Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Ingin mengusir Cansu (Arsen)


__ADS_3

"Kau lihat?"


"Bukan hanya kau yang merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku juga."


"Maksudku, aku tidak nyaman saat berada di dekatmu." Kilah Cansu sambil melipat kedua lengan di depan dada, ia mundur tiga langkah untuk menjauhkan diri dari Arsen yang terlihat mulai marah.


"Dan buruknya, walau aku tidak suka dengan keadaan ini, aku harus bertahan. Aku harus menerima kenyataan kalau ini rumahmu dan aku hanya seorang tamu. Hanya tamu!" Cancu menegaskan pada kata tamu agar ia tidak terlalu melibatkan diri dengan anggota keluarga Lefrand. Terkadang, ia memang harus membatasi diri dengan setiap orang yang baru ia temui.


Arsen yang mendengar ucapan Cansu mulai tersenyum, senyum yang menjelaskan kalau gadis yang berdiri di depannya terlalu percaya diri dan dia ingin gadis di depannya mendapat hukuman keras atas ketidak sopanannya. Berani sekali ia mempermainkan seorang Arsenio Lefrand.


"Sekali lagi, jangan pernah ulangi ucapan tadi di depan wanita lain. Maksudku, tidak semua wanita akan tertarik pada pria sekelas tuan muda." Tunjuk Cansu sambil menahan tawanya.


Tanpa berucap sepatah kata, Arsen tiba-tiba menarik pergelangan tangan Cansu hingga membentur dada bidangnya. Jarak bibir mereka hanya terpisah jarak satu inchi saja.


Glek!


Arsen menelan saliva, tatapan matanya tertuju pada satu titik. Bibir ranum milik Cansu Abigail terlalu menggoda. Seandainya akal sehatnya tidak bekerja, sudah di pastikan, Arsen pasti akan menutup bibir Cansu dengan bibirnya sehingga petasan sekelas Cansu tidak akan berani lagi untuk mengatainya.

__ADS_1


"Kau lihat, walau sedekat ini aku bahkan tidak tergoda pada wanita sepertimu. Bahkan jika kau berjalan di depanku hanya menggunakan bikini, hal itu tetap tidak akan bisa menarik perhatianku.


Jadi, jangan pernah menyombongkan dirimu di depanku. Dari pada berhubungan dengan wanita sepertimu, lebih baik aku jadi perjaka seumur hidupku." Celoteh Arsen sambil perlahan melepas pergelangan tangan Cansu. Ia terlalu marah karena Cansu berani memancing sisi gelap di dalam dirinya. Di tambah, selama ini tidak ada yang pernah berani bicara sambil menatap matanya.


Marah!


Satu kata itu memenuhi seluruh raga Cansu, rasanya ia ingin mencakar, menjambak dan menampar pria dingin yang saat ini mengatainya. Berlama-lama bersama Arsen membuat darahnya terasa mengalir sepuluh kali lebih cepat. Tatapan tajam Cansu menembus ke jantung Arsen. Dengan kemarahan yang masih memenuhi rongga dadanya, Cansu pergi sambil menggosok hidungnya.


Iya, tadi hidung Arsen sempat menempel di hidungnya, dan hal itu membuat Amarah Cansu semakin berlipat ganda.


Cansu membuang nafas kasar begitu ia sampai di dalam kamarnya. Tangannya mengepal dengan sempurna.


Buk.Buk.


Cansu meninju bantal kecil yang ada di atas pangkuannya, ia membayangkan seolah dirinya sedang meninju wajah tampan milik seorang Arsenio Lefrand, pemuda sok tampan. Ralat, bukan sok tampan karena Arsen memang sangat tampan, Cansu pun mengakui itu, hanya saja otaknya menolak untuk mengakui itu.


Tak jauh berbeda kondisinya, di kamarnya Arsen sedang mengipasi wajah dengan kedua telapak tangannya. Kamarnya terasa dingin. Namun, entah kenapa ia mengipasi wajahnya seolah dirinya baru saja melakukan olahraga berat.

__ADS_1


"Ada apa ini?"


"Kenapa aku kepanasan?"


"Aku tidak melakukan hal berat, lalu apa ini?"


"Apa karena petasan itu meledak sehingga panasnya sampai menembus kamarku?"


"Dasar bodoh, apa yang ku pikirkan? Tidak mungkin kan aku...?" Ucapan Arsen tertahan di tenggorokannya, ia menghujani dirinya dengan pertanyaan bodoh, ia sadar ia tidak akan mendapatkan jawaban namun tetap saja ia berucap seperti orang payah yang kehilangan arah, dan buruknya ini untuk pertama kalinya ia terlibat pada urusan bodoh yang berhasil mengalihkan perhatiannya.


"Dia bahkan tidak secantik Leah!"


"Petasan itu terlalu berbahaya, sebelum Daddy dekat dengannya aku harus mengusirnya." Gerutu Arsen dengan tatapan lurus kedepan, ia membulatkan tekad, dan otak kecilnya mulai menyusun rencana besar agar Cansu segera pergi dari mansion Lefrand.


Untuk sesaat, Arsen berusaha meyakinkan diri kalau ia benar-benar harus menyingkirkan Cansu sebelum ia terlibat lebih jauh dengan wanita aneh itu. Namun jauh di lubuk hati terdalamnya, Arsen menyadari harinya jauh lebih berwarna saat berhadapan dengan petasan itu. Ada apa ini? Arsen sendiri tidak tahu jawabannya. Biarkan Tuhan melakukan perannya, detik demi detik yang terlewati, semuanya pasti akan menemukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2