
"Met pagi, bro." sapa Axele sambil merangkul Leo, ia menghampiri Leo yang baru saja keluar dari mobil.
"Hm." dehem Leo sambil mengangguk.
Axele nyengir, detik selanjutnya ia kaget sampai terheran-heran, karena baru menyadari mobil baru Leo di hadapannya.
"ANJIR, MOBIL SIAPA NIH?! LAMBORGHINI HURACAN, MOBIL YANG GW MAU BAHKAN EMAK BAPAK GW NGGAK MAU BELIIN!" teriak Axele heboh, membuat siswa maupun siswi yang berlalu lalang menatap mereka.
"Alay." cibir Leo malas.
Axele terkekeh, ia lalu merangkul Leo.
"Jadi, ini mobil baru lo?"
"Bekas."
"Gw serius oi!"
"Udah tau, pakai nanya lagi."
"Nanti gw pinjam yak?"
"Nggak."
"Kenapa njir?" tanya Axele kecewa.
"Nanti mobil gw rusak, lo kalau bawa mobil nggak kira-kira ngebutnya." cibir Leo, ia kembali teringat Axele pernah menyetir mobilnya yang dulu dengan kecepatan di atas rata-rata bahkan hampir menabrak tukang becak yang kebetulan mangkal di pinggir jalan.
"Khilaf." canda Axele sambil terkekeh.
"SELAMAT PAGI AXELE, UNA DATANG BAWA MAKANAN NIH!"
Teriakan membahana Una membuat Axele menutup kedua kupingnya, ia lalu menoleh dan mendapati Una berjalan menghampirinya.
"Nggak usah teriak juga, toa masjid!" cerca Axele, Una hanya senyam-senyum sambil menyodorkan rantang berwarna-warni pada Axele.
"Apaan nih?"
"Rantang."
"Lo kira gw abis bertani dikasih beginian?" cibir Axele kesal.
Una mendadak cemberut, "Una bawain makanan buat Axele makan pas istirahat, lumayan hemat uang saku, tapi masa Axele nggak ngehargain pemberian dari Una sih." gadis itu mendramatiskan keadaan, ia bahkan berekspresi seperti ingin menangis.
Axele berpikir sejenak, yang Una katakan ada benarnya juga, ia bisa menghemat uang saku jika ia menerima pemberian dari Una.
"Yaudah gw terima, nggak ada racun tikusnya 'kan di makanan ini?" tanya Axele penuh selidik.
"Ada."
"Apa?!"
"Racun cinta."
Mendengar jawaban Una sontak membuat Axele berlagak ingin muntah, sedangkan Leo yang berada di samping Axele terkekeh pelan.
"Axele ganteng deh, Una yang cantik ini jadi sayang ...." ucap Una tersipu malu.
"Gw emang ganteng, dan gw sadar."
"Axele emang ganteng, tapi sayang ...,"
"Sayang kenapa?" tanya Axele mengernyit heran.
"Nggak papa kok, sayang." jawab Una malu-malu.
Axele tersenyum kecut, ia lalu menjitak kepala Una karena kesal.
"Najis!"
"Sakit, njir, ini namanya kekerasan pada cewek!" celoteh Una tidak terima, "tapi kalau Axele yang nyakitin, aku rapopo kok." ucap Una sambil mengedipkan matanya ke arah Axele yang sontak malah membuat cowok itu menatapnya geli.
"Dasar masokis."
Dari kejauhan tempat mereka berada, Alana berteriak risih, pasalnya dua siswa yang juga kelas 12 sedang mengganggu dirinya.
"Bagi nomor telponnya dong, cantik." pinta salah satu siswa berjambul tersebut sambil mencolek lengan Alana.
Alana langsung menepisnya seakan jijik dengan perlakuan salah seorang siswa berjambul itu.
"Jangan pegang-pegang gw! jijik tau!" teriak Alana kesal.
Kedua siswa itu tertawa renyah, mereka lalu bersandar pada mobil Lamborghini milik Alana yang terparkir di samping mereka.
"Mobil lo bagus juga ya, apalagi body lo." ucap teman siswa berjambul tersebut sambil tertawa.
"Jangan sentuh mobil gw, sialan! dan lagi, kalian brengsek, ini termasuk pelecehan tau!" teriak Alana, amarahnya sudah memuncak sampai ubun-ubun.
Alana bahkan mendorong salah satu siswa itu agar menjauh dari mobilnya, namun kedua siswa itu malah tertawa.
"Galak banget sih, nanti cantiknya hilang lho." goda siswa berjambul itu sambil mencolek dagu Alana.
Alana memekik kesal, ia ingin menyumpah serapah kedua siswa itu, namun tiba-tiba---
**Buk**!
Alana kaget saat seseorang meninju wajah siswa berjambul yang sudah berani menyentuhnya tadi hingga tersungkur ke tanah, gadis itu menoleh, ia kaget karena yang menolongnya sekarang ialah Leo.
"Dasar bejat!" umpat Leo menatap kedua siswa itu tajam.
Siswa berjambul itu meringis, ia berdiri di bantu oleh temannya.
"Sialan, gw bakal balas lo." ucapnya menatap Leo tajam, setelah itu mereka berdua beranjak pergi.
Sepeninggal kedua siswa itu, Alana menghela napasnya.
"Makasih."
Leo mengangguk, sedangkan Alana masih tersenyum.
"Lo---"
"Velyn!"
Belum selesai AlanaΒ berbicara, Leo sudah berjalan menghampiri Revelyn yang baru saja datang.
"Oh, hai, Leo."
Leo senang melihat Revelyn sebelum memulai pelajaran, apalagi gadis itu nampak bahagia membuat Leo juga ikut bahagia.
"Diantar sama siapa?" tanya Leo, mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas.
"Kak Regan."
Alana hanya terdiam sambil memandangi kepergiaan mereka berdua, setelahnya gadis itu mendengus sambil beranjak pergi.
__ADS_1
...π...
"Velyn, tolong antar buku latihannya ke ruangan ibu, ya." pinta Bu Nani sebelum keluar kelas.
"Iya bu."
Bu Nani tersenyum, ia lalu keluar dari kelas IPA-1 karena jam pelajaran bahasa Indonesia sudah selesai.
Sepeninggal Bu Nani, semua murid mulai berhamburan keluar kelas karena bel istirahat sudah berbunyi.
Revelyn bangkit dari duduknya, sambil berjalan menuju meja guru. Revelyn mengambil setumpuk buku latihan teman-temannya sambil berjalan keluar kelas.
"Dadah Velyn!" teriak Una saat gadis itu sudah pergi.
Suasana kelas IPA-1 sangat berisik karena hanya suara Una yang terus terdengar, gadis itu tidak lelah bercerocos panjang lebar kepada Miselia yang sedang sibuk mengetik pesan di handphonenya.
Sedangkan Alana, ia mulai teringat pada kejadian tadi pagi saat di parkiran sekolah. Karena Leo sudah menolongnya, mungkin sebaiknya Alana berterima kasih dengan cara mentraktir cowok itu makan.
Alana tersenyum, lalu matanya langsung menangkap sosok Leo yang melewati kelasnya. Bingo, lantas Alana memanggil.
"Leo!"
Pemilik nama langsung menoleh ke dalam kelas IPA-1, Leo mengernyit heran saat Alana berjalan menghampirinya.
"Apa?"
"Makasih udah nolongin gw tadi pagi."
Leo mengangguk singkat, "iya."
"Gw bakal traktir lo makan di kantin, gimana?" tawar Alana, Leo menggeleng.
"Nggak perlu."
"Nggak papa, lagian ini juga sebagai ucapan terima kasih gw." Alana tersenyum, ia berharap cowok itu menerima ajakannya.
"Terima kasih aja udah cukup, lagipula gw mau nyari Velyn."
Setelah mengatakan itu Leo langsung melenggang pergi, namun Alana malah menyusul cowok itu.
"Yaudah gw juga ikut nyari Velyn."
Leo mengernyit, ia menoleh ke arah Alana.
"Ngapain lo ikut?"
"Lo nggak mau gw traktir, kalau gitu gw ajak Velyn juga, pasti lo mau 'kan kalau Velyn juga ikut?" tanya Alana tersenyum.
"Serah." jawab Leo malas.
Keduanya berjalan di sepanjang koridor kelas sepuluh, namun langkah Leo langsung terhenti saat salah seorang siswa melempar batu ke arah Alana.
Sontak Leo langsung mendekap gadis itu, untuk melindunginya dari lemparan batu yang di lempar siswa berjambul, siswa yang mengganggu Alana saat di parkiran.
Buk.
Alana berteriak kaget, ia shock saat Leo mendekapnya untuk melindunginya dari batu itu.
Alana menatap nanar telapak tangannya, beberapa tetes darah jatuh di telapak tangannya.
Gadis itu mendongak, ia menatap Leo penuh takut saat kening Leo berdarah.
"Lo nggak papa?"
Gadis itu mengangguk lemah, sedangkan Leo langsung berjalan menghampiri sang pelaku.
Leo langsung memberikan satu pukulan telak pada wajah siswa itu, hingga siswa itu meringis kesakitan.
Leo mencengkram kerah bajunya, ia menatap siswa itu horror.
"Sialan lo!"
Siswa itu tersenyum sinis, "ups, gw salah sasaran." ucapnya sarkastis.
Leo menggertakkan giginya, ia mendadak emosi, lantas Leo kembali memberikan pukulan telak pada wajah dan juga perut siswa itu.
Jantung Alana semakin berdegup kencang, gadis itu masih tak berhenti memandang darah di telapak tangannya.
Salah satu ketakutan terbesar gadis itu adalah saat melihat orang terluka lalu berdarah, gadis itu memiliki trauma masa lalu yang sulit untuk dia lupakan karena masa lalu itu berhubungan dengan Vito.
"*Vito berdarah, gara-gara Alana." anak kecil berumur tujuh tahun itu menangis histeris saat melihat Vito, anak lelaki berumur delapan tahun tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah*.
"Vito bangun, Alana nggak mau kehilangan Vito."
Ia terus menangis histeris sambil mengguncang-guncangkan tubuh Vito, dan untungnya ambulans segera datang untuk membawa anak lelaki itu menuju Rumah Sakit.
...π...
Revelyn baru saja keluar dari kantor guru, ia terkejut saat mendapati Vito berdiri di depan pintu kantor.
"Eh, Vito."
"Oh, hai." sapa Vito sambil tersenyum.
Revelyn balas tersenyum, meski terasa canggung tapi Revelyn berusaha untuk tetap senyaman mungkin di dekat cowok itu.
"Habis ngapain?"
"Ngantar buku latihan." jawab Revelyn terkekeh.
Vito mengangguk, "setelah ini mau kemana?"
"Kelas."
Cowok itu manggut-manggut, ia lalu tersenyum.
"Yaudah, kita bareng ke kelas lo, soalnya gw mau ketemu sama Alana."
Revelyn mengangguk, Vito seakan bersikap tidak ada yang pernah terjadi di antara mereka berdua.
"Ngapain ketemu Alana?" tanya Revelyn penasaran.
"Kenapa? lo cemburu?"
Sialan! Vito sangat frontal padahal niat Revelyn hanya bertanya.
"Gw cuma nanya, bukan berarti cemburu." jawab Revelyn malas.
Vito terkekeh, "kali aja, 'kan."
Revelyn menggigit bibir dalamnya, gadis itu mengalihkan pandangannya dari Vito yang sekarang sedang berjalan sejajar dengan dirinya.
"Brengsek, lo mau mati yak?!
Vito dan Revelyn langsung menatap ke arah sumber suara, betapa kagetnya mereka berdua saat melihat Leo sedang mencengkram kerah baju siswa lain.
__ADS_1
"Leo." gumam Revelyn, ia dan Vito segera menghampiri Leo.
"Gw 'kan udah minta maaf, kenapa lo masih nampar gw, hah." tanya siswa itu tersenyum sinis, ia sengaja tidak melawan, agar ia terlihat seperti korban dan Leo sebagai pelaku.
"Kalian berdua!"
Vito langsung melerai keduanya, ia lalu mendorong tubuh Leo menjauh dari siswa itu.
"Kenapa lo pukul dia?" tanya Vito datar.
Leo menatap Vito beringas, "mending lo tanya aja sama dia dan juga Alana." tunjuk Leo ke arah siswa itu dan juga Alana yang masih diam di koridor.
Vito menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Alana yang hanya terdiam sambil menunduk dalam.
Lantas Vito langsung mencengkram kerah baju siswa berjambul itu, membuat siswa itu mendadak ketakutan.
"Kenapa?" tanya Vito tenang, namun aura mematikan dari Vito membuat siswa itu semakin takut.
"Ng-nggak!"
Vito berdecih, ia melepaskan cengkramannya dengan cara mendorong tubuh siswa itu secara kasar.
"Pergi lo, sialan!" usir Vito menatap siswa itu tajam.
Siswa berjambul itu meneguk salivanya, ia lalu mengangguk sambil berlari pergi.
Sepeninggal siswa itu, Leo meringis kesakitan karena luka di keningnya semakin terasa sakit.
"Leo, lo nggak papa?"
"Nggak papa." jawab Leo saat Revelyn panik karena khawatir.
"Tapi kening lo berdarah!" ucap Revelyn, mendengar hal itu membuat Alana langsung mendongak, ia menghampiri Leo dengan ekspresi panik.
"Ki-kita ke Rumah Sakit aja ya?" tawar Alana panik, namun Leo menolak mentah-mentah.
"Nggak."
"Rumah Sakit! lo-lo berdarah gara-gara gw!"
Mulut Vito sedikit terbuka, ia teringat samar-samar suara Alana saat kejadian waktu dulu itu.
"Vito berdarah, gara-gara Alana."
"Nggak usah." jawab Leo, darah segar di keningnya semakin banyak keluar.
"Ta-tapi lo---"
"Gw bilang 'kan nggak usah, ya nggak usah!" bentak Leo marah, membuat Alana dan Revelyn terdiam.
"Jangan bentak dia, sialan!" umpat Vito kesal.
Leo menoleh, "makanya suruh dia buat diam!" teriak Leo emosi.
Revelyn meneguk salivanya, ia tahu alasan kenapa Leo sangat marah seperti ini saat ada yang memaksanya untuk ke Rumah Sakit. Leo, masih belum bisa menghilangkan ketakutan terbesarnya pada Rumah Sakit.
"Yaudah, kita ke UKS aja." ucap Revelyn tersenyum paksa, ia lalu menarik tangan Leo menuju UKS.
Alana menghela napasnya berat, ia kembali menatap darah di telapak tangannya, bahkan sekarang seluruh tubuhnya mendadak gemetar.
"Nggak papa."
Alana tersentak saat Vito membersihkan bekas darah di tangannya, cowok itu hanya ingin menenangkan ketakutan Alana.
"Nggak papa, lo jangan takut." ucap Vito tersenyum, membuat Alana mendongak menatap Vito lekat.
"Lo nggak terluka 'kan, Vito? lo nggak papa 'kan?" tanya Alana panik, ia parno karena teringat kejadian di masa lalu.
Vito menghela napasnya, trauma Alana karena sebuah kecelakaan itu masih tidak bisa menghilang. Gadis itu sangat ketakutan, padahal semua itu sudah berlalu namun Alana masih tidak bisa melupakannya.
"Gw baik-baik aja, Al, semua itu cuma masa lalu yang harusnya lo nggak perlu ingat lagi."
"Tapi tetap aja, gw takut lo kenapa-napa."
Vito tersenyum, ia memeluk gadis itu untuk menenangkannya. Namun saat Vito memeluk, Alana malah menangis.
Alana gadis gengsi yang tidak pernah mau menunjukkan kekurangannya pada siapapun, tapi jika tentang trauma masa lalu ia akan menjadi gadis lemah, seperti sekarang.
"Udah jangan nangis, itu cuma masa lalu."
...π...
UKS SMA Sanjaya.
"Shh!" Leo meringis saat Revelyn mengobati luka di keningnya.
"Sakit?"
"Nggak tuh."
Revelyn terkekeh, dengan hati-hati ia mengobati luka Leo dengan kapas dan obat merah.
Leo menatap wajah Revelyn yang lumayan dekat dengan wajahnya, cowok itu tersenyum sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya.
"Kenapa lo jadi bermasalah sama si jambul itu sih?" tanya Revelyn, siswa itu memang seringkali dipanggil si jambul oleh sebagian murid-murid di sekolahnya.
"Dia yang mulai duluan."
"Hm." Revelyn berdehem, ia lalu menatap Leo lekat.
Melihat ekspresi Revelyn, Leo mengernyit heran. Gadis itu masih tidak lepas memandang wajah Leo yang lumayan dekat dengan wajahnya.
Revelyn menggigit bibir dalamnya, sedangkan Leo tersenyum sambil mencolek hidung gadis itu.
"Kenapa?" tanya Leo terkekeh.
Revelyn yang tersadarkan dari lamunannya lantas menggeleng sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Nggak." jawab Revelyn sambil tersenyum kikuk.
"Gw lihat, Alana kayak parno gitu sama darah."
Leo mendapatkan topik pembicaraan agar Revelyn tidak canggung saat bersamanya, mendengar ucapan Leo, lantas Revelyn terdiam.
Revelyn sudah selesai mengobati Leo, ia lalu berdiri di hadapan Leo yang duduk di bangku.
"Semua orang pasti punya masa lalu yang baik maupun buruk, dan mungkin Alana salah satunya." ucap Revelyn menatap Leo serius.
"Jadi menurut lo, dia punya trauma?"
Revelyn mengendikkan bahunya, "mungkin."
Revelyn benar, semua orang pasti punya masa lalu. Dan tidak semua orang bisa melupakan masa lalu mereka, bahkan jika itu masa lalu yang dulunya kelam.
Seperti ia dan juga Revelyn, entah berapa lama lagi mereka harus tersakiti karena lika-liku kehidupan yang mereka jalani. Tapi sebisa mungkin mereka harus melupakan pahitnya masa lalu untuk tetap melangkah maju, dan Leo harap, ia dan Revelyn bisa selalu bahagia.
__ADS_1
...πππ...