Hawa Yang Tak Sempurna

Hawa Yang Tak Sempurna
Part (26)


__ADS_3

Pagi yang baru telah tiba, rangkaian kegiatan harian Cansu pun telah di mulai sejak ia menyelesaikan shalat subuh. Dan sesi latihan pertama untuk tuan Lefrand telah selesai tanpa ada perlawanan dari pria paruh baya itu.


"Abigail?"


"Iya." Balas Cansu tanpa menatap wajah tuan Lefrand. Ia masih sibuk memasukkan alat medisnya ke dalam tas hitam yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.


"Katakan saja, aku mendengarkan." Sambung Cansu lagi. Walau Cansu sudah meminta tuan Lefrand untuk bertanya, namun tetap saja pria paruh baya itu terlihat ragu. Entah apa yang ia pikirkan sampai tidak mau membuka mulutnya walau menit pertama telah berlalu.


"Tenang saja tuan, aku bukan pemarah. Jadi, intinya, aku tidak akan tersinggung dengan apa yang akan tuan tanyakan." Cansu, gadis itu menyunggingkan senyuman menawan. Menandakan ketulusan.


"Sungguh? Bapak bisa bertanya?"


"Tentu saja, tuan. Ini kerajaan tuan, tidak akan ada yang berani menentang tuan. Termasuk, aku!" Ucap Cansu sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Abigail! Nama itu tidak asing bagi Bapak. Karena dulu Bapak pernah mengenal seseorang dengan nama yang sama. Jika Bapak boleh bertanya, apa pekerjaan ayah nona Cansu?" Tuan Lefrand mulai mengurai tanyanya. Ia terlihat serius, entah ada hubungan apa dirinya dengan nama itu sampai ia terlihat sedih.


"Orang itu beruntung bisa mengenal tuan Lefrand. Tapi sayangnya, Abigail yang tuan maksud itu pasti bukan ayah saya." Ujar Cansu sambil menatap wajah sedih tuan Lefrand.


"Ayah hanya seorang petani. Beliau biasanya memasarkan buah dan sayur di supermarket yang ada di Bandung." Sambung Cansu dengan wajah berbinar, ia selalu bangga pada ayahnya bagaimana pun keadaannya.

__ADS_1


"Sebenarnya, Bapak juga berpikir tidak mungkin Abigail yang Bapak maksud adalah ayah nona Cansu. Bapak hanya berharap, semoga suatu hari nanti Bapak bisa bertemu dengan tuan Abigail." Ujar tuan Lefrand masih dengan wajah membendung kesedihan.


"Aamiin." Cansu mengaminkan.


"Baiklah tuan Lefrand, terima kasih untuk pagi ini. Insya Allah kita akan melakukan sesi kedua besok pagi. Tuan harus kuat, tuan harus semangat. Semoga tuan bisa berlari lagi seperti dulu lagi."


"Seharusnya Bapak yang berterima kasih. Walau awalnya bapak tidak suka pada nona Cansu, tapi sekarang kita berteman." Tuan Lefrand menjulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Cansu, wajah cantiknya masih memamerkan senyuman menawan.


"Bapak akui nona Cansu adalah pemaksa yang baik, bapak yang awalnya menolak kini malah takluk di bawah kendali nona Cansu."


"Haha! Maaf." Cansu terkekeh. Dan ia mengakui itu.


Dua jam kemudian Cansu sudah berada di parkiran sebuah Bank yang ada di pusat kota. Setelah turun dari motor dan membuka helm, ia mempercepat langkah kakinya untuk memasuki Bank. Baru saja Cansu tiba, ia di sambut oleh seorang pria muda yang bertugas menjadi satpam. Pria itu tersenyum.


"Nona Cansu, datang?" Satpam itu bertanya. Karena ini memang bukan pertemuan pertama mereka.


"Mas Data, iya." Jawab Cansu sambil menghentikan langkah kakinya. Ia tersenyum.


"Dua bulan ini saya tidak pernah melihat nona Cansu, saya pikir saya tidak akan melihat nona Cansu lagi." Ujar satpam itu sok dekat.

__ADS_1


"Aku pikir Mas Data bosen melihat wajah ku, karena itu aku tidak pernah datang." Guyon Cansu.


"Ya sudah, saya masuk dulu. Senang bisa bertemu dengan Mas Data." Ujar Cansu tanpa melepas senyuman dari wajahnya. Dia gadis yang baik, dia gadis yang ramah, terkadang dia banyak bicara namun ia tidak memiliki hati yang buruk.


Dua menit setelah Cansu masuk kedalam Bank, sekelompok pria bertubuh jangkung menerobos masuk tanpa rasa takut. Mereka datang membawa permusuhan, dan dengan bangganya mereka bahkan melepaskan pelurunya hingga membuat pengunjung Bank kocar-kacir.


Dor.Dor.


Dua peluru yang di lepaskan asal menghancurkan lampu gantung, suananya terasa mencekam. Teriakan dan tangisan mulai terdengar. Kepanikan dari semua pengunjung mulai memenuhi Bank yang pengunjungnya hampir ratusan.


Cansu.


Gadis itu tersungkur. Ia terkejut. Tangannya terluka oleh pecahan kaca. Bukan hanya dia yang ketakutan, semua orang juga sama.


Ya Allah. Apa aku masih hidup? Batin Cansu sambil mencubit pipinya, berharap semua ini hanya mimpi.


Ada apa ini? Dan dari mana datangnya orang tidak berguna itu? Sampah seperti mereka lah yang membuat dunia tercemar. Ucap Cansu di dalam hatinya, ia masih ketakutan. Sekujur tubuhnya bergetar, namun ini lah kehidupan. Tidak semua manusia mau menggunakan akal sehatnya dan hidup dengan tenang. Terkadang ada juga manusia yang hidup namun bertindak lebih buruk dari binatang. Siapakah mereka? Yang tahu jawabannya hanya kita sendiri. Jika tidak ingin menjadi limbah dalam kehidupan bermasyarakat, maka hidup lah sesuai dengan tuntunan Tuhan, Allah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2