
Waktu terus berjalan, dan setiap detiknya sangat berharga. Walau awalnya Cansu tidak ingin terlibat terlalu dalam dengan keluarga Lefrand, mau tidak mau dia harus meminta bantuan Arsen. Ini memang tidak menyenangkan, namun ini juga tidak buruk. Saat ini Cansu sedang di kuasai oleh perasaan aneh yang menyelimuti lubuk hati terdalamnya, ia berusaha memberanikan diri untuk menatap netra indah milik Arsen, pria menyebalkan yang beberapa kali membuatnya kesal.
"Aku juga punya adik, tapi dia laki-laki. Jadi, kau tidak perlu berterima kasih padaku. Walau aku penghuni baru di tempat ini, aku menyayangi Ayswa sama seperti adik ku sendiri, ini memang terdengar seperti omong kosong. Tapi, percayalah, aku bukan pembohong. Kau bisa memegang ucapanku." Ujar Cansu sambil berjalan pelan menuju tempat duduk yang ada di depannya, Arsen mengikuti langkah Cansu dari belakang. Jika ada yang melihatnya, mereka pasti beranggapan kalau Cansu dan Arsen terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisah. Mereka sangat serasi.
"Apa nona Cansu merasa nyaman di tempat ini? Jika tidak, aku bisa meminta Mommy mendatangkan dokter baru untuk Daddy." Arsen duduk di sebelah Cansu, ia tidak bisa melepas tatapannya dari wajah oriental seorang Cansu Abigail.
"Jujur, saat ini aku belum nyaman dengan semua aturan yang ada di rumah ini. Itu karena aku tidak suka di kekang, banyaknya aturan membuat ku merasa kurang nyaman. Walau seperti itu, aku harus bekerja keras untuk membuat tuan Lefrand berdiri kembali. Untuk itu, aku membutuhkan bantuan tuan muda Arsen, apa kau bisa membantuku?" Cansu mulai mengungkapkan resahnya, ia berharap Arsen yang merupakan anak tertua dari pasangan Lefrand akan membantunya untuk meyakinkan Daddy-nya sehingga Cansu bisa memulai sesi pertamanya, menjadi dokter pribadi yang bisa di andalkan.
"Bantuan! Bantuan seperti apa yang nona Cansu butuhkan? Jika aku bisa, aku akan melakukannya dengan senang hati." Balas Arsen sambil menatap lurus ke depan.
"Meyakinkan tuan Lefrand untuk memulai pengobatan benar-benar sulit, beliau bahkan tidak mau menatap wajah ku. Jadi, aku ingin meminta bantuan agar kau meyakinkan Daddy mu untuk memulai perawatannya, aku juga harus kembali ke klinik ku." Celoteh Cansu tanpa beban, untuk sesaat tatapan mereka saling beradu. Arsen terlihat baik-baik saja jika bertingkah seperti itu, dan Cansu pun tidak marah lagi. Sungguh, tanpa mereka sadari ada kemajuan dalam hubungan tanpa nama itu, entah itu berupa pertemanan ataupun garis cinta tidak ada yang bisa menebak masa depan.
"Aku akan membantu mu. Maksudku, aku akan mencoba meyakinkan Daddy. Aku tidak bisa janji Daddy akan mengikuti terapinya, aku hanya bisa janji untuk bicara sebaik yang ku bisa hingga meluluhkan hatinya." Ujar Arsen berusaha meyakinkan.
__ADS_1
Bahagia, itulah yang Cansu rasakan saat mendengar jawaban meyakinkan dari Arsen. Jika pria paruh baya itu tidak mendengarnya, mungkin saja ia akan mendengar ucapan putranya. Itulah yang Cansu yakini. Percakapan mereka terus berlanjut hingga detik dan menit berganti menjadi jam. Tidak ada perasaan bosan, bahkan tak jarang Arsen mencuri pandang, sesekali ia terkekeh mendengar lelucon dari Cansu.
Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam, namun di detik selanjutnya Arsen kembali membuka suara di antara senyapnya udara.
"Aku minta maaf!" Ucap Arsen tanpa beban.
"Maaf, untuk apa?"
"Aku secara tulus ingin meminta maaf pada nona Cansu, malam itu kita bertemu untuk pertama kalinya. Dan buruknya, aku malah mengajak nona Cansu bertengkar.
Jujur, aku tidak suka orang asing memasuki kamar ku. Aku juga tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadi ku. Terkadang, aku bersikap dingin pada orang yang baru ku kenal. Tapi, percayalah, aku tidak seburuk itu sampai harus di takuti." Ujar Arsen menjelaskan, entah kenapa ia menjelaskan dirinya seperti itu, padahal ia tidak perlu melakukannya, ia hanya ingin Cansu tidak salah paham padanya, dan ini untuk pertama kalinya ia perduli terhadap tanggapan orang lain tentang dirinya. Bukankah ini tidak masuk akal? Arsen sendiri tidak bisa memahami hatinya. Atau mungkin, Arsen mulai membuka diri pada wanita yang seharusnya ia jauhi.
"Sejujurnya, aku juga tidak terlalu suka pada tuan Arsen. Tapi, karena anda sudah mengatakannya, aku akan melupakan segalanya." Cansu menyodorkan tangan, ingin menyalami Arsen untuk pertama kalinya. Senyuman menawan merekah dari bibir keduanya, tidak ada lagi perasaan kesal, yang ada hanya perasaan tulus untuk saling memaafkan.
__ADS_1
"Aku minta maaf!" Arsen kembali mengulangi ucapan yang sama, ucapan yang ia lontarkan satu menit yang lalu.
"What? Untuk apa?" Cansu bertanya dengan dahi berkerut, ia melepaskan tangannya dari genggaman Arsen.
"Tuan muda sudah minta maaf, dan aku sudah memaafkan tuan. Lalu apa masalahnya?" Cansu berdiri, ia hendak meninggalkan Arsen.
"Aku minta maaf karena memanggil mu petasan!" Ucap Arsen dengan satu tarikan nafas. Ia menatap Cansu tanpa berkedip, seolah sedang menanti hukuman.
What? Petasan?
Cansu tidak bisa berkata-kata, ia tidak menyangka Arsen memikirkan dirinya seperti itu. Bukannya marah, Cansu malah terkekeh mendengar julukan baru yang Arsen sematkan untuknya.
...***...
__ADS_1