Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Di Kafe


__ADS_3

"Kau terlihat rapi, apa kau akan berkencan?" Tebak Cansu sambil menutup pintu kamarnya.


Arsen yang mendengar ucapan Cansu tampak menghela nafas kasar, tidak suka. Ia tidak suka Cansu yang sok tahu. Bukannya meladeni Cansu, Arsen malah melangkah pergi, ia terlihat angkuh, meninggalkan gadis itu dengan sikap penasarannya.


"Cih. Dasar sok keren. Dia kumat lagi, sama seperti saat kami bertemu untuk pertama kalinya." Gerutu Cansu tanpa melepas pandangannya dari tubuh jangkung Arsen yang semakin menjauh. Pria itu benar-benar pergi. Cansu pun berjalan keluar meninggalkan mansion Lefrand. Saat ini ia berdiri di garasi, memakai helm sebelum mengendarai skuter yang di sediakan oleh nyonya Begum.


"Lihat saja nanti, aku tidak akan bicara padanya walau dia mencoba untuk mendekatiku." Sambung Cansu lagi, lima menit telah berlalu namun masih saja ia menggerutu untuk hal tidak penting. Wajar saja Arsen mengabaikannya karena mereka tidak sedekat itu untuk saling berbagi cerita. Mau bagaimana lagi, sikap keingintahuan Cansu telah menggiringnya menuju hal tidak berguna, jika di pikir-pikir, bukan urusannya jika pria itu ingin bertemu dengan ke kasihnya atau tidak?


"Aku tidak ingin bicara dengan mu, dan jangan pernah menanyakan hal yang tidak ada kaitannya dengan mu, itu sangat menjengkelkan.


Tujuanmu datang ke tempat ini untuk bekerja, jadi jangan mencampuri urusan ku atau pun keluargaku. Dan satu lagi, kau bukan tipeku, jadi jangan pernah berharap lebih." Ujar Arsen yang tiba-tiba muncul dari belakang punggung Cansu. Pria itu terlihat menakutkan, ia bahkan tersenyum. Bagi Cansu, senyuman Arsen terlihat sangat kecut, lebih kecut dari mangga muda.


"Maafkan aku jika kau salah faham! Kau tidak perlu mengatakan aku bukan tipemu, karena yang benar adalah, kau yang bukan tipe ku. Bukankah ini sangat bagus? Maksudku, kita tidak tertarik satu sama lain. Jadi mari kita sama- sama saling menjaga jarak." Cansu berucap sembari menepuk lengan Arsen.


Setelah mengatakan hal itu Cansu langsung meluncur, ia mengendarai skuternya menuju kafe yang ada di pusat kota. Butuh waktu satu setengah jam, dan sekarang ia sudah berada di kafe. Duduk di depan dokter Goyal, pria paruh baya yang ia anggap seperti ayahnya sendiri. Entah kapan ia punya waktu luang, rasanya ia ingin kembali ke Bandung dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Ibunya.


"Cansu, bagaimana kabar mu?" Dokter Goyal bertanya sembari menyodorkan amplop coklat tepat di depan Cansu.

__ADS_1


"Kurang baik." Celetuk Cansu sambil menerima amplop itu. Ia mulai membukanya. Netra Cansu membulat, ia terkejut. Antara kesal dan ingin mengumpat. Di bandingkan dengan mengeluarkan kata-kata kasar, Cansu lebih suka berterus terang dengan penolakan singkat.


"Aku ini Cansu. Cansu Abigail, semua pria mengantri untuk mendapatkan cintaku. Perjodohan? Aku tidak mau!" Celetuk Cansu dalam satu tarikan nafas. Tanpa Cansu sadari, seseorang yang tak jauh dari mejanya sedang tersenyum sambil memotong cake yang ada di piringnya. Mendengar ucapan Cansu memancingnya untuk tersenyum.


"Katakan pada nyonya Wilma dan tuan Aiman, aku tidak mau." Sambung Cansu lagi.


"Aku yakin dokter Goyal menemuiku bukan untuk membahas perjodohan, katakan, ada apa?" Cansu menatap dokter Goyal yang terlihat tenang.


Untungnya kafe tidak terlalu ramai, jadi mereka tidak perlu khawatir orang lain akan mendengar pembicaraan mereka. Aroma mawar yang menguar dari buket bunga yang ada di atas meja dekat tangan Cansu terasa menenangkan, gadis itu bahkan sampai memejamkan mata, menghirup aromanya dalam-dalam.


"Waw, dok. Anda membawa mawar untuk ku? Terima kasih." Ucap Cansu dengan senyuman merekah. Untuk sesaat ia melupakan tujuan pertemuannya dengan dokter Goyal.


"Itu bukan dari ku, itu dari seseorang yang sangat mengagumimu." Ucap Dokter Goyal penuh penekanan. Ia menatap ke arah pintu masuk, dan di detik selanjutnya seorang pemuda dengan perawakan tinggi masuk dengan terburu-buru.


Ku tebak, dia pasti pemuda yang dokter Goyal bilang tertarik padaku. Ayah, Ibu, dari mana kalian menemukan pria ini? Apa kalian ingin mengusirku sampai-sampai kalian mencarikan jodoh untuk ku? Dalam hati, Cansu bertanya-tanya, netranya tidak bisa lepas dari pria rupawan yang berjalan mendekati mejanya. Tidak bisa di pungkiri, pria itu memang tampan, tubuhnya tinggi, rambutnya hitam pekat, dia memiliki mata yang indah, alisnya terlihat seperti semut yang berbaris rapi, hidungnya bangir, kulitnya putih bersih. Dia tersenyum, menampakkan gigi putihnya. Cansu kembali bertanya-tanya dari mana kedua orang tuanya mendapatkan pria seindah purnama yang ada di depannya, Cansu takjub, untuk sesaat ia bahkan tidak bisa mengedipkan matanya.


Cih! Dia terpesona? Dia bahkan tidak mengedipkan matanya, semua wanita sama saja. Norak. Batin Arsen yang tidak bisa melepas tatapannya dari Cansu.

__ADS_1


"Maaf, aku terlambat." Ucap Pria itu dengan wajah berbinar. Ia mengulurkan tangan, kemudian di sambut oleh dokter Goyal.


"Nama ku Mars. Marsel Artaswardan." Pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


"Cansu Abigail. Tuan Mars bisa memanggil ku Cansu." Ucap Cansu sembari memperkenalkan diri, ia menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Baiklah tuan dan nyonya, kalian bisa bicara tanpa adanya gangguan dari si tua ini. Aku akan meninggalkan kalian. Hehe." Dokter Goyal berucap sambil berdiri, ia melambaikan tangannya tanpa beban yang kemudian di balas oleh Cansu dengan helaan nafas kasar, antara kesal dan juga tak berdaya.


"Nona Cansu terlihat tidak nyaman dengan kondisi ini, maafkan aku. Aku terlalu memaksa." Mars kembali membuka suara setelah kepergian dokter Goyal. Cansu sendiri masih merunduk, ia meremas jemarinya.


"Maksudku, aku yang memaksa bertemu dengan nona Cansu setelah mengetahui semua hal tentang nona Cansu." Sambung Mars tanpa beban, pria itu terlihat bahagia seolah dunia hanya miliknya.


"Tunggu sebentar, kau bilang kau mengetahui semua hal tentang diriku? Kau benar-benar pembohong yang buruk, aku bahkan bukan selebriti. Pertanyaannya, bagaimana kau bisa seyakin itu? Omong kosong." Cansu berucap dengan suara datar, ia menatap Mars tak percaya. Ini pertemuan pertama mereka namun Mars mencoba membohonginya, tentu saja Cansu merasa tidak suka.


"Sungguh, aku tidak berbohong. Aku mengetahui semua hal tentang nona Cansu. Jika nona Cansu mengingat Bram, maka nona Cansu pasti pernah mendengar nama ku darinya. Marsel Artaswardan." Mars memberi penekanan pada namanya, berharap Cansu tidak memanggilnya sebagai pembohong besar.


Ooo... Si payah itu yang memulai semuanya, lihat saja nanti, aku pasti akan membalasnya. Batin Cansu kesal, bibirnya komat-kamit karena ia sedang memaki Bram. Bola matanya berputar, dan tanpa sengaja netranya kembali bertemu dengan netra Arsen, saling mengunci pada satu titik.

__ADS_1


Oh my god. Kenapa dia ada di sini? Kenapa aku selalu bertemu dengannya? Apa tidak ada tempat lain yang bisa ia datangi selain tempat ini? Tunggu sebentar, apa dia sedang berkencan? Wah, ini benar-benar kejutan. Celoteh Cansu di dalam hatinya, ia melambaikan tangan pada Arsen yang kemudian di balas dengan sikap cuek dari pria itu.


...***...


__ADS_2