Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (22)


__ADS_3

Aku sudah bilang, aku tidak tertarik dengan hubungan ini. Anda pemaksa yang buruk, dan aku tidak tahan dengan itu. Walau tidak suka, aku akan memberi anda kesempatan.


Dua kali!


Maksudku, aku akan memberikan tuan Mars kesempatan dua kali lagi. Jika anda gagal di pertemuan ketiga, aku akan pergi tanpa harus terlibat dengan hubungan aneh ini.


Cansu terlihat cemberut, mengingat percakapannya dua puluh menit yang lalu dengan Mars membuatnya kesal. Bahkan saat ini, skuter yang ia naiki tidak mendukungnya, menyebalkan seperti Bram yang menempatkannya dalam posisi tidak menguntungkan.


"Kenapa kau mati di saat yang tidak tepat. Seharusnya kau mati saat aku sudah tiba di mansion Lefrand. Jika seperti ini, kau menyusahkan ku." Gerutu Cansu sambil menendang roda skuternya. Wajahnya terlihat kesal, dan yang membuatnya semakin kesal, sebelum berpisah dengan Mars, Arsen seolah sedang meledeknya, pria itu tidak mengatakan apa pun, namun senyumannya menjelaskan segalanya, siapa pun yang melihat ekspresi wajah Arsen pasti akan bisa menebaknya. Menyebalkan, itulah satu-satunya kata yang terlintas di benak Cansu untuk Arsenio Lefrand.


Tin.Tin.Tin.


Cansu mengerutkan keningnya, menatap ke arah sumber suara. Mobil putih berhenti tak jauh dari skuternya.


"Dia lagi!" Cicit Cansu pelan.


"Ada apa? Apa kau butuh tumpangan?"

__ADS_1


"Tidak, terima kasih." Balas Cansu dengan bibir mengukir senyuman. Tentu saja itu bukan senyuman bahagia.


"Apa kau yakin?"


"Iya, seratus persen yakin." Balas Cansu.


"Hari ini semua sopir taksi sedang mogok kerja, atau tepatnya mereka sedang berunjuk rasa di depan kantornya. Apa nona Cansu yakin tidak ingin pulang bersama ku?" Arsen mengulangi pertanyaannya, untuk sesaat ia merunduk, menyembunyikan senyuman tipisnya.


"Bagaimana dengan skuternya?"


"Apa kau yakin? Maksudku, apa skuternya tidak akan hilang?"


Mendengar pertanyaan Cansu, Arsen tersenyum tanpa beban. Padahal sebelumnya, ia merasa kurang nyaman.


"Orang bodoh mana yang akan mengambil skuter yang tidak bisa jalan? Lagi pula, jika itu hilang, itu bukan masalah besar. Yang akan jadi masalah adalah saat nona Cansu harus berdiri di sini semalaman, bukan begitu?" Dengan tutur kata meyakinkan, Arsen mencoba menakuti Cansu. Dan untungnya itu berhasil, membuat Arsen bersorak gembira di dalam hatinya.


Cansu, gadis bodoh itu tanpa berpikir dua kali langsung naik ke dalam mobil Arsen. Sepersekian detik kemudian, mobil mewah itu kembali meluncur, menembus padatnya jalanan di ibu kota. Cansu dan Arsen, keduanya sama-sama diam.

__ADS_1


Cansu yang biasanya bicara ceplas ceplos tidak ada tanda-tanda akan memulai pembicaraan. Entah karena merasa kurang nyaman, atau karena memiliki banyak pikiran, Cansu berubah menjadi pendiam. Biasanya ini tidak pernah terjadi, namun sekali-kali ini bagus juga untuk dirinya.


"Mmm!" Arsen berdeham untuk mencairkan kecanggungan di antara dirinya dan wanita aneh di sampingnya. Cansu tak bergeming, netra teduhnya menatap ke luar jendela, jalanan yang padat di tambah gerimis yang mulai turun.


Cansu tersenyum. Netranya berkaca-kaca. Sejujurnya Arsen merasa takjub melihat pesona indah gadis yang duduk di sampingnya, namun ia lebih memilih mengabaikan semua itu. Untuk seorang Arsenio Lefrand yang biasanya bersikap cuek, menyanjung seseorang, terutama wanita, itu sangat mustahil.


"Fokus ke depan. Dan jangan menatapku seperti itu." Cicit Cansu mengejutkan Arsen.


"Siapa yang menatap mu? Aku tidak melakukan itu." Arsen mencoba membantah, tapi sayangnya Cansu tidak percaya itu.


"Tuan muda yang baik hati, aku ini seorang dokter. Tugas ku hanya mengobati pasien, bukan meladeni orang yang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti maknanya.


Dan satu lagi, jika anda ingin bertanya, tanyakan saja. Jika aku punya jawabannya maka akan ku berikan dengan singkat, padat dan jelas." Ujar Cansu tanpa mengalihkan tatapannya dari jendela kaca.


"Baiklah, akan ku tanyakan." Arsen mulai menyusun pertanyaan, tatapannya lurus ke depan. Hujan mulai turun, sangat lebat. Dan hal itu membuat Arsen semakin berhati-hati, ia tidak ingin kejadian beberapa tahun silam terulang lagi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2