
"Kenapa kamu nggak bilang?" lirih Miselia di telpon, ia cemas dengan ke adaan Regan yang ada di seberang sana.
"Aku nggak papa, kamu fokus sama sekolah aja, jangan terlalu memikirkan aku."
"Aku nggak bisa nggak mikirin kamu, karena kamu 'kan pacar aku!" suara Miselia bergetar, ia sangat takut.
Gadis itu baru menerima kabar dari Regan bahwa cowok itu merasakan rasa sakit lagi, dan untungnya Regan sudah meminum obatnya.
"Lucu deh, aku jadi pengen sentil dahi kamu."
"Kenapa disentil mulu sih."
"Yaudah nanti di cium."
Miselia tersenyum malu, sedangkan Una yang berjalan di sampingnya menatap heran.
Una mendengus, gadis itu sesekali membenarkan rambutnya yang dibiarkan tergerai.
Namun ekspresi Una berubah semringah kala melihat Axele berjalan dari arah yang berlawanan dengannya, cowok itu bersama Geral, temannya.
Axele tersenyum lebar, membuat jantung Una berdebar-debar tak keruan. Apalagi saat Axele mempercepat langkah kakinya, membuat Una menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Miselia menoleh, ia mengernyit heran saat Una senyam-senyum sambil menatap lurus ke depan.
"Itu, Pangeran Axele mau menghampiri gw." gumam Una tersenyum malu.
Wajah Axele semakin berseri-seri, ia melambaikan tangannnya sambil berkata ....
"Selamat pagi Ayang."
"Oh astaga, gw di panggil sayang sama Axele njir, mimpi apa gw!" pekik Una kegirangan.
Gadis itu malu-malu kucing, ia lalu merentangkan kedua tangannya sambil meneriaki nama Axele.
"Axele!"
"Ayang!" teriak Axele sambil berjalan melewati Una yang menanti-nanti untuk dipeluk oleh dirinya, namun ternyata sepertinya ada kesalah pahaman disini.
"Axele ...." suara Una semakin mengecil, gadis itu berkedip beberapa kali sambil menatap Geral cengo.
Geral tertawa ngakak melihat tingkah Una, "jangan geer, Na, dia manggil ituh." tunjuk Geral dengan dagunya.
Spontan Una menoleh, ia menganga saat yang Axele panggil bukan dirinya, melainkan ....
"Najis! apaan sih lo manggil gw begitu!" teriak Alana kesal, ia menatap Axele jijik.
"Haduh seperti biasa, lo selalu cantik yak, Yang." puji Axele, ia tersenyum karena terpesona.
"Yang, yang, lo kira gw apaan?"
"Sayang."
"Najis sekali wahai Axele keturunan kodok bantat!" teriak Alana kesal.
Una berdecak kesal, ia baru ingat bahwa Alana ada bersama dengannya dan juga Miselia untuk menuju kelas. Dan sialnya Una malah kegeeran karena mengira Axele telah memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Axele! kamu ngapain deket-deket sama penyihir kutex!" teriak Una, ia segera menarik lengan Axele agar menjauh dari Alana.
"Apaan dah lu, emang lo siapa gw hah? pacar aja bukan main ngelarang aja." cibir Axele sambil mengempaskan tangan Una.
"Aku jodoh kamu, Una Ananda, ingat itu Axele!" pekik Una hingga membuat Miselia dan Geral menutup kuping mereka.
"Jangankan ngingat nama lo, ngingat wajah lo aja gw ogah!"
"Jahat banget sih kamu!"
"Baru tau?"
"Dasar manusia!"
"Hei? emang lo siapa? bukan manusia juga, apa?" tanya Axele tersenyum sinis.
"Aku? jodoh kamu."
"Najis!"
Una mendadak cemberut, ia menatap Alana tajam. Sedangkan Alana hanya memutar malas bola matanya sambil melipat tangannya di depan dada.
"Apaan lo liat-liat!" tanya Alana sarkastis.
"Yang liatin lo siapa? geer banget sih." cibir Una kesal.
"Iya gw tau gw cantik, gw diam, dan gw sadar." ucap Alana yang spontan membuat Una berlagak mau muntah sedangkan Axele mengacungkan jempolnya karena setuju dengan perkataan Alana.
"Muka kaya pantat kudanil aja belagu." ucap Una, alhasil membuat Axele dan Alana berdecak kesal.
"Wah lo bilang muka Alana kayak pantat kudanil, padahal mah cantik Alana daripada lo, apalagi gw yang ganteng ini, beuh cocok banget sama Alana." ucap Axele, ia menepuk-nepuk dadanya sambil membanggakan wajahnya.
Una menunjuk wajah Axele sambil berekspresi kesal.
"Ganteng dari mana? lo jelek! masih ganteng ayam gw di rumah." cibir Una, ia mendelikkan matanya sambil menarik tangan Miselia untuk pergi.
Miselia tertawa renyah, "bukannya biasanya lo selalu bilang Axele itu ganteng?"
Una menatap Miselia kesal, "itu dulu! sekarang dia jelek kayak pantat ayam!" ledek Una, ia bahkan menjulurkan lidahnya ke arah Axele sebelum akhirnya beranjak pergi bersama Miselia.
Axele menunjuk Una yang mulai menjauh dari pandangannya, cowok itu lalu mendecih.
"Dasar cewek sakit jiwa!"
...🍕...
Revelyn merasa berat membawa beberapa buku berhalaman tebal yang ada ditangannya, dan Revelyn harus mengantarkan tumpukan buku ini ke perpustakaan.
Gadis itu berjalan di sepanjang koridor, bahkan mulai kesusahan membawa semua buku-buku tebal itu sampai-sampai ada beberapa buku yang mau terjatuh ke lantai.
"Mau gw bantu?"
Revelyn mendongak, ia terkejut dengan kehadiran Leo yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
"Ng-nggak, nggak usah." tolak Revelyn terkekeh pelan.
Leo mengangguk, ia masih menatap Revelyn lekat.
"Velyn."
"Aah, iya kenapa?" tanya Revelyn canggung.
"Gw ...." Leo menjeda kalimatnya, hingga membuat gadis itu menatapnya lekat.
"Kenapa, Leo?"
"Gw---"
__ADS_1
"Revelyn?"
Gadis itu spontan menoleh ke belakang, ia cukup kaget saat Vito berjalan menghampirinya.
" Vito." gumam Revelyn, ia membalikkan tubuhnya menghadap Vito.
"Aku nyariin kamu, itu buku yang mau di antar ke perpustakaan 'kan?" tanya Vito, Revelyn mengangguk.
"Iya."
"Bu Ani bilang antar ke ruangan aja, nggak usah ke perpustakaan." jawab Vito, ia lalu tersenyum.
"Kamu tadi bicara sama siapa?" tanya Vito lagi.
Revelyn langsung sadar bahwa ia dan Leo tadi sedang berbincang-bincang. Revelyn langsung menoleh ke belakang, ia kebingungan saat tidak menemukan Leo, entah kemana cowok itu pergi tapi yang pasti Leo belum menyelesaikan kalimatnya dan itu membuat Revelyn penasaran.
"Velyn?"
"Nggak ada." jawab Revelyn berbohong, ia tersenyum paksa.
Vito mengangguk paham, "sini bukunya, biar aku yang bawa."
"Biar aku aja." tolak Revelyn.
"Aku aja, Velyn, nanti kamu berat bawanya." pinta Vito, gadis itu akhirnya mengangguk sambil memberikan tumpukan buku itu pada Vito.
Vito menerimanya sambil tersenyum, memandangi paras wajah gadis itu, Revelyn yang merasa di perhatikan lantas mencubit lengan cowok itu.
"Apaan sih."
Vito terkekeh, "cantik."
"Siapa?"
"Bukunya."
Revelyn mendelik kesal, mereka berdua akhirnya berjalan menuju ruang guru.
"Marah?" tanya Vito terkekeh.
"Nggak!"
Vito terkekeh lagi, lucu saat melihat gadis itu ngambek.
Sepeninggal mereka berdua, akhirnya Leo keluar dari tempat persembunyiannya. Cowok itu sengaja masuk ke dalam kelas lain saat mendengar suara Vito memanggil Revelyn.
Leo menghela napasnya sambil memandang kepergiaan Revelyn, cowok itu lalu tersenyum tipis.
"Gw bakal rebut lo kembali, bagaimanapun caranya."
...🍕...
Miselia mengambil handphonenya dari saku, lalu duduk di bangku panjang yang berada di koridor kelas sepuluh yang langsung menghadapkannya ke arah lapangan basket.
Handphone gadis itu lalu bergetar, tertera nama sang pemanggil di layar handphonenya. Lantas Miselia tersenyum sambil mendekatkan benda pipih tersebut di telinganya.
"Iya?"
"Jam berapa pulang?"
"Masih lama lagi."
"Oh oke, nanti kalau udah pulang telpon aku aja, oke?"
Geral yang tak sengaja lewat di depan Miselia melirik gadis itu, Miselia senyam-senyum karena berbicara di telpon. Dan itu membuat Geral penasaran, ia lantas mengambil duduk di samping gadis itu.
Miselia menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Geral dengan alis yang bertautan.
"Hari ini aku free, aku mau ngajak kamu makan. Gimana?"
"Hallo?"
"Sayang."
"Eh, I-iya, Regan."
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa, cuma ada hama aja tadi." jawab Miselia, ia terkekeh sambil menatap Geral yang duduk di sampingnya.
Geral menatap Miselia malas, "sialan gw di bilang hama." gumam Geral kesal.
"Oke, aku mau masuk kelas nih."
"Oke, selamat belajar."
"Iya."
Akhirnya Miselia mengakhiri panggilan dari Regan, gadis itu lalu memasukkan handphonenya ke dalam saku.
Diam-diam Geral memperhatikan gadis itu, setelah itu Miselia ingin beranjak pergi namun Geral malah menarik lengan baju seragamnya.
"Eit, lo mau kemana?"
Miselia berdecak kesal kala Geral menarik lengan baju seragamnya, ia lantas menghempaskan tangan Geral sambil mendengus kesal.
"Apaan?"
"Lo tadi bilang gw, hama 'kan?"
"Ngerasa yak? padahal nggak ada niatan nyindir." jawab Miselia melipat tangannya di depan dada.
Geral tersenyum sinis, ia bangkit dari duduknya, mereka berdua saling berhadapan sambil melempar tatapan tajam.
"Apa lo liat-liat? gw ganteng 'kan?"
"Bhaks, najis banget. Masih ganteng pacar gw, lagi." jawab Miselia menertawai.
"Pacaran sama om-om aja bangga." sindir Geral yang alhasil membuat Miselia naik pitam.
"Dia bukan om-om lah! dia masih muda! terus lebih ganteng daripada lo, dasar cowok kampret!" kesal Miselia, ia bahkan menginjak sepatu Geral alhasil membuat cowok itu memekik kesakitan.
"Argh, gila!"
Miselia tertawa puas, kemudian langsung berlari meninggalkan Geral yang kesakitan.
"Oi cewek gila?! tanggung jawab lo, dasar gila!"
Geral segera mengejar gadis itu, ia berlari melewati Vito dan Revelyn yang sedang berjalan berdua di koridor.
"Hai Geral." sapa Revelyn.
"Hai juga Velyn---, OI CEWEK GILA, TUNGGU LO!"
__ADS_1
Revelyn kebingungan, ia menatap Geral yang sudah berlari jauh. Vito bahkan geleng-geleng kepala melihat tingkah Geral barusan.
"Oh iya, hari ini guru-guru ada rapat, mau main basket berdua? gimana?" tawar Vito, gadis itu berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
"Boleh juga tuh."
Keduanya lalu berjalan menuju lapangan, Vito mengambil bola basket yang sedang nganggur di tengah lapangan.
Cowok itu memantulkan bola basketnya ke tanah, ia mendribel bola basket itu sambil berlari kecil menghampiri Revelyn.
"Coba rebut bola basketnya, itupun kalau kamu bisa." Vito tersenyum meremehkan.
Revelyn mendengus, "aku bisa, kamu jangan ngeremehin aku lho."
"Masa sih?"
"Ih Vito, aku bakal rebut bolanya dari kamu!"
Vito tertawa, kemudian ia berlari kecil menuju ring sambil mendribel bola basketnya. Sedangkan Revelyn, gadis itu mencoba mendekati Vito untuk merebut bola basketnya.
"Ayo Velyn, katanya bisa rebut bolanya."
Revelyn memasang ekspresi cemberut, jelas saja ia tidak bisa merebut bola itu. Vito 'kan mahir dalam bermain basket jadi wajar saja jika cowok itu sangat lincah dan gesit.
"Vito! jangan ngehindar mulu dong." protes Revelyn, napasnya mulai terengah-engah karena kelelahan.
"Kalau aku nggak ngehindar, nanti kamu rebut bolanya."
"Ish, dasar!" gerutu Revelyn kesal.
Tawa Vito meledak, sesekali ia mengejek Revelyn hingga gadis itu geram dan kembali ingin merebut bola basket.
"Pasangan baru main basket."
"Aah, enaknya, gw jadi pengen juga."
"Lapangan basket serasa milik berdua."
"Ahahaha, iya yak."
Leo mengernyit heran kala berjalan di koridor kelas sepuluh, ia samar-samar mendengar pembicaraan adik kelas. Beberapa siswi-siswi itu berdiri di samping pilar sambil menghadap ke arah lapangan, mereka seperti membicarakan sesuatu.
Karena penasaran, Leo lantas mendekati. Matanya menangkap Revelyn dan Vito yang sedang bermain basket di lapangan, melihat bagaimana mereka begitu dekat dan bahagia membuat Leo mengepalkan kedua tangannya.
"Aku mau masukkin ke ring, rebut kalau bisa." tantang Vito.
Revelyn berdecak, saat Vito berjalan menuju ring basket, Revelyn langsung berlari untuk menghalangi jalan Vito.
"Nggak boleh!" Revelyn cemberut, membuat Vito terkekeh.
"Ambil kalau bisa."
Vito mengangkat bola basketnya ke atas, membuat Revelyn yang ingin merebut bolanya kesusahan karena terlalu tinggi, sehingga ia sulit menjangkau.
Vito tertawa, melihat gadis itu berjinjit demi mengambil bola basket yang dia angkat tinggi-tinggi dengan kedua tangannya.
"Vito!"
Akhirnya Vito melempar bola basket itu hingga masuk ring, namun saat ingin menoleh ke arah ring basket, gadis itu lantas tersentak kaget saat Vito mengecup dahinya singkat.
Revelyn terdiam, ia barusan dicium oleh Vito. Cowok itu bahkan hanya senyam-senyum setelah melakukannya.
"Lucu." ucap Vito tersenyum, ia mengusap puncak kepala Revelyn.
Gadis itu mendongak, menatap wajah Vito yang terlihat senang.
Namun kenapa Revelyn merasa tidak senang? ia bahkan biasa saja saat Vito mencium dahinya barusan.
Revelyn memaksakan untuk tersenyum, gadis itu lalu menunduk sambil menatap ujung sepatunya.
"Vito, aku mau ke toilet dulu." pamit Revelyn, Vito mengangguk.
"Oke, aku tunggu di sini."
Revelyn mengangguk, ia berlari kecil meninggalkan lapangan. Gadis itu tersentak saat tak sengaja bertatap muka dengan Leo yang berada di dekat pilar besar, cowok itu menatapnya lekat namun datar.
Sebelum pergi Revelyn tersenyum kikuk, ia lalu berlari kecil menuju toilet, gadis itu merasa bahwa Leo melihat apa yang di lakukan Vito tadi kepadanya.
"Sialan." gumam Leo, ia menghela napasnya sambil berjalan menuju lapangan.
Dengan sebelah tangan yang masuk ke dalam kantong celana, dan dengan ekspresi datar, Leo berjalan santai menghampiri Vito yang berdiri di bawah ring basket.
Leo menyentuh sebelah pundak Vito, membuat cowok itu lantas menoleh dan ....
Buk!
Vito tersentak dan merasakan sakit yang luar biasa saat sebuah pukulan telak mengenai tulang pipinya, cowok itu meringis kesakitan sambil menatap Leo tajam.
"Brengsek, beraninya lo nyium Revelyn!" ucap Leo dingin, namun kedua tangannya terkepal kuat.
Melihat Leo marah karena yang dia lakukan tadi membuat Vito menyeringai, ia menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Emangnya kenapa? dia, 'kan, pacar gw." jawab Vito, membuat Leo terdiam.
Detik selanjutnya Leo langsung berjalan menghampiri Vito, ia menarik kerah seragam Vito lalu mencengkramnya.
"Kalau lo sentuh Revelyn lagi, gw pastikan nama lo bakal ada di batu nisan." ancam Leo, namun Vito malah tersenyum sarkastis.
"Lo suka sama pacar gw? padahal lo bukan siapa-siapanya, kenapa lo malah ngancam gw hah."
Mendengar pertanyaan Vito membuat Leo tersenyum miring, "sebelum dia jadi pacar lo, Revelyn sahabat gw, dia punya gw." ucap Leo, hal itu membuat Vito terdiam sambil menatap Leo datar.
Kedua tangan Vito terkepal, cowok itu balas menonjok sebelah pipi Leo hingga cowok itu melepaskan cengkramannya dari kerah seragam Vito.
"Kalau kalian sahabat, dan kalau dia punya lo, lantas kenapa kalian nggak terlihat dekat lagi?" Vito menyeringai, ia tersenyum sinis sambil menatap Vito dengan ekspresi menantang.
Tangan Leo semakin terkepal, "semua gara-gara lo, brengsek, lo udah ngerebut Revelyn dari gw." Leo mencengkram kerah baju Vito lagi.
Leo menatap Vito tajam, ia menekankan setiap kata yang terlontar di mulutnya kepada Vito yang telah merebut Revelyn darinya.
"Revelyn punya gw, selamanya punya gw, dan gw nggak pernah suka berbagi apa yang satu-satunya gw punya buat orang lain, gw nggak akan pernah suka. Kalaupun ada yang merebut apa yang gw punya, maka gw nggak bakal segan ngerebut balik punya gw."
"Gw, bakal rebut Velyn kembali, karena dia punya gw. Selamanya punya gw, camkan itu brengsek!"
Setelah mengatakan itu Leo melepaskan cengkramannya dengan mendorong kasar tubuh Vito, Leo menatap Vito sebentar sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkannya.
Sisi egois Leo sudah terlihat, cowok itu sudah mengklaim Revelyn sebagai miliknya untuk selamanya. Dan hal yang Leo benci adalah saat ada yang merebut Revelyn darinya, maka Leo tidak akan segan untuk merebutnya kembali.
Begitulah manusia, mereka punya sisi buruk dan sisi baik masing-masing. Di dunia ini pasti ada yang egois untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan. Mereka bahkan bisa melakukan apa saja untuk memuaskan nafsu mereka, dan kadang hal itu malah membuat mereka semakin jatuh ke dalam jurang penyesalan.
"Tapi Revelyn punya gw, dasar bodoh."
...🍕🍕🍕...
__ADS_1