HEARTBEAT

HEARTBEAT
07. I Need You


__ADS_3

"Bagaimana pekerjaan kamu?" Wina, Nenek Leo bertanya pada seorang pria paruh baya yang mengenakan jas.


Pria itu sedang duduk di meja makan, termenung sambil memandang pantulan bayangan dirinya dari gelas kaca di hadapannya.


"Andhara."


Andahara, pria itu tersentak kaget. Ia lantas mendongak dan melempar senyum tipis ke arah Mamanya.


"Baik, Ma. Bagaimana dengan sekolah Leo? dimana anak itu sekarang?"


Wina tersenyum, ia masih berdiri di dekat meja makan sambil mengelap piring-piring yang sudah dicuci.


"Begitulah, kadang anak itu selalu buat masalah. Tapi untungnya ada Velyn, anak itu jadi tau batasannya."


Andhara menaikkan sebelah alisnya, menatap Wina heran.


"Velyn?"


Wina mengangguk, "Revelyn, tetangga sebelah. Mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil. Dan karena anak itu, Leo jadi lebih ceria." jelas Wina membuat Andhara tersenyum.


"Syukurlah."


Beberapa saat kemudian, yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Leo datang dengan pakaian seragam sekolahnya yang sudah rapi, berlari kecil menuruni anak tangga. Namun langkahnya seketika terhenti saat melihat seorang pria paruh baya duduk di meja makan, pria itu menatapnya lalu bangkit dari duduknya.


Leo tidak percaya bahwa Papanya akan datang hari ini, membuat jantungnya semakin berdegup kencang.


Kilasan memori masa lalu terbayang begitu saja saat melihat sang papa, Andhara, pria itu tersenyum sambil berjalan menghampiri Leo.


"Papa bohong! Papa bilang dokter itu pahlawan, tapi apa? Papa bahkan nggak bisa nyelamatin Mama! Papa jahat! Papa bukan pahlawan, semua itu bohong!"


Leo mencengkram kerah bajunya, napasnya mulai tidak teratur, matanya bahkan mulai memanas.


"Leo, papa tau kamu masih nggak bisa keluar dari masa lalu itu. Tapi, bisakah kamu berhenti seperti ini?"


"Seperti apa?!"


Rasanya bernapas saja susah, kilasan memori masa lalu itu masih menghantui Leo. Sekarang ia bahkan tidak bisa berpikir jernih, dan menganggap bahwa sang papa hanya seorang pembunuh.


"Seperti sekarang, papa tau kamu nggak bisa lupain kejadian itu."


"Melupakan? nggak semudah itu! Leo bukan Papa yang bisa lupain semuanya dengan mudah, lagipula semua ini juga gara-gara Papa!"


"Maaf."


"Ka-kalau aja---" Leo menjeda kalimatnya, ia menggigit bibir dalamnya. Suaranya mulai gemetaran, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. "kalau aja saat itu Papa datang lebih cepat, mungkin Mama bisa selamat. Dan mungkin, sampai sekarang Leo masih bisa rasain kasih sayang dari seorang Ibu!" Leo meninggikan suaranya, setelah mengatakan itu ia mulai beranjak pergi begitu saja.


"Leo!"


Andhara memanggil nama anaknya berulang kali, namun anaknya tersebut sudah berlari pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya yang mulai di hantui perasaan bersalah, Andhara tidak tahu bagaimana cara menebus kesalahannya pada Leo selain dengan mengirimi uang pada anak itu setiap bulannya.


"Sudahlah, biarkan Leo sendiri dulu." Wina menatap miris putra tunggalnya, ia menepuk pelan pundak anaknya.


Andhara menghela napasnya, ia masih memandangi kepergiaan Leo dalam diam.


"Saya cuma ingin dia mengerti."


...🍕...


SMA Sanjaya.


Kedatangan Leo yang berjalan di sepanjang koridor membuat keheningan, pasalnya cowok itu berjalan dengan rahangnya yang mengeras serta kedua tangan yang terkepal.


Sangat kentara bahwa ada sesuatu yang membuat cowok itu sangat marah, sehingga para siswa maupun siswi banyak yang berbisik-bisik.


"Papa mana?! Papa mana?! Mama butuh bantuan!!!"


"Leo, sudahlah, Mama masih kuat kok, mungkin Papa kamu lagi sibuk di Rumah Sakit lain."


"Nggak bisa gitu! Mama butuh bantuan! Mama nggak bisa terus berpura-pura kuat, padahal sebenarnya Mama cuma nggak mau Leo khawatir kan?"


**Brukk


"Aduh!"


Leo tersentak kaget saat tak sengaja bertubrukkan dengan seseorang, yang di tabrak juga tak kalah kaget. Apalagi saat mengetahui bahwa yang di tabrak ialah, Revelyn.


Gadis itu meringis, mendongak lalu menatap wajah Leo tanpa berkedip.


Revelyn menatap Leo lekat, ekspresinya bertanya-tanya saat melihat mata Leo yang memerah seperti ingin menangis.


"Leo lo---"

__ADS_1


Deg


Leo langsung memeluk tubuh Revelyn lekat, sangat lekat. Seolah mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan sebuah tempat untuk mengutarakan perasaannya, seluruh kesedihannya.


Revelyn tidak bersuara, ia masih syok. Apalagi siswa dan siswi mulai menatap mereka dengan ekspresi tidak percaya, ada apa dengan mereka? begitulah pemikiran murid-murid yang melihatnya.


"Leo?"


Gadis itu membalas pelukan Leo, memanggil nama cowok itu dengan lembut. Revelyn mengusap-usap punggung Leo seolah berkata, tenang ada aku disini semua akan baik-baik saja.


"Velyn."


"Gw butuh lo."


"Sebentar aja kayak gini."


"Sebentar aja."


...🍕...


"Siapa sih pacar lo? kenalin dong, gw penasaran banget sumpah."


Miselia masih terus berjalan di depan Una, mengabaikan beribu pertanyaan dari gadis itu. Mereka berdua sedang berjalan di koridor kelas sebelas, dan berencana untuk ke kantin. Maklum, kantin ada di koridor kelas sepuluh jadi mereka harus dua kali turun tangga.


"Misel! lo mah nggak pernah cerita bahwa lo pacaran, gw agak kecoa tau! sumpah Sel, gw penasaran banget, kepo banget nih! jawab dulu pertanyaan gw kutu beras!"


Miselia menoleh, menatap Una yang berjalan sejajar dengan dirinya. Gadis itu menatap Miselia dengan ekspresi cemberut, sedangkan Miselia hanya memutar malas bola matanya.


"Lo jadi orang jangan kepo-an sama urusan orang, entar matinya penasaran lho~"


Gadis itu mencoba menahan tawanya saat melihat ekspresi Una yang ketakutan, Una lalu menoleh dan langsung mencubit lengan Miselia.


"Jangan coba begoin gw deh lo!"


"Yah, siapa suruh bego!"


Tawa Miselia meledak, meledek Una membuatnya puas apalagi saat melihat gadis itu percaya dengan bualannya.


Mereka akhirnya berbelok, ingin menuruni anak tangga. Namun sontak langkah kaki mereka terhenti sebelum menapak anak tangga, mereka berdua kaget saat kaki menghalangi jalan mereka.


Miselia mendongak, menatap sang pelaku yang bersandar pada dinding namun sebelah kakinya menghalangi jalan untuk melewati tangga.


Pelakunya tak lain ialah Geral, cowok itu melipat tangannya didepan dada sambil menatap Miselia datar.


"Nih cewek sakit jiwa kah? nakutin njir." Axele berbisik pada Geral, cowok itu lantas menatap kesal saat Axele menarik-narik seragamnya.


"Minggir, kami mau lewat!" ucap Miselia judes, ia menatap malas Geral.


"Gw nggak denger."


"TULI!" cerca Miselia, ia melipat tangannya di depan dada. Menatap Geral dengan ekspresi menantang.


"Lo kali!"


"Minggir! gw bilang minggir, gw mau lewat!" gadis itu mengulang ucapannya, namun dengan nada yang naik beberapa oktaf.


Melihat ekspresi gadis itu, Geral tersenyum miring. Menyingkirkan kakinya yang menghalangi jalan, lalu Geral berjalan menghampiri Miselia.


"Kemarin, lo masih belum minta maaf sama gw." ucap Geral datar, jarak di antara mereka lumayan dekat.


Miselia menghela napasnya sambil melipat tangannya di depan dada, ia mengalihkan pandangannya dari cowok yang berada di hadapannya.


"AXX---EE---LLE!"


Axele meneguk salivanya, menoleh ke samping dan mendapati Una memanggil namanya dengan suara yang di tekankan.


Una menatap Axele yang berada di hadapannya dengan tatapan berbinar-binar, Axele yang melihat itu lantas merinding.


"Lal, Geral. Gw takut banget sumpah sama tuh cewek, merinding gw njir. Gw duluan ke kantin yak!" Axele menghampiri Geral, berbisik pada cowok itu. Lalu segera berlari menuruni anak tangga, meninggalkan Una yang mulai memasang ekspresi cemberut.


"Sel! gw duluan ke kantin!" pamit Una, ia langsung berlari menuruni anak tangga. Mengejar Axele yang sudah berlari cepat karena takut.


"Oi Un-"


Ingin beranjak pergi, namun Geral malah mencegat lengan gadis itu. Membalikkan tubuh Miselia hingga menghadap dirinya, spontan perlakuan Geral membuat Miselia ingin berteriak kesal.


"Lo yak---"


Ucapan Miselia terhenti kala Geral mengangkat sebuah handphone di tangannya, Miselia kenal, itu handphonenya!


"Handphone gw!" pekik Miselia, ia ingin merebut handphone tersebut namun Geral malah menjauhkannya.

__ADS_1


"Bisa sopan santun nggak? lagipula gw nggak bakal kasih nih handphone kalau lo belum minta maaf soal kemarin!" ancam Geral, ia tersenyum picik.


Miselia mendengus, lalu menghela napasnya. Mungkin ia harus mengalah saja lalu meminta maaf, biar semua cepat dan cowok itu lekas mengembalikan handphonenya.


"M-ma-aaf." rasanya lidahnya mendadak kelu, mengucapkan kata maaf saja tidak bisa. Gengsi terlalu menguasai.


"Apa lo bilang? yang jelas dong, nggak usah gengsi lah!"


Gadis itu berdecak kesal, menatap Geral sebal. "gw minta maaf, buat yang kemarin karena udah lempar lo dengan batu!"


Geral mengangguk, memberikan handphone tersebut pada pemiliknya. "nih, tuh handphone dari kemarin notifnya bejibun. Dari cowok, dia bahkan nelpon lo berkali-kali." jelas Geral, membuat Miselia tercengang kala menatap semua message masuk serta misscall dari pacarnya.


"Makasih." ucap Miselia meski sekarang jarinya tengah mengetik lincah di keyboard, membalas semua message masuk dari orang yang sedang mengkhawatirkan kabarnya.


Geral mengangguk lagi, keduanya lantas tersentak saat sebuah panggilan masuk dari handphone Miselia.


Drrttttt


Senyum terukir di bibir Miselia kala menatap nama yang tertera di layar handphonenya, gadis itu langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa menghiraukan kehadiran Geral. Cowok itu menatap Miselia lekat saat gadis itu menjawab telepon dari seseorang di seberang sana.


"Hallo?"


"Kamu kemana aja?"


"Sorry, handphone aku kemarin kecopetan. Tapi sekarang udah balik lagi kok."


"Hm, baguslah. Aku kira kamu kenapa-napa, aku sudah khawatir."


"Don't worry, Sir."


Miselia terkekeh, begitupula dengan cowok di seberang sana.


Gadis itu lalu menuruni anak tangga sambil terus bergurau di telpon, meninggalkan Geral yang masih menatap kepergiaannya lekat.


"Pacarnya, hah?"


...🍕...


Axele masih terus berlari di sepanjang koridor kelas sepuluh, napasnya memburu. Ia lumayan takut dan risih akan gadis itu, kelakuannya membuat Axele ngeri.


"AXELE! TUNGGU AKU!"


Axele tersentak, ia menoleh dan mendapati Una berlari mengejarnya.


Anjir! Serem njir! Tuh cewek kenapa astagaaa.


Cowok itu semakin mempercepat larinya, sesekali menoleh kebelakang melihat Una yang masih setia mengejarnya. Gadis itu tidak malu saat orang-orang mulai memperhatikan dirinya, bahkan ada yang berbisik-bisik tentangnya.


"AXELE! AKU NGGAK GIGIT KOK! CUMA MAU NGAJAK KAMU MAKAN SAMA-SAMA DI KANTIN! JANGAN TAKUT ZEYENK!" teriak Una, ia masih berusaha untuk mengejar Axele yang larinya cepat sekali.


Zeyenk palalu, ogah gw makan sama lo! dasar sakit jiwa!


Saat ada belokan di koridor, Axele langsung berbelok. Lalu menghentikan larinya, ia bernapas lega saat mengintip dari dinding. Gadis itu tidak terlihat, mungkin sudah berhenti atau capek untuk mengejarnya.


"Huft, selamat." gumam Axele.


"Selamat, kita ketemu lagi!"


Axele terlonjak kaget saat mendapati Una sudah berdiri di sampingnya, cowok itu lantas celingak-celinguk, ekspresinya seolah mengatakan---bukankah cewek ini tadi di sana, kenapa jadi disini?


"Hai Axele." sapa Una dengan melempar senyum manisnya.


Cowok itu berdehem, mencoba membenarkan posisinya. Ia dan Una saling berhadapan, gadis itu nampak gugup setengah mati.


"Lo siapa sih?"


"Hanya seorang gadis yang sekarang, sedang menyukaimu." jawaban Una yang terang-terangan membuat Axele ternganga.


Cowok itu lantas menempelkan telapak tangannya di dahi Una, "lo sakit yak?"


Tubuh Una sontak mematung, menatap Axele tak percaya. Detik selanjutnya---


Bruk


Gadis itu ambruk begitu saja karena gugup. Axele yang melihatnya langsung bergidik ngeri.


"Oi anjir, lo kenapa malah rebahan di lantai?"


"Astaga, aku di sentuh Axele." Una nampaknya melting, buktinya seluruh tubuhnya terasa lemas.


"Astaga! lo pasti gila 'kan! nakutin anjir!" ucap Axele sebelum akhirnya berlari pergi meninggalkan Una yang cemberut, gadis itu bahkan masih terlentang di lantai.

__ADS_1


"Axele, bukannya di tolongin malah di tinggalin!"


...🍕🍕🍕...


__ADS_2