Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (31)


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 8.00 ketika Arsen tiba di halaman depan, ia baru saja menyelesaikan latihan kebugaran, walau tubuhnya masih berkeringat namun hal itu sama sekali tak mengurangi ketampanannya. Ia terlihat seperti pangeran dari negri dongeng, siapa pun wanita yang mendapatkannya pasti sangat beruntung.


"Pagi, dad."


"Pagi Cansu." Arsen menyapa dua orang yang ada di depannya, ia memegang jemari Daddy-nya. Wajah paruh baya itu terlihat berkeringat, bisa di pastikan Cansu tidak bersikap lunak padanya. Itu bagus, setidaknya itu yang Arsen pikirkan.


"Pagi, nak." Jawab tuan Lefrand. Berbeda dengan Cansu, gadis itu hanya tersenyum tipis.


"Dad, hari ini aku akan menemui tuan Alfin. Mommy memintaku untuk membantunya bernegosiasi dengan pria paruh baya itu agar Mommy bisa membeli tanah yang ada di pedesaan." Lapor Arsen. Ia meneguk air mineral yang ia bawa sambil berdiri.


"Munum dengan cara duduk itu jauh lebih baik dari pada berdiri." Celetuk Cansu, ucapannya singkat namun langsung mengenai sasaran.


Puhh!


Arsen memuntahkan air yang ada di dalam mulutnya, untung saja air itu tidak mengenai tuan Lefrand. Bukannya marah, pria paruh baya itu malah menahan tawa. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat ada orang yang berani mengkritik putra berharganya.

__ADS_1


"Iya, baiklah. Aku duduk." Ujar Arsen malas.


Tuan Lefrand terlihat masih menahan tawa, melihat wajah kesal Arsen mengingatkannya pada masa muda. Dulu ia juga punya rekan kerja yang selalu mengkritiknya jika melakukan kesalahan.


"Nak, bagaimana kalau kau mengajak nona Cansu bersamamu? Dia terlihat bosan. Setidaknya, dengan melihat nuansa berbeda akan menghilangkan penatnya." Tuan Lefrand memberikan pendapatnya yang kemudian di barengi oleh tatapan Arsen yang mengarah pada Cansu yang duduk sambil berlutut.


"Cansu, apa kau mau ikut bersamaku?"


"Kenapa bertanya, aku yakin nona Cansu menyukainya. Dan satu lagi, kau memanggil nona Cansu dengan panggilan Cansu, apa kalian sungguh sedekat itu untuk saling memanggil nama?" Tuan Lefrand yang terlanjur penasaran mulai mengurai tanyanya.


Tak ada jawaban dari Arsen, ia hanya menatap Daddy-nya sambil mengangkat bahunya, mengisyaratkan kalau dirinya tak punya jawaban dan semunya terjadi begitu saja.


"Jangan berpikir seperti itu karena apa yang Daddy pikirkan itu tidak benar." Arsen menegaskan dengan ucapan lantang, membuat Cansu tak mengerti dengan arah pembicaraan dua pria beda generasi di depannya itu.


"Tidak benar? Apanya yang tidak benar?" Cansu bertanya, membuat Arsen dan Daddy-nya saling menatap lucu.

__ADS_1


"Bukan hal yang besar. Aku akan menunggumu di mobil setengah jam lagi. Sampai jumpa nanti." Arsen bangun dari bangku yang ia duduki sejak sepuluh menit yang lalu, ia pergi hanya untuk menghindari pertanyaan Cansu.


"Ada apa dengannya? Apa aku mengatakan hal yang salah? Kenapa putra tuan terlihat seperti sedang menghindari pertanyaan ku?" Cansu bertanya pada tuan Lefrand yang kemudian di balas oleh tuan Lefrand dengan mengedikkan bahunya. Dalam hati tuan Lefrand merasa akan ada hal besar yang menanti di depannya, namun ia tidak tahu apa, yang jelas pria paruh baya itu berharap keluarganya tidak akan terluka untuk dosa masa lalu yang ia lakukan.


"Baiklah tuan, kita cukupkan untuk hari ini. Aku yakin, jika tuan tetap semangat, tidak lama lagi tuan pasti bisa balap lari dengan tuan sok cuek itu." Ucap Cansu sambil menunjuk Arsen yang semakin menjauh darinya, tuan Lefrand hanya bisa tersenyum untuk menanggapi ucapan meyakinkan Cansu.


Setengah jam kemudian, Cansu tiba di halaman depan, ada Arsen di sana yang menunggunya. Pria rupawan itu sedang bicara dengan seseorang melalui panggilan telpon hingga tidak menyadari kehadiran Cansu.


Arsen terlihat sangat tampan, pria itu mengenakan setelan jas berwana biru. Jika di lihat dari belakang, Arsen lebih cocok menjadi seorang model ketimbang menjadi seorang Capten.


"Ahh, maaf. Apa kau menunggu lama? Tadi itu, aku sedang bicara dengan pihak kantor." Arsen mencoba menjelaskan, padahal ia tidak perlu melakukan itu.


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku baru saja tiba." Balas Cansu berterus-terang.


"Baiklah, ayo kita betangkat." Arsen menunjuk kearah mobil, yang kemudian di balas dengan anggukan kepala dari Cansu.

__ADS_1


Arsen membukakan pintu mobil. Sedetik kemudian mobil yang Arsen dan Cansu naiki meluncur dengan cepat, meninggalkan mansion megah milik Tuan Lefand. Dan ini untuk kesekian kalinya mereka akan menghabiskan waktu berdua.


...***...


__ADS_2