
"Aku yang meminta Bram memperkenalkan ku dengan kedua orang tua nona Cansu. Awalnya, Bram menolak. Karena aku selalu mendesak, akhirnya Bram mengalah juga." Mars mencoba menjelaskan kondisinya, berharap Cansu tidak akan bersikap cuek padanya.
Lima menit berlalu namun Cansu masih saja tidak mau membuka mulutnya, berduaan di tempat umum bersama pria asing membuatnya merinding. Walau Cansu pernah terlibat asmara dengan seorang pria, namun di antara semuanya itu, ia tidak pernah membiarkan dirinya terseret dalam pergaulan bebas. Jatuh cinta memang hal biasa, dan bermesraan dengan pria asing yang tidak halal baginya, itu di luar konsep keyakinannya. Bahkan jika harus tiada, Cansu tidak akan pernah terlibat dengan yang namanya pergaulan bebas. Sekali lagi, bagi Cansu Abigail, pergaulan bebas itu sangat menjijikkan. Wanita itu berharga dan tidak sembarang orang bisa memegangnya, memeluknya apa lagi sampai menciumnya, memikirkan hal itu membuat Cansu merinding.
"Bisa bertemu seperti ini, bagiku ini sangat luar biasa. Aku tahu nona Cansu tidak tertarik dengan ku ataupun hubungan ini. Namun aku tetap memaksa. Memaksa diriku untuk melihat nona Cansu, dan melakukan segala cara agar nona Cansu ada di depanku.
Nona Cansu tidak perlu bicara padaku. Tapi, aku mohon jangan kesal padaku saat aku bicara seperti radio yang tidak bisa berhenti mengoceh." Celoteh Mars sambil menyodorkan mawar merah.
Cansu!
Gadis itu merasa sedang berhadapan dengan pria tampan namun memiliki kepribadian ganda. Dia pemaksa yang baik, orang lain mungkin akan tergoda oleh ketampanan Mars, namun tidak dengan Cansu si gadis anggun dengan kepribadian ceplas ceplos.
"Dengar Mars."
"Maaf, maksudku, tuan Mars." Ucap Cansu meralat ucapannya.
"Kau tidak akan berhasil. Maksudku, kau tidak akan bisa menggodaku, apa lagi sampai membuatku tertarik padamu.
Aku selalu menilai seseorang pada pandangan pertama. Jika dalam pertemuan pertama aku merasa nyaman berada di dekatnya, maka di pertemuan berikutnya kita bisa saja menjadi teman kemudian pasangan. Tapi, maaf. Kali ini aku tidak merasakan apa pun dalam pertemuan kita. Jadi, yang ingin ku katakan adalah, aku menolak hubungan ini. Anda bisa mencari wanita lain, dan itu bukan diriku." Tutur Cansu tanpa beban.
__ADS_1
Di meja berbeda, Arsen terlihat tersenyum mendengar jawaban lantang Cansu, gadis itu benar-benar mensekak mat lawannya.
"Apa ada yang lucu?"
"Aku perhatikan, kau selalu tersenyum. Aku suka senyuman mu!" Aku wanita anggun yang duduk di depan Arsen.
"Tidak ada yang lucu, aku hanya mengingat seorang teman." Balas Arsen sambil mengiris danging yang ada di piringnya.
"Temen? Teman yang mana? Apa aku mengenalnya? Jika tidak, kapan-kapan ajak aku menemuinya." Wanita anggun dengan lesung pipi yang duduk di depan Arsen mulai tersenyum, susunan rapi gigi putihnya terlihat berkilau.
"Iya, baiklah. Akan ku usahakan." Jawab Arsen tanpa beban, padahal orang yang ia bicarakan, jaraknya hanya terpisah satu meja saja. Untungnya ia duduk membelakangi Cansu, dengan begitu wanita pemilik rambut hitam sebahu itu tidak menyadari keberadaannya.
Lagi-lagi Arsen tersenyum, senyuman kali ini mengisyaratkan hal berbeda. Ia tidak menyangka wanita sekelas Cansu yang menurutnya menyebalkan sangat tenar di kalangan pria. Tanpa berpikir panjang Arsen membalikkan badan, ia ingin mengetahui pria sekelas apa yang menemui Cansu. Dan...
Glekk!
Arsen langsung menelan saliva. Pria rupawan dengan penampilan luar biasa duduk di depan Cansu. Sungguh, itu di luar ekspektasinya. Arsen berpikir, seorang pria gemuk dengan perut buncit di tambah kepala botak duduk di depan Cansu sambil mengemis cinta. Tanpa Arsen sadari netranya dan netra Cansu kembli bertemu. Bukankah ini takdir? Entahlah, Cansu sendiri tidak tahu itu.
Akan seperti apa takdir atau masa depan yang menunggu Cansu dan Arsen, tidak ada yang tahu jawabannya. Yang Cansu tahu, hidup adalah hari ini, hari ini tempat kita melakukan kebaikan, karena hari esok belum tentu akan datang.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, apa kita bisa bergabung di meja itu?" Dengan sopan Arsen meminta wanita anggun di depannya untuk berpindah ke meja tempat Cansu dan Mars berada. Bagi Arsen, tindakannya cukup sopan. Namun bagi Cansu, itu sangat menyebalkan, bagaimana pun, tindakan Arsen akan membuat Cansu dan Mars semakin canggung.
"Hay, dokter. Anda di sini? Aku tidak menyangka kita akan bertemu seperti ini!" Ujar Arsen tanpa melepas senyuman menawannya. Mars yang menyaksikan orang asing duduk di mejanya terlihat kurang nyaman, dan Cansu tahu itu.
"Jika aku tahu kita akan datang ke tempat yang sama, aku pasti akan memberikan tumpangan." Sambung Arsen lagi, hanya dia yang mengoceh tanpa memikirkan tiga orang yang ada di dekatnya.
"Apa nona Cansu mengenal pria ini?" Mars bertanya, ia menatap Cansu dengan tatapan tak terbaca.
"Aku..."
"Tentu saja nona Cansu mengenalku." Jawab Arsen setelah memotong ucapan Cansu.
"Maksudnya kalian..." Tanya Mars dan wanita yang datang bersama Arsen berbarengan.
"Maksudku, aku sangat mengenal nona Cansu karena dia yang merawat Daddy, dia dokter pribadi yang Mommy pilih untuk enam bulan kedepan." Arsen kembali menjelaskan, Mars menganggukkan kepala, mengisyaratkan kalau dirinya tidak masalah dengan pria asing yang duduk di depannya.
Haruskan aku bersyukur karena tuan Arsen di sini? Atau aku harus mengusirnya? Cansu bergumam di dalam hatinya sembari menatap tiga orang yang duduk di samping kiri dan kanannya. Netra Cansu mengunci pada satu titik, ia menatap wanita yang datang bersama Arsen, wanita itu sangat cantik, dengan berat hati Cansu mengakui, kalau Arsen dan wanita itu sangat serasi.
...***...
__ADS_1