
"Petasan? Aku?" Cansu menunjuk dirinya sendiri sembari menatap netra teduh seorang Arsenio Lefrand.
"Wah, aku sangat kesal. Aku tidak menyangka, pria berpendidikan seperti diri mu hanya menganggap ku tak lebih dari petasan. Aku berharap kau tidak akan tertarik padaku, karena jika itu terjadi kau akan terbakar oleh petasan ini." Celoteh Cansu dengan wajah serius.
"Aku akan membakar mu dalam cinta sehingga kau tidak akan bisa melihat wanita lain dengan netra indah ini." Guyon Cansu sambil tersenyum tipis, sangat tipis sampai Arsen tidak menyadari kalau Cansu sedang menggodanya, tentu saja itu hanya ucapan tak berarti. Karena bagi Cansu yang terlanjur patah hati, mendapatkan cinta bukan lagi tujuannya.
"Kenapa? Apa kau mulai tertarik padaku?" Cansu kembali menggoda Arsen, ia bahkan berani mengedipkan mata, sebenarnya ia bersikap biasa-biasa saja. Namun bagi Arsen yang biasa di kelilingi banyak wanita, tindakan Cansu tampak seperti ajakan untuk berkencan.
"Tidak, aku tidak tertarik. Dan tidak akan pernah." Balas Arsen seratus persen yakin, namun tidak ada yang tahu masa depan, seharusnya Arsen tidak perlu terburu-buru mengatakan hal itu, hal yang mungkin saja akan ia sesali di hari kemudian.
"Baiklah, ku pegang ucapan mu. Aku berharap kau tidak akan jatuh cinta padaku, karena kau bukan tipe ku." Seloroh Cansu dengan mata berbinar. Ia bergurau untuk mencairkan suasana. Maklum saja, Cansu mulai terbuka. Ia berpikir ia harus menyelesaikan kesalah pahaman dengan Arsen.
__ADS_1
"Terima kasih." Ujar Cansu begitu ia mulai serius.
"Untuk?" Arsen bertanya dengan kening berkerut.
"Untuk membantu ku bicara dengan tuan Lefrand. Aku tahu aku tidak akan bisa meluluhkan hatinya karena itu aku membuang harga diriku untuk meminta bantuan mu." Cansu menjelaskan posisinya sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ia berharap Arsen tidak akan salah paham, apa lagi sampai berpikir Cansu Abigai tertarik padanya, pada dia seorang pria rupawan, Arsenio Lefrand.
"Iya, baiklah. Aku menerima ucapan terima kasih dari nona Cansu. Tapi, di lain waktu. Aku tidak akan mau mendengarnya." Ucap Arsen menegaskan.
Setelah mengatakan semua yang di inginkannya, Cansu meninggalkan Arsen sendirian. Ia kembali kekamarnya, ia berjalan pelan sambil mendengarkan musik favoritnya. Tanpa Cansu sadari tangannya mulai bergerak kekanan dan kekiri mengikuti alunan merdu lagu yang di dengarnya, sontak hal itu menarik perhatian Arsen. Ia tertawa, memperlihatkan susunan gigi putihnya.
Dasar gadis aneh. Ia bahkan bertingkah seperti anak remaja. Entah pria tidak beruntung mana yang akan mendapatkan hatinya. Gumam Arsen tanpa melepas pandangannya dari Cansu yang semakin menjauh darinya. Arsen mengalihkan tatapannya sesaat setelah Cansu menghilang di balik kokohnya dinding mansion Lefrand.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian Cansu sudah ada di kamarnya. Ia memilih baju terbaiknya, mengeluarkan dari dalam koper kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Sore ini Cansu ada janji dengan dokter Goyal. Pria paruh baya itu memintanya bertemu di kafe Rasta, butuh waktu tiga jam perjalanan untuk bisa sampai di sana. Entah apa yang akan di katakan pria paruh baya itu hingga memintanya bertemu, kebetulan sekali Cansu juga memiliki banyak keluhan, ia akan menumpahkan semua keluh kesahnya sesaat setelah ia bertemu dengan pria paruh baya itu, sosok yang sangat Cansu hormati dalam dunia medis.
Sementara itu Arsen, pria itu juga sedang mempersiapkan diri. Ia akan menemui seseorang di kafe yang telah di atur oleh Mommy-nya. Sejujurnya, Arsen tidak suka semua ini, namun mau bagai mana lagi, walau ia memiliki sikap pembamkang dalam dirinya, entah kenapa dalam urusan ini ia bagai kerbau yang di cocok hidungnya, ia sangat penurut sampai-sampai Ayswa merasa kesal pada kakaknya.
"Sudah dua kali kami bertemu seperti ini, aku juga sudah menegaskan pada wanita itu kalau aku tidak akan pernah menerimanya. Tapi, lihatlah, Mommy kembali menunjukkan kuasanya, ia pemaksa yang baik hingga aku tidak bisa berkutik." Cicit Arsen pelan, ia mengganti baju santainya dengan setelan kemeja berwarna biru. Sangat cocok di tubuh berototnya, ia bahkan lebih cocok di sebut model ketimbang seorang Pilot, karena susunan tubuhnya sangat sempurna.
Setelah meraih kunci mobil di atas nakas, Arsen mulai meninggalkan kamar. Seperti hari-hari sebelumnya. Ia berpapasan dengan Cansu saat mereka sama-sama menutup pintu. Entah kenapa takdir mempertemukan mereka di jalan yang sama. Setiap malamnya, mereka bahkan hanya terpisah oleh sebuah dinding. Akan seperti apa kisah mereka di masa mendatang, hanya Tuhan yang tahu. Maka biarkan semuanya berjalan apa adanya tanpa perlu mencemaskan masa depan.
...***...
__ADS_1