HEARTBEAT

HEARTBEAT
09. Boneka Bikin Terhenyak


__ADS_3

Leo memutar kenop pintu kamarnya, masuk ke dalam kamar tersebut sambil membawa secangkir kopi susu.


Ia lalu berjalan menuju balkon kamarnya, namun cowok itu malah tersentak saat melihat seseorang di seberang sana, ternyata Revelyn yang juga sedang berdiri di balkon kamarnya.


Gadis itu melambaikan tangannya sambil melempar senyum, namun Leo malah berdehem sambil berjalan lalu berdiri di dekat pagar pembatas balkon.


Tangan cowok itu bertumpu di atas pagar tersebut, sesekali ia melihat ke arah depan, gadis itu masih melambaikan tangan ke arahnya.


Leo menghela napasnya sambil menyeruput kopi susunya, "abaikan saja Leo ...." gumam Leo.


Leo, cowok itu masih kesal dengan Revelyn karena kejadian kemarin siang saat di sekolah. Leo hanya tidak suka gadis itu dekat-dekat dengan ketua osis itu, apalagi Revelyn terlihat senang saat bersama Vito.


Itu sedikit membuat Leo kesal saat melihatnya, karena jika sedang kesal maka Leo akan mengabaikan Revelyn sampai gadis itu meminta maaf atas kesalahannya.


Begitulah Leo.


"Leo!"


Revelyn memanyunkan bibirnya, lambaian tangannya tidak di balas oleh cowok itu. Membuatnya kesal lalu menatap tajam cowok yang tengah menyeruput minumannya dari seberang sana.


"Leo, lo kenapa sih?" Revelyn setengah berteriak, namun cowok itu masih mengabaikannya dan memilih menikmati minumannya.


Tingkah Leo membuat Revelyn geram, gadis itu lalu mencengkram pegangan pada pagar pembatas balkon kamarnya. Ia menyalurkan rasa kesalnya pada pagar tak bersalah itu.


Pasti dia marah sama gw makanya gw dicuekkin, tapi emangnya gw salah apa?


"LEO!" kali ini teriakan Revelyn cukup keras, Leo mendongak, menatap gadis di seberang sana dengan mimik datarnya.


"Apa?"


Akhirnya Leo membuka suara, tapi malah membuat Revelyn semakin cemberut karena ekspresi cowok itu yang saat menjawab panggilan darinya terkesan malas.


"Lo kenapa?"


"Kenapa?"


Leo malah bertanya balik, Revelyn lantas menepuk jidatnya karena gemas.


"Gw tanya kenapa lo malah nanya balik! ogeb ah!" gadis itu merengek, menghentak-hentakkan kakinya di lantai lalu sesekali menendang pagar pembatas balkon di depannya.


Gadis itu mulai merengek karena Leo mengabaikan dirinya, namun lain halnya dengan Leo, cowok itu masih menatap Revelyn datar.


"Eh Leo, lo mau kemana?!" tanya Revelyn saat Leo ingin beranjak masuk ke dalam.


"Tidur."


Revelyn mendengus, beberapa saat kemudian ia lalu tersenyum saat mendapat sebuah ide cemerlang untuk membuat cowok itu berhenti mengabaikan dirinya.


"Aduh-duh, perut gw."


Leo langsung membalikkan badannya, ia nampak kaget saat melihat Revelyn. Gadis itu merintih kesakitan sambil memegang perutnya, bahkan Revelyn mulai terduduk yang alhasil semakin membuat Leo panik bukan main.


"Lo-lo kenapa?"


"Nggak tau, perut gw sakit banget ...." tapi boong awokwokwok.


Revelyn semakin mengeluh kesakitan, mau tak mau Leo langsung berlari keluar kamarnya. Meletakkan cangkir gelas di meja makan sebentar, lalu kembali berlari menuju rumah Revelyn.


...🍕...


"Velyn!"


Leo berteriak memanggil nama gadis itu, ia bahkan langsung berlari masuk ke dalam kamar Revelyn yang hampir semua dekorasi kamar tersebut bernuansa teddy bear.


Pupil mata Leo membulat saat matanya menangkap sosok gadis yang tergeletak di balkon kamar. Segera Leo berlari menghampiri Revelyn, mengangkat setengah tubuh gadis itu lalu menepuk-nepuk pipinya perlahan.


"Velyn, lo kenapa?"


"Velyn bangun, Velyn!"


"Lo kenapa bisa pingsan sih?!"


Tanpa basa-basi lagi Leo segera membopong tubuh Revelyn menuju kasurnya, namun sebelum di rebahkan ke kasur Revelyn mengerjapkan matanya sambil menarik baju Leo.


"Leo gw ..., pengen ...."


Leo meneguk salivanya, ia menatap Revelyn lekat yang masih dalam gendongannya.


Cowok itu panik sekali, bahkan keringat dingin mulai bercucuran dari wajahnya. Leo semakin was-was saat Revelyn belum menyelesaikan kalimatnya.


"Gw pengen ...."


"Pe-pengen apa?"


"PENGEN KETAWA-BAHAHAHAHAHAHAHA!"


Kena tipu!


Revelyn tertawa puas, apalagi saat melihat ekspresi Leo saat panik tadi. Benar-benar lucu.


Melihat Revelyn yang tertawa puas dalam gendongannya, lantas membuat Leo menatapnya datar. Cowok itu lalu menghempaskan tubuh Revelyn ke kasur, untungnya bukan ke lantai.


Meski sudah mendapat tatapan datar dari Leo, tawa Revelyn masih belum kunjung reda. Bahkan gadis itu tertawa sambil memukul-mukul boneka beruang di dekatnya.


"Katanya marah, tapi kok peduli sih? duh manisnya."


Itu kalimat yang selalu Leo lontarkan pada Revelyn jika sedang menggoda gadis itu, dan sekarang Leo malah kena balasannya.


"Nggak lucu, Vel!"


"Lucu kok lucu!"


"Nggak!"


Akhirnya Revelyn berhenti tertawa, ia menatap Leo sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sorry, kalau gw punya salah yang buat lo marah. Meski gw nggak tau apa salah gw, emangnya gw salah apa? kenapa lo kayak lagi kesal gitu sama gw."


"Emang." Revelyn cemberut saat Leo menjawab jujur pertanyaan.

__ADS_1


"Ya, salah gw apa?!"


Leo membuang pandangannya dari Revelyn, cowok itu lalu melipat tangannya di depan dada.


"Gw nggak suka kalau gw jemput lo di kelas, lo malah nggak ada. Dan saat gw nyari, lo malah main basket sama cowok sialan itu!"


"Ya maaf, habisnya kan waktu itu gw di suruh ke ruang guru buat anterin tugas kelas. Terus nggak sengaja ketemu ketua osis di koridor dan---"


"Dan pada akhirnya malah main basket berdua."


Revelyn semakin cemberut saat Leo menyelesaikan kalimatnya, gadis itu lalu menatap Leo dengan ekspresi memelas.


"Iya iya maaf, sebagai permintaan maaf dari gw hari ini lo boleh ajak gw kemana aja."


Mendengar ucapan Revelyn, lantas membuat Leo tersenyum miring.


"Kemana aja?"


"Iya, kemana aja."


"Ke hotel?"


"Anjir! lo mau ngapain bawa gw ke hotel?!" teriak Revelyn kesal sambil melempari cowok itu dengan boneka beruang berbagai ukuran yang dia punya.


"Nggak ada."


Revelyn mendengus kesal, menghela napasnya sambil turun dari kasurnya.


"Lo mau jalan-jalan atau nggak?" tanya Revelyn, ia mendesak agar cowok itu menjawab.


"Mau." Leo mengangguk, menatap Revelyn yang berada di hadapannya.


"Yaudah, kemana?"


Leo nampak berpikir, detik berikutnya cowok itu tersenyum. "Mall."


...🍕...


Hari ini Leo nampak senang, karena  biasanya gadis itu paling malas untuk di ajak jalan-jalan ke Mall oleh dirinya kecuali jika untuk membeli boneka beruang kesukaannya.


Namun kali ini sebagai permintaan maaf, gadis itu harus mengiyakan kemana saja Leo akan membawanya. Kecuali hotel, ya! emang Revelyn cewek apaan!


Revelyn menutup pintu mobil Leo dengan setengah membanting, ia lalu menghela napasnya sambil memandangi banyaknya bangunan besar di hadapannya.


"Sebenarnya sih gw malas ke Mall, karena---"


"Karena Leo kalau beli sesuatu nggak mau setengah-setengah." Leo menyambung kalimat gadis itu, bahkan sampai mengikuti gaya bicara gadis itu.


Revelyn menatap Leo kesal saat cowok itu berjalan menghampirinya. "emangnya lo ke Mall mau beli apaan?" tanya Revelyn menaikkan sebelah alisnya heran.


"Boneka."


"What? bu-buat siapa?!"


Leo menoleh, menatap Revelyn sambil tersenyum. "buat Revelyn."


Revelyn nampak terhenyak sesaat, jujur saja, Revelyn gadis yang sangat menyukai boneka beruang. Bahkan kamarnya sekarang sudah penuh dengan boneka beruang berbagai ukuran, dan kali ini Leo akan membelikan lagi boneka beruang untuknya.


Revelyn membatin, menatap heran Leo di sampingnya. Cowok itu kadang membelikan sesuatu untuknya tidak tanggung-tanggung, bahkan boneka beruang yang dibelikan Leo untuknya bulan lalu sebesar tinggi badannya.


"Kenapa?" tanya Leo heran saat melihat Revelyn sedari tadi menatapnya.


"Lo-lo beli bonekanya yang nggak bikin jantung gw mau copot 'kan liatnya?"


"Nggak."


"Berapa banyak lo mau beliin gw boneka."


"Berapa lo mau?"


"Seribu."


"Oke."


"Gw kayak cewek matre yang mau porotin dompet lo aja."


"Nggak papa, gw kaya."


"Sombong."


"Kenyataan."


Revelyn mendengus, mengalah dalam beradu mulut dengan cowok itu. Namun detik selanjutnya ia tersentak saat Leo meraih tangan kanannya lalu menggenggamnya erat.


"Ngapain pegang-pegang?!" awalnya Revelyn membrontak dan ingin minta di lepas, namun Leo tidak mau melepaskan tangannya.


"Harus pegangan tangan, entar lo hilang 'kan gw yang repot."


"Gw bukan anak kecil!"


"Yang bilang lo anak kecil, siapa?" Leo menoleh, menatap Revelyn dengan ekspresi tenang.


"Argh, tau lah!" Revelyn buang muka, lebih baik ia mengalah saja daripada harus berdebat dengan cowok itu.


...🍕...


Senyum Revelyn merekah saat mereka mulai memasuki sebuah toko boneka yang menjual berbagai macam jenis boneka, gadis itu spontan langsung melepaskan tangannya dari pegangan Leo. Ia lantas berjalan menghampiri deretan rak boneka beruang berukuran kecil dan sedang yang menarik perhatiannya.


"Astaga, astaga! Ini cute banget." Revelyn menatap takjub boneka beruang yang berukuran sedang.


Gadis itu lalu mengambil dua boneka beruang itu, ia-pun segera membalikkan badannya untuk berjalan menghampiri Leo. Namun saat berbalik badan Revelyn malah ternganga, menatap takjub boneka beruang yang berada tak jauh darinya.


"Ukurannya jumbo, pasti harganya mahal!" gumam Revelyn, ia cukup kagum dan suka pada boneka beruang berukuran sangat besar tersebut.


"Kenapa?"


Revelyn tersentak kaget, ia langsung membalikkan badannya sambil memukul lengan Leo dengan boneka di tangannya.


"Ngagetin aja lo!"

__ADS_1


"Udah pilih bonekanya?"


Revelyn mengangguk, sambil memperlihatkan dua boneka di tangannya. "udah nih."


Melihat boneka di tangan Revelyn malah membuat Leo menatapnya jijik. "lo milih ini? kecil banget."


"Biarlah, yang penting cute."


"Cute yang itu."


Mata Revelyn mengikuti arah jari telunjuk Leo, cowok itu menunjuk boneka beruang besar yang sempat membuat Revelyn takjub barusan.


Revelyn mengangguk setuju, "iya cute banget." ucapnya.


"Lo mau?" tawar Leo, namun Revelyn malah menatapnya tak percaya.


"Nggak, mahal tuh. Lagipula besar banget." jawab Revelyn sambil berlalu pergi menuju kasir.


Leo mengangguk sambil menatap boneka besar itu, "oke."


...🍕...


Mereka sudah mengunjungi hampir semua tempat di Mall tersebut, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk duduk sebentar karena lelah.


"Ya ampun kaki gw rasanya mau copot, lo sih buat gw keliling di Mall sebesar ini!" gerutu Revelyn kesal sambil memijit-mijit kakinya.


"Niat gw kan pengen belanjain lo di Mall, tapi lo malah nolak setiap toko yang kita masuki."


"Jelaslah gw nolak, kalau gw pengen baju, sepatu, sendal, celana, gaun, boneka, skincare, aksesoris, topi, dan lain-lain pasti bakal lo beli tanpa tanggung-tanggung!"


"Nggak papa, yang penting lo senang."


"Yang ada repot bawanya bambank!"


"Yaudah."


"Yaudah apa?"


"Kalau lo nggak mau semua itu, yaudah kita beli makanan aja."


Revelyn terdiam sesaat, gadis itu masih memijit-mijit kakinya yang terasa pegal. Detik selanjutnya manik Revelyn menangkap seorang anak yang sedang memainkan bola basketnya.


"Basket."


"Hah?" gumam Leo heran.


"Gw jadi pengen belajar main basket lagi, abisnya waktu ketua osis itu ngajarin gw main basket, ya jadi gw sedikit bisa mainnya. Gw kira main basket itu cuma buat lelah dan keringatan, tapi ternyata menyenangkan juga."


Revelyn terus mengoceh tanpa henti, apalagi sesekali gadis itu menyebut nama ketua osis itu dalam ceritanya. Tentu saja hal itu membuat Leo menguap saat mendengarnya.


"Boleh kali yak gw minta ajarin lagi sama ketua osis itu main basket?" tanya Revelyn, ia lalu menoleh ke arah Leo. "gw mau belajar lagi main basket." ucapnya pada Leo.


Namun saat menatap Leo, Revelyn malah berekspresi kesal.


"Sorry gw nggak denger, gw lagi ngupil." ucap Leo malas, apalagi jari telunjuk cowok itu masuk ke dalam hidungnya.


"Anjir jorok!" umpat Revelyn kesal sambil mendorong cowok itu.


Leo akhirnya bangkit dari duduknya, menatap Revelyn lekat.


"Lo beli makanan sana, gw mau ke mobil duluan. Ingat yak, jangan lama-lama belinya. Entar gw lumutan nunggunya."


"Makanan apa?"


"Terserah." ucap Leo sembari beranjak pergi meninggalkan Revelyn yang masih menatap kepergiaannya dengan mimik kebingungan.


"Yaudah."


...🍕...


Revelyn bersenandung sambil membawa dua kresek yang berisikan makanan di dalamnya, gadis itu lalu keluar dari pusat perbelanjaan tersebut sambil berjalan menuju parkiran.


Namun tiba-tiba dua kantong keresek di tangan Revelyn jatuh begitu saja, gadis itu terhenyak sambil menatap apa yang ada di hadapannya dengan tatapan tak percaya.


"OH MY GOD, GW NGGAK SALAH LIAT 'KAN?!" gumam Revelyn, ia bahkan tidak berkedip sama sekali.


Leo menggaruk-garuk kepalanya, lalu saat ia baru menyadari kehadiran Revelyn lantas cowok itu mulai mengeluh.


"Velyn, bonekanya nggak muat nih."


"Bu-buat siapa nih boneka?"


"Buat lo lah!"


Rasanya Revelyn ingin marah namun di sisi lain ia cukup senang, pasalnya cowok itu rela membelikan dirinya boneka beruang yang ukurannya bahkan sangat besar.


Sampai-sampai untuk membuat boneka itu muat di dalam mobilnya saja bahkan tidak bisa.



"Kampret susah banget, nih boneka ukurannya terlalu besar." keluh Leo, ia kebingungan bagaimana caranya agar boneka itu bisa muat di bagasi mobilnya.


Revelyn menghela napasnya, berjalan menghampiri Leo sambil menabok lengan cowok itu.


"Lo kenapa beliin ini buat gw? padahal dua boneka yang kecil itu-pun udah syukur lo beliin buat gw, apalagi sebesar ini njir. Sujud syukur gw!"


"Suka 'kan?"


Revelyn menghela napasnya, menatap Leo yang tersenyum ke arahnya.


"Leo-Leo, gw nggak habis pikir lo lakuin ini cuma buat gw senang doang."


"Nggak masalah, asalkan lo senang gw udah bahagia."


"Tapi---"


"Nggak papa, Velyn."


Revelyn lantas tersenyum, "makasih."

__ADS_1


...🍕🍕🍕...


__ADS_2