HEARTBEAT

HEARTBEAT
29. One day with you


__ADS_3

Revelyn baru saja berjalan menuruni anak tangga, dan tiba-tiba handphonenya bergetar.


Segera Revelyn merogoh isi tasnya, ia lalu mengangkat panggilan telpon dari seberang sana.


"Gw udah di depan rumah lo, Velyn."


"Oke, gw keluar nih." jawab Revelyn, kemudian ia mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


Weekend ini, gadis itu akan jalan-jalan setelah sekian lama sekali tidak melakukan aktivitas ini bersama Leo. Namun sekarang, Revelyn rasa semua mulai kembali seperti dulu lagi. Dan Revelyn harap, selamanya akan tetap seperti ini.


Revelyn keluar dari rumahnya, ia lalu mengernyit heran saat tak menemukan Leo di depan rumahnya.


Gadis itu keluar dari pagar rumahnya, ia tertegun saat melihat mobil sports Lamborghini berwarna hitam terparkir di depan pagar rumahnya.


...



...


"Mobil siapa nih?" gadis itu bergumam, bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Karena Revelyn tidak melihat keberadaan Leo dimanapun, gadis itu berencana masuk ke dalam rumahnya kembali.


Namun sebelum memasuki pagar, suara klakson mobil Lamborghini itu mengagetkan dirinya.


Revelyn spontan menoleh, ia ternganga dan seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Lantas gadis itu berlari kecil menghampiri mobil itu, lalu mengetuk kaca jendela mobilnya.


Sang pemilik mobil akhirnya menarik ke atas pintu gunting Lamborghini yang terkenal unik itu, ia lalu melepas kacamatanya sambil menatap Revelyn dengan senyum manisnya.


"Mobil siapa nih?!" tanya Revelyn ternganga.


"Gw." jawab Leo santai.


"What?! kok bisa, jangan-jangan lo maling mobil yak?!"


"Nggak, gw beli sendiri lah pakai duit gw." jawab Leo, ia terus dihujani Revelyn dengan berbagai tuduhan.


Pasalnya Revelyn tidak menyangka Leo akan membeli mobil sports Lamborghini ini, yang harganya pun bisa membuat Revelyn pingsan seketika.


"Duit darimana? jangan bilang lo nyuri di bank!?" tebak Revelyn heboh, ia bahkan sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


Leo tertawa, merasa lucu dengan tingkah Revelyn.


"Nggaklah, gw beli pakai duit yang Papa gw selalu kasih tiap bulan."


Revelyn mengangguk paham, wajar saja Leo dapat membeli mobil ini yang harganya saja 8,5-10,5 miliar. Karena Papa Leo, Andhara selalu mengirimi anaknya uang saku yang lumayan banyak setiap bulannya.


"Hmm, anak sultan." gumam Revelyn sambil manggut-manggut.


"Hitam."


"Hah?" Revelyn menaikkan sebelah alisnya saat Leo mengatakan itu, panggilan yang dulu selalu dilontarkan Leo kepada dirinya dan entah kenapa malah membuat Revelyn tersipu malu.


"Nama mobilnya, Hitam, baguskan namanya?"


Revelyn terdiam, detik selanjutnya Revelyn tersenyum kecut.


"Warna mobilnya 'kan emang hitam." gumam Revelyn, membuat Leo tersenyum.


"Kayak lo, hitam."


"Leo!"


"Tapi manis."


...🍕...


Regan menghela napasnya, ia masuk ke dalam ruangan kerjanya sambil melonggarkan dasinya.


Regan duduk di sofa, akhirnya ia bisa santai setelah rapat yang ia lakukan tadi bersama perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya.


Cowok itu menyandarkan tubuhnya sambil mendongak, menatap langit-langit ruangan.


Hening, tidak ada suara di dalam ruangan itu. Ia lalu menatap bingkai foto di atas meja yang berada di hadapannya.


Di bingkai itu ada foto adik tersayangnya, Revelyn, dan juga dirinya.


Melihat foto itu membuat Regan tersenyum, entah kenapa ia merasa rindu dengan adiknya. Pekerjaan yang selalu menumpuk di perusahaan, membuatnya jarang pulang ke rumah, padahal Revelyn selalu memperingatkan agar kakaknya itu tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja.


Drrrtttttttt


Handphone Regan bergetar, ia pun merogoh saku celananya. Regan tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya, cowok itu mendekatkan benda pipih itu di telinganya.


"Kenapa?"


"Masih sibuk ya?"


"Iya."


"Udah minum obat?"


"Udah kok, sayang."


"Oke."


Saat ia dan Miselia masih telponan, sekretaris Regan mengetuk pintu ruangan lalu membukanya perlahan.


"Pak, hari ini ada rapat lagi jam satu siang."


Regan mengangguk, dan ternyata info dari sekretaris tadi terdengar oleh Miselia di telpon.


"Ada rapat lagi, ya?"


"Iya."


"Gitu ya."


"Kenapa? kok kayak bete gitu."

__ADS_1


"Nggak, cuma kangen aja soalnya kita udah jarang ketemu karena pekerjaan kamu."


Regan tersenyum, nada suara Miselia yang berubah, terdengar sedih, cowok itu lantas terkekeh.


"Maaf yak, nanti aku janji bakal ambil cuti buat kamu, dan kita bisa jalan-jalan sepuasnya." ucap Regan, ia hanya ingin membuat Miselia bahagia.


"Janji, ya?"


"Iya sayang."


Setelah itu Regan mematikan sambungan telponnya, ia lalu bangkit dari duduknya. Namun tiba-tiba dada Regan mendadak sakit, jantungnya seakan berdebar-debar begitu cepat, bahkan napasnya mulai tidak teratur.


"Argh, jangan lagi."


...🍕...


Leo dan Revelyn sudah sampai di tempat tujuan, mereka berdua mulai memasuki sebuah restoran yang terkenal dengan makanan mahalnya.


Entah apa motif Leo membawanya kemari, dan Revelyn hanya mengiyakan saja kemauan cowok itu.


Leo bilang ia ingin menghibur gadis itu dengan makanan yang disukai dirinya dan juga Leo, yaitu pizza.


Mereka berdua mengambil tempat duduk di dekat jendela, dan Leo mulai memanggil salah satu pelayan di restoran itu.


Revelyn mengernyit, Leo seperti memberi isyarat pada pelayan itu, dan sang pelayan mengangguk paham sambil berlalu pergi, hal itu membuat Revelyn menatap Leo penuh selidik.


"Kenapa?" tanya Leo yang duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Mencurigakan." jawab Revelyn menyipitkan matanya.


Leo terkekeh, "apanya?" tanyanya menopang dagu sambil menatap gadis itu.


"Tampang lo."


"Iya ganteng, gw tau kok."


"Jijik deh!"


"Makasih."


Revelyn memutar malas bola matanya, Leo kembali pada sikap menyebalkannya yang membuat Revelyn selalu ingin menerkamnya hidup-hidup.


"Satu loyang pizza terbaik di restoran ini, sudah siap kalian nikmati."


Salah satu pelayan berucap sambil tersenyum ramah, ia lalu meletakkan pesanan mereka berdua di atas meja.


Melihat satu loyang pizza itu membuat Revelyn ngiler seketika, apalagi beberapa lembar topping di atas pizza itu seperti emas.


"Waw, ini kayak berlapis emas aja." ucap Revelyn, ia mencolek yang berwarna emas pada pizza itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.


Revelyn tersenyum, merasa enak saat ia memakannya.


"Itu emang emas."


"Ukhuk!"


Gadis itu langsung tersedak, ia bahkan menepuk-nepuk dadanya lalu menyambar minuman yang berada di hadapannya. Melihat hal itu lantas membuat Leo tersenyum sambil melipat tangannya di depan dada.


Leo mengangguk, "edible gold 24 karat."


Revelyn ternganga, detik selanjutnya ia menodongkan sendok ke arah Leo.


"Lo beli pizza ini buat siapa?" tanya Revelyn serius.


"Lo."


"Harga satu loyangnya berapa?"


Leo terdiam, ia berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.


"27 juta."


"GILA YA LO?!"


Revelyn menaikkan suaranya beberapa oktaf, membuat semua pelanggan di restoran menatap ke arah mereka. Revelyn menarik tangan kanan Leo, gadis itu menggenggamnya erat.


"Lo kenapa sih, gila banget."


"Gw waras." jawab Leo cengo.


"Kenapa lo beli makanan ini sih buat gw, mana mahal lagi. Gw jadi merasa punya hutang 'kan sama lo." Revelyn merengek, ia bahkan jadi enggan menyentuh pizza itu.


Leo sudah membuat Revelyn hampir shock, cowok itu nekat membeli pizza yang satu loyangnya saja seharga 27 jutaan. Bahkan uang sebanyak itu bisa Revelyn gunakan untuk membeli handphone boba keluaran terbaru!


"Nggak papa, makan aja." ucap Leo tersenyum namun Revelyn menggeleng.


"Nggak mau!"


"Kenapa?"


Revelyn mendadak gagap, "e-entar, entar gigi gw jadi emas!" jawab Revelyn, sebenarnya ia berbohong karena Revelyn merasa tidak enak kepada Leo.


"Bagus tuh, gigi lo bisa gw jual, terus gw dapat duit." ucap Leo manggut-manggut.


Revelyn mendadak cemberut, ia menatap Leo yang duduk di hadapannya.


"Makan aja, lagian bukan lo aja yang makan tapi gw juga. Udah nikmatin aja, 'kan yang bayar juga gw." cibir Leo sambil mengambil satu potong pizza mahal itu.


Leo menggigit potongan pizza itu, ia bahkan sengaja agar membuat gadis di hadapannya ngiler.


"Ya ampun enak banget, eh liat deh Velyn, gigi gw jadi emas nggak?" tanya Leo sambil memperlihatkan deretan gigi-giginya.


Revelyn tersenyum kecut, ingin rasanya ia menimpuk wajah Leo dengan tasnya karena ekspresi cowok itu sekarang sangat menyebalkan.


Leo terkekeh, ia lalu menyodorkan potongan pizza di tangannya ke arah Revelyn.


"Buka mulut lo." titah Leo tersenyum, namun gadis di hadapannya terlihat cuek sambil membuang muka.


Revelyn kesal karena cowok itu membuang-buang duitnya hanya untuk membeli seloyang pizza. Wajar saja sih karena Leo berduit, tapi tetap saja, seharusnya cowok itu tidak perlu membeli makanan semahal itu hanya untuk menghiburnya.

__ADS_1


"Nggak usah di pikirin, gw lakuin ini juga bukan buat lo, tapi buat diri gw juga. Karena kalau lo bahagia, gw juga ikut bahagia." ucap Leo, Revelyn perlahan menoleh, menatap Leo lekat.


Revelyn menghela napasnya, ia lalu memaksakan untuk tersenyum sambil membuka mulutnya. Gadis itu akhirnya menggigit perlahan potongan pizza yang disodorkan Leo ke arahnya.


"Enak nggak?"


"Iya." jawab Revelyn mengangguk.


"Coba liat gigi lo." pinta Leo, gadis itu menurut.


Revelyn memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih dan juga bersih, namun perbuatan Revelyn tadi membuat Leo ketawa.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Revelyn heran.


"Gigi lo warna emas, siap buat gw jual tuh di toko perhiasan."


Mendengar jawaban Leo lantas membuat Revelyn berdecak kesal.


"Gila!"


...🍕...


Taman Kota, 18:30 p.m


Setelah dari Restoran, mobil Leo kembali melaju menuju taman kota. Leo memarkirkan mobilnya, setelah itu mereka berdua turun dari mobil.


Sore hari seperti ini waktu yang pas untuk melihat langit senja di danau yang berada di taman kota tersebut.


Mereka berdua akhirnya berjalan menuju danau, sesampainya di sana Revelyn tersenyum bahagia sambil bersandar pada pagar pembatas di danau tersebut.


Keduanya saling menatap langit senja, hal itu membuat senyum terus terukir di wajah Revelyn.


Leo menoleh, ia tersenyum menatap paras cantik Revelyn dari samping.


"Kenapa lo akhiri hubungan lo sama, Vito?"


Deg


Senyum Revelyn sirna seketika, ia menatap Leo sebentar sebelum akhirnya kembali menatap langit.


"Mungkin itu yang terbaik." jawab Revelyn, gadis itu menunduk murung sambil menatap danau di hadapannya.


Leo mengangguk paham, "apapun alasan lo, gw harap lo nggak bakal menyesal." ucap Leo membalikkan badannya menghadap Revelyn.


"Gw ngelakuin itu semua buat lo, gw udah rindu kebersamaan seperti ini dengan lo. Bersama lo, gw selalu bahagia, dan gw harap gw bisa selalu bahagia."


"Gw senang, sampai-sampai jantung gw berdegup kencang." ucap Leo menatap Revelyn lekat sembari tersenyum.


Revelyn mendadak canggung, ia membalikkan badannya menghadap Leo.


"Wajarkan jantung lo berdegup, artinya lo masih hidup." cibir Revelyn sambil mengusap belakang lehernya.


Leo tersenyum, ia meraih tangan kanan Revelyn sambil maju selangkah mendekati gadis itu.


Jarak di antara mereka lumayan dekat, membuat Revelyn tak berkedip memandang Leo cengo.


Cowok itu tersenyum, ia menempelkan telapak tangan kanan Revelyn di dadanya.


"Listen to my heartbeat."


Setelah mengatakan kalimat itu Leo langsung menarik tubuh Revelyn untuk mendekapnya, membuat gadis itu bisa mendengarkan detak jantung Leo yang berpacu lebih cepat.


Revelyn menggigit bibir dalamnya, ia merasa bukan hanya jantung Leo yang berdebar-debar, tapi juga jantungnya yang berdegup-degup tak keruan.


Cowok itu memeluknya di bawah langit senja, membuat sebuah desiran aneh di rasakan oleh Revelyn di dalam tubuhnya.


Revelyn memejamkan matanya, ia lalu meremas baju Leo, mungkin Revelyn merindukan saat-saat seperti ini.


...🍕...


Miselia berdiri di sebuah koridor, ia tidak tau dimana tapi yang pasti ia sedang sendiri.


Ia berkedip beberapa kali, gadis itu lantas menoleh ke belakang dan tersenyum saat melihat Regan yang berdiri membelakangi dirinya.


"Regan." panggil Miselia senang, gadis itu ingin menghampiri Regan.


Namun kenapa? kenapa rasanya Regan sangat sulit untuk di gapai?


Gadis itu awalnya berjalan, namun masih belum bisa mendekati Regan. Ia lalu berlari, namun tetap tidak bisa.


Regan seakan sulit untuk di gapai, seberapa usaha Miselia untuk menghampiri Regan bahkan memanggil-manggil namanya, tetap saja Regan tidak menyahut ataupun membalikkan badannya.


Seakan Regan mulai menjauh dari pandangannya, namun Miselia terus berlari sambil memanggil nama cowok itu.


"Regan!"


Regan mulai terasa jauh sekali, bahkan setelah itu menghilang begitu saja dari pandangannya.


"Regan!"


Alhasil membuat Miselia berhenti berlari, air mata gadis itu sudah menetes dari pelupuk matanya.


Tubuh Miselia seakan melemas, gadis itu terduduk di lantai sambil terus menangis.


Bruk


"Hah?!"


Miselia langsung terbangun dari tidurnya, ia lalu mengubah posisinya menjadi duduk.


Gadis itu lalu menoleh ke arah jam bekernya yang berada di nakas.


Pukul 00:05 a.m.


Miselia menghela napasnya, gara-gara mimpi tadi membuat seluruh tubuhnya banjir keringat.


Detik selanjutnya gadis itu langsung menangis terisak, ia lalu menekuk kedua lututnya, memeluknya sambil membenamkan wajahnya dalam keadaan menangis.


Regan ... aku takut ....

__ADS_1


...🍕🍕🍕...


__ADS_2