Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (33)


__ADS_3

Butuh waktu ber jam-jam untuk Arsen agar bisa menyelesaikan diskusi panjangnya. Sayangnya, setelah begitu banyak waktu yang ia habiskan, diskusinya tidak membuahkan hasil. Atau tepatnya ia gagal meyakinkan pak Hamit untuk menjual tanahnya yang ada di Malang.


Sementara Cansu?


Gadis itu terlihat duduk di teras depan, menunggu Arsen sambil menatap sang Rembulan. Sejak peristiwa pagi tadi, Cansu mulai merajuk. Ia tidak ingin bicara dengan Arsen. Jangankan bicara, Cansu bahkan tidak mau menatap pria itu. Ia terlalu kesal saat mendapati Arsen ingin meraup bibirnya tanpa izin darinya. Cansu yakin, siapa pun wanita yang berada di posisinya pasti akan melakukan hal yang sama.


Jika ada yang berkata zaman sudah moderen dan seorang perempuan bebas berhubungan badan dengan lawan jenisnya tanpa ada larangan atau ikatan pernikahan, maka Cansu dengan tegas mengatakan. Ia tidak akan pernah mengikuti kegilaan seperti itu, ia juga tidak akan mengikuti kambing untuk mengembek walau ia berada di tengah sekumpulan kambing.


"Apa kau suka rembulan." Arsen bertanya begitu ia tiba dan berdiri di belakang Cansu. Sejujurnya dia merasa bersalah atas kejadian pagi tadi, namun gengsinya yang berkuasa hingga ia tidak mengucapkan kata maaf setelah detik, menit, dan beberapa jam berlalu.


"Mm!" Balas Cansu singkat, ia terlalu malas untuk membuka mulutnya.

__ADS_1


"Sekarang sudah larut..."


"Terus?" Cansu memotong ucapan Arsen, ia menatap pria itu dengan tatapan tak suka. Arsen yang melihat perubahan Cansu terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak suka melihat Cansu menatapnya seperti itu, seolah tatapan wanita itu menjelaskan kalau dirinya pria mesum tak bermoral.


Jujur, biasanya Arsen tidak pernah bertingkah bodoh. Entah kenapa di depan Cansu, ia merasa seperti menemukan hatinya yang telah lama menghilang. Arsen juga bingung kenapa ia bersikap seperti itu. Mau bagaimana lagi, pertanyaan tetaplah pertanyaan dan ia tidak punya jawaban untuk setiap kegelisahan yang menuhi rongga dadanya.


"Ini sudah malam, kita tidak bisa berada di sini terus. Kita juga tidak bisa pulang, terpaksa kita harus mencari hotel terdekat." Aku Arsen dengan berat hati. Ia melipat kedua lengan di depan dada seolah mengabarkan kalau itu sudah keputusan final, maksudnya mereka tetap harus menginap apa pun yang terjadi.


Arsen sudah tahu ia akan mendengar jawaban itu dari Cansu, ia ingin protes karena ia juga merasa kelelahan dan tak akan sanggup mengendari mobil.


"Aku ingin pulang, dan aku tidak suka menginap di hotel." Celetuk Cansu dengan nada suara datar.

__ADS_1


"Aku tidak bisa berkendara, ini terlalu larut dan aku sangat lelah." Arsen membelakangi Cansu, dalam hati ia berharap wanita di depannya ini akan menyetujui pendapatnya.


"Aku tahu kau kelelahan karena itu aku tidak memaksamu. Berikan kuncinya!" Cansu menyodorkan tangannya, sedetik kemudian kunci mobil jenis Rolls Royce itu sudah berganti tangan, atau tepatnya dalam genggaman Cansu.


Seperti sebelumnya, kedua makhluk indah itu duduk dalam diam. Tak ada tanda-tanda Cansu atau pun Arsen akan membuka mulutnya. Berjam-jam berlalu setelah kejadian itu namun mereka berdua masih saja sungkan, baik Cansu atau pun Arsen sama saja. Sama-sama tidak punya iktikad baik untuk meminta maaf dan memberi maaf. Semuanya terlihat sederhana namun tidak bagi Cansu yang memiliki batasan dalam pergaulan. Di sentuh sebelum pernikahan? Itu merupakan kutukan baginya.


"Kemana kau akan membawa ku?" Arsen memberanikan diri untuk bertanya setelah belasan menit berlalu, Cansu sendiri terlihat fokus menyetir, matanya menatap lurus ke jalanan.


"Pulang." Jawab Cansu singkat.


Seketika, tatapan Arsen langsung tertuju pada wanita yang menurutnya masih kesal padanya. Ia tidak bertanya lagi, namun tatapannya menjelaskan betapa besar rasa penasarannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2