Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (30)


__ADS_3

"Maaf, aku hanya bercanda." Ujar Cansu begitu ia menyadari perlakuan Arsen semakin manis. Ia menarik lengannya, kemudian duduk rapi layaknya gadis remaja yang sedang menanti kedatangan kekasih hatinya.


"Benarkah? Syukurlah." Ujar Arsen sembari mengelus dada.


"Aku pikir kau akan kesakitan gara-gara perbuatan ku." Sambung Arsen lagi. Bibir indahnya mengukir senyuman nipis. Sungguh, senyuman seindah purnama milik Arsen berhasil mencairkan hati Cansu yang sempat membeku.


Cansu merunduk, ia berusaha mengendalikan dirinya. Perasaan aneh yang akhir-akhir ini muncul membuat Cansu merasa asing dengan dirinya sendiri. Tidak mungkinkan ia jatuh cinta? Jawabannya mungkin saja 'Iya' atau mungkin juga 'Tidak' yang jelas Cansu memilih untuk mengabaikan kebenaran yang ia takuti itu. Ia terlalu takut merasakan patah hati untuk kedua kalinya, dan Cansu bukan gadis bodoh yang akan menempatkan dirinya dalam masalah, apa lagi sampai terlibat cinta dengan sembarang pria yang tidak halal baginya.


Dalam kasus Austin, hingga kini Cansu masih merasakan pahitnya di hianati di detik-detik terakhir hubungan mereka. Sampai kapan pun, Cansu tidak akan pernah menjulurkan tangannya pada pria dan mengatakan 'ayo kita pacaran' ia hanya akan menjulurkan tangannya dan memberikan hatinya pada pria yang halal baginya.


"Sudah tidak sakit lagi."


"Terima kasih. Berkat tangan ajaib mu." Seloroh Cansu pelan, ia menatap Arsen untuk sesaat kemudian merunduk berusaha mengendalikan hatinya. Tidak ada balasan dari Arsen selain anggukan kepala pelan. Pria itu tampak santai.


Malam semakin larut namun tak ada tanda-tanda Arsen dan Cansu akan beranjak meninggalkan balkon yang terasa semakin dingin. Dua makhluk indah itu sama-sama menikmati waktunya. Bosan? Tak terlihat dalam diri mereka padahal mereka menghabiskan waktu bersama hampir dua jam lamanya.


"Apa itu menyenangkan?" Cansu bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari gelas kaca yang ada di atas meja. Atau tepatnya gelas kosong yang sudah habis isinya.

__ADS_1


"Hmm!" Arsen yang tadinya menatap rembulan kini mengarahkan tatapannya pada wajah cantik Cansu yang tampak tak senang melihat botol yang tersisa tinggal setengah isinya.


"Menyenangkan? Maksudnya minuman ini?" Arsen balik bertanya sembari mengangkat botol minuman beralkohol dengan tangan kirinya, aroma keras yang menguar dari mulut Arsen membuat Cansu mual. Hampir saja ia berlari untuk memuntahkan isi perutnya, namun dengan cepat Arsen menggenggam jemari Cansu, mencegah wanita itu pergi.


"Minuman ini lebih nikmat melebihi yang kau bayangkan. Meminum minuman ini membuatku seolah terbang. Kau tahu kan? Aku sangat suka terbang. Surtttt!" Tangan Arsen mengambang di udara, menjelaskan bagaimana pesawat yang ia terbangkan terbang di atas ribuan kaki.


"Kenapa? Apa kau tidak suka aromanya? Hihi." Arsen bertanya karena melihat Cansu menutup hidungnya, pria rupawan itu tertawa seolah dirinya sedang menonton acara televisi yang berhasil memancing tawanya.


"Iya, aku tidak suka. Aku benci minuman keras, dan aku lebih benci pada orang yang meminumnya." Cicit Cansu dengan suara lantang, ia melepaskan genggaman tangan Arsen di jemari lentiknya.


"Oh ayolah Cansu..."


Cansu menelan saliva mendengar Arsen menyebut namanya tanpa beban. Untuk pertama kalinya Cansu merasa bahagia saat orang lain menyebut namanya selain keluarganya.


"Kau bisa mencobanya jika kau mau. Lagi pula, setahuku, banyak wanita yang meminumnya. Kau tahu rekan kerjaku?" Arsen mencoba menguatkan pendapatnya seolah dirinya merasa kecewa karena Cansu bilang tidak suka pada peminum seperti dirinya.


"Kami minum bersama saat tidak ada jadwal penerbangan, bahkan rekan kerja wanita lebih jago meminum minuman beralkohol di banding dengan diriku. Tak jarang, rekan kerja wanita yang ku tahu juga merokok seperti ku." Sambung Arsen tanpa beban. Ia merasa kecewa saat Cansu mengetahui kebiasaan buruknya. Maka sebisa mungkin Arsen mencari alasan yang bisa membenarkan tindakannya.

__ADS_1


"Iya, itu sah-sah saja untuk mu dan rekan kerjamu untuk meminum minuman beralkohol atau sekedar merokok. Tapi beda dengan ku!" Cancu menatap wajah Arsen yang terlihat mulai memerah, entah pria itu kedinginan atau efek dari minuman yang ia minum, Cansu tidak tahu itu. Yang ia tahu, ia tidak ingin berdebat lagi.


"Aku wanita biasa, aku tidak minum minuman haram itu, aku juga tidak merokok. Jadi, sekuat apa pun argumen yang kau ucapkan di depanku, tetap saja kau salah. Bagi ku, yang salah tetap saja salah." Celoteh Cansu dengan suara tegasnya. Ia menempelkan telapak tangan kanannya di kening Arsen. Seperti tebakan Cansu, pria itu kedinginan dan Cansu takut dia akan terkena demam. Cansu berjalan meninggalkan Arsen agar pria itu ikut masuk bersamanya.


"Ahh iya, satu lagi. Bukan aku yang mengatakan alhohol itu haram. Semuanya tertera dalam kitab suci yang ku baca, Al-qur'an." Ucap Cansu sembari menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh kebelakang, bibir tipisnya memamerkan senyuman seindah purnama.


"Dan sekarang aku yang akan mengatakannya." Cansu berjalan mendekati Arsen, kedua tangannya melepaskan selimut yang melingkar di tubuh rampingnya.


"Alkohol itu tidak baik untuk kesehatanmu. Aku seorang dokter jadi aku tahu itu." Sambung Cansu lagi, ia menarik Arsen agar mendekat padanya.


"Kau tampan jika kau tetap berjalan dengan benar. Kau tampan jika kau menjauhi minuman haram. Dan satu lagi, kau tampan tanpa perlu mendengarku mengatakan kau tampan. Dan ketampananmu akan terlihat sempurna saat kau bersikap manis terhadap semua orang." Aku Cansu sembari memakaikan selimut di tubuh jangkung Arsen, kakinya menjinjit dengan sempurna karena tinggi mereka yang tidak sepadan.


"Selamat malam." Ujar Cansu mengakhiri percakapannya. Kali ini Cansu benar-benar pergi. Ia melambaikan tangannya sembari berjalan mundur.


Arsen?


Pria itu seolah terbang ke awan mendengar pengakuan Cansu kalau dirinya tampan. Ia bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari Cansu hingga tubuh ramping itu menghilang di balik kokohnya dinding mansion Lefrand.

__ADS_1


Apa aku sedang bermimpi? Kenapa dadaku berdebar seolah jantungku akan loncat keluar? Biasanya aku tidak merasa seperti ini. Ada apa denganmu Arsenio Lefrand? Apa kau masih waras? Arsen memegang dadanya yang berdebar, ia masih bisa merasakan bagaimana mudahnya jiwanya tergoda melihat Cansu yang berdiri tanpa jarak. Hampir saja ia melahap bibir mungil gadis itu, namun akal sehatnya segera bekerja sehingga ia tidak jadi melakukan tindakan konyol itu.


...***...


__ADS_2