
Waktu menunjukan pukul 20.00, Cansu baru saja menyelesaikan shalat Isya saat ponsel yang ia letakkan di atas nakas menerima puluhan pesan singkat.
Ia terlalu malas walau untuk membaca pesan singkat, Cansu yang sok tahu malah menebak kalau rentetan pesan masuk itu pasti dari Mehek yang sedang penasaran apakah dirinya sudah bertemu dengan Austin atau belum.
Mengingat pria itu, atau sekedar menyebut namanya saja membuat Cansu kesal. Ia tidak ingin bertemu pria itu lagi walau hanya di dalam mimpi. Masa lalu biarlah berlalu dan jangan di ungkit lagi. Jika masa lalu itu menyangkut penderitaan, untuk apa di pikirkan? Itu hanya akan menghancurkan kebahagiaan. Dan itu lah yang Cansu lakukan, tetap meninggalkan masa lalunya di belakang agar bahagia yang baru saja terbit dalam hidupnya tetap bertahan.
Sungguh, efek pertikaian tadi siang di bank. Sekujur tubuh Cansu terasa sakit semua. Bahkan, lengannya yang tergores oleh pecahan kaca baru ia obati setelah ia tiba di mansion Lefrand.
Dan di sinilah Cansu sekarang, di tempat favoritnya yakni balkon yang terletak di lantai tiga mansion Lefrand. Tempatnya sangat luas, tidak akan ada yang tahu saat Cansu duduk sendirian di malam hari untuk menenangkan jiwanya yang sempat goyah oleh si brengsek Austin.
"Apa sangat sakit?"
__ADS_1
Cansu terkejut. Ia tidak menyangka akan ada yang datang di malam hari ke balkon yang anginnya tak tertahankan, dingin.
"Sedikit." Balas Cansu sembari menoleh ke belakang, ada Arsen di sana. Pria itu datang sambil membawa sebotol minuman beralkohol di tangan kanannya. Jujur, Cansu merasa tidak nyaman melihat botol minuman itu. Mau bagaimana lagi, dia hanya tamu di mansion megah ini dan bukan jalurnya untuk memarahi sang empunya rumah yang ingin meminum minuman haram itu.
"Berikan padaku." Arsen duduk di kursi samping kiri Cansu, ia meletakkan botol minumannya di atas meja. Tanpa di minta ia mulai membantu Cansu dan mengikat perban di lengan Cansu yang tergotes. Cansu tidak menolak karena ia memang tidak bisa mengikatnya dengan benar.
"Aku melihat beritanya. Ternyata Cansu kami sangat pemberani." Ujar Arsen menyanjung wanita yang duduk di dekatnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya Arsen merasa nyaman bicara dengan wanita. Dan itu memang kebenarannya.
Dua kata itu berputar di memori otak Cansu, entah itu bentuk Arsen mengungkapkan perasaannya, atau sekedar sanjungan belaka, Cansu tidak tahu itu. Yang jelas ia merasa bahagia, kekesalannya terhadap Austin seolah di telan oleh kata-kata manis seorang Arsenio Lefrand, pria tampan dengan segudang pesona indahnya.
"Bagaimana dengan terapinya? Apa Daddy membuat masalah?" Arsen kembali membuka suara di antara senyapnya udara, kedua tangannya masih sibuk membalut luka Cansu.
__ADS_1
"Haha!" Cansu tertawa, pertanyaan Arsen memancingnya.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?" Arsen menatap netra teduh Cansu, terdapat berjuta-juta kedamaian di sana.
"Iya." Jawab Cansu singkat.
"Yang lucu itu kamu, karena berpikir tuan Lefrand sumber masalah. Asal kamu tahu saja, dia pria yang baik. Tidak sepertimu, saat awal-awal kita bertemu, kau sekecut mangga madu." Seloroh Cansu tanpa bisa melepaskan senyuman dari wajah cantiknya.
"Apa? Kecut?" Tanpa sengaja Arsen menekan lengan Cansu yang di balut perban.
"Aww. Sakit." Cicit Cansu dengan wajah yang di buat semenderita mungkin. Sontak hal itu membuat Arsen terkejut, dengan cepat ia kembali meraih lengan Cansu, mengusap dengan pelan hingga meniupnya, berharap perlakuan manisnya bisa menghilangkan sakit yang di derita gadis ayu di depannya.
__ADS_1
...***...