HEARTBEAT

HEARTBEAT
Fiveth


__ADS_3

Namjoon langsung menghubungi Jimin setelahnya.


Matanya menatap tajam jalan tempat Jihan terakhir terlihat.


'Sial!!! Kau bodoh Kim Namjoon!'


***Tit...


Tit...


Ti***--


"Yeoboseo?"


"Jimin! Masalah, Jihan mencoba bunuh diri lagi!" teriak Namjoon frustasi.


"MWO?!! BAGAIMANA BISA? Terakhir kulihat Jihan Noona masih distudio milik Yoongi Hyung!"


"Aku tidak berbohong Jimin! Sepertinya Jihan habis ke tempat Yoongi, dan aku menggagalkan rencana bunuh dirinya tadi" ucap Namjoon kalut.


"Hah... Jihan mau melompat dari jembatan Banpo Jimin... Maaf, aku membentaknya karna emosi"


"Huft, Tak apa Hyung Dimana Jihan Noona sekarang?"


"Jihan berjalan kearah Kafe Jin Hyung, Sepertinya dia kesana lagi"


Namjoon menatap arah jalan tempat Jihan terakhir kali terlihat, Arahnya sama persis dengan kafe milik Seokjin.


Dulu Jihan pernah hilang dari rumah, Jimin bahkan sampai kalang kabut mencari,  Karna panik Jimin meminta bantuan para sahabatnya yang dulu selalu bermain bersama.


Karna Dulu Jihan selalu main bareng mereka, jadi Mereka tau siapa Jihan dan ternyata Jihan ada dikafe milik Seokjin.


Kafe tempat mereka dulu sering main bareng, Makan dan aktivitas-aktivitas lain yang membuat Jihan memiliki banyak kenangan disana.


Dan salah satu kenangan yang paling membekas dalam hatinya, Disana tempat Yoongi melamarnya.


Ya, tidak jauh dari kenangan soal Yoongi yang menjadi hal-hal favorit Jihan saat ini.


"Ah... Baiklah, Aku akan langsung kesana, Gomawoo Hyung karna sudah menggagalkan rencananya"


"Kau tau Jimin? Kurasa meski Jihan masih hidup, aku merasa dia sudah lama mati" lirih Namjoon.


Matanya menatap kosong, Sinar yang ada diiris matanya perlahan semakin menipis membuat kristal-kristal bening terkumpul dan siap dilepaskan dalam satu kali kedipan mata.


Suara helaan nafas berat terdengar dari arah speaker.


"Hyung... Aku tutup teleponnya"


Tit.


Namjoon menatap handphone nya kosong, matanya berkedip dan seketika setetes air mata menetes melewati pipi dan dagunya.


'Kau sama saja Jimin, Kau tau benar bahwa fikiranmu sama denganku'





Kling...


"Selamat datang!"


Jihan melewati pintu kafe, Napasnya memburu terengah-engah akibat berlari, kulitnya semakin memucat dan dingin.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Pelayan.


"Ya" balas Jihan datar.


Jihan berjalan kekursi paling ujung ruangan, Tempat biasanya ia datang untuk memesan.


"Pesanan anda nona?" tanya Writers.


"Cappucino Latte dan Waffle"


Jihan melempar pandangan keluar jendela, mengabaikan Pramusaji yang tak lama sampai dan menaruh pesanannya.


'Aku bosan Yoongi'


Matanya menatap kosong hamparan salju yang perlahan turun, Menambah suhu udara semakin dingin diluar dan penghangat ruangan yang semakin menyala.


Salju pertama di Seoul, Dan Jihan sendirian lagi.


Mengabaikan pesanannya yang semakin lama semakin dingin.


Dan mengabaikan sepasang mata yang menatapnya dari balik meja bar.


'Dia datang lagi! Dan lagi-lagi dengan pakaian yang sangat tidak sesuai musimnya, Apa dia tidak kedinginan?'

__ADS_1


Pria itu menatap sekeliling kafe, merasa kafe sedang sepi pengunjung ia memantapkan niatnya.


Pria itu membuat satu cangkir Latte hangat dengan foam bergambar Love yang terpanah diatasnya, lalu mengambil jaket hitam tebal miliknya di bawah meja dan berjalan kemeja milik Jihan.


"Maaf, Apa saya boleh duduk disini?" tanya Pria itu.


(n/t : Dikorea orang yang baru kenal masih terhitung orang asing jadi memakai kata "Joneun" yang artinya "Saya/aku" formal, bukan "Naega/Nae" atau "Na/Naya" yang artinya Aku Informal).


(Setauku sih ya kalo salah, ya maap :v)


Jihan mengabaikannya, matanya tetap menatap keluar kaca kafe dengan pandangan kosong tidak mengindahkan pertanyaan orang asing disampingnya.


"Baiklah saya anggap jawaban itu adalah Iya"


Pria itu duduk dihadapan Jihan menatap wajah Jihan intens kulit pucat dengan mata yang sembab, Pipi tirus juga bibir yang sudah tidak merona alami.


Matanya perlahan menatap Jihan Iba, Menyesal, Marah dan Sakit.


Seiring hatinya yang juga semakin sakit saat melihat pakaian yang Jihan pakai ternyata pakaian milik laki-laki yang bahkan kebesaran dipakai ditubuhnya karna tubuhnya terlalu kurus.


Terlihat dari tulang yang terlihat disekitar leher dan tangannya.


'Apa yang terjadi padamu?'


Pria itu menatap Jihan sakit.


Bagaimana tidak sakit bila orang yang kau cintai terlihat tak memiliki harapan hidup?


Pria itu menyesal karna baru memiliki keberanian untuk mendekati Jihan sekarang dan bukan dari beberapa waktu lalu, membuatnya baru menyadari orang yang dicintainya ternyata sudah tidak memiliki harapan hidup.


"Apa tidak dingin hanya memakai Sweater hitam tipis di Musim Dingin? Terlebih Salju pertama sudah turun" tanya Pria itu.


Jihan bergeming, perlahan belahan bibirnya terbuka menjawab dengan Dingin.


"Bukan urusanmu"


Pria itu tersenyum manis menampilkan Gummy Smile yang membuat matanya terlihat menipis dan menunjukan pipinya yang agak chubby.


"Haha, Baiklah maaf"


Pria itu menatap Jihan penuh Cinta, Bibirnya tetap memberikan sebuah senyuman manis dengan tangan yang memainkan pegangan gelas.


"Nama saya Im Youngmin saya bertender dikafe ini, Bisa saya tau siapa namamu?" tanya Youngmin.


Jihan menatap malas orang di depannya, matanya perlahan berkedip berusaha memperjelas fokus matanya.


Matanya menatap terkejut Youngmin yang masih tersenyum dan menatapnya penuh tanya.


"Maaf, saya bukan Yoongi"


Youngmin menatap Jihan bingung, Bukannya tadi ia sudah memberitau namanya? Apa dia lupa?


"Gak! Aku yakin kamu Yoongi!" teriak Jihan histeris.


Kafe sedang sepi hanya ada beberapa pelanggan yang duduknya berjauhan dengan mereka, dan hanya para pekerja kafe yang menatap mereka bingung bahkan salah satu pekerja langsung berlari keruang manajer.


Tangannya memegang tangan Youngmin erat, menghiraukan cangkir kopi miliknya dan Youngmin yang tumpah mengotori meja juga tangannya yang terluka.


Matanya menatap Youngmin bahagia, Youngmin yang merasa orang yang dicintainya histeris tentu saja panik.


"Maaf, Tapi saya bukan Yoongi, nama saya Youngmin" ucap Youngmin panik.


Matanya menatap panik tangan Jihan yang perlahan melepuh karna Kopi panas miliknya yang tumpah.


"Jangan berbohong Yoon! Aku tau kamu pasti kembali! Ayo kita pulang Yoon, Aku minta maaf ya" lirih Jihan.


Matanya menatap Sendu iris mata Youngmin, Membuat hati Youngmin sakit seketika.


"Tapi aku bukan... Baiklah tapi kita obati tanganmu dulu ya" ucap Youngmin.


Youngmin merasa sakit, Jihan menganggapnya orang lain tapi bila itu membuat Jihan nyaman maka Youngmin akan lakukan apapun.


"GAK! KAMU PASTI MAU NINGGALIN AKU LAGI! GAK BOLEH!" teriak Jihan Histeris.


Tangannya semakin mememegang erat tangan Youngmin, bahkan Youngmin yakin tangannya akan membiru karna tenaga yang dipakai Jihan terlihat tidak main-main.


Brak.


"Ada apa ini?"


"Noona!"


Tiba-tiba pintu kafe terbuka kasar terlihat Jimin yang berlari saat masuk kedalam kafe dengan nafas yang masih memburu hebat.


Bersamaan dengan pintu khusus Manajer yang juga terbuka dan Seokjin keluar dari sana dengan salah satu pekerjanya.


"Hyung..." panggil Jimin lirih.


"Ada apa ini Jimin?" tanya Jin.

__ADS_1


Matanya menatap Jihan yang masih mencengkram erat pergelangan tangan milik Youngmin, dengan mata yang menatap wajah Youngmin kosong juga kesedihan yang bahkan terlihat oleh mata.


"Jihan?" lirih Jin.


"Maaf hyung, Aku kemari mau membawa Jihan Noona pulang emmm... Dia kambuh lagi" ucap Jimin pelan.


Jimin berjalan kearah Jihan yang sekarang menatapnya tajam saat mendengar kata 'pulang'.


Jin yang mengerti maksud Jimin akhirnya mengangguk dan membubarkan para pekerjanya yang berkerumun dan melihat, juga memberi peringatan untuk tidak membuat heboh.


(Maksudnya disini memvideo dan mempublishkannya/sesuatu yang membuat heboh lewat sosmed atau gosip).


"Noona... Ayo kita pulang" ucap Jimin.


Tangannya memegang tangan Jihan yang sedang mencengkeram tangan Youngmin.


"GAK! aku gamau! Yoongi harus ikut sama kita Jimin!" teriak Jihan histeris.


Kedua tangannya mencengkram tangan Youngmin semakin kuat membuat beberapa kukunya mulai menancap ditangan putih pucat Youngmin.


"Sshhh... "


Youngmin mendesis sakit.


Tangannya terasa perih saat kuku panjang Jihan menancap dan menggores lengannya.


Meski tangannya sakit, ia merasa hatinya lebih dari sekedar sakit saat melihat Jihan yang kembali histeris mungkin sudah remuk.


"Noona, kau menyakitinya" ucap Jimin panik saat Jihan semakin histeris.


Jihan menatap tangan Youngmin yang mulai mengalirkan darah lalu menatap wajah Youngmin yang sedikit meringis menahan perih.


"Yoongi...-"


Iris mata Jihan memanas, Kristal-kristal bening mulai jatuh perlahan.


"Hiks... Maaf, Aku menyakitimu lagi" lirih Jihan.


Jihan melepas Tangan Youngmin yang perlahan mulai membiru dengan luka kecil hasil cengkraman kuku Jihan.


"Hiks hikss... Aku menyakitinya lagi Jimin"


Jihan menangis terisak, Badannya meluruh masuk kedalam pelukan Jimin yang sebelumnya menarik tangannya perlahan.


"Tidak apa, tenanglah Noona" lirih Jimin.


Tangannya perlahan masuk ke kantong jaketnya dan mengeluarkan suntikan kecil yang berisi obat tidur dan penenang.


Sesuai saran dan dosis yang diberikan oleh dokter yang menangani Jihan untuk memberikannya saat keadaan mendesak.


Youngmin menahan tangan Jimin saat Jimin berusaha menusukan suntikannya pada lengan Jihan.


"Apa yang kau lakukan?!!" geramnya.


Jimin menatapnya kosong.


"Kau tak tau apapun! Diamlah, Aku harus membawanya ke rumah sakit" ucap Jimin bersihkeras.


"Aku bisa membawanya tanpa harus menyakitinya atau membuatnya pingsan atau apapun dengan obat itu!" ucap Youngmin cepat.


"Kau tidak mengerti! Jihan noona akan mengamuk saat dibawa ke rumah sakit! Bagaimana bisa kau membawanya?!!" geram Jimin.


Youngmin merampas paksa suntikan itu dari Jimin lalu membuang dan menginjaknya dilantai.


"KAU---"


"Diam!!! Hiks... Jangan berteriak padaku Jimin!"


Jimin yang melihat Jihan masih histeris dan mulai memberontak dalam pelukannya mulai panik.


"Noona, maaf aku tidak sengaja"


Youngmin melepaskan pelukan Jimin pada Jihan lalu menarik kedua tangan Jihan agar Jihan menghadap padanya.


"Jihan-ya, Kau percaya padaku kan? Kumohon tenanglah okay?"


Youngmin mencoba menganalisis keadaan, saat tau nama Jihan dari ucapan Jimin dan Jimin yang bersihkeras mencoba membawa Jihan kerumah sakit ia yakin ada yang tak beres.


Apalagi Jihan menganggapnya orang lain yang bahkan belum pernah ia lihat, jadi ia mencoba memanfaatkannya untuk membujuk Jihan agar kembali tenang.


"Kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?"


Jihan menatap Youngmin sayu.


"Tentu saja tidak! Bahkan didalam mimpiku aku tak akan pernah meninggalkanmu Jihan" ucap Youngmin pelan.


Suaranya bahkan semaki mengecil dan hampir menghilang diakhir meski Jihan tetap saja mendengarnya.


"Hiks terima... kasih"

__ADS_1


Dan setelah mengatakannya kegelapan sudah mengambil kesadaran Jihan dalam damai.


__ADS_2