HEARTBEAT

HEARTBEAT
26. Hilang?


__ADS_3

21:25 p.m.


Tim dua, Una dan Axele


"Oi tungguin gw napa!"


Axele hanya memutar malas bola matanya sambil terus berjalan mendahului Una yang kesusahan, gadis itu bahkan tidak dapat senter sehingga ia takut kalau-kalau menginjak sesuatu.


"Axele! jodohmu ini kenapa ditinggal sih!"


"Berisik lo!" tegur Axele, ia membalikkan badannya sambil mengarahkan lampu senter ke wajah Una.


"Silau!"


"Ih serem muka lo, kayak kunti."


Mendengar hal itu Una langsung mencubit lengan Axele, gadis itu mendadak cemberut.


Aaa!


Tiba-tiba mata mereka berdua spontan melotot saat mendengar sebuah teriakan seorang cewek, lalu disusul dengan suara seperti sesuatu yang terjatuh cukup keras.


Bruk


"Eh kodok kepeleset, itu suara apa njir?!" tanya Axele, ia mendadak gemetar.


"Mana gw tau!"


"Periksa dong!"


"Lo aja, gw 'kan cewek, masa nyuruh gw sih!" tolak Una tak terima.


"Yang bilang lo waria, siapa?"


"Nyebelin deh!"


Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi kala semak-semak yang berada tak jauh dari mereka berada, bergerak-gerak sendiri padahal tidak ada angin.


Bahkan Axele yang memegang senter mendadak gemetar, begitupula Una, gadis itu sudah mepet di dekat Axele.


"HANTU!"


Una berteriak, ia sudah ngacir duluan meninggalkan Axele yang masih diam. Tak lama setelah itu Axele lantas menyusul gadis itu.


"Tunggu gw, tai!"


Sepeninggal mereka, Leo dan Revelyn keluar dari semak-semak. Mereka berdua saling berpandangan sambil mengendikkan bahu karena keheranan.


Una terus berlari hingga Axele, cowok itu dapat menyusul.


"Berhenti oi!" perintah Axele terengah-engah.


Una mengangguk, "gw capek, ada air nggak? gw haus." pinta Una sambil berkipas dengan tangannya.


"Gw lupa bawa air."


"Yah gimana sih lo, gw minum pakai apaan?!"


"Mana gw tau, lagipula gw nggak peduli mau lo minum pakai air sungai, atau air comberan juga, gw nggak peduli." cibir Axele, ia lalu mengarahkan senter ke sekitar.


"Kamu gimana sih Axele, nanti jodoh kamu ini mati kehausan, emangnya kamu mau?"


"Alhamdulillah."


"Jahat."


"Berisik, mending lo liat-liat sekitar kali aja ada bendera yang kita cari." ucap Axele, ia mulai serius, pasalnya Axele enggan berlama-lama dengan gadis sakit jiwa yang sekarang tengah gatal-gatal karena di gigit nyamuk.


"Benderanya warna apa?"


"Merah maron."


"Gw kira warna kuning."


"Itumah bendera orang meninggal, bego."


Una manggut-manggut, ia mengedarkan seluruh pandangannya sampai fokus pada satu titik.


"Bingo, itu dia!" pekik Una heboh, ia menunjuk bendera yang mereka cari.


Tapi sayangnya bendera itu ada di atas pohon, meski tidak terlalu tinggi tapi tetap saja berbahaya.


"Siapa yang ambil?" tanya Axele.


"Lo lah, lo 'kan cowok, masa gw."


"Lo dong, lo naik ke pundak gw terus gw angkat sampai lo bisa naik ke atas pohon." usul Axele.


"Kok gw sih, mending lo aja!"


"Masa lo nggak mau naik ke pundak cowok ganteng sih? menyesal entar kalau lo nolak."


Gadis itu terdiam sambil manggut-manggut, sedangkan Axele mulai cekikikan menahan tawa. Axele sengaja menyuruh Una untuk mengambil benderanya, karena Axele hanya tidak mau repot jika dirinya harus manjat pohon demi bendera itu.


"Yaudah, cepetan lo jongkok." titah Una kesal.


Axele menurut, cowok itu mulai berjongkok di depan Una. Awalnya gadis itu diam sambil senyam-senyum, ia merasa gugup karena akan naik ke pundak Axele.


"Cepetan oi! gw udah jongkok-jongkok gini, entar dikira berak lagi." kesal Axele.


Akhirnya Una naik ke pundak Axele, cowok itu lalu berdiri agar Una bisa mencapai dahan pohon.


"Cepetan ambil benderanya,"


"Sabar kampret, ini juga lagi usaha buat ngambil."


Axele berdecak kesal, "udah belum?"


"Udah."


Akhirnya Axele dapat bernapas lega, ia sudah keberatan membawa gadis itu di atas pundaknya.


Namun saat Axele berjongkok untuk menurunkan Una, gadis itu malah berteriak.


"AXELE! OI GW NYANGKUT DI SINI KAMPRET!"


Axele kaget bukan main, ia kira Una sudah turun dari pundaknya tapi ternyata gadis itu masih bergelantungan di atas pohon.


Hal itu malah membuat tawa Axele meledak, "lo ngapain masih di situ anjir, astaga dasar monyet waria." Axele semakin tertawa terbahak-bahak, melihat Una yang berpegangan pada dahan pohon bak monyet.


Namun bukannya di tolong, Axele hanya tertawa sampai perutnya sakit. Sedangkan Una sudah panik dan ketakutan karena takut jika dirinya terjatuh maka itu akan sakit.


"Tolongin gw! tolongin gw! HUAAA, MAMA, AXELE JAHAT!" Una semakin panik, gadis itu terus berteriak bahkan hampir menangis.


"Lepasin pegangan lo, terus loncat ke bawah."


"Nggak mau! tinggi tau!"


"Tinggi dari mana! paling cuma tingginya sekitar tujuh kaki doang." cibir Axele berekspresi malas.


"Itu juga termasuk tinggi! mending sekarang lo bantuin gw ata--- AAAAA!"


Una berteriak saat pegangannya terlepas dari dahan pohon, gadis itu langsung jatuh terduduk.


Gadis itu memejamkan matanya, dan takut untuk membuka matanya kembali.


"Gw kira gw bakal sakit jatuhnya, tapi kenapa nggak ya?" gumam Una, ia mengernyit heran meski belum membuka matanya.


"OI CEWEK SAKIT JIWA! PUNGGUNG GW, BEGO! SAKIT TAU! LO MAU BUAT SEMUA TULANG GW REMUK, YAK?! LO MAU BUAT GW GEPENG YAK! BADAN LO ITU BERAT KAYAK GAJAH, KAMPRET!"


Axele berteriak, ia kesakitan karena Una mendarat tepat di atas punggungnya. Alhasil Axele malah ikut jatuh dan sialnya ia bahkan sampai mencium tanah.


"Ups, sorry Axele, Una nggak tau."


Una berdiri, ia juga membantu Axele untuk ikut berdiri.


Axele mengaduh kesakitan sambil memegangi punggungnya, "encok nih gw, pasti."


...🍕 ...


Tim tiga, Miselia dan Geral.


Ck!

__ADS_1


Geral berulang kali berdecak kesal, ia berjalan di belakang Miselia, namun jalan gadis itu sangat lambat karena Miselia sedari tadi mengangkat handphonenya ke atas, gadis itu berusaha mencari sinyal di handphonenya.


"Cepetan jalan oi! cari benderanya, bukan malah sinyalnya!" kesal Geral, namun Miselia tidak menggubrisnya.


Gadis itu tetap fokus mencari sinyal di handphonenya, dan bodohnya Miselia, padahal di hutan jarang ada sinyal.


"Oi kampret!" teriak Geral, ia berhenti tepat di hadapan Miselia.


"Apaan?!"


"Cari benderanya! bukan malah sinyal di hp lo!"


"Suka-suka gw lah, gw 'kan mau nelpon pacar gw!" protes Miselia kesal.


"Gw tanya ya, penting bendera apa nelpon pacar lo?!"


"Nelpon pacar gw lah!" jawab Miselia sewot.


Geral terdiam, ia lalu berdecak kesal sambil merebut handphone Miselia dari tangan gadis itu.


"Balikin, kampret!"


"Denger yak bucin, di hutan itu jarang ada sinyal. Paham?!" jelas Geral, ia harus membuat gadis itu mengerti.


Miselia terdiam, ia lalu melirik arloji di tangan kirinya yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


"Gw cuma khawatir, dia udah minum obat apa belum ya, di tenda." lirih Miselia murung, membuat ekspresi Geral langsung berubah.


"Kenapa emangnya? dia sakit?"


Miselia mengangguk, "iya,"


"Ck, makanya milih pacar itu yang sehat, biar nggak repot kayak sekarang!" ucap Geral alhasil membuat Miselia menatap tajam cowok itu.


"Mulut lo nggak disaring dulu, ya, kalau ngomong!"


"Ya habisnya, kalau sakit, ngapain dia nyusul lo sampai ke sini coba! harusnya 'kan diam di rumah terus istirahat!" omel Geral kesal.


Ucapan Geral membuat Miselia tersenyum sinis.


"Lo sama dia beda banget," ucap Miselia.


"Iyalah, gw 'kan bukan pacar lo si Regi itu."


"Regan, namanya Regan."


"Serah." jawab Geral malas.


Miselia mengangguk malas, sedangkan Geral, cowok itu kembali menatap Miselia lekat.


"Kalau udah tau dia penyakitan, kenapa lo masih mau sama dia? kenapa lo milih dia? kenapa lo nggak ninggalin dia aja?" tanya Geral serius.


Miselia langsung mendongak, ia menatap Geral datar.


"Karena dia udah buat gw bisa merasakan yang namanya jatuh cinta, dia juga udah buat gw bisa bahagia, gw udah terlanjur sayang sama dia, dan gw harap, gw bisa selalu bersama Regan. Gw nggak mau kehilangan Regan, kalaupun takdir memisahkan gw sama dia, gw tetap nggak bakal rela."


Mata Miselia mulai berkaca-kaca, gadis itu kembali teringat perkataan Regan dulu.


"Aku nggak bisa janji bisa bersama kamu, selamanya, dan walaupun takdir misahin kita, aku akan tetap mencintai kamu, bahkan setelah aku tiada, aku akan mencintai kamu selamanya."


Geral terdiam sesaat, dia memandangi Miselia yang terisak di hadapannya.


"Eh, sorry, gw jadi curhat 'kan." ucap Miselia tertawa garing.


Geral mengangguk singkat, "lo sayang banget yak sama dia?"


"Iya."


"Sayang banget?"


"Iya."


"Banget sayang?"


"Iya, kampret! bawel banget sih lo."


...🍕...


"Vito! tungguin gw dong!" panggil Alana cemberut.


Vito hanya menghela napasnya sesaat sambil geleng-geleng kepala, setelahnya ia tetap berjalan di depan Alana tanpa menunggu gadis itu.


"Vito! gw takut tau!" teriak Alana cukup keras, ia kesal karena sikap Vito yang berubah cuek kepada dirinya.


"Berisik, Al, kuping gw sakit tau!" omel Vito, ia berhenti berjalan sambil mengarahkan senter ke arah Alana.


"Gw bilang 'kan tunggu, lo daritadi ninggalin gw mulu!"


"Siapa suruh jalan lo lambat kayak siput!" ketus Vito malas.


"Lo kenapa sih, Vito?!"


Vito menoleh ke arah Alana, "gw, kenapa?"


"Lo berubah tau! sikap lo malah terkesan cuek banget sama gw." ucap Alana, ia menatap Vito lekat.


"Biasanya sikap gw juga gini."


"Sikap lo berubah semenjak lo pacaran sama Velyn, kenapa lo harus pacaran sama dia sih?!"


Alana meninggikan suaranya beberapa oktaf, sehingga ekspresi Vito mulai berubah serius, apalagi tatapan Vito yang menatap tajam ke arahnya.


"Emangnya kenapa?" tanya Vito dingin.


"Kenapa lo nggak pacaran sama gw aja sih?! gw 'kan suka sama lo!"


"Gw nggak suka sama lo." jawab Vito jujur, membuat Alana terdiam sambil meremas ujung bajunya.


"Emangnya Velyn juga suka sama lo, hah?" tanya Alana, gadis itu tersenyum sarkastis.


Vito tersenyum sinis, "kalau dia nggak suka sama gw, kenapa dia malah pacaran sama gw?"


"Mungkin dia cuma suka, bukan cinta."


Jawaban Alana membuat cowok itu terdiam, pikirannya mulai terbayang-bayang wajah Revelyn.


Melihat Vito diam, Alana tersenyum, cowok itu mulai memikirkan kata-katanya tadi.


"Tadi siang gw liat Leo kasih gelang sama Velyn, dan bahkan Leo juga genggam tangan Velyn," cerita Alana, ia lalu melipat tangannya di depan dada sambil tersenyum miring. "romantis banget!"


Vito masih diam, detik selanjutnya cowok itu langsung meninggalkan Alana pergi.


Alana tersentak, ia lalu berlari mengejar Vito, ia bahkan memanggil-manggil nama cowok itu, namun Vito tetap tidak menggubrisnya.


Naas, kaki Alana malah tersandung akar pohon yang besar hingga gadis itu langsung terjerembab ke tanah.


"Argh, kaki gw."


Alana mengaduh kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya yang sepertinya terkilir, gadis itu kesakitan bahkan untuk berdiri saja ia tak mampu.


"Naik."


Alana mendongak, ia terdiam saat Vito sudah berjongkok di hadapannya.


Cowok itu memerintahkan Alana untuk naik ke atas punggungnya.


"Vito."


"Sorry, gw tadi ninggalin lo." ucap Vito meski terkesan cuek.


Entah kenapa jantung Alana malah berdebar-debar, gadis itu lalu tersenyum sambil naik ke punggung Vito.


"Gw kira lo bakal ninggalin gw." gumam Alana, ia meletakkan dagunya di atas pundak Vito.


"Nggak bakal."


...🍕...


"Masih jauh ya, sampai ke poskonya?" tanya Alana saat Vito menurunkan dirinya, cowok itu cukup kelelahan sehingga mereka harus beristirahat dulu.


"Nggak juga."


"Terus kenapa berhenti di sini?"

__ADS_1


"Gw capek." jawab Vito datar.


Alana mengangguk paham, gadis itu terus menatap Vito yang berdiri membelakangi dirinya.


Namun keduanya terkejut saat tak sengaja bertemu Leo dan juga Velyn, bahkan kedua orang itu juga tak kalah kaget saat melihat Alana dan juga Vito.


Vito dan Leo saling bertatapan cukup lama, Leo, cowok itu masih belum melepaskan pegangannya dari tangan Revelyn.


Merasa Vito memperhatikan tangannya, lantas Revelyn melepaskan pegangan tangannya dari Leo, gadis itu mendadak kaku.


"Velyn, ikut gw sebentar." ucap Vito, ia menarik tangan Revelyn untuk membawa gadis itu pergi.


Namun Leo malah mencegat lengan Vito, keduanya saling melempar tatapan datar namun menusuk.


"Lo mau bawa Revelyn kemana?" tanya Leo tenang.


Vito tersenyum sinis sambil mengepaskan tangan Leo, "bukan urusan lo, ini urusan gw dan Revelyn, karena dia pacar gw." jawab Vito tersenyum miring.


Akhirnya Vito membawa Revelyn pergi, ia ingin berbicara empat mata saja dengan Revelyn.


"Leo, tolong gw." panggil Alana, Leo spontan menoleh sambil mengernyit heran.


"Apa?"


"Kaki gw terkilir, bisa gendong gw sampai posko?" pinta Alana, ia sesekali meringis kesakitan karena rasa sakit saat mencoba menggerakkan kaki kanannya.


Tanpa basa basi Leo menggangguk, cowok itu menyuruh Alana untuk naik ke atas punggungnya.


Keduanya lalu berjalan menuju posko, dan saat mereka beranjak pergi, Revelyn tak sengaja melihat Leo sedang menggendong Alana sambil beranjak pergi.


"Kenapa?" tanya Vito, membuat Revelyn tersentak.


"Apanya?"


Vito mengangkat tangan kanan Revelyn ke atas, di pergelangan tangan gadis itu ada sebuah gelang pemberian dari Leo.


"Di kasih siapa?" tanya Vito serius.


"Leo." jawab gadis itu jujur.


Vito berdecak kesal, "lo masih berhubungan sama dia?" tanya Vito serius.


"Iya, karena dia sahabat gw."


"Please Velyn, akhiri hubungan lo sama dia!"


"Kenapa?"


"Karena gw nggak suka lo dekat-dekat sama dia, gw cemburu, Velyn." jawab Vito, ia mendadak frustasi.


Revelyn diam, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Demi aku, Velyn, jauhi dia!" pinta Vito, ia memegang kedua lengan Revelyn agar gadis itu menatap matanya.


Revelyn menghela napasnya, "gw nggak bisa, karena dia sahabat gw." jawab Revelyn.


Vito berdecak kesal, ia melepaskan gelang itu dari tangan Revelyn.


"Lo harus bisa, lo nggak boleh deket-deket sama dia, turuti kemauan gw, Velyn. Karena aku, pacar kamu!" ucap Vito, cowok itu langsung membuang gelang Revelyn begitu saja, ia lalu membelakangi Revelyn sambil mengacak rambutnya frustasi.


Mata Revelyn mengikuti arah saat Vito membuang gelangnya tadi, alhasil membuat Revelyn teringat perkataan Leo saat memberikan gelang itu kepada dirinya.


Vito menghela napasnya saat merasa sudah tenang, ia lalu kembali membalikkan badannya menghadap Revelyn.


"Vel--- eh?"


Vito langsung kaget, pasalnya Revelyn tidak ada, padahal tadi masih ada di belakangnya.


Di mana Revelyn? kemana gadis itu?


"Velyn!"


"Revelyn, kamu di mana?" teriak Vito, ia panik sambil mengedarkan seluruh pandangannya ke segala arah.


"Revelyn!"


...🍕...


Tiba-tiba saja Regan mengaduh kesakitan sambil memegangi dadanya.


Miselia yang baru saja datang menyelesaikan permainan, langsung kaget saat melihat Regan, ia langsung berlari panik ke arah Regan.


"Regan! kamu kenapa?" tanya Miselia panik, ia langsung menuntun Regan untuk duduk.


"Sakit, lagi." jawab Regan, bahkan napasnya mulai terengah-engah.


"Obat? kamu udah minum obat?!"


Regan menggeleng lemah, "aku lupa, tolong ambilkan di dalam tenda." pinta Regan, Miselia langsung mengangguk.


Gadis itu langsung berlari menuju tenda, membuka tas Regan lalu mengambil obatnya dan juga botol air mineral.


Miselia memberikan obat itu pada Regan, Regan menerimanya lalu menenggaknya, ia lalu meminum air mineral yang di sodorkan Miselia ke arahnya.


"Sudah merasa baik?" tanya Miselia cemas.


Regan mengangguk, Miselia akhirnya dapat bernapas lega.


Gadis itu langsung memeluk Regan erat, ia takut terjadi sesuatu kepada Regan.


"Jangan lupa lagi minum obat kamu, aku khawatir, aku takut sampai mau nangis tau." ucap Miselia, membuat Regan tersenyum sambil mengusap rambut Miselia.


Dari kejauhan Geral yang melihat hanya diam, cowok itu kembali teringat perkataan Miselia saat di dalam hutan tadi.


"Ada yang cidera, tolong!"


Teriakan Leo membuat Geral dan beberapa siswa maupun siswi lainnya langsung menoleh ke arah sumber suara, mereka kaget saat melihat Leo tengah menggendong Alana.


Cowok itu lalu menurunkan Alana di dekat tenda, setelah itu Alana akan diobati oleh anak PMR yang bertugas.


Regan dan Miselia saling berpandangan, cowok itu lantas bangkit dari duduknya sambil berjalan menghampiri Leo meski keadaannya masih lemas.


"Leo, Velyn mana?" tanya Regan heran.


Leo menoleh, ia menatap Regan lekat.


"Velyn---"


"Velyn hilang!"


Vito berteriak saat ia berjalan menuju tenda, napas cowok itu tersenggal-senggal karena berlari untuk memberitahukan pada semuanya.


Mendengar hal itu sontak membuat semua siswa siswi bahkan panitia panik, termasuk Leo dan juga Regan.


"Brengsek." umpat Leo, ia mengepalkan kedua tangannya sambil berjalan menghampiri Vito.


Buk!


Vito langsung tersungkur ke tanah saat Leo menonjok wajahnya, cowok itu lantas mengaduh kesakitan.


Leo menggertakkan giginya, ia menarik kerah baju Vito lalu mencengkramnya.


"Kenapa bisa hilang?! bukannya tadi dia sama lo, hah?!" teriak Leo tepat di depan wajah Vito.


"Mana gw tau! tiba-tiba Velyn menghilang gitu aja, dan gw udah cari-cari tapi nggak ketemu, makanya gw datang kesini supaya kalian semua bisa bantu gw cari Velyn!" balas Vito meneriaki Leo.


Leo berdecak kesal, ia mendorong tubuh Vito kasar.


"Biar gw sendiri yang cari Velyn." ucap Leo menatap Vito tajam.


"Gw juga mau nyari."


Leo menoleh ke arah Regan, "jangan, sebaiknya lo istirahat aja di dalam tenda." pinta Leo pada Regan.


"Tap---"


"Leo benar, sebaiknya kamu istirahat aja." ucap Miselia mengangguk setuju.


Regan menatap Miselia lekat, padahal Regan ingin sekali ikut mencari adiknya, karena ia sekarang sangat mengkhawatirkan keberadaan Revelyn.


"Lo tenang aja," Leo menatap Regan serius. "gw janji, gw bakal bawa Revelyn kembali."


...🍕🍕🍕...

__ADS_1


__ADS_2