Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Di Taman Belakang


__ADS_3

Setibanya di ruang kerjanya, nyonya Begum dengan sikap anggunnya langsung berjalan menuju kursi kebesarannya. Ia tampak berwibawa, raut wajahnya terlihat datar namun hal itu sama sekali tak membuat Cansu gentar. Tanpa banyak bicara, nyonya Begum menyerahkan sebuah dokumen penting pada Cansu. Dokumen yang berisi laporan kesehatan suaminya, tuan Arnold Lefrand.


"Kau harus mengingat semua yang tertera di dalam laporan yang kuberikan padamu, jangan melakukan kesalahan sekecil apapun dan jangan memancing keributan." Untuk kesekian kalinya nyonya Begum menunjukkan rasa tidak sukanya pada Cansu yang bahkan tak lama di kenalnya.


Perasaan aku tidak pernah melakukan kesalahan, kenapa nyonya Begum bertingkah seolah aku ini biang kerok yang harus di hindari. Wahhhh, aku benar-benar tidak suka semua ini. Sabar Cansu. Sabar. Batin Cansu sambil berusaha menenangkan diri.


"Akan selalu ku ingat ucapan nyonya, itupun jika aku bisa bertahan." Balas Cansu santai.


Cansu berasal dari keluarga yang selalu mengedepankan kasih sayang dan cinta. Rumahnya yang ada di Bandung memang tidak sebesar dan seluas mansion Lefrand, namun satu yang pasti, keluarganya selalu bahagia, tidak seperti keluarga Lefrand yang terlihat di penuhi oleh aturan-aturan aneh.


"Baiklah nyonya yang terhormat, jika tidak ada lagi apa aku bisa pergi?" Cansu meminta izin untuk undur diri yang kemudian di balas dengan anggukan kepala oleh nyonya Begum.


Dokter Goyal, anda menempatkanku dimana? Semua benar-benar tidak benar. Gerutu Cansu di dalam hatinya. Ia meninggalkan ruang kerja nyonya Begum dan berakhir di taman belakang.


Cukup lama Cansu mengamati setiap detail laporan yang ada di tangannya, apa yang di sukai tuan Arnold dan apa yang tidak di sukainya. Ia akan mulai bekerja sore ini karena itulah ia harus memahami keinginan dari keluarga pasiennya. Jika di pikir-pikir, bekerja untuk nyonya Begum jauh lebih sulit ketimbang membuka tiga klinik, itu yang di pikirkan oleh Cansu.

__ADS_1


Tiga puluh menit telah berlalu, Cansu benar-benar tidak menyadari kalau bukan hanya dirinya yang ada di taman belakang. Beberapa pria sedang duduk santai sambil menikmati wine-nya.


Sudut bibir Cansu sedikit terangkat, ia tersenyum, setelah menanti cukup lama akhirnya Mehek menghubunginya. Gadis nakal itu sepertinya sangat sibuk dengan buruannya sampai-sampai ia melupakan sahabat sejatinya, Cansu Abigail.


"Mmm! Ini dengan Cansu Abigail, apa ada yang bisa ku bantu?" Cansu mulai bersikap konyol, entah kenapa jika bersama Mehek sikap kekanak-kanakannya selalu saja muncul. Ia berucap seolah tidak mengenal lawan bicaranya.


"Ini dengan Mehek Al-Idrus. Aku ingin bicara dengan nona Cansu, aku ingin mengabarkan kalau sepupunya yang bodoh itu sangat sombong dan tidak peka, aku berharap ia tersandung oleh kakinya sendiri kemudian jatuh dalam pelukanku." Jawab Mehek serius, dua sosok sahabat yang saat ini sedang bicara melalui sambungan hand-phone tampak sedang menahan tawa.


"Ooo, benarkah? Jika demikian, aku sangat terkesan. Kau menghina tapi kau sangat merindukan pelukan. Akan ku katakan pada Bram agar menjauh dari wanita sepertimu." Balas Cansu masih dalam keadaan menahan tawa.


"Jangan-jangan. Aku janji tidak akan melakukannya, tapi boong..." Celoteh Mehek di sebrang sana.


"Sekarang katakan, bagaimana keadaan Mama dan Papa?" Cansu kembali bertanya setelah tawanya mereda.


"Paman dan Bibi baik-baik saja. Mereka sangat sibuk dengan toko kuenya. Mas Bram bilang, akhir-akhir ini Paman dan Bibi sering jalan-jalan. Mereka bilang, dengan jalan-jalan cinta mereka yang sudah memasuki usia senja akan semakin berbunga." Lapor Mehek pada Cansu yang tampak mulai serius.

__ADS_1


"Itu bagus untuk mereka. Katakan pada Mama dan Papa, aku tidak bisa pulang di akhir pekan. Dan satu lagi..." Ucapan Cansu tertahan di tenggorokannya.


Keempat pria dengan paras rupawan itu sendang menanti ucapan apa yang akan Cansu katakan selanjutnya. Cansu yang bodoh, kenapa ia masih belum menyadari kalau ia tidak sendiri? Arsen yang ada disana sengaja tidak ingin bicara agar ia mengetahui sampai seburuk apa gadis yang ada di depannya.


"Berkali-kali kau mengatakan cinta di depanku, jika kau sampai berpindah kelain hati, aku akan memarahimu. Bila perlu, aku akan menggundulimu sehingga tidak akan ada yang mau melirikmu." Celoteh Cansu dengan nada suara seolah sedang menahan amarah.


Mehek yang ada di sebrang sana, benar-benar tertawa lepas mendengar ucapan Cansu. Ia tahu Cansu mendukungnya karena itulah ia merasa lega. Anak yatim seperti dirinya mendapatkan Cansu sebagai sahabat baiknya, itu merupakan berkah dari yang kuasa.


"Tidak akan. Maksudku, aku tidak akan berpindah kelain hati. Sepupumu terlalu menarik untuk di tinggalkan sendiri." Balas Mehek dengan suara riang.


"Aku harus membantu Bibi di Toko. Aku akan menghubungimu nanti, aku mencintaimu." Ucap Mehek sebelum menutup panggilannya.


"Aku juga mencintaimu." Balas Cansu sambil tersenyum tipis. Persahabatan mereka di mulai sejak SMA, persahabatan yang luar biasa. Walau tahu Mehek hanya anak pembantu yang bekerja dirumahnya, Cansu memperlakukannya dengan sangat baik, tidak pernah sekalipun Cansu membuat Mehek merasa tidak nyaman. Karena bagi Cansu, tidak ada satupun manusia yang ada disemsta ini berhak mendapatkan hinaan, semua manusia sama saja, yang membedakannya hanya takwanya, bukan hartanya.


"Waw, nona Abigail. Itu kisah cinta luar biasa." Celetuk Arsen sambil berjalan mendekati Cansu yang berjarak sepuluh langkah dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Tuan Arsen ada disini, sejak kapan?" Cansu bertanya, ia melihat Arsen berjalan mendekatinya. Tiga pria lainnya melambaikan tangan kearah Cansu sekedar untuk menyapa.


...***...


__ADS_2