HEARTBEAT

HEARTBEAT
28. Putus?


__ADS_3

^^^****Una Ananda****^^^


^^^Axele udah makan belumβ™‘?^^^


Una tersenyum bahagia, ia sudah mengirimkan pesan untuk Axele dan sekarang, ia hanya perlu menunggu balasan dari cowok itu.


"Senangnya hatimu, pasti berbunga-bunga bangkai, 'kan?" tanya Miselia tersenyum manis, meski begitu ia sebenarnya tengah meledek Una.


"Iya dong."


"Pasti karena Axele, ya 'kan?" tebak Revelyn sambil menunjuk Una, gadis itu mengangguk mantap.


Sepanjang perjalanan menuju kantin, mereka tertawa karena candaan dan ledekan yang Miselia dan Revelyn lontarkan untuk Una.


Drrtttt


Tiba-tiba handphone Una bergetar, membuat gadis itu memekik kegirangan. Una yakin, notifikasi message itu pasti dari Axele.


****Axele Adinata****


Mbb


^^^Una Ananda^^^


^^^Axele nggak perlu minta maaf, ^^^


^^^karena baru balas😘^^^


Axele Adinata


Lho? siapa bilang gw


minta maaf karena baru balas?


^^^Una Ananda^^^


^^^Itu tadi, Axele bilang Mbb.^^^


Axele Adinata


Emang lo tau apa kepanjangannya?


^^^Una Ananda^^^


^^^Tau dong, Mbb kan artinya^^^


^^^"maaf baru balas" πŸ˜‡^^^


Axele Adinata


MBB\= MAAF BOSAN BALAS!


Una langsung tersedak salivanya sendiri, gadis itu menepuk-nepuk dadanya, dibantu Miselia dan Revelyn yang mengusap-usap punggungnya.


"Lo kenapa?" tanya Revelyn heran.


"Tau nih, kenapa jadi sampai kesedak sih?" tambah Miselia, ia kebingungan.


Namun Una tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat dengan menunjuk-nunjuk layar handphonenya.


"Eh, Velyn."


Revelyn mendongak lalu melempar senyum, saat mendapati Geral yang tak sengaja bertemu dengan mereka bertiga.


Una mendongak, tiba-tiba saja ia menyeringai saat di belakang Geral muncul Axele yang nyengir kuda sambil memegang handphone.


"Axele ...." panggil Una, alhasil membuat seluruh tubuh Axele merinding.


"Ge-Geral, gw cabut dulu!"


Axele berpamitan sambil menepuk-nepuk punggung Geral, ia lalu langsung berlari untuk menjauhi Una.


Namun Una malah mengejar cowok itu, "TUNGGU GW, PACAR!"


Una berteriak, ia gemas karena pesan terakhir dari Axele. Cowok itu sudah membuat amarah Una memuncak, namun rasa sayang Una tak kalah memuncak.


"Oi Una! 'kan lo mau ke kantin, anjir!" Miselia berteriak, ia berlari untuk menyusul Una.


Geral dan Revelyn hanya terdiam kebingungan, detik selanjutnya Revelyn juga ikut berlari menyusul kedua sahabatnya itu.


"Tunggu gw!"


Revelyn tertawa saat mengejar kedua sahabatnya itu, tak lama setelah itu ia tersentak saat sebuah tangan menarik tubuhnya hingga masuk ke dalam dekapan.


"Kamu kenapa sih, Velyn? akhir-akhir ini kamu cuekkin aku, kamu nggak balas chat aku, dan bahkan nggak balik nelpon aku, kamu ngehindarin aku, ya?"


Revelyn melepaskan dekapan Vito, ia mendorong tubuh Vito menjauh dari dirinya.


"Lo apa-apaan sih! main peluk-peluk aja!" kesal Revelyn, gadis itu bahkan menepuk-nepuk seragamnya seakan-akan kotor.

__ADS_1


"Aku, 'kan, pacar kamu." suara Vito melembut, ia meraih tangan Revelyn lalu menggenggamnya erat.


Gadis itu menatap Vito risih, ia bahkan terlihat tidak nyaman karena Vito menggenggam erat tangannya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Vito, ia mencoba meminta gadis itu agar menjelaskan semuanya.


Akhir-akhir ini Vito merasa Revelyn mulai menjauhinya, semenjak pulang dari berkemah, gadis itu seperti tidak mau mendekatinya. Bahkan sekedar untuk membalas chat dari Vito, Revelyn hanya mengabaikannya.


Tentu saja Vito bingung, ia bingung kenapa sikap Revelyn berubah 180Β° kepada dirinya. Bahkan nada bicara gadis itu terdengar kasar, dan ini seperti bukan Revelyn yang Vito kenal.


"Maaf ...."


Tiba-tiba Revelyn berkata lirih, ia perlahan melepaskan tangan Vito yang menggenggamnya. Gadis itu menatap Vito lekat, ia lalu menunduk sambil mengusap belakang lehernya.


"Akhiri saja semua ini, Vito."


"Maksud kamu?"


Revelyn mendongak, ia menatap Vito lekat.


"Hubungan kita."


"Ke-kenapa?" tanya Vito, ia tersenyum kecut.


"Entahlah."


"Beri aku alasan."


Revelyn menghela napasnya, ia meremas jari jemarinya karena gugup.


"Mungkin ini menyebalkan tapi, kayaknya aku salah soal perasaan aku ke kamu. Kayaknya aku salah mengartikan untuk siapa hatiku, aku kira untuk kamu, tapi kayaknya bukan."


"Aku memang naif, tapi aku nggak mau nyakitin perasaan kamu dengan tetap melanjutkan hubungan ini jika salah satu dari kita bahkan nggak tahu hatinya untuk siapa."


"Karena itu, Vito, ayo kita putus."


Semua ucapan Revelyn membuat Vito tidak dapat berkata-kata. Cowok itu masih tidak percaya dengan semua ini, secepat inikah hubungannya dengan Revelyn kandas?


"A-aku pergi dulu."


Saat Revelyn ingin beranjak pergi, Vito malah mencegat tangannya.


"Tunggu."


Vito menarik tubuh Revelyn hingga menghadap dirinya, cowok itu menatap Revelyn serius.


"Iya, gw lakuin ini semua karena Leo! kenapa? karena gw mau perbaiki semua kesalahan gw, gw mau perbaiki hubungan gw sama dia."


"Mungkin gw bahagia saat lo nembak gw dan jadi milik gw, tapi disisi lain gw malah kehilangan orang yang berharga buat gw."


"Dan untuk itu, gw lakuin ini semua agar gw dan Leo bisa bersama lagi."


"Terdengar egois bukan? tapi inilah gw, cewek egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Gw cuma mau gw dan Leo seperti dulu lagi, karena itu gw ngelakuin ini semua."


"Lo boleh marah sama gw, Vito, karena gw ninggalin lo." lirih Revelyn, matanya mulai memanas.


Melihat ekspresi Revelyn, Vito melepaskan cengkramannya, ia menghela napasnya berat.


"Oke gw terima semua keputusan lo," jawab Vito mengangguk paham. "tapi asal lo tahu satu hal, gw .... nggak akan bisa berhenti buat mencintai lo."


Revelyn menggigit bibir dalamnya, ia meremas roknya karena perkataan Vito tadi. Setelahnya Revelyn beranjak pergi, namun perkataan Vito menghentikan langkahnya.


"Dan sekarang, hati lo buat siapa?"


Gadis itu diam di tempat, ia tidak membalikkan badannya untuk menghadap Vito.


Hening, masih tidak ada jawaban dari Revelyn. Ia menggigit bibir dalamnya, lalu menghela napasnya.


"Entahlah."


...πŸ•...


Alana terus bersenandung sambil mengecat jari-jemarinya. Gadis itu selalu bahagia saat melakukan ini setiap harinya.


Bahkan Alana tidak peduli dengan Una yang duduk di sampingnya, Una terus berceloteh panjang lebar kepada Miselia yang duduk di belakangnya.


"Eh Velyn, darimana aja lo? tiba-tiba ngilang aja, perasaan waktu itu ada di belakang gw pas lagi ngejar Una." cibir Miselia, ia bertanya saat Revelyn berjalan menuju tempat duduk mereka.


Revelyn menghela napasnya, ia mengambil duduk di samping Miselia sambil menatap Una dan Miselia secara bergantian dengan ekspresi murung.


"Lo kenapa?" tanya Una menaikkan sebelah alisnya heran.


"Gw tadi bicara sama Vito."


"Terus?" tanya Miselia penasaran.


"Gw putus sama Vito."


"APA?!" teriak Miselia dan Una kompak.

__ADS_1


Alana langsung tersentak saat mendengar ucapan Revelyn, membuat warna cat kuku gadis itu keluar dari batas kuku jarinya.


W-what the?! dia putus sama Vito? gw bahkan belum sempat balas merebut Leo dari dia, tapi mereka beneran udah putus 'kan? kalau gitu, gw bahagia banget karena ini bakal jadi kesempatan gw buat dapatin hati Vito.


Alana tersenyum miring, ia lalu kembali melanjutkan kegiatan mengecat kuku-kuku jarinya.


"L---lo serius?" tanya Miselia terbata-bata.


"Se-secepat itu? bahkan hubungan kalian belum mencapai satu bulan." timpal Una angguk-angguk.


"Itu nggak penting." ucap Revelyn menghela napasnya.


Miselia menatap Revelyn serius, "alasannya apa?" tanya Miselia penuh selidik.


Revelyn langsung menoleh ke arah Miselia.


"Gw baru sadar, bahwa selama ini gw bahagia di atas penderitan yang Leo alami. Selama gw sama Vito, gw jarang bersama Leo bahkan disaat hari-hari terpuruknya karena masalah yang dia hadapi."


"Karena itu, seperti yang Leo mau, gw bakal jauhi Vito, gw bakal ninggalin dia. Karena apa? karena gw mau memperbaiki semua kesalahan gw, dan juga menepati janji gw."


"Supaya hubungan gw sama Vito membaik lagi."


Kedua sahabatnya tidak berkutik sama sekali mendengar penuturan gadis itu, bahkan keduanya ternganga dan tidak menyangka karena semua ini terjadi begitu saja.


Miselia berdehem, "sejak dulu gw nggak pernah suka dengan hubungan lo sama Vito, karena itu, mulai sekarang lo harus nepatin janji lo sama Leo." ucap Miselia di ikuti oleh Una yang mengangguk setuju.


Revelyn tersenyum, detik selanjutnya ia menunduk sedih.


"Gw emang janji buat bahagiain Leo, buat dia lupa dengan segala kesedihannya," Revelyn menjeda kalimatnya, ia lalu mendongak menatap kedua sahabatnya lekat.


"Tapi kenapa gw merasa sebaliknya? kenapa gw merasa lebih banyak Leo yang berkorban buat gw? gw merasa Leo lah yang udah buat gw lupa dengan segala kesedihan gw."


...πŸ•...


Revelyn menutup pintu pagar rumahnya, ia lalu tersentak saat Leo sudah berada di sampingnya.


"Mau kemana?"


Revelyn menghela napasnya, ia lalu tersenyum.


"Taman."


Leo menaikkan sebelah alisnya, ia merasa heran, tumben gadis itu ke taman.


"Ngapain?" tanya Leo penasaran.


Revelyn terkekeh, "mau ngehibur diri sendiri." jawab Revelyn, ia beranjak pergi sambil melambaikan tangannya pada Leo.


Sepeninggal gadis itu, Leo menghela napasnya sambil tersenyum.


Saat sudah sampai di taman yang berada tak jauh dari rumahnya, Revelyn berjalan lambat sambil memandangi pemandangan di sekitarnya.


Taman ini menjadi saksi bisu semua janji di ucapkan oleh dirinya dan juga Leo, waktu dulu. Mengingat semua itu membuat Revelyn tersenyum, ia lalu duduk di salah satu bangku taman.


Revelyn mendadak murung, ia masih kepikiran semua perkataan yang dia lontarkan kepada Vito. Ia merasa tidak enak pada Vito, ia merasa bodoh karena sudah egois hingga membuat perasaan seseorang tersakiti, untuk kedua kalinya Revelyn membuat seseorang tersakiti karena sikap egois dan kekanakannya.


Revelyn mendongak, ia lumayan kaget saat melihat seseorang yang menggunakan kostum boneka beruang, melambai ke arahnya.


Gadis itu tersenyum, ia sangat menyukai beruang, lantas Revelyn berlari kecil menuju orang berkostum beruang itu.


"Kenapa sedih? seperti abis putus cinta aja." tebak seseorang dari dalam kostum beruang itu.


Revelyn terdiam, ia seperti mengenali suara itu, seperti suara Leo.


Nggak mungkin Leo berubah jadi badut beruang, itu gila, dia nggak bakal melakukan hal sekonyol ini.


"Iya." jawab Revelyn jujur.


Jawaban Revelyn membuat orang yang berada di dalam kostum itu, tidak percaya dengan ucapan Revelyn.


Buset, mereka beneran putus?


"Kamu butuh pelukan?"


Revelyn menaikkan sebelah alisnya saat beruang itu bertanya padanya, detik selanjutnya Revelyn mengangguk sambil memeluk cosplay beruang itu.


...



"Thank, gw merasa lebih tenang dan juga senang. Bahkan gw merasa seperti lagi memeluk sahabat gw, rasanya benar-benar sama." ucap Revelyn, gadis itu masih merasakan nyamannya memeluk kostum boneka beruang besar itu....


Lo benar, Velyn, yang ada di dalam kostum ini, gw, sahabat lo.


Dan gw juga senang, saat tahu lo dan Vito udah putus.


Gw juga egois, bukan?


...πŸ•πŸ•πŸ•...

__ADS_1


__ADS_2