HEARTBEAT

HEARTBEAT
16. Cuman Sahabat


__ADS_3

Hari-hari berjalan seperti dulu lagi, dan Revelyn semakin bertambah bahagia. Apalagi saat Regan memutuskan untuk tinggal bersamanya.


Dan juga ....


"Hai."


Miselia spontan menoleh saat mendapati Revelyn berjalan di sampingnya. Gadis itu kaget bukan main, ia bahkan salah tingkah saat Revelyn menyapanya di koridor.


"H-hai."


Gadis itu tersenyum ragu, lalu segera mengalihkan pandangannya. Revelyn tau, gadis itu nampak canggung saat berada di dekatnya.


Lantas Revelyn tersenyum sambil menepuk pundak Miselia, "semoga hubungan kalian berdua langgeng." ucapnya sambil berlari pergi dengan senyuman yang tulus.


Langkah Miselia lantas terhenti, gadis itu memasang ekspresi bingung. Namun saat melihat senyum yang terpancar di wajah Revelyn, entah kenapa juga membuat Miselia ikut tersenyum.


"Thank." gumam Miselia sambil terus memandangi punggung Revelyn yang berlari menuju kelas Leo.


...๐Ÿ•...


"AXELE!"


Anjir, bulu kuduk gw merinding!


Axele meneguk salivanya saat mendengar teriakan yang familiar baginya, cowok itu lantas celingak-celinguk namun tidak ada tanda-tanda batang hidung gadis itu yang terlihat.


"Parah gila, udah sakit jiwa, ghaib lagi!" kesal Axele, cowok itu lantas terus berjalan menuju lapangan.


"Axele!"


"Oi---Kaget gw bego!" umpat Axele, ia langsung menoleh mendapati Una yang sudah berada di sampingnya entah kapan.


"Halo pacarnya Una." Una memekik kegirangan.


Sedangkan Axele, cowok itu melirik ke kanan, ke kiri, ke atas, lalu ke bawah.


Melihat tingkah aneh Axele, Una lantas menatap heran.


"Axele kenapa sayang?"


Sontak Axele langsung bergidik ngeri, "anjir merinding gw, ada yang ngomong sayang padahal bukan siapa-siapa gw." Axele seolah berbicara pada dirinya sendiri, cowok itu bahkan mulai mengusap-usap belakang lehernya.


"Axele kira Una hantu apa? kok jadi merinding sih?!" omel Una, gadis itu mulai kesal.


Mendengar ocehan Una, Axele langsung berlari meninggalkan gadis itu sambil berteriak seolah dirinya ketakutan.


"HANTU!"


Una ternganga seperti orang bego, ia menatap Axele yang berlari meninggalkannya. Detik selanjutnya gadis itu akhirnya menyusul Axele.


"AXELE!"


...๐Ÿ•...


Di sepanjang koridor kelas dua belas, Miselia berjalan santai sambil mengulum permen di mulutnya.


Sesekali gadis itu tersenyum saat siswa ataupun siswi lain tersenyum ke arahnya. Meski dari luar gadis itu terlihat jutek dan judes, namun jika sudah mengenal lebih dekat baru akan tau sifat ramah dan menyenangkannya.


"Oi cewek!"


Langkah Miselia terhenti, ia mengenal suara ini. Dan Miselia yakin, bahwa orang itu memanggil dirinya.


"Oi cewek!" Geral memanggil sambil membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya.


"APAAN?!"ย  teriak Miselia sambil menarik tangkai permen dari mulutnya.


"Di panggil nggak nyaut, budeg yak?"


"siapa suruh lo manggil gw gitu, lagipula gwย  punya nama yak!"


Geral memiringkan kepalanya, menatap Miselia cengo. "oh ya? siapa nama lo?" tanyanya sok polos.


"NAMA GW MISELIA!" geram Miselia, pasalnya jika sudah berurusan dengan Geral maka ia selalu tersulut emosi.


Gadis itu kembali memasukkan permen ke dalam mulutnya, ia menatap Geral sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gw mau nanya." ucap Geral serius.


"Hm?"


"Gw mau nanya."


"HM?!" Miselia berdehem gemas, membuat Geral langsung berdecak kesal.


Cowok itu langsung menarik permen dari mulut Miselia dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya, sontak perbuatan Geral membuatnya mendapat pelototan tak percaya dari Miselia.


Indirect kiss! sialan lo Geralpah!


"Oi permen gw anjir!" teriak Miselia kesal.


Geral tersenyum miring sambil membuang permen tersebut ke semak-semak, hal itu semakin membuat Miselia ingin mencabik-cabiknya.


"NAPA LO BUANG BEGO?!"


Gadis itu berteriak frustasi, itu permen kesukaannya. Dan dengan mudahnya cowok itu membuangnya, bukannya merasa bersalah cowok itu malah memutar malas bola matanya.


"Ih cowok gila!" geram Miselia.


"Regan, nama pacar lo yak?"


Eh?


Miselia langsung terdiam, ia menatap Geral heran.


"Kenapa?" tanya Miselia pelan.


"Regan Paulan, dia pacar lo?"


"Darimana lo tau?" mulut Miselia sedikit terbuka, detik selanjutnya ia langsung menutup mulutnya rapat.


"Ternyata benar yak, om-om berjas itu pacar lo." Geral menghela napasnya sambil tersenyum miring.


"DIA BUKAN OM-OM, ANJIR!"


"Oh ya? masa?"


"Umurnya masih muda! dia nggak setua yang lo bayangkan!" Miselia berteriak kesal, ia tidak suka saat seseorang menyebutnya pacaran dengan om-om. Padahal kalau di lihat, Regan masih muda.


Regan, di umur yang menginjak dua puluh dua tahun cowok itu sudah menjadi CEO muda.

__ADS_1


Tapi Miselia menyukai Regan bukan karena cowok itu seorang CEO, ataupun karena anak dari kalangan atas. Miselia suka Regan, karena cowok itu berbeda dari yang lain.


"Pacaran kok sama om-om, kenapa nggak sama gw aja." ucap Geral, cowok itu terkesan meledek.


"Dia bukan om-om! lagipula gw nggak sudi pacaran sama lo cowok gila!"


"Ngaca dong, lo kali gila!"


"Lo kali!"


"Dasar cewek."


"Dasar cowok! sok ke gantengan!"


"Gw emang ganteng."


"Najis!"


...๐Ÿ•...


"Nanti jatuh." Leo menegur, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah Revelyn yang berjalan di atas tembok yang tidak terlalu tinggi yang berada di halaman sekolah.


"Nggak papa, entar juga lo yang nangkap." jawab Revelyn enteng, gadis itu melempar senyum ke arah Leo.


Leo menghela napasnya pasrah, cowok itu meraih tangan Revelyn untuk menuntunnya agar tidak terjatuh.


"Ogah gw, yang ada lo malah jatuh di atas badan gw."


"Nggak papa, lo 'kan kuat. Palingan yang remuk tulang doang."


"Parah lo!"


Revelyn terkekeh, gadis itu merasa lucu melihat ekspresi Leo.


"Turun deh lo, kalau nggak, gw tarik biar lo nyungsep entar." ancam Leo, cowok itu sudah mulai mendengus kesal.


Mengalah, gadis itu mengangguk. Ia sudah mengulurkan kedua tangannya sambil berjongkok agar cowok itu membantunya untuk turun.


Leo tersenyum tipis, ia juga mengulurkan kedua tangannya untuk membantu gadis itu turun.


Namun ....


Drrrttttt ....


Brakkkk ....


Leo langsung merogoh saku celananya untuk meraih handphonenya, cowok itu langsung mengecek pesan masuk dari handphonenya.


"Yah anjir, cuma dari operator. Kirain dari nenek." kesal Leo, ia lalu kembali memasukkan handphonenya.


"LEO!"


Revelyn langsung berteriak, mengagetkan Leo yang langsung melihat ke bawah kakinya.


"Eh buset ngapain lo rebahan di situ?"


Cowok itu langsung berjongkok untuk melihat keadaan Revelyn, namun gadis itu malah memukul dirinya.


"Gara-gara lo anjir! gw jadi jatuh 'kan!" teriak Revelyn, membuat siswa maupun siswi yang berada di sekitar menatap ke arah mereka.


"Ya maaf, gw kira tadi ada sms dari nenek ternyata cuma operator."


"Kuota gw sekarat." jawab Leo.


"Ya makanya beli!"


"Iya entar." jawab Leo, detik selanjutnya Revelyn langsung sadar lalu menabok lengan Leo karena kesal.


"Ngapain bahas kuota lo sekarat?!"


"Kan lo yang nanya!"


"Lo juga kenapa jawab!"


"Kok gw yang di salahin?"


"Ya ngaca dong, lo kan cowok."


"Astaga!"


Leo langsung mengusap-usap dadanya, cowok itu mencoba sabar karena disalahkan.


"Mentang-mentang cewek, makanya selalu benar." gumam Leo, hingga membuatnya mendapat tatapan tajam dari Revelyn.


"Lo bilang apa?!"


"Gw bilang lo cantik." jawab Leo spontan sambil nyengir kuda.


Mendengar jawaban Leo membuat Revelyn mendengus, gadis itu lalu menekuk kedua lututnya sambil meringis kesakitan.


"Gara-gara kesungkur, lutut gw jadi luka 'kan." keluh Revelyn, ia merasakan perih pada salah satu lututnya.


"Yaudah gw gendong lo, kita ke kelas."


"Tapi entar lo capek, lagian mana kelasnya ada di lantai tiga."


Leo menggeleng sambil tersenyum, "gw nggak bakal capek." jawabnya sambil mengambil posisi berjongkok di hadapan Revelyn.


"Tap---"


"Naik."


Titah Leo mutlak, mau tak mau gadis itu menurut. Perlahan ia mulai naik ke atas punggung Leo, kedua tangannya juga bergerak melingkar di leher cowok itu.


Cowok itu berdiri, ia tersenyum saat gadis itu meletakkan dagunya di salah satu pundak Leo.


"Duh pasti gw berat yak?" tanya Revelyn cemberut.


"Berat darimana? gw aja berasa bawa tulang doang."


Mendengar jawaban Leo lantas Revelyn langsung menabok cowok itu, "gw nggak sekurus itu yak!" omel Revelyn kesal, mereka berdua bahkan sudah menjadi tontonan di sepanjang koridor.


"Gw nggak bilang lo kurus."


"Iya juga yak."


"Dasar kurus."


"Tuh kan, lo bilang gw kurus?!"

__ADS_1


"Untung nggak gw bilang gendut."


"LEO!"


...๐Ÿ•...


"Udah kan?" tanya Leo ketika ia sudah mengobati luka gadis itu.


Revelyn mengangguk, sedangkan Leo mulai bangkit dari duduknya sambil berjalan menuju tong sampah yang ada di dekat pintu kelas XII IPA-1


"Gw nggak kaget lagi sih, secara mereka berdua emang dekat banget dari kecil katanya."


"Iya, tapi hubungan mereka 'kan cuma sebatas sahabat, jadi gw punya kesempatan tuh buat deketin Leo."


"Jangan pd deh, ngaca dulu gih lo cantik apa kagak?"


"Ya cantik lah kampret! kalau nggak, mana mungkin mantan gw bertebaran dimana-mana."


"Halah bangga lu cabe?"


Miselia dan Una saling berpandangan, mereka samar-samarย  mendengar percakapan teman-teman mereka yang berada di barisan paling belakang.


Kedua gadis itu lantas kembali fokus menatap Leo yang berjalan menghampiri tempat duduk Revelyn yang berada di barisan paling depan.


Cowok itu berjongkok di depan Revelyn, kedua tangannya bertumpu di atas meja sambil menopang dagunya.


Leo, menatap Revelyn lekat sambil senyam-senyum hingga kedua lesung pipinya terlihat.


"Gw juga nggak kaget sih mereka friendzone dari kecil tapi, yakin nih salah satu dari mereka nggak ada rasa gitu?" Una menoleh, menatap Miselia heran.


"Mustahil njir, pasti salah satu dari mereka punya perasaan lebih dari sekedar sahabat."


Miselia berkata serius, karena memang benar persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu mustahil tidak ada perasaan di antara mereka.


"Coba lihat foto ini." Una memperlihatkan salah satu foto Leo dan juga Revelyn yang baru saja ia ambil dari Instagram pribadi Leo.


"Masa sahabatan gitu sih? mesra banget njir." gemas Miselia, sesekali ia memperhatikan Leo yang tertawa lepas sambil terus memperhatikan wajah Revelyn lekat.


"Leo paling banyak post foto mereka berdua di Instagram, bahkan komentarnya aja ribuan. Emang dasar ganteng, makanya pemes." ucap Una, ia kembali menstalking Instagram pribadi Leo.


Miselia geleng-geleng kepala, pikirannya kembali pada dua sejoli itu. Miselia berpikir, mungkin salah satu dari mereka punya perasaan lebih. Entah itu Revelyn ataupun Leo.


"Sel lihat deh, gila mantap banget kan? baju mereka warnanya sama, terus di foto ini Leo ganteng banget anjrit."


Una memekik histeris, untungnya Miselia lekas membekap mulut gadis itu.


"Jangan keras-keras bego!" tegur Miselia, dan Una hanya cengengesan.


"Yaudah deh gw mau stalking IG Axele aja." gumam Una, Miselia hanya berdehem sambil kembali memainkan handphonenya.


Sedari tadi Leo terus melontarkan candaan hingga membuat Revelyn ketawa maupun kesal, itulah salah satu cara Leo agar gadis itu bisa tertawa karena dirinya.


"Velyn."


"Hm?" Revelyn berdehem.


"Kenapa ya gw merasa semua siswi di kelas lo lagi liatin gw?"


Mendengar ucapan Leo lantas membuat Revelyn mengedarkan seluruh pandangannya ke setiap sudut kelas.


"Iya sih wajar, lo 'kan ganteng." jawab Revelyn memutar malas bola matanya.


"Makasih."


"Gw nggak muji oi!"


"Tapi tadi barusan lo bilang gw ganteng."


"Iya sih kenyataan."


"Makasih."


"Dih dasar!"


Leo tersenyum, membuat para kaum hawa kembali terpesona. Julukan 'Pangeran Sekolah' itu memangย  bukan main-main, bahkan sekarang banyak siswi yang berandai-andai bisa berada di posisi Revelyn sekarang.


"Kesel juga ya ada Regan di rumah lo, masa pas gw mau diam-diam nyelinap ke kamar lo malam-malam, malah keciduk sama dia." keluh Leo, membuat Revelyn langsung mempelototinya.


"Ngapain lo mau nyelinap ke kamar gw hah?!"


"Mau tidur sama lo."


"ANJIR!"


Sontak Revelyn langsung membekap mulut Leo, sambil berbisik pada cowok itu.


"Gila lo! entar di kira yang lain apaan gw sama lo pernah tidur berdua!"


"Bukan pernah lagi, tapi sering. Lagipula cuma tidur oi bukan ngapa-ngapain, lo bahkan juga pernah nyelinap ke kamar gw waktu nggak bisa tidur 'kan!" balas Leo membuat Revelyn nyengir kuda.


"Yaudah kita ampas."


"Impas oi!"


Revelyn memutar malas bola matanya, sedangkan Leo mulai bangkit dari jongkoknya.


"Gw mau ke kelas." pamit Leo menatap Revelyn yang masih duduk di kursi.


"Yaudah sana."


"Tapi sebelum itu gw mau---"


"Mau apaan?" tanya Revelyn, ia bahkan heran saat Leo mengusap puncak kepalanya.


Namun yang membuat siswi-siswi heboh adalah saat Leo juga mengecup singkat puncak kepala Revelyn, alhasil membuat Revelyn kesal lalu menabok lengan cowok itu.


"IH LEO GILA!"


Leo tertawa jahil, melambaikan tangannya sambil berlari keluar kelas.


"Bye sayang~"


"Bego!" teriak Revelyn kesal.


Sepeninggal Leo, gadis itu tersenyum tipis sambil mengusap-usap puncak kepalanya.


"Dasar!"


...๐Ÿ•๐Ÿ•๐Ÿ•...

__ADS_1


__ADS_2