Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (25)


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud mencuri dengar ucapan nona Cansu..."


"Cansu. Hanya Cansu." Ucap Cansu memotong pembicaraan Arsen.


"Tidak apa-apa. Aku bisa memahaminya." Sambung Cansu lagi. Bibir tipisnya mengukir senyuman tulus seolah mereka teman lama yang baru di pertemukan oleh takdir.


"Austin? Mendengar nama itu dari nona Cansu membuat ku yakin kalau kalian punya hubungan spesial. Apa aku salah?" Arsen menatap Cansu dengan tatapan penuh tanda tanya, ia tidak berharap mendengar jawabannya. Hanya saja ia terlalu penasaran, dan hal itu memancing ke ingin tahuannya. Entah ia salah atau tidak, ia hanya berpikir sesaat, kemudian memutuskan untuk mengurai tanyanya.


"Dia spesial, untuk ku." Celetuk Cansu. Ia berdiri dari kursi kayu, kemudian berjalan mendekati Pagar besi pembatas balkon. Gadis itu menatap rembulan, cahayanya terasa menenangkan.


"Apa menatap rembulan membuat mu mengingat masa lalu kalian?" Arsen yang sudah berdiri di belakang Cansu kembali bertanya, di jawab sekali mendorong keingin tahuannya lebih dalam tentang gadis aneh di depannya.


Iya, bagi Arsen, Cansu tetaplah gadis aneh yang melompat masuk ke dalam kamarnya. Ia belum melupakan semuanya, namun tetap saja ia bicara dengan Cansu.

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Arsen, Cansu malah menatap pria itu dengan tatapan tak terbaca, netra teduhnya menyipit dengan sempurna. Jujur, hal itu mengetuk hati Arsen hingga pria itu menatap ke arah lain, ia tidak tahan di tatap seperti itu oleh Cansu Abigail.


"Kenapa menatap ku seperti itu?"


"Aku penasaran." Balas Cansu dengan sendirinya.


"Penasan untuk apa?" Arsen balas bertanya.


"Aku heran dan penasan. Kenapa tuan muda Arsen bertanya padaku? Dan aku bingung, apa harus menjawabnya atau tidak. Jika ku jawab, itu jelas mengganggu ku. Dan jika tidak ku jawab, aku takut melukai hatimu." Ujar Cansu tanpa melepas tatapannya dari wajah tampan Arsen.


"Jangan di jawab jika hal itu akan mengusik hati dan pikiranmu. Aku tidak ingin menjadi duri yang akan membangunkan luka lama." Ujar Arsen sambil menyodorkan selimut tebal untuk Cansu, malam hari terasa sangat dingin di balkon. Sebagai tanda kepeduliannya Arsen memberikan selimutnya pada Cansu, bukan bermaksud apa-apa.


Cansu menelan saliva mendengar ucapan Arsen. Ia tidak menyangka pria itu akan bicara seperti itu di depannya. Dan setelah mengatakan itu Arsen langsung masuk ke dalam kamarnya. Tinggal lah Cansu sendiri, di temani oleh rembulan dan dinginnya malam yang semakin menusuk sampai ke tulang-tulangnya.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian.


Cansu sudah berada di dalam kamarnya, ia melakukan shalat witir tiga rakaat sebelum menaiki ranjangnya. Sejujurnya, Cansu telah terbiasa melaksanakan shalat witir sejak ia masih remaja.


Rasulullah shalallah 'alaihi wa salallam bersabda. "Shalat witirlah kalian wahai ahlu al-qur'an, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan mencintai yang witir (ganjil). (Shahihul Jami' -2538)


Cansu selalu membiasakan dirinya melakukan hal-hal kecil yang akan membuatnya semakin mencintai agamanya. Hal yang paling ia sesali hingga saat ini, ia belum meluruskan niat dan menguatkan tekat untuk berhijab. Gadis itu tahu ia salah, namun hatinya masih belum yakin. Dalam hati ia berdoa semoga yang kuasa mengampuni dosa-dosanya.


Dan setelah shalat witir, Cansu langsung bersiap untuk tidur. Ia menenggelamkan tubuh rampingnya di balik selimut tebal.


"Allah, maafkan aku. Untuk setiap khilaf yang aku lakukan." Ujar Cansu sambil menutup kedua matanya. Baru saja ia menutup mata, bayangan Austin langsung saja mengganggunya. Pria itu menancapkan duri di hatinya hingga Cansu masih membencinya.


"Jangan pernah muncul di hadapan ku. Aku akan mematahkan lenganmu." Cicit Cansu sambil berusaha kembali untuk memejamkan mata, ia memaksakan diri untuk terlelap walau sebenarnya ia belum mengantuk. Mengingat besok merupakan sesi pertamanya melakukan terapi untuk tuan Lefrand tanpa penolakan membuatnya sedikit berdebar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2