Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Mati Lampu


__ADS_3

"Makanan ini, di istana ini? Waw, ini menakjubkan." Cansu mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Matanya menatap takjub pada apa yang ada di depannya. Setelah membaca do'a ia mulai memasukkan sendok pertama kedalam mulutnya. Matanya mengerjap menikmati kelezatan yang mulai melumer di mulutnya.


"Makanan ini benar-benar lezat." Cansu memberikan komentarnya walau ia tahu komentarnya tidak akan memberi pengaruh apapun, justru sekarang nyonya Begum menatapnya dengan tatapan tajam. Berbeda dengan kedua putrinya yang duduk di samping Cansu, mereka tersenyum melihat tingkah menggemaskan Cansu di meja makan. Jujur, ini pertama kalinya bagi kedua putri nyonya Begum menyaksikan keriuhan di meja makan.


"Apa anda tahu nyonya? Sejak pagi aku sangat merindukan seseorang, berkat makan malam kali ini rasa rinduku terbayar lunas. Terima kasih." Cicit Cansu berterus terang, dia memang sangat merindukan Ibunya.


"Tidak ada percakapan selama di meja makan, aku dan keluargaku tidak pernah melakukan itu. Apa selama ini kau selalu banyak bicara?" Nyonya Begum yang tadinya akan memasukkan sendok pertama kedalam mulut mengurungkan niatnya untuk makan, ia kembali meletakkan sendok yang terisi penuh makanan itu di piringnya. Tatapannya penuh intimidasi.


"Lanjutkan makan malam kalian!" Ujar Nyonya Begum sambil berdiri.


"Apa nyonya tidak akan makan malam?" Cansu bertanya dengan suara pelan, ia juga ikut berdiri.

__ADS_1


"Seleraku sudah hilang." Balas nyonya Begum singkat, setelah itu ia meninggalkan ruang tengah. Berjalan menuju ruang baca yang ada di dekat tangga.


Dasar keluarga aneh! Aku hanya bicara sedikit, nyonya itu malah kehilangan selera makan. Bukankah wajar bagi sebagian orang untuk bicara dimeja makan? Lagi pula aku hanya menyanjung makanan itu, apa salahnya dengan itu? Tuhan, beri aku kesabaran untuk menghadapi keluarga ini selama beberapa bulan kedepan. Cansu bergumam di dalam hatinya seraya menatap makanan yang ada di depannya, dia juga mulai kehilangan selera makannya. Padahal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


Makan malam pertama Cansu di kediaman Lefrand berakhir dengan menahan rasa lapar, ia kembali kekamarnya tanpa menghiraukan menu lezat yang terhidang di depannya.


Kruk.Kruk.Kruk.


"Kenapa kau menyusahkanku? Kita bukan musuh, kita ini satu paket. Jadi jangan bernyanyi lagi, oke!" Cansu mencoba menenangkan diri, sedetik kemudian dia kembali berbaring.


Kruk.Kruk.Kruk.

__ADS_1


"Aistt. Kenapa kau berbunyi lagi." Keluh Cansu dengan suara pelan.


"Baiklah, ayo kita makan."


"Sepertinya coklat di tengah malam akan cukup untukmu." Celoteh Cansu sambil berjalan menuju pintu dan keluar dari kamarnya. Kali ini ia berjalan menuju dapur, jika ingin membandingkan, mansion Lefrad tiga kali lipat lebih besar dari rumah Cansu yang ada di Bandung, karena itulah ia butuh waktu lima menit untuk bisa tiba di dapur luas milik nyonya Begum, dapur yang pastinya tidak pernah ia masuki karena pelayannya berjejer di setiap sudut mansion megahnya.


"Wah, menakjubkan." Cansu terlihat kagum dengan isi kulkas yang ia buka, penuh dengan makanan.


"Dimana coklatnya? Ahh, iya. Ini dia." Celoteh Cansu sambil tersenyum. Ia membuka coklat itu kemudian menggigitnya.


"Innalillah." Cansu terkejut, seluruh lampunya tiba-tiba padam. Tak ingin berlama-lama, ia segera meninggalkan dapur dan kembali menuju kamarnya, tanpa ia sadari ia berpapasan dengan seseorang di ruang tengah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2