
"Assalamu'alaikum, Yah." Cansu berjalan mendekati Ayah, ia memeluk pria paruh baya yang sangat di rindukannya itu sambil meneteskan air mata. Entah kenapa kesedihan menelusup masuk memenuhi rongga dadanya, dan tanpa di rencanakan air matanya tiba-tiba saja luruh, membasahi wajah cantiknya.
"Sejak kapan putri ayah berubah jadi gadis yang cengeng?" Ayah berucap sembari mengelus rambut panjang Cansu.
"Ngomong-ngomong, kapan putri ayah akan mengenakan jilbab?" Ayah kembali mengurai tanyanya, kali ini lebih serius. Cansu yang masih dalam pelukan ayah hanya bisa memejamkan mata, mengisyaratkan tidak tahu.
"Ya sudah, ayah tidak akan mendesak. Semoga Allah membuka hati dan pikiran mu sehingga kau tahu betapa pentingnya menutup aurat itu." Ucap Ayah lagi sebelum beliau melepaskan pelukannya.
"Cansu, i miss you honey." Kali ini giliran Mehek yang memeluk Cansu, mereka sahabat namun mereka jauh lebih dekat dari saudara sekali pun.
"Dia siapa? Dia terlihat bening, apa dia calon imam mu?" Mehek terlalu penasaran sampai ia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak bertanya, ia berbisik khawatir pria tampan di belakang Cansu mendengar ucapan singkatnya.
"Jaga ucapanmu, apa kau mau pensiun jadi sahabat ku?" Cicit Cansu sambil melepas pelukan Mehek.
Arsen yang mendengar ucapan Cansu justru menahan tawa. Ia tidak menyangka Cansu yang ia kenal blak-blakan di depannya, ternyata melakukan hal yang sama di depan orang terdekatnya.
Dia memperlakukan semua orang dengan cara yang sama. Nice. Batin Arsen sambil menatap ke arah lain. Ia merasa canggung, mau bagaimana lagi, sekarang ia berada di tempat yang tidak pernah ia prediksi, ingin pergi pun sudah tidak bisa.
Lima menit kemudian semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Tatapan tajam menyambut kedatangan Cansu dengan pria asing yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Tampan dan berwibawa, setidaknya itu yang bisa di tangkap oleh kedua orang tua Cansu.
__ADS_1
"Sejak kapan kau mengenal kakak ku?"
"Ingat ya, aku belum merestui hubungan kalian!"
Puhh!
Arsen yang sedang meminum air tanpa sengaja memuntahkan seluruh air yang ada di mulutnya, ia terkejut. Netra hitamnya membulat, ia masih shock dan tak percaya mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan oleh anak muda di depannya. Kini netra Arsen memburu wajah Cantik Cansu, mereka saling menatap dalam diam. Namun tatapan mereka menjelaskan kalau Arsen merasa aneh berada di tengah-tengah keluarga yang suka ikut campur.
"Jika kau masih nekad mendekati kakak ku, kau harus tanggung resikonya. Pertama-tama kau harus lulus uji kompetensi dasar dalam hubungan. Jika kau lolos maka kau berhak berada di sisi kak Cansu. Tapi, jika kau tidak layak, maka kau harus mengalah dengan suka rela tanpa melakukan kegaduhan.
Asal kau tahu saja, walau aku terlihat masih muda, jangan salah paham. Aku memiliki lebih dari belasan mantan." Aku pria muda yang Arsen ketahui sebagai adik laki-laki Cansu.
Bukk!
Cansu melempar bantal kecil ke wajah adik lelakinya, membuat ucapan pemuda itu tertahan di tenggorokannya. Arsen dan semua orang yang ada di ruang tengah tampak menahan tawa melihat ekspresi menggemaskan adik laki-laki Cansu.
"Jangan banyak bicara, dan jangan asal menebak." Ucap Cansu sambil menggerakkan tangannya, mengisyaratkan diam.
"Tuan Arsen, kenalkan. Beliau kedua orang tua ku. Ayah Aiman dan Ibu Wilma." Cansu mulai mengenalkan kedua orang tuanya. Ayah dan Ibu yang di kenalkan, keduanya tersenyum sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
"Pria yang duduk di samping wanita muda itu, namanya Mas Bram. Beliau sepupuku. Dan wanita sok cantik itu, namanya Mehek. Sahabat baikku, dia tinggal di sini bersama kami." Bram dan Mehek bergantian menyalami Arsen. Walau pertama kali bertemu, ketiganya tidak merasa sungkan.
"Dan dia..." Cansu menunjuk adik lelakinya.
"Namanya Haidar, adik lelakiku. Dia lumayan nakal, namun dia memiliki hati yang baik." Ucap Cansu memperkenalkan semua anggota keluarganya.
"Ayah, Ibu, dan kalian semua terlebih lagi kau Mehek. Jangan salah paham karena aku membawa pria pulang. Yang benar adalah, beliau putra dari pasien yang sedang ku tangani. Namanya tuan Arsenio." Sambung Cansu lagi. Dua Art dan satu penjaga yang sempat mengobrol dengan Cansu tampak menganggukkan kepala pelan.
"Aku kecewa. Aku pikir kalian pasangan. Tapi sungguh, kalian sangat serasi." Cicit Mehek tampa beban.
"Mehek, ssstt!" Ibu meletakkan jari telunjuk di bibirnya, seketika Mehek mulai terdiam. Jika tidak seperti itu, gadis aneh itu akan koar-koar tentang beribu-ribu kebaikan Cansu, ia selalu bersemangat seperti orang yang sedang promosi iklan sabun.
"Haidar, bawa nak Arsen ke kamar tamu untuk istirahat. Nak Arsen pasti kelelahan, kita akan bicara besok pagi." Perintah Ibu pada putra nakalnya. Tidak ada bantahan dari Haidar selain anggukan kepala pelan. Walau anak itu terlihat nakal, tak sekali pun ia berani membantah kedua orang tuanya.
Malam ini rembulan bersinar sangat terang, cahayanya sanggup menerangi hati yang sedang gelisah.
Iya, Cansu.
Gadis itu sedang gelisah, mengingat pertemuannya dengan Austin setelah sekian tahun berlalu kembali menghancurkan kepercayaan dirinya. Cansu sedih, namun ia pura-pura tersenyum di depan keluarganya, berharap bayangan Austin tidak mempengaruhi hidupnya yang baru saja mulai tertata rapi.
__ADS_1
...***...