
Waktu menunjukkan pukul 13.19. Setelah menyelesaikan shalat Zuhur dan membaca Al-Qur'an Cansu dengan segera meninggalkan kamarnya, ia berjalan melewati ruang tengah kemudian naik tangga menuju balkon, biasanya tuan Lefrand ada disana untuk menikmati kopi-nya, dan Cansu ingin menemui pria paruh baya itu untuk memulai sesi pertamanya.
"Non Cansu mau keatas?" Mbok Latri yang berpapasan dengan Cansu bertanya sambil meletakkan keranjang pakaian yang ia ambil dari kamar Ayswa.
"Iya, aku akan bertemu dengan tuan Lefrand." Balas Cansu seadanya, karena itu memang kebenarannya.
"Mbok berharap non Cansu bisa betah tinggal disini, beberapa dokter yang datang terpaksa angkat kaki karena tuan tidak mau di obati." Ujar Mbok Latri sembari memamerkan wajah sedihnya. Bertahun-tahun bekerja di mansion Lefrand membuatnya mengenal seluk beluk mansion mengah ini, dan terutama para penghuninya.
"Iya, terima kasih. Saya juga berharap demikian." Balas Cansu lagi. Wajah cantiknya memamerkan senyuman menawan, entah apa yang di pikirkan Arsen tentangnya sampai pemuda dengan paras rupawan itu memanggilnya petasan. Dilihat dari sisi manapun, dan jika dinilai, kecantikan Cansu ada di angka sempurna.
"Tuan muda menyebalkan itu ada dimana? Apa dia dan teman-temannya masih disini?" Kali ini Cansu bertanya sambil berbisik, ia tidak ingin ada yang mendengar ucapannya. Mendengar kata 'Menyebalkan' tiba-tiba keluar dari lisan Cansu membuat Mbok Latri tertawa lepas, itu bisa di pahami mengingat Cansu tidak mengenal pria itu dengan baik dan benar.
__ADS_1
"Non Cansu tidak boleh berkata seperti itu." Ucap mbok Latri begitu wanita paruh baya itu bisa mengendalikan tawanya.
"Tuan muda pria yang baik, hanya saja, sesekali ia akan bertingkah seperti singa." Lapor mbok Latri dengan suara pelan, ia mulai berbisik seperti yang di lakukan Cansu sebelumnya.
Sesekali dia akan bertingkah seperti singa, dan itulah masalahnya. Aku tidak pernah takut saat beberapa preman mengganggu klinikku. Tapi disini, tuan muda payah itu bersama dengan ibunya membuatku merinding detik demi detik. Batin Cansu sambil membuang nafas kasar. Dia bilang tidak suka pada Arsen, namun pikirannya tertuju pada pria itu. Seolah pria itu bagai bayangan hitam yang mengganggu hidup tenangnya.
Baru saja Cansu akan beranjak meninggalkan mbok Latri, tanpa di duga Arsen dan ketiga rekannya berpapasan dengan Cansu. Tentu saja ini hanya kebetulan.
"Hay nona dokter..." Salah satu Rekan Arsen dengan kemeja putih tanpa malu menyapa Cansu, wajah tampannya mengukir senyuman.
"Baiklah, non dokter. Mbok tinggal dulu, mbok harus membawa pakaian ini kebelakang." Setelah mengatakan itu, mbok Latri benar-benar pergi. Meninggalkan Cansu, Arsen dan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan nona dokter, apa kita bisa berteman?" Salah satu rekan Arsen kembali membuka suara, yang kemudian di balas oleh senyuman manis dari Cansu.
Dia tersenyum? Perempuan seperti apa yang berdiri di depanku ini? Kenapa dia tidak merasakan risih saat buaya mencoba menggodanya? Arsen bergumam di dalam hatinya sambil melipat kedua tangan di depan dada, nampak jelas rasa tidak sukanya.
"Apa sekarang kita teman?"
Cansu tampak tenang, ia bukan tipe wanita yang akan berbunga-bunga saat pria tampan menggodanya. Dalam hati ia merasa tidak suka, namun sebisanya ia tersenyum untuk memendam rasa jenuhnya.
"Aku minta maaf, aku tidak semudah itu untuk menjalin pertemanan. Permisi." Ucap Cansu tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya. Mengucapkan kata-kata kasar bukanlah gayanya, dan itupun tidak di anjurkan dalam keyakinan yang di anutnya, apalagi itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang di ajarkan Mama dan Papanya.
Aku bukan gadis bodoh yang mudah tergoda oleh kata-kata manis dari seorang buaya. Hanya dengan melihatmu, aku sudah bisa menyimpulkan kau seperti apa. Sampai kapanpun, aku tidak akan menerima uluran tangan pria yang hanya ingin coba-coba, cukup sekali aku merasakan luka.
__ADS_1
Austin, aku membencimu, jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku. Aku memang pandai mengobati, dan aku juga pandai untuk mematahkan orang yang berani menggangguku. Batin Cansu sambil berjalan pelan, meninggalkan Arsen dan rekan-rekannya.
...***...