Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Sarapan


__ADS_3

"Nyonya Begum memiliki seorang putra dan jarang berada di rumah. Jadi, nona Cansu bisa tinggal di kamar ini, tepat di sebelah kamar tuan Arsen." Cansu kembali mengingat ucapan mbok Latri tepat setelah ia baru menginjakkan kaki di mansion Lefrand.


"Ooo... Jadi dia orangnya. Putra nyonya Begum, tidak heran, sikap mereka tampak sama. Ibunya jutek dan putranya sedingin salju." Cicit Cansu sambil menatap Arsen yang masih menjulurkan tangannya.


"Dua kata untuk wajah dan penampilannya, luar biasa! Tapi sayangnya, aku bukan gadis yang melihat hal seperti itu. Bagiku etika yang utama." Cansu kembali bergumam, tanpa malu-malu ia bahkan menatap Arsen dari rambut sampai keujung kaki. Arsen yang mengetahui gelagat Cansu tampak kurang nyaman, ia bahkan sampai menarik tangannya dan berpikir tidak akan menjabat tangan wanita yang ada di depannya.


"Kenapa nona menatapku seperti itu? Apa anda tertarik padaku?" Arsen bertanya dengan penuh percaya diri, entah apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Cansu yang di tanya seperti itu tentu saja merasa tidak nyaman. Bukannya menjawab pertanyaan Arsen dengan segera, ia malah terkekeh seolah sedang menonton acara lawak.

__ADS_1


"Haha! Tuan, jangan pernah katakan hal itu di depan wanita lain, mereka akan berpikir kau memiliki sindrom pangeran." Ujar Cansu setelah ia bisa menahan tawanya.


"Aku sedang memperhatikan apa pria yang berdiri di depanku ini pria yang sama dengan pria yang memarahiku semalam, aku pikir kalian berbeda. Tapi, setelah melihat raut wajah anda, aku yakin anda pria dingin." Celoteh Cansu tanpa rasa takut, jika wanita lain yang ada di posisinya tentu saja wanita itu akan lebih memilih untuk tebar pesona, kapan lagi mereka bisa bertemu dengan pria setampan tuan muda Arsen yang jika di nilai berada di angka sembilan puluh sembilan persen sempurna.


"Terima kasih karena anda mau memperkenalkan diri di depanku, apa aku perlu mengingatkan anda namaku?" Cansu bertanya sambil meraih jemari Arsen, ia menggenggam erat tangan Arsen seolah mereka pasangan kekasih yang sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu.


"Tidak perlu!" Jawab Arsen sambil menarik tangannya.

__ADS_1


"Dasar gadis aneh! Apa dokter Goyal tidak punya kandidat lain untuk kesembuhan Daddy? Wanita ini terlihat tidak normal, ia seperti petasan yang mudah meledak. Oh Tuhan, jauhkan aku darinya!" Gerutu Arsen dengan suara rendah setelah Cansu menghilang di balik kokohnya dinding mansion Lefrand.


Sementara itu di meja makan, mbok Latri sudah menyiapkan menu sarapan untuk semua orang. Meja persegi panjang itu tampak ramai oleh berbagai masakan yang menggugah selera.


"Mbok, panggil semua orang. Terutama dokter itu, aku tidak suka dia terlambat lagi. Dan katakan padanya untuk tidak bicara di meja makan, aku benci harus mengulangi ucapan yang sama pada orang yang sama." Nyonya Begum berucap dengan nada ketus, mbok Latri yang mendengar hanya bisa menundukkan kepala.


Cansu yang mendengar secara langsung ucapan nyonya Begum tampak susah menelan salivanya. Ia tidak menyangka akan berada di posisi secanggung ini. Kedua putri nyonya Begum yang berdiri di samping Cansu terlihat menyesal, mereka merasa bersalah pada Cansu, padahal sebenarnya itu bukan kesalahan mereka. Arsenio juga ada disana, berdiri tepat di belakang ketiga gadis itu, ia juga dengan jelas mendengar ucapan ketus Mommy-nya.

__ADS_1


Tuhan, apakah ini tanda darimu agar aku meninggalkan mansion ini? Pemilik mansion ini benar-benar keterlaluan, belum genap dua kali dua puluh empat jam aku menginjakkan kaki di tempat ini, namun rasanya sangat melelahkan. Batin Cansu sambil berjalan pelan mengikuti langkah kedua adik gadis Arsenio.


...***...


__ADS_2