
Hujan selalu membawa cerita baru bagi semesta, layaknya bumi yang membutuhkan air, manusia juga membutuhkan cinta, dengan cinta kehidupan akan di penuhi warna. Entah cinta itu akan mendatangkan bahagia atau derita, keduanya tetap akan membuat hidup seseorang berwarna, karena sejatinya derita selalu di iringi dengan bahagia.
Sepuluh menit yang lalu, Arsen meminta persetujuan Cansu untuk bertanya. Dan gadis itu mengizinkannya, namun hingga mereka tiba di mansion Lefrand tak sepatah kata pun keluar dari lisan Arsen, dan sekarang mereka berdua sudah turun dari mobil.
"Aku perhatikan nona Cansu tidak menyukai pria tadi, apa nona Cansu punya keka..." Ucapan Arsen tertahan di tenggorokannya melihat tidak ada Cansu yang berdiri di sampingnya.
Arsen menghentikan gerakan tangannya, ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Kini tubuh tinggi berotot itu berbalik, berjalan pelan mendekati Cansu yang sedang asik bermain hujan.
Gadis aneh! Terkadang ia tidak bisa diam. Dan sekarang dia bertingkah seperti anak kecil. Batin Arsen sembari menatap Cansu yang masih asik bermain dengan hujan.
"Awas, pilek." Ujar Arsen mengagetkan Cansu.
"Hah, iya." Balas Cansu sembari menghentikan gerakan tangannya.
"Aku tidak menyangka nona Cansu suka bermain hujan. Jika gadis lain, aku yakin mereka akan bersikap manis di depan ku hanya untuk menarik perhatian ku." Ucap Arsen lagi, kali ini ia melipat kedua lengan di depan dada. Netranya mengunci pada satu titik, wajah cantik nan meneduhkan milik Cansu, untuk sesaat menggetarkan jiwanya. Entah ada apa sebenarnya sampai Arsen tidak bisa memahami perasaannya.
__ADS_1
"Itu kan gadis lain, bukan aku."
"Maksudku, tidak semua gadis tertarik pada pria tampan dan mapan seperti tuan Arsen. Gadis seperti ku lebih tertarik pada pria sopan dan tentunya berhati lembut. Dan satu lagi, tuan Arsen tidak perlu memanggilku nona, cukup Cansu." Ujar Cansu dengan senyuman menawan.
Arsen mulai menganggukkan kepala pelan, mengisyaratkan kalau dirinya sedang menyembunyikan kekecewaan karena lagi-lagi Cansu mencoba menolak dirinya.
"Aku perhatikan nona Cansu tidak menyukai pria tadi, apa nona Cansu punya kekasih?" Arsen mengulang pertanyaannya. Walau tahu Cansu tidak nyaman karenanya, namun tetap saja ia menuangkan sikap penasarannya. Itu lah Arsen, ia tidak suka masalah menghampirinya.
"Tidak." Jawab Cansu singkat.
Arsen tampak tersenyum. Ia merunduk untuk menyembunyikan senyuman manisnya.
"Apa itu lucu?"
"Aku pikir tidak mempunyai kekasih bukanlah hal yang patut untuk di tertawakan!" Cicit Cansu dengan suara datar, ia menatap Arsen dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"O iya, satu lagi. Aku mengijinkan tuan Arsen bertanya padaku, bukan berarti anda bisa melewati batasan. Maksudku, anda boleh bertanya namun hanya seputar kesehetan tuan Lefrand, dan bukan tentang masalah pribadiku.
Petang ini aku menjawab pertanyaan singkat anda, itu karena tuan sudah bertemu dengan Mars, lain kali jangan ulangi lagi. Karena aku tidak akan menjawab pertanyaan tuan Arsen."
Arsen tersenyum, lagi. Jawaban Cansu sebenarnya membuatnya tidak nyaman. Namun ia bisa memahami itu, mereka tidak terlalu dekat sampai harus berbagi hal yang bersifat rahasia.
"Apa ucapanku terdengar bagai lelucon untukmu?" Sentak Cansu. Kali ini ia terlihat sangat kesal sampai ingin menjitak kepala Arsenio Lefrand.
"Maaf." Balas Arsen singkat, ia menjulurkan tangannya mendekati kepala Cansu. Sontak Cansu langsung memundurkan kepalanya, namun Arsen tetap melakukan aksinya.
Dag.Dig.Dug.
Dada Cansu berdebar sangat cepat. Untuk pertama kalinya ia sedekat ini dengan seorang pria. Bahkan dengan mantan tunangannya dulu, ia tidak pernah sedekat ini. Bukankah ini aneh? Itu memang aneh, namun itu lah kebenarannya, Cansu tidak pernah membiarkan dirinya di pegang, di peluk atau di cium oleh seorang pria yang tidak halal baginya.
"Maaf." Ucap Arsen lagi, kali ini ia memegang selembar daun kering yang ia ambil dari rambut hitam milik Cansu.
__ADS_1
Ya ampun, Cansu. Apa yang kau pikirkan? Pria itu hanya mengambil selembar daun dari rambutmu namun kau bertingkah seolah terbang ke awan. Cicit Cansu di dalam hatinya. Ia mengambil daun dari tangan Arsen. Baik keduanya masih bersikap seperti orang asing. Namun sejengkal demi sejengkal jarak di antara mereka mulai berkurang.
...***...