Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Jarak Tiga Inchi


__ADS_3

Syukurlah, dia menolaknya. Akan sangat canggung jika dia menerima tawaran Rainha. Batin Arsen senang. Ia menatap tubuh ramping Cansu yang semakin menjauh darinya, Arsen bahkan tidak melepaskan tatapannya hingga tubuh itu menghilang di balik kokohnya dinding mansion Lefrand.


Sementara itu, di balkon. Tuan Arnold sedang membaca surat kabar. Sesekali, ia menyeruput kopinya, kopi yang mulai dingin. Tak jauh dari tempat tuan Arnold duduk, berdiri pengawalnya dengan tatapan tajam kearah depan, ia selalu siaga.


"Selamat siang tuan?"


"Saya yakin tuan pasti sudah mengenal saya dengan baik, karena itu saya tidak punya niat untuk memperkenalkan diri." Ucap Cansu dengan keyakinan penuh begitu ia duduk berlutut mensejajarkan diri dengan tinggi tuan Arnold. Biasanya orang kaya selalu mencari informasi tentang segala hal yang di inginkannya, dan Cansu yakin dirinya tidak lepas dari pengawasan nyonya Begum atapun suaminya.


"Walau saya bilang tidak ingin memperkenalkan diri, saya akan mengatakannya sekali saja. Nama saya Cancu. Cansu Abigail." Ucap Cansu santai. Sekilas, Cansu memberanikan diri menatap netra tuan Arnold, tampak jelas kalau pria paruh baya itu tidak menyukai Cansu, ia bahkan bertindak acuh. Setelah meletakkan surat kabar yang ada di tangannya, tuan Arnold berniat akan meninggalkan Cansu, namun dengan cepat Cansu menahan kursi roda pria paruh baya itu sehingga keinginannya untuk pergi tidak bisa terlaksana.


"Kamu datang kemari karena uang?"


"Berapa yang kamu inginkan?"


"Aku tahu, sosok sepertimu terlihat santai namun kau penuh tipu daya."


"Kamu bisa meminta uang dari asistenku, setelah itu tinggalkan tempat ini. Untuk selamanya." Cecar tuan Arnold seolah ia mengetahui masa depan.

__ADS_1


Cansu yang mendengar ucapan tuan Arnold masih diam, ia bahkan membuang nafas kasar berusaha agar tidak marah.


"Tuan yang terhormat, aku datang ketempat ini bukan untuk bermain."


"Anda suka atau tidak, aku akan tetap melakukan tugasku sampai anda bisa berdiri lagi. Lagi pula, aku datang ketempat ini bukan atas kehendakku sendiri. Ada dokter Goyal yang memaksaku."


"Sebagaimana aku memaksakan diri untuk datang ketempat ini, anda juga harus memaksakan diri menerima perawatan dariku. Entah anda suka atau tidak melihat wajahku, aku tidak perduli. Yang jelas, mulai hari ini, aku akan menempel seperti permen karet." Cicit Cansu sambil melipat kedua tangan di depan dada. Jika orang lain bersikap menyebalkan di depannya, maka Cansu pun bisa membalas dengan cara yang sama.


Tanpa memperdulikan ucapan Cansu, tuan Arnold meminta asistennya dengan paksa untuk segera membawanya pergi. Berlama-lama bersama dokter yang menurutnya sangat menyebalkan membuat tuan Arnold semakin sakit. Pria paruh baya itu bahkan sampai memijit kepalanya.


Ini menarik. Tuan, selamat. Akhirnya anda menemukan seseorang yang mirip dengan anda. Maksudku, sama-sama keras kepala. Batin asisten tuan Arnold, pria muda itu tersenyum sambil mendorong kursi roda.


"Kenapa tertawa?"


"Apa ada yang lucu?"


"Aku merasa seolah sedang berhadapan dengan musuh lamaku?" Cicit Cansu tanpa menghiraukan sosok yang terlihat cemberut itu.

__ADS_1


Cansu berdiri sambil memasukkan tangan kedalam saku. Ia mengerutkan kening tanpa melepaskan tatapan dari sosok rupawan yang saat ini berdiri jarak lima langkah darinya.


"Jangan menatapku seperti itu, aku takut kau akan jatuh cinta padaku, kemudian aku akan menolakmu karena kau bukan tipeku." Ujar sosok di depan Cansu itu.


Huekkk!


Rasanya Cansu ingin muntah, namun ia kembali menelannya. Ia tersenyum, namun di dalam hati ia meremehkan sosok yang terlalu percaya diri itu.


"Haha! Hay tuan muda kurang kerjaan, jangan berkata seperti itu di depan wanita lain. Aku takut mereka akan muntah di depanmu." Cicit Cansu sambil berusaha keras menahan tawa.


"Memangnya kenapa? Aku tampan! Aku mapan! Aku punya pekerjaan bagus, aku bahkan berasal dari keluarga yang tidak akan pernah tertolak bebet, bobot dan bibitnya." Balas sosok indah yang berdiri di depan Cansu.


Iya, ku akui itu. Arsen memang sosok sempurna untuk di jadikan sandaran. Namun aku juga mengakui diriku sendiri, aku bukan tipe wanita yang mudah meleleh oleh pria yang tidak ku ketahui kualitas imannya. Batin Cansu sambil berjalan dua langkah mendekati Arsen.


Tanpa Arsen sadari, Cansu mendekatinya kemudian menatap matanya. Jarak mereka hanya terpisah tiga inchi saja.


"A-apa yang kau lakukan?" Arsen bertanya, ia gugup.

__ADS_1


"Aku sedang melihat matamu, aku ingin menyelaminya dan mencari tahu apakah aku benar-benar bisa tersesat disana atau tidak." Dengan santainya Cansu berucap seperti itu, ia tidak menyadari kalau Arsen terlihat gugup. Bagaimana Arsen tidak gugup jika jarak mereka hanya terpisah tiga inchi saja, otak mesum Arsen mulai bekerja sehingga ada keinginan dalam dirinya untuk melahap bibir mungil berwarna merah muda milik Cansu Abigail.


...***...


__ADS_2