HEARTBEAT

HEARTBEAT
23. Patah Hati


__ADS_3

Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang-bintang dan juga rembulan, di bawah sana gadis itu termenung sambil duduk di gazebo yang ada di halaman rumahnya.


Dia menatap banyaknya bintang di langit, begitu indah hingga dia tak jenuh untuk memandang.


Revelyn merasa malam ini begitu sunyi dan senyap, di temani keheningan gadis itu masih terbayang kejadian saat tadi siang di sekolah.


"Dan maaf, kalau lo menginginkan kita seperti dulu lagi, sorry. Gw nggak bisa."


Gadis itu menghela napasnya berat, ucapan itu selalu terngiang-ngiang di pikirannya sesaat.


Sekarang apa yang harus dia lakukan?


"Lagi mikirin apa?"


Kehadiran Regan mengejutkan Revelyn, gadis itu menoleh saat Regan mengambil duduk di sampingnya.


Kini Regan juga ikut mendongak, menatap langit yang begitu indah.


"Bukan apa-apa." jawab Revelyn, dia menunduk sambil mengayunkan kedua kakinya.


Regan tersenyum, "kalau ada masalah, cerita aja."


"Velyn punya pacar."


Kejujuran Revelyn membuat Regan menatapnya tidak percaya, Regan sedikit terkejut akan hal itu.


"Really? siapa? Leo?" tebak Regan, Revelyn menggeleng lemas.


"Bukan."


"Terus siapa kalau bukan Leo?"


"Dia ketua osis, dan Velyn senang saat dia menyatakan perasaannya pada Velyn, tapi ...." Revelyn menjeda kalimatnya, membuat Regan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?"


Regan penasaran, pasalnya raut wajah adiknya mulai berubah menjadi sedih.


"Leo kayaknya nggak suka Velyn jadian sama cowok itu, bahkan Leo selalu ngelarang Velyn buat deket-deket sama cowok itu," jelas Revelyn.


"Memangnya cowok itu, jahat?"


Revelyn menggeleng, "dia baik sama Velyn, cuman dia selalu buat Leo kesal dan begitupun sebaliknya."


Regan tersenyum, dia mengalihkan pandangannya menuju langit.


"Velyn tau nggak?" tanya Regan, gadis itu menggeleng lemah.


"Apa?"


"Kalau seseorang melarang kita akan sesuatu, tandanya dia peduli---" jeda Regan beberapa saat. "---dan jika seseorang yang marah saat kita dekat dengan orang lain, itu tandanya dia cemburu." Regan menatap adiknya lekat sambil tersenyum manis, namun Revelyn hanya menatap kakaknya dengan ekspresi cengo.


"Jadi maksud Kak Regan, Leo cemburu? tapi kenapa?" tanya Revelyn kebingungan.


Regan terkekeh sambil geleng-geleng kepala, dia lalu mengusap puncak kepala adiknya karena gemas.


"Kak Regan sayang kamu." ucap Regan tersenyum.


"Velyn juga." gadis itu menatap Regan lekat, dia tersenyum lebar.


"Kak Regan berharap bisa selalu ada di samping kamu."


Revelyn mengangguk mantap, "kakak harus janji soal itu." ucapnya sambil menatap lurus ke depan.


Regan terdiam, ekspresinya berubah menjadi datar.


"Kalaupun nggak bisa, kamu nggak akan sendirian." ucapan Regan membuat Revelyn langsung menatapnya lekat.


"Kak?"


"Karena kamu masih punya Mbak Agitha, Leo, dan juga yang lain."


Revelyn mengangguk, dia menunduk sambil memejamkan matanya sebentar.


"Iya."


...๐Ÿ•...


Wina tersenyum, dia dan Ayka sudah selesai menghidangkan makan malam untuk Andhara dan juga Leo.


Malam ini Ayka ingin semua keluarga berkumpul untuk makan malam, dia ingin hubungan Andhara juga Leo membaik, dan dia juga ingin mengenal Leo lebih dalam lagi agar dia bisa menjadi Mama yang baik untuk Leo.


"Mas, mari makan." ucap Ayka, dia memanggil Andhara yang duduk di sofa ruang tamu.


Andhara mengangguk, dia lalu bangkit dari duduknya sambil berjalan menuju meja makan.


Mereka bertiga mulai duduk di kursi, sambil menunggu Leo keluar dari kamarnya. Wina memilih untuk tidak memanggil anak itu, karena dia ingin Leo terkejut dengan kehadiran Andhara dan juga Ayka.


Beberapa saat kemudian yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, cowok itu menuruni anak tangga untuk menuju dapur. Namun Leo malah terdiam di dekat tangga saat semua orang menatapnya, Leo terkejut karena semuanya sudah berkumpul di meja makan.


Ayka melempar senyum, "Leo, ayo gabung sama kami, kita makan malam bersama." ajak Ayka lembut.


Leo awalnya masih diam dengan wajah tanpa ekspresinya, namun untuk menghargai mereka bertiga akhirnya cowok itu mengangguk sambil berjalan menuju meja makan.


Cowok itu mengambil duduk di samping Wina, dia duduk berhadapan dengan Ayka dan juga Adhara.


Setelah sekian lama, akhirnya Leo bisa makan malam bersama, namun dia merasa suasana makan malam ini nampak terasa canggung hingga membuat Leo ingin segera pergi ke kamarnya, namun saat mereka mulai makan, Ayka terus menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.


"Sekolah kamu bagaimana?" tanya Ayka.


"Baik." jawab Leo singkat.

__ADS_1


"Tapi kenapa Mama dengar dari Nenek, bahwa kamu suka membolos."


Leo memejamkan matanya sebentar, merasa kesal saat wanita itu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'Mama'.


"Memangnya kenapa?" tanya Leo dingin.


Ayka tersenyum, "kamu 'kan sudah mau lulus, jadi harus rajin belajar dan perbaiki sikap kamu di sekolah."


Leo spontan meletakkan sendok dan garpunya di piring secara kasar hingga menyebabkan suara dentingan yang cukup keras.


"Memangnya anda tahu apa tentang saya? anda 'kan masih baru, bahkan untuk mengenal saya lebih jauh saja belum. Jadi jangan sok tahu tentang saya dan bagaimana sikap saya!" ucap Leo, dia tersenyum miring membuat Andhara menegurnya karena kesal.


"Leo?! di mana sopan santun kamu? Papa nggak pernah ajarin kamu seperti itu!"


Lantas Leo terkekeh, "Papa tanya soal sopan santun? memangnya Papa mengajari hal itu pada Leo? bahkan saat Mama sudah pergi, Papa nggak pernah ada lagi untuk Leo." ucap Leo, dia menatap Andhara dengan senyum sarkastis.


Andhara dan Ayka terdiam, membuat Leo berdecak kesal sambil mengalihkan pandangannya.


"Papa tau, Papa minta maaf. Karena itu, Papa mau menebus kesalahan Papa dengan---"


"Dengan menikahi dia, lalu membuat keluarga kita seperti dulu lagi. Seperti itu, 'kan?"


Andhara diam, dia lalu mengangguk lemah.


"Papa nggak tau yak? betapa susahnya Leo buat lupain Mama, betapa susahnya Leo buat hilangin semua ketakutan dan rasa sakit yang Leo punya. Sekuat apapun Leo berusaha buat lupain Mama, tetap aja nggak bisa! Leo rindu Mama, Leo butuh Mama, tapi Mama udah nggak ada lagi! Leo mau Mama, tapi bukan dia!" bentak Leo, dia menatap Ayka kesal.


Ayka menatap Leo lekat, "saya memang bukan Hira, mama kamu. Tapi saya akan berusaha, agar bisa menjadi Mama yang baik buat kamu."


Leo terdiam, dia dapat melihat kesungguhan dalam bola mata Ayka. Namun cowok itu langsung bangkit dari duduknya dan menatap Ayka datar.


"Silahkan menjadi Mama yang baik buat saya, lakukan sesuka hati anda, tapi jangan pernah ganggu saya!" ucap Leo sebelum akhirnya dia beranjak pergi menuju kamar, meninggalkan Wina, Andhara, dan juga Ayka yang terdiam di tempat.


Andhara memandangi kepergiaan Leo, putra semata wayangnya, hasil buah cintanya dengan almarhumah istrinya dulu.


Hira, dia bukan Leo yang kita kenal dulu. Maafkan aku, aku sudah gagal menjadi ayah yang dia inginkan.


Bahkan untuk menepati janjiku, aku tidak bisa. Aku juga masih sakit jika mengingatmu, aku bahkan juga masih belum bisa melupakanmu.


Andhara mulai teringat permintaan terakhir Hira sebelum pergi, membuatnya kembali merasa bersalah.


"Aku udah nggak tahan lagi, aku mau tidur. Tapi sebelum itu, berjanjilah padaku."


"Kamu harus menjaga buah hati kita, aku nggak mau dia jadi anak yang kurang kasih sayang seorang ayah."


"Berjanjilah padaku, Andhara."


Andhara menjambak rambutnya frustasi, matanya mulai memanas memikirkan kembali memori masa lalu itu.


Ayka dan Wina yang melihat Andhara seperti itu segera menenangkannya, Ayka paham bahwa Andhara masih belum bisa melupakan Hira sepenuhnya.


Tapi Ayka sudah di sini, dan dia akan membantu Andhara untuk bisa menepati janjinya.


...๐Ÿ•...


Dia menatap pigura foto yang terpajang di dinding kamarnya. Foto sebuah keluarga yang tadinya bahagia, kini lenyap.


Kemana semua kebahagiannya? kenapa harus dia yang menderita?


Kemana mamanya? Leo sangat merindukannya.


Leo memejamkan matanya sebentar sambil mengusap wajahnya gusar, dia bisa menjadi sangat lemah seperti sekarang.


Cowok itu menekuk kedua lututnya, lalu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Leo nggak sendiri, Leo punya Papa, Nenek, teman-teman yang sayang Leo, dan juga Mama ...."


"Mama akan selalu berada di sisi Leo, Mama janji, Mama akan selalu hidup di hati Leo."


Rasa sakit di hati Leo kian terasa, dadanya menjadi semakin sesak. Membuat mata Leo memanas, cowok itu menghela napasnya berat.


Namun pandangan Leo beralih menuju handphonenya yang berada di sampingnya, benda pipih itu menyala karena notifikasi masuk dari grup chat di handphonenya.


Leo segera mengambil handphonenya, dia tidak membuka notifikasi itu, melainkan galeri. Cowok itu memandangi fotonya bersama Revelyn.


Setidaknya hanya foto itu yang bisa membuatnya sedikit tenang.


Setelah itu Leo kembali meletakkan handphonenya, dia kembali mengusap wajahnya sambil menunduk dalam.


Mama, Leo nggak punya siapa-siapa lagi ....


Leo takut! Leo takut sendiri lagi.


...๐Ÿ•...


SMA Sanjaya.


Mata Alana memicing saat melihat Vito yang duduk di atas meja Revelyn, sedangkan Alana, dia sengaja berpindah tempat duduk di barisan paling ujung.


Cowok itu sesekali tertawa karena berbincang-bincang dengan Revelyn, nampak bahagia hingga membuat Alana terbakar api cemburu.


"Kamu udah makan?" tanya Vito, Revelyn yang duduk di kursinya hanya menggeleng.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Kenyang." jawab Revelyn, dari raut wajahnya gadis itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


Vito mengernyit heran, "kamu kenapa?"


Revelyn mendongak, dia menatap Vito sambil memaksakan untuk tersenyum.


"Nggak papa."

__ADS_1


Vito mengangguk paham, "tapi itu bekal buat siapa?" tanya Vito kala melihat Revelyn yang sedari tadi terus memegang kotak bekal di tangannya.


Revelyn menatap bekal di tangannya, dia lalu mendongak.


"Ini buat---"


Namun kalimat Revelyn terhenti saat melihat Leo berjalan melewati kelasnya, spontan gadis itu ingin memanggil.


"Le---"


"LEO!"


Eh?


Revelyn langsung menoleh ke belakang, menatap Alana yang berjalan menghampiri Leo. Alana membawa kotak bekal di tangannya, membuat Revelyn spontan meremas kotak bekal di tangannya.


Leo mengernyit heran, dia berdiri di ambang pintu kelas XII IPA-1 sambil menunggu Alana yang tengah berjalan menghampirinya.


"Apa?"


Alana melempar senyum manis ke arah Leo, dia lalu menyodorkan kotak bekal di tangannya pada Leo.


"Buat lo, itu gw buat sendiri lho." ucap Alana, dia lalu tersenyum miring saat melihat Revelyn yang sedang menatap mereka berdua lekat.


Awalnya Leo hanya menatap kotak bekal yang di sodorkan padanya dengan tatapan datar, dia lalu mendongak, menatap ke arah tempat duduk Revelyn berada.


"Velyn, aku tanya, itu buat siapa?" tanya Vito melembut, membuat Revelyn tersadarkan dari lamunannya.


Gadis itu mendadak gelagapan, dia lalu menyodorkan bekal itu pada Vito.


"Buat kamu." ucap Revelyn.


Vito tersenyum lebar, "thank, kita bisa makan berdua." tawar Vito, gadis itu hanya mengangguk sambil sesekali melirik Leo yang masih menatapnya dari ambang pintu.


Leo menghela napasnya, dia lalu mengangguk sambilย menerima pemberian dari Alana.


"Makasih." ucap Leo, Alana mengangguk mantap.


"Mulai sekarang, gw bakal sering-sering bawain lo makanan."


Leo menggeleng, "lo nggak perlu repot-repot." ucap Leo sebelum akhirnya beranjak pergi. "karena gw nggak bakal makan ini." gumam Leo, mungkin hanya dia sendiri yang dapat mendengar.


Sepeninggal Leo, Alana kembali berjalan menuju tempat duduknya.


Saat melewati Revelyn, Alana tersenyum miring karena merasa menang.


Revelyn kembali duduk dengan tatapan hampa. Dia masih menatap kepergiaan Leo, padahal tadinya dia hanya ingin memberikan bekal pada cowok itu sebagai permintaan maafnya.


...๐Ÿ•...


Kelas XII IPS-5


"Kalian lapar, nggak?" tanya Leo sambil berjalan menuju tempat duduk Axele dan juga Geral berada.


Kedua sahabatnya itu spontan mengangguk mantap.


"Gw lapar banget."


"Gw juga, udah tiga tahun nggak makan." kata Axele yang spontan membuat Geral berdecak kesal.


"Mati lah anjir nggak makan tiga tahun!" kesal Geral sambil menjitak kepala Axele.


"Nggak tuh, buktinya gw hidup."


"Serah lo kampret."


Leo memutar malas bola matanya, dia lalu meletakkan kotak bekal itu di hadapan kedua temannya.


"Makan aja."


Senyum Geral dan Axele melebar, "beneran nih?" tanya Axele semangat.


Leo mengangguk, "iya."


Dengan semangat Axele membuka kotak bekal itu, dia semringah saat isinya adalah nasi goreng dan juga ada hiasan lainnya seperti telur, sosis goreng dan juga selada.


Dengan sigap Geral langsung menyuap sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


"Enak?" tanya Leo heran.


Ekspresi Geral berubah masam.


"Asin njir,"


Axele tertawa ngakak, "untung gw belum makan, tapi siapa yang buat nih nasgornya?" tanya Axele heran.


Dengan santainya Leo menjawab, "Alana."


Hal itu spontan malah membuat Axele menggebrak mejanya.


"Kenapa nggak bilang njir?!" teriak Axele semangat, dia langsung merebut sendok dari tangan Geral.


Dengan lahapnya Axele memakan nasgor asin itu, hingga membuat Geral menatapnya jijik.


"Kalau buatan ayang Alana mah bakal gw makan sampai habis, nggak peduli rasanya asin, pahit, manis, asem, tetap bakal gw makan! demi Alana!" teriak Axele meski mulutnya sekarang penuh makanan.


Geral memutar malas bola matanya, "dasar bucin kurang micin."


Leo memutar malas bola matanya sambil terkekeh pelan.


"Dasar gila."

__ADS_1


...๐Ÿ•๐Ÿ•๐Ÿ•...


__ADS_2