Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Merinding (Cansu)


__ADS_3

Pagi hari untuk ketiga kalinya kembali menyapa Cansu di kediaman Lefrand, pagi ini wajah cantiknya terlihat kusut setelah semalaman ia tidak bisa tidur. Bagaimana bisa tidur saat tuan muda arogan itu selalu saja memenuhi pikirannya. Rasa marah dan jijik masih memenuhi rongga dadanya.


Seumur hidupnya, tidak ada pria yang berani menyentuh wajahnya. Dan ini, bukan hanya menyentuh, tuan muda menyebalkan itu bahkan menempelkan hidungnya di hidung bangir milik seorang Cansu Abigail. Bukankah itu sangat menyebal? Iya, itu sangat menyebalkan bagi Cansu, walau orang berpikir itu biasa saja, namun bagi seorang Cansu Abigail yang selalu menjaga batasannya, itu merupakan penghinaan besar untuknya.


"Cih, dasar payah."


"Dia bilang dia tidak akan tergoda walau aku berjalan menggunakan bikini di depannya."


"Sampai kiamat, aku tidak akan pernah melakukan itu. Apa dia beranggapan aku sama seperti wanita yang biasa dia temui di jalanan? Huekk, membayangkan itu saja membuatku ingin muntah." Kesal Cansu sambil membuka gagang pintu kamarnya.


Dan ini untuk kesekian kalinya ia ingin menumpahkan kekesalannya. Pada siapa dia menumpahkan kekesalannya? Jawabannya, tidak ada. Karena orang yang ia maki di dalam hatinya tidak bisa mendengar keluhannya.


"Kau sudah bangun? Selamat pagi!" Sapa Arsen begitu ia membuka pintu. Ia menatap Cansu yang ada di depan pintu juga, karena kamar mereka memang bersebelahan, jadi tidak aneh bagi mereka untuk saling bertemu jika kebetulan Arsen ada di rumah.


Seperti biasa, Cansu berusaha memamerkan senyuman terbaiknya. Eitss, tunggu dulu, yang jelas ini bukan senyuman layaknya senyuman seorang kekasih yang baru saja bertemu dengan pujaannya, melainkan ini hanya sebuah senyuman sekecut jeruk nipis.


"Hallo... Aku sedang bicara denganmu! Apa kau tidak mendengar ku?" Boro-boro ingin menjawab pertanyaan Arsen, Cansu malah berjalan menjauh dari pria itu seraya melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang.


"Dasar petasan aneh!"

__ADS_1


"Sebenarnya, dari planet mana dia berasal? Sikap bar-barnya menunjukkan, kalau dia seorang wanita terbelakang."


"Jika di bandingkan dengan Leah, mereka ibarat langit dan bumi." Celoteh Arsen sembari menatap punggung Cansu yang semakin menjauh darinya. Jika di pikir-pikir, setiap wanita normal pasti akan merasa kesal saat dirinya di lecehkan. Dan ini untuk kedua kalinya seorang Arsenio Lefrand membandingkan Cansu dan Leah, mereka dua jiwa berbeda, tentu saja mereka akan memiliki sifat yang bertolak belakang. Siapa pun tahu itu.


Sementara itu di tempat berbeda, duduk Ayswa sambil mengoceh sendirian. Wajahnya terlihat serius, matanya memerah dan tangannya mengepal dengan sempurna.


"Berani sekali kau mendua kan, ku! Aku bersumpah atas nama ibu ku, aku akan menghukum mu sampai kau tidak akan berani menatap wajahmu di cermin." Ujar Ayswa dengan kemarahan membuncah. Matanya semakin memerah.


Kemarahan sebesar itu? Sebesar apa cinta yang ia miliki sampai cinta itu berhasil membuatnya terbakar dalam dendam. Cansu yang melihat dan mendengar langsung ucapan Ayswa tampak mematung tak mengerti, ia ingin bicara dengan gadis itu namun mereka tidak sedekat itu, maka jadilah Cansu sebagai penonton saja.


"Huh! Apa kau sudah selesai dengan kemarahanmu? Sekarang katakan, dia siapa?" Cansu memberanikan diri untuk mendekati Ayswa. Ia duduk di samping gadis itu sambil menatap birunya langit.


"Katakan padaku, pria mana yang berhasil melukai perasaan mu? Aku janji akan menghajarnya untuk mu!" Pancing Cansu, ia memegang pundak Ayswa, berusaha meyakinkan gadis itu kalau dirinya bisa menjadi kakak yang baik walaupun mereka tidak punya ikatan apa pun.


"Kakak, maaf. Sebenarnya, aku..." Lagi-lagi Ayswa tidak berani memaparkan yang ada dalam pikirannya. Ia Terlalu takut membongkar rahasianya, rahasia yang ia simpan sejak dua tahun lamanya.


"Oo, jadi ini masalahnya!"


"Bagas, sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan mu." Cansu membaca naskah yang ada di tangannya, naskah yang sejak tadi berusaha Ayswa simpan di bawah handuk kecil yang sengaja ia bawa dari kamarnya.

__ADS_1


"Apa kau suka ber akting? Jika kau suka, kau tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini hanya untuk melakukannya." Nasihat Cansu sambil mengangkat dagu Ayswa.


"Aku suka akting, sangat suka."


"Lalu, apa masalahnya? Kau cukup berlatih, kemudian mengikuti audisi." Cansu menggenggam tangan Ayswa sambil menyakinkan gadis itu untuk mengambil jalan yang akan membuatnya bahagia.


"Tidak semudah itu, kak. Mommy tidak akan setuju, begitu juga dengan Daddy."


"Jika kedua orang tuamu tidak setuju, kau bisa meminta bantuan pada kakak mu. Aku yakin dia akan membantu dengan suka rela."


Mendengar kata kakak membuat Ayswa menghela nafas kasar. Ia terlihat tegang, bukannya merasa lega gadis itu malah semakin terganggu.


"Kak Arsen? Bicara dengannya sama saja dengan bicara bersama tembok. Ia tidak akan perduli pada urusan rumah ini, kak Arsen hanya perduli dengan pekerjaannya. Di otaknya hanya ada pesawat dan pesawat." Cicit Ayswa sambil menekuk wajah.


"Pesawat? Maksudmu, kakak mu itu seorang pilot?"


"Mmm!" Jawab Ayswa singkat, setelah itu ia kembali terlihat menghela nafas kasar.


Oo, jadi si payah itu seorang capten. Pantas saja ia bilang tidak akan tergoda walau aku menggunakan bikini. Masalahnya, matanya sudah terlalu sering menatap hal yang haram. Gumam Cansu di dalam hatinya, ia merinding membayangkan hidup Arsen yang di liputi oleh banyak wanita.

__ADS_1


...***...


__ADS_2