
Malam semakin larut, dan waktu terus berjalan tanpa henti. Leo menatap jam dinding di kamar Revelyn yang sudah menunjukkan pukul 00:30 a.m.
Keadaan kamar yang semakin hening, membuat Leo menghela napasnya, ia tetap terjaga karena gadis yang berada di sampingnya.
Cowok itu lantas membalikkan badannya menghadap Revelyn, gadis itu tertidur pulas setelah cukup puas menangis selama hampir seharian.
Sebelah tangan Leo menopang kepalanya sendiri, sebelahnya lagi bergerak mengusap lembut rambut Revelyn. Cowok itu menatap lekat wajah gadis yang tertidur di hadapannya, Leo bahkan perlahan menyelipkan rambut Revelyn yang menutupi sebagian wajah gadis itu di belakang telinga.
Gw udah kenal lo dari kecil, kita udah bersama-sama sejak kecil.
Kita melakukan hampir segalanya bersama, hampir segalanya.
Gw tau apa yang lo suka, gw tau apa kebiasaan lo, dan gw bahkan tau apa yang paling lo nggak suka.
Tapi sekarang, gw baru sadar. Bahwa lo orang yang paling bisa menyembunyikan kesedihan cuma dengan senyuman, lo selalu bisa ngehibur gw padahal lo juga perlu di hibur.
Perlahan sudut bibir Leo tertarik, menatap wajah tenang di hadapannya membuatnya merasa nyaman.
Velyn, gw janji bakal selalu ada di samping lo, di sisi lo, dan juga di hidup lo.
Tapi gw nggak yakin,
Apakah lo juga bisa janji bakal selalu ada di samping gw? selamanya?
"Ngh."
Gadis itu mengerang, sedikit menggeliat. Namun Leo malah terkekeh sambil menarik ujung selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.
Setelah itu Leo mulai meletakkan kepalanya di atas bantal, ia mengubah posisinya menjadi terlentang sebelum akhirnya kembali berbalik menghadap Revelyn.
Mereka berdua saling berhadapan, Leo bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu dari dekat.
Benar-benar manis.
Leo menghela napasnya, perlahan wajahnya ia dekatkan menuju wajah Revelyn. Cowok itu sengaja menempelkan hidung mereka sekilas, ia lalu tersenyum sambil bergumam sebelum akhirnya mulai memejamkan matanya untuk tidur.
"Good night."
...🍕...
"Sel, mau ke kantin? lo pasti lapar kan?" Una bertanya khawatir, ia menatap Miselia yang sedari tadi betah berada di kelas dari jam pelajaran pertama sampai sekarang.
Gadis itu mendongak, menatap Una sebentar yang duduk di hadapannya, sedetik kemudian Miselia menunduk sambil menggeleng.
"Sel, lo kalau ada masalah cerita dong." gadis itu mendesak, namun Miselia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Pasrah, Una-pun mendengus kesal. Gadis itu lebih memilih memainkan handphonenya, namun kegiataannya langsung terhenti saat melihat Miselia yang sontak bangkit dari duduknya.
"Sel---"
Mulut Una sedikit terbuka, ia lantas ikut menoleh ke arah mata Miselia memandang. Gadis itu bingung saat yang Miselia lihat adalah Revelyn, gadis itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar.
Miselia meneguk salivanya, gadis itu meremas roknya saat Revelyn berjalan ke arah tempat duduk mereka.
"Velyn gw mau ng---"
"Gw nggak ada waktu buat ngomong sama lo." potong Revelyn cepat padahal Miselia belum selesai bicara.
Gadis itu menatap Miselia datar, kemudian langsung menyambar jaketnya yang berada di atas meja. Revelyn langsung beranjak pergi dari kelas, meninggalkan Miselia yang tertunduk menyesal dan Una yang semakin bertambah bingung.
"Apa yang terjadi?" Una menatap Miselia tak percaya. "lo ada masalah sama Velyn?" tanyanya yang membuat Miselia mengangguk lemas.
"Iya."
"Selesain masalah kalian."
"Dia nggak mau ngerti."
"Buat dia ngerti."
"Tap---"
"Buat dia ngerti gimanapun caranya, gw nggak tau apa masalah kalian berdua tapi yang pasti, diam nggak akan menyelesaikan masalah."
Miselia mendongak, ia menatap Una lekat. Una memang seperti itu, adakalanya gadis itu akan berpikiran dewasa saat menasehati seseorang atas kesalahannya sendiri.
__ADS_1
"Oke, gw coba."
...🍕...
Semilir angin lembut menerpa pelan wajah Revelyn, gadis itu memejamkan matanya sambil menikmati hembusan angin.
Gadis itu memilih berada di rooftop sekolah untuk menenangkan pikirannya, meskipun sebenarnya ia hanya tak mau bertatap muka dengan salah satu sahabatnya.
Setiap memejamkan mata, Revelyn selalu terbayang-bayang perkataan Regan serta memori masa lalu yang berusaha Revelyn kubur dalam-dalam.
"Sorry, gara-gara kak Regan kamu jadi sendirian selama ini. Gara-gara kak Regan kamu nggak bisa merasakan kasih sayang mama sama papa, dan gara-gara kak Regan---"
"Velyn rela menunggu."
"Velyn, ikut yak?"
"Nggak bisa! kamu tinggal saja disini dengan Agitha, Papa dan Mama harus membawa kakak kamu berobat karena yang paling penting sekarang adalah kesehatannya!"
"Kakak pergi sebentar, kakak pasti bakal kembali."
Gadis itu mencengkram pagar pembatas rooftop, entah kenapa hatinya terasa sakit setiap mengingat semua memori masa lalu itu.
Sejak kecil ia memang kurang kasih sayang kedua orang tuanya, Mama dan Papanya lebih mementingkan kesehatan Regan. Dan yang selalu memberikan kasih sayang dan perhatian untuknya cuma Agitha, pengasuhnya yang sekarang sudah Revelyn anggap seperti mamanya sendiri.
Padahal sebagai anak perempuan, Revelyn ingin sekali merasakan cinta dari sang Papa dan kasih sayang dari sang Mama.
Mata Revelyn memanas, perlahan kedua matanya mulai berkaca-kaca. Gadis itu ingin menumpahkan segalanya, segala isi hatinya.
"Velyn, gw mau jelasin semuanya."
Suara itu berhasil membuat Revelyn kembali berekspresi datar, gadis itu mencengkram kuat pagar pembatas sebelum akhirnya menghela napasnya pasrah.
Revelyn mengusap air matanya, lalu membalikkan badannya, menghadap ke arah seorang gadis yang berekspresi serius menatapnya.
"Silahkan." Revelyn tersenyum, ia mempersilahkan Miselia untuk menjelaskan semuanya.
Miselia menunduk, sambil mengusap belakang lehernya. Gadis itu berusaha menyemangati dirinya sendiri agar bisa menjelaskan semuanya, agar tidak ada kesalah pahaman lagi antara mereka berdua.
"Awal gw ketemu Regan saat gw ke Paris, buat ketemu ayah gw. Nggak disangka ternyata rekan kerja ayah gw itu, kakak lo. Awalnya gw nggak tau bahwa dia kakak lo. Tapi hari itu dia bilang sama gw bahwa dia punya janji buat pulang ke Indonesia, demi adiknya. Gw tanya sama dia nama adiknya, dan dia bilang namanya Revelyn Paulin."
"Gw dan Regan mulai dekat saat gw bilang bahwa lo adalah sahabat gw, dia bilang mungkin ini takdir agar dia bisa tau gimana keadaan lo sekarang."
"Sampai saat gw mau pulang ke Indonesia, dia nyatain perasaannya sama gw. Dan gw sadar bahwa gw juga suka sama dia, dan akhirnya kami mulai pacaran."
"Setiap harinya dia selalu nanya kabar lo, dia nanya hal apa yang setiap harinya buat lo senang, dan hal apa yang setiap harinya buat lo sedih."
"Dan gw selalu bilang bahwa setiap harinya ada seseorang yang udah buat lo bahagia, dan itu udah cukup buat dia lega."
Miselia menghela napasnya, ia tersenyum tipis sambil menatap Revelyn lekat.
"Dia datang demi adiknya, cuman dia hanya perlu waktu buat bertemu adiknya. Dia cuma belum siap bertatap muka sama lo, mungkin karena dia masih merasa bersalah karena udah rebut kasih sayang mama sama papa lo."
"Sorry, gw nggak bermaksud ikut campur urusan kalian. Tapi, perlu lo ketahui. Regan cuma belum siap, karena setiap harinya dia selalu di hantui perasaan bersalah karena udah buat lo tumbuh tanpa kasih sayang."
Gadis itu menjelaskan semuanya, dan berharap Revelyn mengerti semuanya.
Semuanya, kenapa Regan tidak menemuinya, dan kenapa Regan tidak menjelaskan semuanya.
"Mungkin lo bakal berpikir bahwa Regan udah nggak peduli lagi sama lo, lo salah. Dia peduli, buktinya dia selalu nanyain kabar lo sama gw."
Revelyn terdiam, gadis itu bahkan mengepalkan kedua tangannya. Mendengar semua penjelasan itu membuat dadanya sesak, rasanya sakit sekali hingga bernapas-pun terasa sulit.
"Velyn gw mohon jangan marah sama gw, maafin gw udah sembunyiin semua fakta ini. Maafin gw, kalau kehadiran gw buat lo dan Regan nggak bisa bersama, gw bakal pergi kalau lo minta. Tapi please, jangan marah sama gw, jangan tinggalin gw."
Miselia memohon, kedua matanya berkaca-kaca. Baginya Revelyn adalah sahabatnya, dan Miselia hanya tidak mau kehilangan salah satu berlian kehidupannya.
Gadis itu menangis, ia sudah tidak kuat menahan emosinya. Miselia bahkan menangkupkan kedua tangannya, memohon pada Revelyn agar gadis itu mau memaafkan dirinya.
"Velyn, katakan sesuatu." lirih Miselia, ia menatap Revelyn yang masih terdiam di tempat.
Revelyn menarik napasnya dalam, ia mendongak menatap Miselia lekat.
"Gw mau sendiri dulu." ucap Revelyn, ia mulai beranjak pergi dari rooftop. Meninggalkan Miselia yang masih menangis sesenggukkan.
Revelyn mencengkram kerah seragamnya, perasaan sesak di dada mulai dirasakannya lagi. Bahkan bernapas pun membuat Revelyn tersenggal-senggal, gadis itu menuruni anak tangga rooftop sambil merogoh sakunya untuk mengambil handphonenya.
__ADS_1
Benda pipih itu berulang kali ia dekatkan ke telinganya, berulang kali Revelyn menunggu jawaban dari seberang sana. Namun nihil, nomor Leo tidak bisa di hubungi.
Revelyn hanya ingin Leo ada di hadapannya sekarang, agar Revelyn bisa meluapkan semua dan melampiaskan kesedihannya.
Mata Revelyn semakin memanas, sampai-sampai pandangannya memburam karena matanya yang berkaca-kaca.
"Revelyn."
Gadis itu langsung menoleh, menatap cowok di hadapannya. Detik selanjutnya Revelyn langsung berlari ke arah cowok itu lalu mencengkram kerah baju cowok itu, sambil mendesaknya.
"Gw mau pulang, tolong antar gw pulang!" Revelyn memaksa, sambil menarik-narik kerah seragam Vito.
...🍕...
"Wah gila, nih cewek nggak kapok-kapok aja lagi." Axele menggerutu kesal sambil memandangi layar handphonenya, membuat Geral yang berjalan di sampingnya menaikkan sebelah alisnya heran.
"Siapa?" tanya Geral, bahkan Leo yang berjalan di samping Geral juga mulai penasaran.
"Una, tuh cewek 'kan udah gw bilangin jangan ganggu gw lagi. Entar pacar gw marah, tapi sampai sekarang masih aja ganggu gw." kesal Axele sambil menyimpan kembali handphonenya ke saku celana.
"Kayak beneran punya pacar aja." sindir Leo, cowok itu terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Entar juga beneran punya." cibir Axele bertambah kesal.
Geral tertawa, "ya si Una." canda Geral, namun Axele malah menjitaknya.
"Najis, lo kali yang bakal jadi pacarnya!"
"Sorry, gw sama dia nggak cocok. Tapi kalau lo sama dia, baru cocok."
"Karena sama-sama GILA!" ledek Leo, diikuti gelak tawa dari Geral.
Leo geleng-geleng kepala sambil meraih handphonenya yang ada di saku celana, cowok itu berhenti berjalan sedangkan kedua temannya bersandar pada pagar pembatas koridor kelas sebelas.
Cowok itu mengernyit saat mendapat lima misscall masuk dari Revelyn, Leo menyesal karena tadi lupa menon-aktifkan mode pesawat.
"Leo!"
Leo mendongak, mengernyit heran saat Geral dan Axele memberi kode agar menghampiri mereka segera.
"Apa?" tanya Leo saat berjalan menghampiri kedua temannya itu.
"Noh lihat, lo ditikung 'kan!" ucap Axele sambil menunjuk ke arah parkiran sekolah, mereka bertiga kompak melihat Vito yang membukakan pintu mobil untuk Revelyn.
Spontan hal itu membuat Leo mengepalkan tangannya, tanpa basa-basi lagi Leo langsung beranjak pergi dari hadapan teman-temannya.
"Wah gila-gila, kayaknya dia cemburu." ucap Axele yang langsung mendapat jitakkan dari Geral.
"Kejar bego!"
Axele nyengir sambil mengangguk, detik selanjutnya mereka langsung berlari menyusul Leo yang sudah menuruni anak tangga.
Cowok itu berlari di sepanjang koridor kelas sepuluh, dan berharap cowok itu belum membawa Revelyn pergi.
Mengingat saat Vito, ketua osis itu membukakan pintu mobil untuk Revelyn membuat rahang Leo mengeras. Leo tidak pernah semarah ini saat Revelyn di dekati oleh banyak cowok, namun jujur saja untuk kali ini, Leo punya pikiran bahwa ketua osis itu akan merebut Revelyn darinya.
"Sialan!"
Leo mengumpat saat mobil itu sudah beranjak pergi, cowok itu tersenggal-senggal sambil menatap kepergian mobil Vito dari ambang gerbang.
Namun fokus Leo buyar seketika saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya, cowok itu menatap datar pintu mobil yang dibuka.
Sang pemilik mobil turun dari mobilnya, ia menatap Leo sambil membenarkan setelan jasnya.
"Lo Leo Andhara, 'kan?"
Leo mengernyit heran saat cowok berjas itu tahu namanya dan sekarang sedang berjalan menghampirinya.
"Lo tau darimana nama gw?"
Cowok itu terkekeh, sambil mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.
"Gw Regan Paulan."
Eh?
__ADS_1
...🍕🍕🍕...