertama bersama tuan Lefrand, Cansu langsung meninggalkan mansion megah milik pria paruh baya itu kemudian mampir di kliniknya sebentar. Setelah dari klinik ia meluncur menuju bank karena ada hal penting yang harus ia selesaikan menyangkut tentang pinjaman.


Dan di sini lah Cansu sekarang, di sebuah bank yang ada di pusat kota dengan ratusan pengunjung lainnya.


Dorr.Dorr.


Dua peluru menyasar lampu gantung yang ada di bagian tengah ruangan ber AC. Sontak hal itu mengundang ke takutan dari semua orang. Tak ter kecuali Cansu, gadis itu langsung menutup kedua telinga dengan jemari lentiknya.


"Siapa kalian?" Sekuriti yang tadi menyapa Cansu di lobi depan terlihat garang, namun belum sempat ia bertindak satu peluru kembali terlepas dari senjata yang di pegang pria berpakaian hitam, ketujuh rekannya menyandra masing-masing satu orang.


"Kunci pintunya! Jika kau tidak mengunci pintu itu, aku akan meledakkan kepalamu." Sentak pria itu, wajahnya terlihat memerah di penuhi amarah. Bisa di pastikan pria itu tidak main-main dengan ucapan tajamnya.


"Jangan ada yang berani melakukan ke salahan, jika aku sampai melihat kalian melakukan ke konyolan, maka jangan harap kalian bisa melihat matahari esok pagi." Ancam pria itu lagi, kumisnya setebal daun pintu, wajahnya terlihat segarang anjing liar, dan tubuh kurusnya terlihat seperti banteng kelaparan. Tidak ada hal baik dari dalam dirinya, bahkan sekarang ia melakukan kesalahan terbesar dari seorang manusia, mengancam dan ingin mengambil nyawa, apa lagi yang lebih buruk dari itu? Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung dari orang-orang yang Zalim.


"Berlutut! Jangan sampai ada di antara kalian yang berani menentang, nyawa kalian akan jadi taruhannya." Sentak pria jangkung bertubuh krempeng itu. Tubuhnya sekecil lidi namun nyalinya sebesar gajah.


Cansu?


Gadis itu terlihat kesulitan bernafas, ia memegang dadanya seraya menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan dari bibir. Kondisi ini membuat sekujur tubuhnya terasa mati rasa. Seharusnya dalam posisi ini ia bertekad untuk menyelamakan diri atau minimal bertindak tenang. Sayangnya ia tidak bisa, kenangan buruk di masa lalu seolah berputar di memori otaknya. Tiba-tiba saja hal itu membekukan semangat juangnya.


"Tuan, tenanglah. Anda tidak perlu melakukan ke kacauan ini, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Jika hal ini sampai di endus oleh media atau pihak berwenang, tuan akan berada dalam masalah.


Jadi tolong, pergilah dengan tenang tanpa melakukan kekerasan. Saya janji, pihak bank tidak akan menuntut tuan." Ucap sekuriti berpakaian putih dengan celana hitam itu. Wajahnya terlihat tanpa beban, namun siapa pun yang berada dalam posisinya pasti akan merasakan ketakutan, hanya saja ia mencoba bersikap tenang dalam kondisi tak terduga.


Dorr!


Satu peluru bersarang tepat di paha pria muda itu. Tak perlu menunggu lama, lantai tempatnya berpijak yang awalnya putih bersih kini berubah merah terkena darah.

__ADS_1


Ahhh!


Pria muda itu merintih menahan sakit, tubuh yang awalnya kuat kini bersandar di pintu kaca yang tadinya ia kunci atas permintaan keempat pria bersenjata api.


"Jangan ada yang sok pintar, aku tidak takut untuk menghilangkan nyawa kalian." Sentak pria itu dengan amarah membuncah.


"Kalian semua layak mati sama seperti istriku. Manager bank ini juga layak mati, di mana managernya? Suruh dia keluar atau aku akan membunuh kalian semua." Pria itu kembali berteriak. Dua menit kemudian, manager bank yang ia minta kehadirannya di seret oleh anak buahnya, sudut bibir pria paruh baya itu terlihat berdarah. Kemeja birunya terkena bercak darah, siapa pun bisa melihat kebengisan kelompok perampok yang berjumlah delapan orang itu.


Awalnya tidak ada yang curiga akan niat mereka, karena mereka datang sebagai pengunjung bank layaknya pengunjung lainnya, namun di detik selanjutnya suasana di dalam bank berubah mencekam oleh teror sekelompok orang tidak di kenal. Mereka begitu berani merampok di siang hari seolah mereka memiliki sembilan puluh sembilan nyawa.


Cansu yang malang, ia masih tidak bisa mengendalikan dirinya, ia masih bersimpuh di lantai dengan tangan berdarah karena terkena pecahan lampu gantung yang di hancurkan pria bersenjata.


Ya Allah, berikan aku kekuatan. Aku harus bertindak, aku harus menolong orang. Bukankah itu pungsi ku dalam hidup ini? Cansu bergumam di dalam hatinya sembari berusaha untuk bangkit. Pengunjung lain terlihat ketakutan, itu memang wajar.


Gdebuk!


"Kau pria kurang ajar, gara-gara kau istriku meninggal. Jika saja kau memberikan pinjaman, kekacauan ini tidak akan terjadi, istri dan calon anak ku tidak akan tiada. Gara-gara kau, dokter tidak bisa mengoprasi istriku karena tidak ada biaya. Prosedur? Persetan dengan prosedur." Mata pria paruh baya yang memegang senjata api itu terlihat menyala. Amarah telah memenuhi ubun-ubunnya.


"Tuan, aku mohon. Jangan seperti ini. Anda menakuti semua orang." Ujar Cansu begitu ia bisa mengendalikan dirinya.


"Aku yakin istri dan anak tuan tidak akan senang melihat tuan melakukan kekerasan." Sambung Cansu lagi, ia mencoba menenangkan pria itu walau ia tahu tidak akan berhasil, tidak ada salahnya untuk mencoba. Bukankah itu yang di ajarkan oleh agama untuk tidak berputus asa dalam setiap keadaan?


"Tuan, aku tahu tuan sangat marah. Dan Tuan pun tahu, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, maka aku mohon kendalikan diri tuan dan jangan melakukan kekerasan." Ucap Cansu lagi, ia masih takut namun ia berusaha setenang mungkin agar kondisinya terkendali. Dan benar saja, pria itu terlihat tenang. Namun itu tidak bertahan lama, karena di menit selanjutnya polisi datang secara berkelompok dan mengepung bank dari luar.


"Haha!" Pria itu tertawa lepas. Ia terlihat menakutkan. Entah rencana apa yang di susun otak kecilnya hingga penyelasan yang baru saja terbit di wajahnya menghilang seolah dimakan udara.


"Kalian manusia rendahan. Kalian sama saja, kalian tidak bergunaaaa." Pria itu berteriak, sementara anak buahnya begitu agresif memukuli pengunjung bank yang mencoba meminta bantuan melalui sambungan telpon.


"Aku akan menghabisi kalian semua, setelah itu kita akan bertemu di neraka." Pria itu kembali berteriak, matanya merah menyala.

__ADS_1


Deretan polisi berjejer di depan gedung, mengepung dari segala sisi. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Cansu tidak tahu itu. Yang jelas semua orang masih terlihat panik. Sungguh, kondisi ini benar-benar tidak bisa di prediksi, semoga saja tidak ada korban jiwa karena hanya itu yang terpenting dalam situasi ini.


"Aku tahu kalian bersenjata, menyerahlah atau kalian akan berakhir tanpa kenal ampun." Ucap seseorang di luar sana, ia menggunakan pengeras suara.


Deg.


Seketika, Cansu merasa ia tidak asing dengan suara itu. Suara itu mendayu-dayu di telinganya, membelai lembut lubuk hati terdalamnya. Cansu yang awalnya terlihat panik tiba-tiba saja di penuhi energi positif kalau ia dan sandra lainnya akan segera terbebas.


"Kalian masih punya waktu. Jika kalian menyerah sekarang, aku janji tidak akan melukai kalian." Ucap sosok di luar sana. Suaranya masih membuat Cansu penasaran, siapakah ia sebenarnya?


Netra Cansu menatap pada satu titik, sekuriti yang tadinya mendapat timah panas di pahanya terlihat pucat. Darahnya banyak keluar, tidak ada jalan lain, secepat kilat Cansu mengambil tas medisnya yang tergeletak di lantai. Ia panik, jangan sampai ada yang meredang nyawa di depannya sementara ia masih bisa bertindak untuk melakukan pencegahan.


"Berhenti di sana!" Pria yang menjadi ketua dalam penyanderaan itu berteriak pada Cansu sambil mengarahkan pistolnya tepat di kepala Cansu.


"Kau pikir kau siapa? Kau hanya sampah masyarakat yang berbentuk manusia. Kau lihat dia?" Cansu menunjuk pada sekuriti yang bersimbah darah di dekat pintu kaca.


"Dia hampir tiada. Apa kau akan puas setelah orang lain mengikuti istri dan anakmu ke alam baka?" Sambung Cansu lagi, ia tidak takut. Justru ia merasa sangat marah, kebiasaan banyak bicaranya muncul di saat yang tidak tepat. Semoga saja pria yang ia teriaki tidak membalasnya dengan timah panas seperti sekuriti yang ia bela.


"Diam dan tutup mulut mu. Kau seorang wanita tapi ucapanmu setajam pecahan kaca." Sentak pria paruh baya itu. Berdebat dengan wanita membuat egonya terluka, tatapan tajam Cansu mendandakan perlawanan.


"Aku tidak mau diam, kau bisa membunuh ku jika kau mau. Tapi ingat, aku akan menemui istri dan anak mu dan meminta mereka mengutukmu karena memiliki suami dan ayah tidak berguna sepertimu." Balas Cansu tak kalah sengit.


"Aku bilang, diam."


Dorr!


Di detik selanjutnya satu anak peluru kembali melesat secepat kilat menyambar Cansu yang saat ini berdiri sambil membawa tas medisnya. Cansu yang malang, sikap beraninya menggiringnya menuju kehancuran.


Tuhan, aku pasrahkan diriku kepada mu dengan sebenar-benarnya penyerahan. Jika ini akhir dari kisah ku, maka masukan aku ke dalam surgamu. Batin Cansu dengan tubuh bergetar. Sedetik kemudian tubuh kecilnya mendarat di lantai, ia duduk bersimpuh dengan batin terluka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2