
Aku suka saat nona Cansu duduk di sebelahku, walau nona Cansu terpaksa, aku tetap merasa bahagia. Ingatan Cansu tertuju pada Arsen. Ucapan pria itu membuatnya mengerutkan kening, tak percaya.
"Dasar aneh. Kenapa juga dia harus bahagia? Toh kami bukan siapa-siapa." Cicit Cansu sembari menatap pantulan wajahnya di cermin, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kering. Bermain hujan seperti beberapa jam yang lalu adalah hobinya, mungkin hanya Cansu yang berpikir hujan itu membawa pesan Cinta. Entah sejak kapan ia berpikir suara tetesan hujan terdengar bagai lagu cinta tak tertandingi. Memang dasar Cansu, terkadang ia bertingkah kekanak-kanakan, ia juga bisa bertingkah konyol yang tak bisa di bayangkan oleh otak orang normal.
"Di mana ponsel ku?" Cansu berucap sambil berjalan pelan mendekati ranjang.
Nanana! Bibir tipisnya bersenandung layaknya gadis muda yang sedang jatuh cinta. Eits! Jangan katakan itu di depannya, Cansu tidak akan suka, setelah pernikahannya di batalkan tak ada lagi sosok baru yang menghuni lubuk hati terdalamnya. Layaknya padang pasir, hatinya sangat gersang tanpa cinta, namun mau bagaimana lagi, tidak mudah berpindah ke lain hati setelah di patahkan oleh pria yang sangat ia cintai, dulu.
"Di mana aku menaruhnya? Apa aku mulai menua? Kenapa aku mudah sekali lupa!" Celoteh Cansu sambil menghentikan gerakan tangannya di bawah bantal. Dia benar-benar tidak punya gambaran.
"Kamar mandi? Iya, aku yakin pasti ada di sana. Terakhir kali aku memegangnya saat aku akan mencuci tangan."
Tanpa menunggu lagi, Cansu langsung berjalan menuju kamar mandi, ia berharap apa yang ia cari benar-benar ada di sana.
"Syukurlah." Cicit Cansu setelah melihat ponselnya tergeletak di dekat handuk kering yang ia letakkan sepuluh menit yang lalu, bibir tipisnya mengukir senyuman.
"Tiga panggilan tak terjawab dari Mehek, dan ada sebelas pesan, ada apa ini? Apa hal buruk terjadi padanya? Aku berharap itu tidak benar." Ujar Cansu sembari mengelus dada. Ia keluar dari kamar, kemudian berjalan menuju balkon yang ada di lantai dua. Duduk di sana di temani rembulan mungkin saja akan mengurangi resahnya.
Abigail.
Pesan pembuka dari Mehek membuat Cansu mengelus dada. Saat wanita itu memanggilnya Abigail, pasti ada hal buruk yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Kenapa kau tidak menjawab panggilan ku?
Apa kau masih marah karena mas Bram berani mengenalkan tuan Mars dengan mu?
Maafkan kami, itu ide gila ku. Tapi, jujur. Aku hanya ingin melihat mu bahagia.
Dan di antara semua teman mas Bram, hanya tuan Mars yang paling sempurna untuk Cansu kami.
O iya, satu lagi. Aku hampir saja melupakan hal yang paling penting, yakni alasan ku menghubungi mu. Cansu mengerutkan keningnya membaca sederet pesan dari Mehek. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang, seolah luka lamanya yang belum sembuh kembali menganga. Untuk sesaat, Cansu terdiam. Ia menghela nafas kasar.
Si payah itu, akhirnya kembali.
Kemarin aku bertemu dengannya.
Dia bilang, dia di pindah tugaskan ke Jakarta.
Aku harap kau tidak bertemu dengannya. Dan kau tidak boleh bersedih karenanya. Peluk dan cium ku hanya untuk mu. I love you my beautiful best friend. Tulis Mehek dalam rangkaian pesan panjangnya.
Cansu duduk di kursi kayu, meletakkan ponselnya di atas meja kemudian memeluk kedua lututnya, ia menatap rembulan dengan tatapan tak terbaca. Untuk pertama kalinya ia merasa alam tidak berjalan sesuai dengan pintanya dalam doa. Pria itu kembali, itu artinya kemarahannya juga akan kembali.
"Austin. Bagaimana kabar mu? Aku berharap kita tidak bertemu lagi. Entah itu di dunia nyata atau pun di dalam mimpi. Aku marah padamu. Sangat marah sampai sekujur tubuh ku terasa memanas." Cicit Cansu dengan mata menyipit.
__ADS_1
"Austin?"
Cansu menoleh ke belakang, di dapatinya Arsen ada di sana. Pria itu berada di sana sejak tadi, hanya saja Cansu tidak menyadarinya karena fokusnya tertuju pada berita yang di bawa Mehek.
"Sejak kapan kau ada di sana?"
"Sejak kau belum datang ke tempat ini." Jawab Arsen tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah memesona milik Cansu.
"Jika kau ada di sana sejak tadi, kenapa kau tidak mengatakan apa pun? Apa kau mencoba memata-matai ku?" Cansu menyipitkan matanya. Ia berdiri di depan Arsen yang terlihat cuek.
"Aku tidak ingin mengganggumu."
"Dan pada akhirnya kau tetap saja menggangguku. Maaf, aku bercanda." Guyon Cansu cepat, bibir tipisnya mengukir senyuman.
"Sekarang katakan, kenapa tuan muda ada di sini?" Kali ini Cansu terlihat serius.
"Aku tidak bisa tidur." Balas Arsen singkat.
"Nona Cansu sendiri kenapa belum tidur?" Arsen bertanya sambil duduk di bangku dekat cansu.
"Sama. Maksudku, aku juga tidak bisa tidur."
__ADS_1
Cansu dan Arsen saling menatap dalam diam, dalam kebisuan mereka terdapat banyak pertanyaan. Namun satu pun tidak ada yang ingin mengurai tanyanya, baik Cansu atau pun Arsen sama-sama tidak ingin terlibat dalam urusan pribadi masing-masing.
...***...