
Waktu menunjukkan angka 23.39 saat Cansu menghela nafas dengan kasar, tidak ada tanda-tanca Cansu akan merebahkankan tubuh rampingnya di kasur. Padahal Mehek sudah lebih dulu tidur, bahkan terdengar suara halus yang keluar dari bibir Mehek, menandakan gadis itu telah terbang ke alam mimpi.
Berbeda dengan Cansu yang masih terbelenggu dengan pikiran masa lalunya. Entah kenapa walau ia membencinya, masih saja pikiran akan pemuda menyebalkan itu terus saja muncul dalam benaknya, bukan untuk sehari atau dua hari namun ini sudah lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari. Bukankah kalian heran? Iya, Cansu juga heran. Terkadang orang yang kita benci atau orang yang kita cintai mendominasi hari-hari kita, entah kita di buat bahagia atau menderita, yang jelas semua ini sangat menyebalkan untuk Cansu seorang.
"Belum tidur?"
Suara yang berasal dari belakang punggungnya berhasil membuat Cansu terkejut, air mineral yang coba ia teguk muncerat semua. Ia mengusap dadanya pelan, menarik nafas dalam kemudian pelan menghembuskannya kasar dari bibir.
"Apa kau tidak..."
"Maaf."
Ucapan Cansu tertahan di tenggorokannya saat menyadari orang yang ingin ia semprot dengan ucapan ketusnya bukanlah Mehek. Biasanya gadis itu yang selalu mengisenginya.
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja dan aku tidak menduga kau akan terkejut karena ulahku." Arsen berucap dengan nada suara menyesal, ia memang menyesal dan hal itu tergambar dengan jelas di wajah tampannya.
__ADS_1
"Aku marah padamu, dan aku ingin menonjok wajahmu." Celetuk Cansu, ia menyebikkan bibir tipisnya seolah tidak merelakan apa yang barusan Arsen lakukan.
"Sekali lagi, maaf." Ucap Arsen pasrah.
"Baiklah, karena kau tulus saat mengatakannya maka aku akan memaafkan mu. Tapi, hanya untuk malam ini saja." Cicit Cansu sambil mengelap bajunya dengan sapu tangan yang Arsen berikan.
Tidak ada balasan dari Arsen selain anggukan kepala pelan. Pria itu hanya bisa mangut saat Cansu berucap dengan nada suara bersahabat.
"Kenapa kau belum tidur?" Arsen mulai mengurai tanyanya begitu ia dan Cansu tak saling bicara selama beberapa menit terakhir.
"Kau sendiri, kenapa kau belum tidur?" Cansu membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
"Tidak seperti itu. Hanya saja, di kamar terasa sangat dingin. Aku tidak bisa tidur."
"Dingin?" Kening Cansu berkerut. Menandakan ia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
__ADS_1
"Bukankah di istana mu jauh lebih dingin? Maksudku, di kamarmu! Rasanya aneh saja mendengar kau mengatakan di sini sangat dingin." Sambung Cansu lagi.
"Aku tahu ucapanku terdengar seperti bualan, dan buruknya aku tidak berbohong." Arsen terlihat serius, namun di detik selanjutnya wajah tampannya mengukir senyuman menawan.
"Iya, baiklah. Aku percaya padamu. Sekarang katakan, kenapa kau tidak bisa tidur? Apa kau merindukan wanita yang kau kencani terakhir kali? Kau bisa menghubunginya." Cansu memberikan sarannya, padahal Arsen tidak membutuhkannya.
"Haha." Arsen terkekeh. Entah apa yang di pikirkan pria itu sampai tawanya tak bisa mereda. Arsen sendiri bingung kenapa ia bisa senyaman itu di dekat Cansu.
"Ku akui wanita itu memang tertarik padaku, tapi tidak dengan ku."
"Kau terlalu sombong, hati itu milik Allah. Bagaimana jika kau tertarik padanya lalu wanita itu yang menolakmu. Apa yang akan kau lakukan? Menangis?" Cansu mencecar Arsen dengan pertanyaan singkatnya.
Cansu dan Arsen kembali saling menatap dalam diam. Kedua makhluk indah itu terbuai oleh pesona indah masing-masing. Di dalam hatinya Arsen pun mengakui kecantikan Cansu sepuluh kali lipat lebih besar di bawah cahaya Rembulan halaman depan ke diaman Abigail.
"Tidak akan, karena ada wanita lain di dalam hatiku." Balas Arsen meyakinkan.
__ADS_1
Cansu. Gadis itu? Ia merasa tercekat, entah kenapa hatinya merasa sedih. Padahal jelas-jelas ia dan Arsen tidak memiliki hubungan apa pun. Rasanya seperti kisah lama terbuka kembali, sakitnya masa lalu seperti ada di depan mata. Ada apa ini? Semoga semuanya baik-baik saja dan tak ada yang terluka.
...***...