
"Bang, baksonya satu."
"Berapa neng?"
"Satu."
"Berapa?"
"SATU BANG!"
Miselia berteriak sambil mengelus dada, membuat pedagang bakso yang berjualan di kantin sekolahnya itu terkekeh.
"Sabar neng."
"Udah sabar bang."
Abang tukang bakso itu lalu mengangguk sambil menyiapkan pesanan, sedangkan Miselia, gadis itu mulai mengedarkan seluruh pandangannya ke penjuru kantin.
"Nih Neng Mis."
"Makasih bang." ucap Miselia sambil memberikan selembar uang pada pedagang tersebut.
Gadis itu lalu berjalan sambil membawa mangkuk bakso di tangannya, ia mencari keberadaan Revelyn dan juga Una yang sudah lebih dulu mencarikan tempat duduk untuk mereka makan.
"Itu mereka." Miselia bergumam, mengukir senyum sambil berjalan menghampiri teman-temannya.
Drrttt.
Namun langkahnya terhenti saat menerima sebuah pesan masuk dari handphonenya, lantas gadis itu mengambil benda pipih tersebut dari saku seragamnya.
Kedua mata Miselia tak berkedip, ia masih menatap isi pesan tersebut dengan ekspresi tidak percaya. Detik selanjutnya gadis itu mendongak, menatap Revelyn yang terlihat kesal saat Leo menganggu dirinya.
"Coba tebak ini siapa?" tanya Leo, ia menghampiri Revelyn dari belakang lalu menutup kedua mata gadis itu agar tidak bisa menebak siapa dirinya.
"Ya jelaslah itu lo, Leo kampret!"
Leo terkekeh pelan, menjauhkan tangannya dari Revelyn lalu mengambil duduk di samping gadis itu.
"Darimana aja lo? katanya mau jemput gw pas istirahat." tanya Revelyn menatap Leo yang menyandarkan kepalanya di pundak Revelyn, Una yang melihat pemandangan di hadapannya hanya bisa menatap heran.
"Gw capek banget abis di hukum pak kumis." keluh Leo, ia bahkan meraih minuman Revelyn lalu meminumnya tanpa berdosa.
"Maksud lo pak dayat?"
Leo mengangguk, "iya." jawabnya.
"Kualat lo entar manggil Pak dayat gitu!" kesal Revelyn sambil menoyor jidat Leo, cowok itu hanya cemberut sambil mengusap-usap dahinya.
"WHAT? LO DIHUKUM? APAKAH AXELE JUGA DIHUKUM?" teriakan cempreng Una alhasil membuat Leo dan Revelyn tersentak.
Leo lalu kembali duduk tegak, menatap Una malas sambil menopang dagunya.
"Cuma gw."
Mendengar jawaban Leo, Una mengelus dada lalu berucap syukur.
"Baguslah cuma lo."
Pandangan Miselia kembali terfokus pada isi pesan di handphonenya, gadis itu lantas tersenyum saat membacanya sekali lagi.
Aku akan kembali dua bulan lagi, untuk bertemu kamu dan juga menepati janji. Tunggu aku yak;)
"Oi Miselia Agatha! ngapain lo berdiri di sana?" teriak Una, mereka mengernyit heran saat melihat Miselia berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.
Miselia mendongak, menatap Revelyn, Leo, dan Una yang juga menatap heran ke arahnya.
"Ngapain disana? ayok kesini." panggil Revelyn, detik selanjutnya gadis itu tersenyum sambil memasukkan handphonenya ke dalam saku.
"Iya iya sabar." jawab Miselia mengangguk sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.
...🍕...
Revelyn menutup pintu mobil Miselia, ia lalu berterima kasih pada gadis itu dari balik jendela mobil.
"Makasih udah anterin gw ke sini."
"Nggak papa nih gw tinggal? lagipula kenapa sih lo tumben mau ke toko kue?" tanya Miselia, sebenarnya ia cukup khawatir pada Revelyn apalagi saat gadis itu menyuruhnya untuk pulang saja.
"Gw mau beliin Leo kue, gw mau makan berdua sama dia."
Miselia mengangguk paham, lalu kembali menatap Revelyn serius.
"Kenapa nggak Leo aja yang nemenin lo kesini? jadinya lo pulang nggak bakal naik taxi 'kan."
__ADS_1
Revelyn memanyunkan bibirnya, "Leo tadi di hukum lagi sama Pak Dayat, jadinya gw disuruh pulang duluan sama dia." jelasnya yang membuat Miselia sekali lagi mengangguk paham.
"Jadi gimana nih? tetap pulang naik taxi atau sama gw aja?"
"Naik taxi aja, udah lo pulang aja sana."
"Yakin?" tanya Miselia heran.
"Yakinlah, kenapa sih lo khawatiran banget sama gw."
"Ya jelaslah karena gw 'kan---" gadis itu menjeda kalimatnya, menatap Revelyn sambil meneguk salivanya. Detik selanjutnya Miselia tersenyum. "lo 'kan sahabat gw ...." ucapnya pelan yang alhasil membuat Revelyn terkekeh.
"Yaudah, gw beli kue dulu." pamit Revelyn, ia melambaikan tangannya ke arah Miselia.
"Yaudah gw pulang." Miselia balik membalas lambaian tangan Revelyn, gadis itu lalu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Revelyn menghela napasnya, menatap mobil berwarna silver yang mulai menghilang dari pandangannya.
Puas memandangi jalan raya, gadis itu membalikkan badannya. Lalu berjalan pelan menuju sebuah toko yang menjual berbagai macam kue.
Namun belum memasuki pintu toko tersebut, Revelyn tak sengaja berpapasan dengan seseorang.
Hal itu sontak membuat denyut jantung Revelyn terasa berhenti, tubuh gadis itu tiba-tiba saja mematung.
"I-i-itu."
Revelyn menoleh, menatap ke arah perginya orang tadi. Orang itu mengenakan jas sambil membawa dua paperbag di tangannya, cowok itu berjalan menuju mobilnya.
"Kak Regan!" gumam Revelyn, gadis itu langsung berlari untuk mengejar namun sialnya mobil itu sudah melaju begitu saja.
"Tu-tunggu!"
Revelyn terus bergumam, ia masih terus berlari meski mobil itu sudah melaju pergi. Namun naas, kaki Revelyn malah tersandung batu yang alhasil membuatnya terjatuh.
Bruk.
"Tu-tunggu!"
Mata Revelyn memanas, ia masih menatap kepergiaan mobil sedan berwarna hitam itu.
Revelyn yakin, cowok yang tadi itu Regan, kakaknya. Revelyn mengenali wajah kakaknya karena Agitha, pengasuhnya itu selalu memperlihatkan foto Regan yang dikirim oleh mamanya setiap tahun.
Kak Regan ....
Kak Regan.
"Revelyn?"
Revelyn lantas mendongak, menatap seorang cowok di hadapannya dengan tatapan tak percaya.
"Lo kenapa?" tanya Vito heran, gadis itu lalu menunduk sambil menggeleng lemah.
"Nggak."
"Lo kenapa duduk di situ? emangnya nggak ada tempat duduk lagi apa?"
Vito bertanya heran, namun pertanyaannya itu sedikit membuat Revelyn mendengus karena kesal
"Gw jatuh."
"Terus?"
"Lutut gw luka."
"Terus?"
"Gw mau pulang."
Ekspresi Vito berubah, sedikit iba pada gadis itu. Ia lalu berjongkok di depan Revelyn sambil mengulurkan tangannya.
"Oke, ayo pulang."
...🍕...
Agitha, wanita paruh baya itu sedang menyirami tanaman yang tertata rapi di setiap halaman rumah.
Pandangannya langsung beralih pada Leo yang membuka pagar rumahnya, lalu berjalan masuk menghampirinya.
"Velyn mana?"
"Belum pulang."
"Kenapa?" Leo bertanya heran.
__ADS_1
Agitha menoleh, lalu menatap Leo heran. "lah, Mbak kira kamu tau." ucap Agitha yang membuat Leo garuk-garuk kepala karena bingung.
"Nggak tau."
Sementara itu disisi lain, Vito menggigit bibir dalamnya, ia menuntun Revelyn berjalan menuju rumahnya. Namun yang membuat Vito heran, gadis itu tidak membuka suara sama sekali.
Yang terdengar hanya isakan tangis yang diam-diam ia sembunyikan, Vito semakin heran hingga membuatnya semakin penasaran.
Mereka berdua sudah berada di depan pagar rumah Revelyn, manik Vito lalu menangkap sosok cowok yang sedang asik berbincang dengan seorang wanita paruh baya.
Preman sekolah?
"T-thank."
Vito mengangguk, "lo kenapa?" akhirnya Vito bertanya, namun gadis itu malah menggeleng lemah.
"Lo nang-"
"Velyn?!"
Revelyn mendongak saat Leo berlari ke arahnya, ekspresi Leo nampak panik saat melihat keadaan Revelyn.
"Lutut lo?"
Gadis itu semakin ingin meledakkan tangisnya, ia bahkan sudah tidak peduli jika Vito sang ketua osis itu melihatnya menangis.
"Lo kenap---"
"LEO!"
Leo kaget bukan main saat Revelyn langsung memeluk dirinya, mencengkram bajunya sambil menangis.
Vito yang melihat hanya berekspresi datar, ia lalu menatap Leo saat cowok itu malah menatapnya kesal. Tatapan Leo seolah mengatakan, pergilah sialan.
Cowok itu menghela napasnya, ia lalu beranjak pergi dari sana.
"Kamu kenapa nak?" Agitha mengusap rambut Revelyn, namun gadis itu menggeleng sambil membenamkan wajahnya pada dada Leo.
Tangis Revelyn semakin menjadi, gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dan Leo, cowok itu hanya diam sambil mengusap-usap punggung Revelyn.
Biarkan saja dia menangis, Leo selalu berpikir seperti itu. Ia membiarkan Revelyn menangis sepuasnya, saat tangisnya sudah reda maka Leo akan bertanya.
"Mbak, bisa ambilin obat merah sama kapas?" pinta Leo, Agitha lalu mengangguk sambil berjalan masuk.
"Leo! gw---"
"Udah puasin aja dulu nangisnya, baru gw minta penjelasannya." ucap Leo datar, akhirnya gadis itu berhenti menangis meski sesenggukkan.
Revelyn melepaskan pelukannya, ia menatap Leo lekat sambil sesekali menghapus air matanya.
"Lo kenapa?" Leo menatap lekat gadis di hadapannya, begitu juga Revelyn.
Wajah gadis itu semakin sedih, sedih karena ia melihat Regan. Seorang kakak yang bilang akan kembali untuk menemuinya, awalnya Revelyn kira semua itu hanya omong kosong. Namun sekarang cowok itu telah kembali, tapi kenapa tidak langsung menemui dirinya?
"Kenapa hm?" tanya Leo, ia menyentuh kedua pundak Revelyn hingga membuat mereka berdua saling bertatapan.
"Gw lihat Regan."
...🍕...
Miselia menguncir rambutnya, ia merasa gerah sambil memilih berjalan-jalan di halaman rumahnya.
Gadis itu mengamati berbagai jenis bunga yang tertanam rapi di pekarangan rumahnya, melihat bunga-bunga tersebut membuatnya teringat seseorang.
"Rasanya lama sekali, kira-kira kabarnya gimana yak?" Miselia bergumam, hanya bisa tersenyum miris lalu membuang napasnya kasar.
Ia rindu, rindu dengan seseorang yang pernah ia temui dulu. Awal pertemuan terjadi saat Miselia pergi ke Paris untuk menemui Ayahnya, namun tak di sangka bahwa pergi kesana menumbuhkan cinta. Ia jatuh cinta pada seseorang, seseorang yang mempunyai sisi istimewa yang membuat Miselia bahagia saat bersamanya.
Miselia bahkan sesekali terkekeh karena memikirkan cowok itu, yang mana saat ia membuat masalah pasti cowok itu akan menyentil keningnya lalu mengusap kepalanya sambil berkata bahwa dirinya itu konyol.
Namun fokus Miselia teralihkan, kening gadis itu mengerut saat melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya, gadis itu memiringkan kepalanya saat pemilik dari mobil tersebut keluar.
Degupan jantung Miselia semakin menjadi-jadi, apalagi saat pemilik mobil tersebut menatap kearahnya sambil membawa dua paperbag di tangannya.
Cowok yang mengenakan setelan jas berwarna biru navy itu tersenyum, merentangkan kedua tangannya sambil menyapa.
"Hai?"
Miselia tersenyum haru, ia mencengkram dadanya sambil berlari ke arah cowok itu.
"Regan!"
...🍕🍕🍕...
__ADS_1