
Senyum seorang gadis bernama Una merekah kala melihat sang pangeran, Axele yang berjalan tak jauh di depannya saat memasuki gerbang sekolah.
"AXELE!"
Axele terlonjak kaget, bahkan roti di tangannya hampir terjatuh. Cowok itu berdecak kesal, dan langsung memasukkan semua roti itu ke dalam mulutnya.
"Good morning, Prince." sapa Una, gadis itu nampak bahagia bisa bertemu vitamin pagi untuk semangat belajarnya.
"Palalu peyang, roti gw mau jatuh tau!" kesal Axele, dia sudah menelan sisa roti di mulutnya.
Una memasang ekspresi cemberut, dia tertunduk sambil menatap ujung sepatunya.
Melihat Una yang murung membuat Axele iba, cowok itu mendadak merasa bersalah. Tangan Axele terulur untuk menyentuh pundak gadis itu, namun Una mendongak dan berteriak hingga membuat Axele kembali terlonjak kaget.
"AXELE TAU NGGAK?!"
"Anjir, kaget gw sialan!" umpat Axele kesal, rasa bersalahnya menghilang karena gadis di hadapannya sangat menyebalkan.
"Axele tau nggak?" tanya Una, matanya berbinar-binar kala menatap Axele.
"Nggak."
"Rasa sayang ku---" kalimat Una terhenti saat melihat sebuah mobil Lamborghini berwarna merah masuk ke dalam parkiran sekolah.
Una ternganga, begitupula dengan Axele, bahkan siswa dan siswi yang berada di parkiran juga ikut terpana melihatnya.
Sang pemilik mobil, mulai turun perlahan dari mobil mewahnya. Dia melepaskan kacamata hitamnya sambil membenarkan rambutnya yang tergerai.
"Cantik." gumam Axele, dia terpesona melihat kecantikan gadis itu, yang sepertinya murid baru di SMA Sanjaya.
Una cemberut, dia lantas menoleh ke arah Axele. Pandangan cowok itu masih tak lepas dari gadis itu, alhasil membuat Una langsung menutup mata Axele karena kesal.
"Axele nggak boleh gitu, udah ada aku yang cantik masa mau lirik yang lain lagi?!" omel Una.
Namun Axele malah berdecak, dia menepis tangan Una yang menghalangi pandangannya.
"Ganggu aja lo, hama."
"Axele kok gitu sih?!"
"Bodoamat."
Una berdecak sambil menghentakkan kakinya ke tanah, dia cemburu karena Axele terpesona oleh kecantikan murid baru itu.
"Masih cantikan gw juga." gerutu Una kesal.
Sontak Axele malah menertawai Una, "lo sama dia bagaikan babu dan ratu, bahkan cantik lo sama dia bagai tai dan berlian." ucap Axele membandingkan antara Una dan murid baru itu.
"Aku 'kan berliannya?" tanya Una semringah.
"Bukan, tainya!" jawab Axele, dia tertawa ngakak sedangkan Una malah semakin cemberut.
Namun Axele dan Una malah heran saat murid baru itu berlari kecil menghampiri Leo yang memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil gadis itu, murid baru itu nampak heboh kala melihat Leo.
"Hai, lo yang waktu itu di pesta ultah Vito, 'kan?" tebak gadis itu, dia menatap Leo dengan senyum merekah.
Leo mengernyit heran, dia lalu celingak-celinguk seperti bertanya-tanya 'anak siapa?' yang ada di hadapannya sekarang.
Gadis itu mengulurkan tangannya, dia lalu memperkenalkan dirinya dengan senyuman yang membuat kaum adam terpesona, termasuk Axele yang berdiri tak jauh dari mereka berdua berada.
"Nama gw Alana Veronica, gw murid baru di sini sekaligus teman masa kecil Vito. Lo tau Vito, 'kan?" tanya Alana, dan Leo mengangguk singkat.
"Tau," jawab Leo. "si cowok brengsek itu." gumam Leo kesal, mungkin Alana tidak mendengar namun ekspresi gadis itu nampak kebingungan.
"Jadi, nama lo siapa?"
"Leo."
Alana mengangguk paham sambil menarik kembali tangannya karena cowok di hadapannya tidak balas berjabat tangan dengannya, setelah itu dia kembali menatap Leo senang.
"Waktu pertama kali gw lihat lo di pesta, lo seperti pahlawan yak. Emangnya cewek yang lo tolong itu, pacar lo?" tanya Alana, gadis itu nampak penasaran.
"Bukan," jawab Leo, "dia sahabat gw."
Ekspresi Leo berubah, cowok itu menatap ujung sepatunya. Sedangkan Alana, dia mulai menaikkan sebelah alisnya karena heran.
"Mereka kok kayak kenal gitu?" tanya Axele heran, Una melipat tangannya di depan dada sambil berekspresi malas.
"Paling si ceweknya aja sok kenal sok dekat, secara 'kan Leo ganteng terus tajir lagi." cibir Una, dan Axele hanya mengangguk paham.
"Emang ganteng sih, meski nggak seganteng gw." ucap Axele, membuat Una mengangguk mantap sambil meacungkan kedua jempolnya.
"SETUJU!"
...🍕...
Revelyn dan Una ternganga melihat kedatangan murid baru di kelas mereka, pasalnya Revelyn sudah kenalan dengan gadis itu sebelumnya waktu di Pesta. Dan Una, dia bertambah kesal karena harus sekelas dengan gadis yang sudah membuat Axele kepincut dengan kecantikannya.
Alana berdiri di depan papan tulis, dia melempar senyum paling manis ke semua teman sekelasnya. Semua siswa balas tersenyum ke arahnya, sedangkan para siswi, mereka merasa kesal karena Alana yang sok tebar pesona bagi mereka.
"Nah, kenalkan diri kamu." ucap Bu Ani mempersilahkan, beliau adalah wali kelas IPA-1.
__ADS_1
Alana mengangguk, dia lalu memperkenalkan dirinya kepada semua teman-teman barunya.
"Nama saya Alana Veronica. Saya teman masa kecil Vito, kalian pasti tau cowok itu 'kan?" tanya Alana tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
Semua orang di kelas mengangguk, siapa yang tidak kenal Vito? Sang Ketua Osis yang terkenal disiplin, dan sebentar lagi masa jabatan Vito akan berakhir dan akan di ganti dengan ketua osis yang baru.
"Sumpah gw nggak nanya anjir!" gerutu Una kesal, Revelyn yang duduk di sampingnya hanya terkekeh.
"Nah Alana, kamu duduk di samping, hm ..." Bu Ani berdehem, dia mengernyit heran saat melihat Revelyn duduk di samping Una. "Velyn, kenapa kamu duduk di samping Una?"
Revelyn meringis, dia bangkit dari duduknya sambil berjalan ke tempat duduk asalnya yang berada di belakang Una.
"Nah Alana, kamu duduk di samping, Una." ucap Bu Ani, sontak Una berteriak.
"What?!"
Miselia dan Revelyn saling berpandangan, Una memang duduk sendiri dan kalaupun ada murid baru sudah pasti akan duduk sebangku dengan Una.
"Ada masalah, Una?" tanya Bu Ani serius.
Una meringis, dia menggaruk-garuk tengkuk kepalanya.
"Nggak ada bu, cuman shock aja tadi." jawab Una.
Alana tersenyum, dia lalu berjalan menghampiri tempat duduknya.
"Hai, kita ketemu lagi." sapa Alana pada Revelyn, gadis itu hanya tersenyum membalas sapaan Alana.
Miselia dan Una saling berpandangan sambil mengangkat bahu, mereka bertanya-tanya apakah Revelyn dan Alana saling kenal?
"Hai." sapa Alana, Una menoleh dan hanya membalas dengan deheman.
"Hm."
Alana tersenyum miring, dia lalu mengeluarkan cat kuku dari saku seragamnya. Diam-diam Una melirik, dia berdecak bukannya memperhatikan papan tulis gadis itu malah mengecat kuku.
"Apaan tuh." tanya Una sok cuek.
"Tipe-x."
"Itu kutex anjir!" kesal Una, Alana menoleh sambil berekspresi datar.
"Ngapain lo nanya lagi kalau udah tau namanya?"
"Habisnya lo bukannya belajar malah ngecat kuku."
"Ini belajar kok." jawab Alana cemberut.
"Belajar apaan?!"
"Golok gw mana yak?" gumam Una sambil merogoh isi tasnya.
Alana tersenyum miring sambil geleng-geleng kepala, gadis itu kembali mengecat kukunya.
...🍕...
Berita kedatangan murid baru sudah tersebar di SMA Sanjaya, karena murid baru yang di maksud berhasil membuat seisi sekolah gempar saat ia membawa masuk mobil Lamborghininya ke parkiran sekolah.
Bahkan saat Alana berjalan di sepanjang koridor, semua pasang mata mulai memperhatikannya.
Alana tersenyum miring. Pasalnya gadis itu suka saat semua orang menatapnya takjub, karena gadis itu memiliki sifat yang sombong dan juga sarkastis.
"Oh? itu Leo." gumam Alana, dia melihat Leo dari kejauhan.
Cowok itu berdiri di dekat pilar sambil menghadap ke arah lapangan.
Alana mengernyit heran, dia mengikuti arah pandang Leo. Ternyata cowok itu tengah memperhatikan Revelyn yang sedang berdiri di bawah pohon tepi lapangan, gadis itu tersenyum saat Vito berjalan menghampirinya.
"Vito?" gumam Alana, ekspresinya mendadak datar.
Alana sudah menyukai Vito sejak kecil. Bahkan kedua orang tuanya dan juga orang tua Vito berencana akan menikahkan mereka berdua. Namun Vito bersikeras menolak, Vito bilang pernikahan di lakukan karena saling mencintai, dan Vito tidak mencintai Alana sama sekali.
"Mau main basket?" tawar Vito, dia menyodorkan bola basket yang dia pegang pada Revelyn.
Revelyn menerima bola itu, dia lalu memantulkan bola basket tersebut ke tanah.
"Vito, soal Alana---"
"Iya gw tau." potong Vito cepat, sebenarnya Vito sudah tahu bahwa gadis itu akan pindah sekolah ke SMA Sanjaya, karena Alana sendiri yang memberi tahu saat di pesta ultahnya tempo hari yang lalu.
Revelyn mengangguk paham, "kalian berdua dekat yak?"
"Iya, kami teman masa kecil. Tapi saat Alana kelas 10, dia pindah sekolah yang ada di London dan sekarang dia pindah lagi ke sekolah ini." cerita Vito sambil terkekeh, membuat Revelyn terdiam sambil menatap ujung sepatunya.
"K-kalian beneran mau tunangan yak?" tanya Revelyn alhasil membuat Vito tersedak salivanya sendiri.
"Gw nolak, karena gw nggak suka Alana."
"Terus, lo suka siapa?" tanya Revelyn cengo.
"Gw suka lo." Vito bergumam, membuat Revelyn menatapnya kebingungan.
__ADS_1
"Lo tadi bilang apa?"
Pertanyaan Revelyn membuat Vito terkekeh, perlahan tangannya bergerak mengusap puncak kepala Revelyn.
"Nggak papa."
Leo yang melihat dari arah koridor merasa kesal sambil mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras kala melihat Vito dan Revelyn yang nampak bahagia.
Sedangkan Alana yang berdiri tak jauh dari Leo berada juga melihat apa yang Vito lakukan pada Revelyn, gadis itu meremas roknya sambil berekspresi datar.
Setelahnya Alana menghela napasnya sambil tersenyum, senyum miring yang penuh arti.
"Well, gw juga bisa."
...🍕...
"Gw jatuh cinta, njir." ucap Axele sambil merangkul Geral.
Geral berdecak kesal sambil menepis tangan Axele, cowok itu lalu berdehem.
"Sama Una, 'kan?" tebak Geral membuat Axele malah menoyor jidat Geral.
"Amit-amit!"
"Amit-amit dimulut, tapi dihati malah amin-amin." cibir Geral, Axele mengumpat karena kesal.
"Lo tau murid baru itu, 'kan?"
Geral mengangguk, "tau kok, dia 'kan udah jadi trending topik di sekolah."
"Nah gw jatuh cinta sama dia?!" seru Axele heboh.
Geral langsung tersedak salivanya, bukan karena mendengar ucapan Axele, melainkan Geral melihat murid baru yang di maksud Axele sedang bersama dengan Leo, Revelyn, dan juga Vito di parkiran sekolah.
"Vito!" panggil Alana saat Vito malah menarik tangan Revelyn untuk beranjak pergi.
Namun dengan cekatan Leo balik menarik tangan kanan Revelyn hingga gadis itu menoleh ke arahnya. Lagi-lagi Revelyn seperti mainan yang di perebutkan, membuat gadis itu mendengus kesal sedangkan Alana mulai mengerutkan dahinya.
"Lo mau kemana?" tanya Leo,
"Gw---"
"Kami mau jalan-jalan." potong Vito cepat, Alana yang mendengar langsung berdecak kesal.
"Katanya lo mau nemenin gw belanja di Mall? kok malah jalan-jalan sama dia?!" protes Alana, Vito hanya menatapnya datar.
"Kapan gw bilang?"
Alana terdiam, dia menunduk karena kesal. Sedangkan Leo masih menatap Revelyn lekat, yang di tatap pasrah jika Leo akan marah lagi dengan dirinya.
"Velyn?" panggil Leo, gadis itu mendongak sambil meringis.
"Sorry." lirih Revelyn.
Leo mengangguk paham, perlahan dia melepaskan pegangannya dari tangan Revelyn.
Vito tersenyum miring, dia dan Revelyn segera beranjak pergi. Meninggalkan kedua orang yang masih memandangi kepergiaan mereka.
"Astaga gw cemburu," ucap Alana dengan nada sarkastis, dia lalu menoleh ke arah Leo yang berdiri di sampingnya. "lo juga, cemburu 'kan?"
Leo lantas menoleh, "jangan sok tau." ketus Leo.
Alana tersenyum, dia menghela napasnya sambil melipat tangannya di depan dada.
"Oke."
"Hai cantik!"
Alana menoleh saat Axele sudah berdiri di sampingnya, sedangkan Geral sudah merangkul Leo sambil mengusap-usap punggung Leo.
Geral mencoba memberikan semangat pada sahabatnya, jujur saja, Geral juga merasa sedih karena sikap Leo mulai berubah. Cowok itu menjadi pendiam, dingin, bahkan seperti menghindari keramaian.
"Gw saranin, lo tikung aja mereka." saran Geral, namun Leo hanya menatap datar ke arah Geral.
"Gw bukan pembalap."
Geral menepuk jidatnya, dia hanya menyarankan agar Leo bisa lebih bertindak untuk merebut Revelyn kembali. Namun sepertinya cowok itu hanya diam dan menunggu Revelyn sendiri yang datang kembali padanya, namun Geral ragu jika gadis itu benar-benar akan kembali pada Leo. Bagaimana jika dia semakin menjauh dari Leo?
"Minta nomor hpnya, boleh nggak?" tanya Axele, dia merangkul Alana.
Alana menghela napasnya sambil menepis tangan Axele perlahan, "gw nggak minat sama cowok tampang pasaran kayak lo." ucap Alana sarkastis, gadis itu blak-blakan hingga membuat Geral tertawa ngakak.
"Gw pulang dulu." pamit Alana, dia berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
Sepeninggal Alana, Axele mendadak murung sambil menopang pipinya.
"Gw ganteng njir, buktinya Una aja bilang gw ganteng."
"Cieee .... Mulai suka sama Una yak?" ledek Geral sambil berdiri di tengah-tengah Axele dan Leo.
"Sialan!" umpat Axele sambil menyikut perut Geral.
__ADS_1
Geral tertawa ngakak sedangkan Leo hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala. Geral merangkul kedua sahabatnya, mereka bertiga mulai beranjak pergi menuju parkiran sekolah.
...🍕🍕🍕...