
Mobil jenis Roll Roice milik Arsen yang di kendarai Cansu melesat dengan cepat, menebus jalanan kota Bandung.
Beberapa saat yang lalu, Cansu sempat terjebak dalam kemacetan panjang, menurut informasi yang ia terima dari pengendara lainnya, telah terjadi kecelakaan yang melibatkan seorang pengendara roda dua dengan sebuah mobil yang hilang kendali saat lampu merah.
Peristiwanya memang sangat di sayangkan, namun mau bagaimana lagi, terkadang musibah datang tanpa di undang apa lagi di rencanakan, yang bisa manusia lakukan hanya tawakkal semoga cobaan yang datang silih berganti bisa menambah ke imanan.
Cansu menghentikan mobil yang ia kendarai lebih dari tiga puluh menit tepat di depan sebuah rumah minimalis dengan bangunan dua lantai. Ada juga toko kue yang terlihat ramai di samping rumah dengan dua lantai itu. Seorang wanita paruh baya terlihat sedang melayani pembeli, ia menyodorkan tas kecil bertuliskan Cansu bakery. Tanpa perlu bertanya lagi, Arsen sudah tahu kalau Cansu membawanya kerumah gadis itu. Arsen tersenyum, ia merasa spesial.
Sebelum turun dari mobil Cansu buru-buru memakai baju lengan panjangnya, gadis itu tampak khawatir. Ia terlihat ketakutan. Tubuh rampingnya terlihat tegang.
"Ini rumah mu, kenapa kau terlihat khawatir?" Arsen memberanikan diri untuk bertanya walau dalam hatinya ia tahu Cansu tidak akan menjawab pertanyaannya dengan suka rela.
"Wanita itu..." Cansu menunjuk ke arah wanita paruh baya yang sedang tersenyum menghadapi pelanggannya.
__ADS_1
"Dia ibu ku, aku takut ibu khawatir jika beliau melihat lengan ku yang masih di balut perban. Sejujurnya, aku ingin membukanya. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu saat aku tahu lukanya akan terinfeksi." Cicit Cansu tanpa berani menatap Arsen.
Tin.Tin.Tin.
Cansu membunyikan klakson, ia juga membuka kaca mobil hingga tampak jelas wajah cantiknya di depan Mang Alik yang bertugas menjaga pos satpam.
"Masya Allah, apa ini benar-benar non Cansu?" Mang Alik memperlihatkan wajah terkejut mengingat nonanya itu tidak pernah pulang sejak tiga bulan terakhir.
"Ba-baik non. Kabar saya baik, rasanya seperti mimpi bisa bertemu non Cansu." Ucap Mang Alik lagi, belasan tahun bekerja di keluarga Cansu membuat pria paruh baya itu mengenal jiwa nonanya dengan baik. Jika di bandingkan dengan keluarga Arsen, kekayaan Abigail tidak lah seberapa.
"Tumben toko roti masi buka, apa hari ini ada acara penting?"
"Iya, non. Pak Mamat, yang tinggal di komplek sebelah, yang anaknya sekolah bareng non Cansu, anaknya abis nikahan. Hari ini Ibu banjir orderan." Lapor Mang Alik.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Ucap Cansu singkat, wajah cantiknya memamerkan senyuman.
"Ya ampun, non. Maaf, karena bahagia bertemu non Cansu Mamang jadi lupa buka gerbangnya." Celoteh Mang Alik yang di sambut oleh senyuman dari Cansu.
Setelah mebuka gerbang, tanpa sengaja tatapan mang Alik tertuju pada Arsen yang duduk diam sejak tadi.
"Beliau?" Cansu menunjuk Arsen, menatap wajah penasaran Mang Alik membuat Cansu bisa menebak kalau pria paruh baya itu sangat penasaran.
"Beliau putra dari pasien yang sedang ku tangani, kebetulan beliau punya urusan di Bandung. Jadi aku memaksa ikut bersamanya." Cansu menjelaskan secara rinci, ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman sekecil apa pun kemungkinannya terjadi.
"Ayo, masuk." Cansu meminta Arsen masuk ke dalam rumah. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh anggota keluarga. Mehek, Mas Bram, ayah Cansu langsung menyambut di pintu depan.
...***...
__ADS_1