
Mobil Vito baru saja berhenti di depan pintu pagar rumah Revelyn. Bersamaan dengan itu, mobil Leo juga berhenti di depan pintu pagar rumahnya.
Sesudah berterima kasih pada Vito, gadis itu mulai turun dari mobil.
Dia lalu menoleh saat Leo juga turun dari mobilnya, kedua mata mereka saling bertemu. Sebelum akhirnya Leo membanting pintu mobilnya cukup keras, lalu mulai berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Revelyn terdiam memandangi kepergiaan cowok itu, detik selanjutnya dia tersadarkan oleh suara Vito.
"Gw pulang dulu yak." pamit Vito dari dalam mobil.
Akhirnya Revelyn mengangguk sambil tersenyum, "hati-hati." ucap Revelyn.
Vito mengangguk, dia melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya kembali memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepeninggal Vito, gadis itu mulai terdiam lagi. Dia lalu menoleh ke arah rumah nenek Leo, pintu rumah itu tertutup rapat seperti mengisyaratkan bahwa mereka sedang tidak menerima tamu.
"Dia beneran nggak mau di ganggu ya?"
...🍕...
Revelyn sudah selesai berganti pakaian, dia lalu berjalan melewati kamar kakaknya untuk menuju dapur.
Namun pintu kamar kakaknya sedikit terbuka, karena penasaran lantas Revelyn diam-diam mengintip ke dalam.
Gadis itu terdiam saat mengintip kakaknya yang sedang meminum banyak obat dari dokter, melihat hal itu lantas membuat Revelyn berekspresi sedih.
"Jangan ngintip."
Lah?
Revelyn nyengir tidak berdosa, gadis itu akhirnya membuka pintu kamar kakaknya lebar-lebar sambil berjalan masuk.
"Sudah minum semua obat?" tanya Revelyn basa-basi, dan Regan hanya mengangguk.
Regan memberi isyarat agar adiknya itu duduk di sampingnya. Revelyn mengangguk, dia lalu duduk di pinggir ranjang sambil melempar senyum ke arah kakaknya.
"Kak Regan nggak ke kantor?"
"Kakak merasa capek, makanya nggak ke kantor." jawab Regan, gadis itu mengangguk paham.
"Jangan sampai memaksakan diri Kakak ya."
"Iya."
Setelah obrolan singkat itu keduanya saling melempar senyum, mereka lalu terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Kakak merasa aneh." ucap Regan, dia menoleh dan menatap adiknya yang tertunduk.
"Aneh kenapa?"
"Biasanya setiap pulang sekolah Leo selalu ke sini, tapi sekarang kenapa enggak? kalian berdua ada masalah?"
Mendengar pertanyaan sang kakak membuat Revelyn langsung mendongak, dia menatap kakaknya lekat.
"Ah? oh Leo? ng-nggak kok. Mungkin Leo lagi capek dan butuh istirahat, makanya nggak kesini." bohongnya, dia mencoba tertawa meski terkesan terpaksa.
Regan yang melihat ekspresi berbohong adiknya hanya terdiam, setelah itu dia mengangguk seolah percaya bahwa tidak ada sesuatu di antara adiknya dan juga Leo.
"Oke."
...🍕...
Sesudah dari dapur, Revelyn kini bersantai di balkon kamarnya. Sesekali dia menatap ke arah balkon kamar Leo, namun pintu balkon itu belum terbuka sama sekali.
Hal itu semakin membuat Revelyn penasaran dengan apa yang terjadi pada Leo sekarang. Apakah cowok itu masih marah padanya atau malah ada hal lain yang menggangu pikirannya?
"Leo, lo marah sama gw yak?" teriak Revelyn, gadis itu mulai gusar.
"Kalau gw ada salah, gw minta maaf udah buat lo marah."
"Lo maafin gw 'kan? lo nggak marah lagi 'kan sama gw?"
Nihil, cowok itu tidak menjawab ataupun muncul untuk menemuinya. Revelyn semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Drrrtttt
Revelyn langsung menoleh ke arah meja saat handphonenya bergetar, lekas dia langsung mengecek satu pesan masuk dari seseorang yang membuat senyum tipis terukir dari bibirnya.
**From: Vito**
Hai? lo udah makan?
^^^To: Vito^^^
^^^Udah ^^^
From: Vito
Napas?
^^^To: Vito^^^
^^^Masih lah-_-^^^
From: Vito
Syukurlah, soalnya kalau lo nggak napas
gw juga nggak akan bernapas.
^^^To: Vito^^^
^^^Dih dikira apaan-_-^^^
From: Vito
Romeo dan Juliet:)
^^^To: Vito^^^
^^^Nggak lucu😒😂^^^
__ADS_1
From: Vito
Tapi ketawa🙄
^^^To: Vito^^^
^^^Cuma emot😒^^^
From: Vito
Masa?
^^^To:Vito^^^
^^^Bodo😒^^^
Revelyn terkekeh, untuk pertama kalinya mereka saling mengirim pesan. Dan itu membuat Revelyn mulai nyaman, mungkin karena Vito orang yang baik. Pikir Revelyn.
"Lo chattingan sama siapa?"
Suara itu langsung membuat Revelyn tersentak kaget, gadis itu langsung mendongak dan menatap Leo yang akhirnya menampakkan dirinya di balkon.
"Vito." jawab Revelyn.
"Oh."
"Leo lo---" belum selesai Revelyn berbicara, Leo sudah kembali masuk ke dalam kamarnya.
Cowok itu kembali menutup pintu balkon kamarnya, meninggalkan Revelyn yang terheran-heran akan tingkahnya.
"Leo lo kenapa sih? sikap lo aneh tau belakangan ini, kalau lo ada masalah cerita dong sama gw." teriak Revelyn mulai kesal, gadis itu mulai tidak suka dengan sikap Leo yang mulai cuek terhadap dirinya.
Drrrttttt
Benda pipih di tangan Revelyn kembali bergetar, membuat fokusnya untuk Leo kini beralih.
Gadis itu mengernyit heran saat mendapat sebuah panggilan dari Vito, tertera nama tersebut di layar handphonenya.
Segera Revelyn mengangkat panggilan tersebut, dia kira Vito menelpon karena ada hal penting yang mau di bicarakan namun ternyata hanya iseng saja.
"Halo Vito? kenapa nelpon?"
"Nggak papa, cuma ngetes aja."
"Ngetes apa?"
"Ngetes rasa kangen gw sama suara lo."
"Ih sejak kapan lo gombal oi!" Revelyn terkekeh pada orang di seberang sana.
"Sejak ketemu lo deh kayaknya."
"Udah deh, kalau nggak penting nggak usah nelpon."
"Tapi ini penting."
Revelyn geleng-geleng kepala, sesekali ia tersenyum saat Vito memulai candaannya.
"Yaudah, selamat tidur, kebo."
"Hei, gw bukan kebo!"
"Oke princess kebo."
"Ih gila!"
Karena kesal Revelyn langsung memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Ternyata Ketua Osis itu juga punya sisi menyebalkannya.
Akhirnya Revelyn mulai beranjak masuk ke dalam kamar, tanpa menyadari bahwa sedari tadi Leo menguping pembicaraan gadis itu di telpon, dari kamarnya.
Leo menghela napasnya, dia menyisir rambutnya dengan tangan sambil berdecak kesal.
Gw nggak pernah suka lo deket sama dia.
Gw nggak bakal biarin ini terjadi.
Karena gw cuma nggak mau, lo bukan milik gw lagi.
Egois bukan? tapi begitulah Leo saat dirinya tidak ingin satu-satunya hal yang berharga di hidupnya di rebut orang lain.
Kalaupun itu terjadi, Leo pastikan dia akan merebutnya kembali.
Bagaimanapun caranya, karena miliknya akan tetap menjadi miliknya.
Selamanya.
...🍕...
Keesokan harinya Leo masih tidak mau bertemu dirinya, bahkan cowok itu berangkat sekolah tanpa dirinya.
Padahal dulu Leo selalu berangkat bersama dirinya, namun akhir-akhir ini Leo seperti menutup diri dari dunia. Dan juga menghindari dirinya.
Leo bahkan lebih memilih sendiri, menghindari semuanya, teman-temannya bahkan keluarganya.
Tingkah Leo semakin membuat Revelyn dan kedua teman Leo bingung, ada apa sebenarnya dengan cowok itu?
"AAAA GILAAAA GW BISAAA GILAAAA!" Revelyn berteriak di dalam kelas sambil menjambak rambutnya.
"Jangan kesurupan dong." tegur Una.
"GW NGGAK KESURUPAN!"
"Saha eta?"
"ANJIR!"
Miselia dan Una tertawa ngakak, mereka merasa lucu melihat Revelyn yang mulai frustasi karena Leo terus menerus menghindarinya.
"Fix deh, mending lo cari tau tentang apa yang terjadi sama Leo." usul Miselia, Una juga menimpali sambil mengangguk setuju.
"Tanya sama neneknya gih."
__ADS_1
Revelyn terdiam, kedua temannya benar. Leo tinggal berdua dengan Wina, neneknya. Dan Revelyn yakin, Wina tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Oh iya."
Revelyn dan Una langsung menatap Miselia heran.
"Hari ini gw jalan-jalan sama Regan." ucap Miselia cengengesan.
Lantas Revelyn dan Una mulai berekspresi datar.
"Terus?" tanya mereka berdua kompak.
"Cuma pengen kalian tau aja."
"PAMER!" cerca mereka berdua kompak.
"Jomblo mah selalu iri temannya mau ngedate sama pacar." cibir Miselia meledek.
"Gw punya pacar yak!" kesal Una tak terima.
Revelyn dan Miselia lantas saling berpandangan, detik selanjutnya mereka menertawai perkataan Una.
"Siapa njir?"
"Siapa yang mau sama lo, Na?"
Melihat kedua temannya tertawa membuat Una berdecak kesal, "Axele lah!" jawab Una.
"Haduh mulai halu nih bocah, Axele aja malah ilfeel sama lo." ledek Miselia sambil menabok lengan Revelyn.
"Kebiasaan kalau ketawa suka nabok njir!" kesal Revelyn menatap Miselia tajam.
Sedangkan yang di tatap hanya nyengir kuda sambil bergaya peace.
"Eh Revelyn." panggil Una, gadis itu langsung menatap Una dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Apa?"
"Ada cowok nyariin lo tuh di depan kelas."
Revelyn lantas mengernyit heran, Leo kah? pikirnya. Jika benar Leo, pasti cowok itu sudah berhenti marah kepada dirinya.
"Leo?"
Una menggeleng sambil menunjuk ke arah pintu kelasnya.
"Vito."
Oh?
Revelyn mengangguk, gadis itu lalu berjalan untuk menemui cowok yang di maksud.
Tumben sekali, Vito menjemputnya ke kelas. Padahal biasanya Leo yang selalu menjemputnya untuk pergi ke kantin, tapi sekarang kenapa berbeda?
"Kantin?"
Gadis itu terdiam sebentar, dia seperti merasa aneh. Mungkin karena adanya suatu perubahan?
"Velyn?"
Sontak gadis itu tersadarkan dari lamunannya, ia lalu mengangguk, menerima ajakan Vito.
Mereka berdua akhirnya mulai berjalan menuju kantin. Terlihat akrab karena sesekali Vito menjahili gadis itu, membuat siswi-siswi mulai menatap aneh ke arah Revelyn.
Merasa hampir siswi-siswi di koridor menatap aneh ke arahnya, Revelyn hanya diam sambil sesekali mengusap belakang lehernya.
"Oh iya, gw ada undangan nih buat lo."
"Acara apa?" tanya Revelyn saat Vito menyodorkan sebuah undangan ke arahnya.
"Pesta ulang tahun gw." jawabnya tersenyum.
Revelyn nampak kaget mendengarnya, "oh ya? kapan?"
"Besok malam jam 7, dresscode-nya white untuk cewek dan black untuk cowok." jelas Vito, dan Revelyn hanya mangut-mangut sambil membaca isi undangannya.
"Gw usahain datang yak."
Langkah mereka berhenti saat Vito memberhentikan langkahnya, ia menoleh dan menatap Revelyn lekat.
"Gw berharap lo datang ke pesta besok malam."
Seperti terlukis jelas di mata Vito, ia sangat berharap gadis itu akan datang besok malam.
Dan mau tak mau Revelyn mengiyakannya, ia tidak tega jika menolak karena Vito seperti sangat mengharapkan kehadirannya.
"Oke gw datang." jawabnya.
Senyum merekah langsung terlukis di wajah Vito, ia sangat senang saat gadis itu mengiyakan permintaannya.
"Thank."
Keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya senyum itu sirna ketika melihat Leo berjalan dari arah yang berlawanan dari mereka, awalnya Revelyn ingin menyapa namun saat Leo malah berlalu melewatinya begitu saja, gadis itu mengurungkan niatnya.
Ia menoleh kebelakang, menatap sendu punggung Leo yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Lupakan saja."
"Apanya?" Revelyn langsung menatap Vito heran.
"Dia."
"Nggak bisa lah!"
"Kenapa?"
"Kerena dia sahabat gw, dia penting bagi gw!"
"Kalau gitu---" Vito menjeda kalimatnya, mereka berdua saling berpandangan. "gw juga mau jadi yang penting buat lo."
...🍕🍕🍕...
__ADS_1