
Malam semakin larut namun tak ada tanda-tanda Arsen dan Cansu akan meninggalkan halaman depan. Kedua makhluk indah itu saling berbagi kisah lama, sesekali mereka saling mengajukan pertanyaan yang kemudian saling membalas dengan jawaban jujur.
"Aku..." Ucap Cansu dan Arsen berbarengan.
Hahaha!
Cansu dan Arsen terkekeh. Mereka saling menertawai kekonyolan mereka.
"Ladys first." Arsen kembali angkat bicara, ia bersikap seolah sedang bicara dengan teman lamanya. Maklum saja, perkenalan mereka bisa di bilang cukup rumit. Dan sekarang mereka lumayan dekat, bagi Arsen yang biasanya selalu bersikap dingin, dekat dengan seseorang itu merupakan hal yang berada di luar nalar. Semoga saja sikap sangarnya tidak akan pernah muncul kepermukaan selama ia dan Cansu saling berbagi perasaan.
"Rumah ku tidak sebanding dengan istanamu, semoga kau betah menginap di sini, untuk malam ini. Hanya malam ini." Cansu menegaskan pada kata malam ini karena sebelumnya ia tidak berniat mengajak Arsen berkunjung kerumahnya.
__ADS_1
"Iya, akan ku usahakan untuk tidak mengeluh. Terima kasih karena nona Cansu membawaku kerumah nona Cansu." Balas Arsen sambil memamerkan senyum semanis madunya.
Cess!
Untuk sesaat dada Cansu mulai berdebar, senyuman semanis madu milik Arsenio Lefrand berhasil membelai lembut lubuk hati terdalamnya. Ia tergoda, ia terpesona pada sosok seindah purnama.
Tuhan, ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa seolah jantungku bukan lagi milikku! Hatiku tak lagi mendengarku, apa begitu mudahnya aku terpesona pada pesona indahnya? Inilah alasannya kenapa manusia di perintahkan untuk menundukkan pandangan agar hatinya tak mudah goyah apa lagi sampai tergoda oleh sesuatu yang tidak halal baginya. Cansu Abigail... Kau sangat payah. Gumam Cansu di dalam hatinya. Ia bicara panjang kali lebar, untung saja Arsen tidak mendengar ucapannya. Jika saja pria itu tahu isi hati Cansu, sudah di pastikan Cansu tidak akan berani mengangkat kepalanya di depan Arsen lagi.
"Cuaca malam ini sangat dingin, pastikan kau menggunakan baju hangat yang sudah di siapkan oleh ibuku. Dan satu lagi, usahakan agar kau tidak menyalakan pendingin ruangan, karena aku tidak mau kau menggigil sepanjang malam. Selamat istirahat, Good Night." Cansu berdiri dari kursi yang ia duduki sejak dua jam yang lalu, ia melambaikan tangan pada Arsen. Seperti biasa, wajah cantiknya terlihat datar. Iya, Cansu jarang mengumbar senyuman di depan sembarang orang, dan Arsen berada dalam daftar utamanya.
"Ada apa dengan hatiku?" Cansu bertanya sembari mengusap dada. Ada hal yang tidak ia mengerti walau otak cerdasnya berusaha memikirkan alasan logisnya.
__ADS_1
"Jatuh cinta? Tidak mungkin!" Cansu tersenyum, ia menepis pikiran bodohnya. Cukup sekali ia merasakan patah hati dan ia tidak ingin mengulangi sakit yang sama. Ia benci rasa sakit itu, rasa sakit yang nyaris merenggut kepercayaan dirinya.
Sementara itu di kamar berbeda, Arsen sedang berbaring sembari membaca puluhan pesan masuk di aplikasi hijau yang ada di hand-phone pintar miliknya. Seperti biasa, ada puluhan pesan dari detektif kepercayaan Arsen. Dua bulan bekerja namun tak ada tanda-tanda positif dari sekumpulan orang mengecewakan itu.
Selamat sore tuan.
Maaf, kami sudah berusaha. Hingga kini belum ada tanda-tanda kalau orang yang tuan cari berada di negara ini.
Berikan kami waktu dua bulan lagi. Tidak, tidak. Bukan dua bulan, tapi satu bulan. Jika kami tidak bisa menemukannya dalam waktu selama itu, maka kami siap mengundurkan diri tanpa di bayar sepeserpun.
"Hmm!" Seperti biasa Arsen hanya bisa menghela nafas kasar, ia meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian berusaha keras untuk menutup mata walau hatinya merasakan kecewa.
__ADS_1
Kau di mana Green? Kemana lagi aku akan mencarimu? Arsen bergumam di dalam hatinya, ia berusaha memejamkan mata dengan kerinduan yang memenuhi rongga dadanya. Kerinduan pada sosok lama yang tak pernah terlihat oleh netranya.
...***...