
Hah!
Gadis itu langsung terbangun dari tidurnya, ia lalu mengubah posisinya menjadi duduk sembari menyalakan lampu kamarnya.
Seluruh wajahnya banjir keringat, Revelyn menghela napasnya sambil menyeka keringatnya dengan tisu yang berada di atas nakas.
Mata gadis itu lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00:15 A.M. Ia lalu menunduk sambil menghela napas.
Drrtttttt
Revelyn menoleh, menatap benda pipih yang bergetar di atas nakas. Gadis itu lantas meraih handphone tersebut sambil mengernyit heran saat melihat nomor tidak dikenal menelponnya, tanpa ragu Revelyn langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo?"
Hening, tidak ada jawaban dari seberang sana. Hal itu membuat Revelyn heran.
"Hallo? ini siapa?"
Masih hening, masih tidak ada jawaban hingga semakin membuat Revelyn kesal.
"Jangan main-main lah, lagipula ini sudah malam. Tidur besok mulung!" ucap Revelyn kesal sebelum akhirnya gadis itu mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Revelyn mendengus kesal, namun gadis itu malah tersentak kaget saat kenop pintu kamarnya diputar.
"Velyn?"
Ternyata Leo, cowok itu membuka pintu kamar Revelyn. Ia masuk sambil berjalan menghampiri Revelyn yang masih terduduk di ranjang sambil menatapnya heran.
"Leo? lo belum tidur?" tanya Revelyn, matanya mengikuti arah cowok itu berjalan.
"Gw nggak bisa tidur jadi tadi gw liatin bintang di balkon, terus lampu kamar lo tiba-tiba nyala. Yaudah gw kesini aja karena gw yakin banget lo pasti kebangun, karena mimpi kan?" jelas Leo, ia naik ke kasur dan duduk di sisi sebelah Revelyn.
Revelyn terdiam, ia lalu mengangguk sambil menunduk, meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Gw masih kepikiran Regan, dia benar-benar udah kembali." ucap Revelyn, ia menoleh dan menatap Leo yang berada di sampingnya. "tapi kenapa dia nggak temuin gw?" Revelyn bertanya lirih, menatap Leo dengan tatapan sedihnya.
Leo menatap wajah sedih di hadapannya cukup lekat, tangannya lalu bergerak menangkup pipi Revelyn.
"Mungkin Regan punya alasan tersendiri kenapa dia masih belum temuin lo, mungkin Regan perlu waktu. Lo hanya perlu nunggu." ucap Leo, ia bahkan memberikan senyuman yang seketika membuat Revelyn merasa hangat.
Gadis itu mengangguk, menggenggam kedua tangan Leo yang masih menangkup kedua pipinya.
"Makasih, kehadiran lo buat gw sadar bahwa di dunia ini gw emang nggak pernah sendirian."
Revelyn tersenyum, menatap Leo lekat hingga manik mereka saling bertubrukkan. Namun tatapan itu malah menciptakan suatu gejolak lagi, yang membuat Leo merasakan hal aneh saat melihat gadis di hadapannya.
Cowok itu lantas menjauhkan tangannya dari wajah Revelyn, ia lalu mulai merebahkan dirinya di samping Revelyn sambil menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Revelyn tersenyum, ia lantas juga ikut merebahkan dirinya di samping Leo.
Mereka berdua saling terdiam, menatap langit-langit kamar dengan pikiran masing-masing.
"Leo, lo punya orang yang lo suka? gw heran, dari dulu sampai sekarang lo nggak pernah punya pacar. Gw jadi curiga, jangan-jangan lo homo?!" Revelyn bertanya heboh, ia membalikkan badannya menghadap Leo, sambil menunjuk wajah cowok itu dengan telunjuknya.
"Sembarangan, gw masih demen cewek! Gw normal!" Leo menepis pernyataan itu, ia juga membalikkan badannya menghadap Revelyn.
"Terus kalau normal, kenapa lo nggak pernah punya pacar? dulu 'kan waktu SMP bahkan sampai sekarang banyak yang nyatain perasaan sama lo, tapi kenapa nggak pernah lo terima?"
"Gw nggak mau pacaran."
__ADS_1
Revelyn menaikkan sebelah alisnya heran, "kenapa? terus mau lo apa?" tanyanya yang semakin membuat ekspresi Leo serius.
"Gw mau-nya langsung nikah sama orang yang gw sayang."
"Why? give me a reason."
Leo lantas tersenyum, ia semakin menatap manik Revelyn lekat. "Kepo!"
...🍕...
"Hmm iya, kamu udah minum obat?"
Miselia bertanya dengan wajah serius pada seseorang dari seberang sana, gadis itu sedang telponan dengan kekasihnya sambil berjalan di sepanjang koridor kelas sepuluh.
"Hmm oke, sampai nanti." Miselia mengakhiri sambungan telponnya, gadis itu berhenti berjalan sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku.
"Udah telponannya?"
Deg
Miselia kaget, ia shock saat mendengar suara Revelyn tepat di belakangnya. Lantas Miselia berbalik, menatap Revelyn gugup.
"Ve-Velyn! lo buat gw kaget." Miselia terkekeh, namun Revelyn hanya menatapnya datar.
"Telponan sama siapa? pacar lo yak?" tanya Revelyn, gadis itu melempar senyum ke arah Revelyn.
"I-iya."
"Dia sakit yak? kenapa lo nanya dia udah minum obat apa belum?"
Miselia semakin gugup, ia tidak tahu harus menjawab apa. Revelyn terus menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
"Sakit apa?"
"Nggak parah kok."
"Syukurlah."
Revelyn tersenyum, ia masih menatap Miselia yang terlihat grogi.
Revelyn dapat melihat jelas gelagat aneh Miselia, Revelyn yakin gadis itu mencoba menutupi faktanya.
Lagipula Revelyn yakin sekali bahwa Miselia tadi telponan dengan Regan, dan itu membuat Revelyn sedikit iri.
Ia hanya cemburu dengan Miselia, disaat dia yang menunggu bahkan ingin sekali bertemu Regan. Miselia dengan mudahnya bertemu kapan saja dengan kakaknya itu, bahkan tanpa sepengetahuannya. Bukankah itu tidak adil?
"Velyn?"
Revelyn tersentak kaget, ia tersadarkan dari lamunannya.
"Gw pergi dulu yak." pamit Revelyn, membuatnya mendapat tatapan heran dari Miselia.
"Lo mau kemana?"
"Kelas Leo."
Miselia mengangguk, ia menatap Revelyn yang ingin melangkah pergi. Namun sebelum itu Revelyn sempat menghentikan langkahnya untuk bertanya pada Miselia, pertanyaan yang sontak membuat Miselia kebingungan.
"Lo, ada yang mau di omongin sama gw?"
__ADS_1
Miselia menatap Revelyn kebingungan, "maksud lo?" tanyanya cengo.
Revelyn terkekeh sambil mengibaskan tangannya di udara, "ah sudahlah, lupakan." ucap Revelyn lalu beranjak pergi dari hadapan Miselia.
Miselia masih menatap kepergiaan Revelyn, gadis itu memilin ujung roknya sambil menggigit bibirnya. Entah kenapa ada suatu perasaan aneh yang tiba-tiba saja menghantui Miselia.
"Kenapa gw merasa, senyum yang tadi itu palsu?"
...🍕...
Revelyn menatap datar ke arah lapangan utama, banyak siswa-siswa bermain basket, dan banyak siswi-siswi yang menyorakinya.
Gadis itu duduk di rerumputan kecil sambil bersandar pada sebuah pohon rindang yang ada di tepi lapangan. Padahal Revelyn sempat ingin menemui Leo di kelasnya, namun teman sekelasnya bilang bahwa Leo tidak masuk pelajaran sama sekali.
"Dasar pemalas." gumam Revelyn, ia tidak habis pikir kenapa Leo tidak mau menghargai usaha Papanya yang bahkan rela memberikan banyak uang pada sekolah ini hanya agar Leo betah dan rajin belajar.
Namun siapa sangka bahwa Leo betah cuma karena satu alasan, Revelyn, gadis itu alasannya.
Tiba-tiba derap langkah kaki terdengar, sontak Revelyn mendongak dan mendapati Vito berdiri di hadapannya.
Cowok itu menatapnya dengan ekspresi datar, sambil membenamkan kedua tangannya di saku celana.
"Kesepian?" tanya Vito, membuat Revelyn lantas tersenyum kikuk.
"Lo kalau ngomong suka benar yak."
Vito mengulum senyum, ia mengambil duduk di samping gadis itu.
"Dimana dia?"
Revelyn sontak menoleh ke arah Vito, cowok itu duduk dengan posisi menghadap lurus ke depan.
"Maksud lo, Leo?" tanya Revelyn dan Vito hanya mengangguk.
Kalau gw bilang Leo bolos, entar Vito malah laporin ke BK.
"Lagi belajar di kelas."
Mendengar jawaban Revelyn membuat Vito menatapnya dengan senyum miring, Vito tahu gadis itu berbohong.
"Lo nggak pintar bohong."
Emang, bahkan gw nggak suka kebohongan.
"Gw nggak tau, mungkin dia bolos. Tapi please yak, jangan laporin ke BK. Gw nggak mau Leo kena masalah lagi." Revelyn memohon, membalikkan badannya menghadap Vito. Gadis itu memasang ekspresi memelas.
"Lo minta gw menyembunyikan kesalahan yang orang lain perbuat?"
"Bagi gw dia bukan orang lain, dia sahabat gw." Revelyn berujar sambil menatap Vito serius, detik selanjutnya Vito terdiam karena tatapan itu.
"Oke gw nggak bakal bilang, tapi ada satu syaratnya."
Damn it, Revelyn mengumpat dalam hati. Cowok di hadapannya meminta pamrih, membuat Revelyn mau tak mau harus memenuhi syaratnya.
"Apa?"
Vito mengukir senyum, maniknya dan manik Revelyn saling berpandangan cukup lekat.
"Weekend ini, lo dan gw, kita jalan-jalan."
__ADS_1
...🍕🍕🍕...