
Hari ini seluruh kelas 12 berkemah di dalam hutan, mereka akan berada di sana selama tiga hari tiga malam, dan pada malam harinya mereka akan mengikuti sebuah permainan yang beranggotakan masing-masing, dua orang.
Sesampainya di tempat tujuan, seluruh panitia di arahkan untuk membantu setiap siswa maupun siswi mendirikan tenda perkelas.
"Cara bangun tendanya gimana oi!" teriak Una, ia kesal setengah mati karena sedari tadi terus salah saat mendirikan tenda.
"Ya teriakin aja tendanya, entar juga dia bangun sendiri." ucap Vivi terkekeh, ia wakil ketua kelas IPA-1, Vivi berkacamata sehingga ia selalu di panggil kutu buku padahal Vivi sama sekali tidak suka baca buku.
"BANGUN TONG!" teriak Una sambil mendelik kesal ke arah Vivi.
"Udah belum?" tanya Revelyn, ia baru saja datang bersama Miselia.
"Gw nggak bisa!" keluh Una, ia mendengus pasrah.
"Bangun tenda aja nggak bisa, gimana mau bangun rumah tangga." sindir Miselia membuat Revelyn tertawa sambil menyikut lengan gadis itu.
"Gw bukan kuli bangunan rumah sama tangga!" jawab Una menatap Miselia kesal.
Miselia hanya memutar malas bola matanya sambil berkecak sebelah pinggang, gadis itu lalu bergumam, "bego deh." mungkin hanya ia dan Revelyn yang mendengar, pasalnya Revelyn terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Oh astaga! Ganteng banget anjir."
"Gila-gila gw nggak kuat sumpah!"
"Leo ya ampun, aku meleleh karenamu."
"Kyaa, dia nyamperin siapa tuh?"
"Velyn deh kayaknya."
Merasa ada suara ribut-ribut, Revelyn, Miselia, dan Una lantas menoleh ke arah sumber suara.
Mereka sedikit terkejut dengan kehadiran Leo yang berjalan menghampiri Revelyn, cowok itu memikat semua mata hingga tak lepas memandangnya. Leo mengenakan jaket berwarna coklat, serta t-shirt berwarna putih, dan celana jeans. Aura ketampanan cowok itu benar-benar memikat, bahkan Revelyn tak berkedip saat Leo berjalan menghampirinya.
"Hai."
Suara Leo membuyarkan lamunan gadis itu, Revelyn mendadak grogi.
"Iya?"
"Bisa ikut gw sebentar, nggak?" tanya Leo, ia melempar senyum ke arah Revelyn.
Melihat Leo tersenyum membuat sebagian siswi yang berada di belakang Revelyn terpesona, mereka memekik histeris karena senyum pangeran sekolah itu.
"Ngapain?" tanya Revelyn heran, namun Leo malah menarik tangannya hingga mau tak mau gadis itu menurut.
Revelyn terdiam, ia memandangi tangan Leo yang memegang erat tangan kirinya.
Revelyn lantas tersenyum, ia merindukan genggaman tangan Leo saat memegang tangannya.
Saat sudah menjauh dari keramaian, Leo menghentikan langkahnya, ia menatap Revelyn yang berada di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Revelyn menatap Leo heran.
"Kita di sini bermalam cukup lama, dan sesuai janji gw sama Regan, gw harus jaga lo baik-baik. Bisa nggak, lo jangan jauh-jauh dari gw? gw takut lo kenapa-napa." pinta Leo, ia menatap Revelyn lekat, bahkan tatapan Leo nampak sayu dan sangat berharap Revelyn menurut.
Namun gadis itu terdiam sebentar, ia lalu tersenyum sambil mengangguk.
"Oke, tapi lo jangan terlalu khawatir, gw nggak bakal kenapa-napa. Lagipula, Vito juga ada buat jagain gw."
"Gw nggak peduli." jawab Leo datar, Revelyn lalu tertawa paksa karena merasa kembali canggung.
"O-oke."
Setelah itu Leo kembali tersenyum sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, Revelyn menatap Leo heran saat cowok itu menyodorkan sebuah gelang kepada dirinya.
"Buat lo, gw beli dua, gelang yang sama. Satu buat gw, dan satu lagi buat lo." ucap Leo, ia menarik tangan kanan Revelyn untuk memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Revelyn.
Gadis itu tertawa pelan, ia teringat saat kecil dulu, Leo pernah membeli dua gelang yang sama, satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Revelyn. Karena Leo selalu bilang, gelang yang sama, agar dirinya dan juga Revelyn selalu bersama.
"Lucu." ucap Revelyn disela tawanya.
Leo juga ikut tertawa, "jangan-jangan lo keingat waktu dulu yak?" tebak Leo, gadis itu mengangguk.
"Iya, gw masih ingat gimana ekspresi lo waktu dulu, saat ngasih gelang buat gw."
Revelyn tak berhenti tertawa, ia kembali teringat waktu dulu saat Leo membelikan gelang couple untuk dirinya. Bahkan Leo rela uang jajannya di potong oleh Wina, neneknya.
Dan saat memberikan gelang itu untuk dirinya, Leo selalu berkata bahwa mereka akan selalu bersama. Sudah lama Revelyn tidak mendengar kalimat itu terucap dari mulut Leo, entah kenapa ia merasa rindu.
Leo tersenyum, ia lantas menggenggam kedua tangan Revelyn lekat.
...🍕...
19:45 p.m
Malam harinya semua murid membuat dua barisan untuk siswa dan siswi secara terpisah, kedua kubu itu saling berhadapan, dan di tengah mereka sudah ada Pak Bayu, selaku panitia pelaksana yang akan membacakan apa yang akan mereka lakukan malam ini.
"Malam ini kalian akan di bagi tiap tim yang terdiri dari dua orang, dan tugas kalian ialah mencari bendera yang sudah panitia sebarkan di dalam hutan."
"Bendera itu terbatas, jadi kalian harus berebut untuk bisa mendapatkannya. Dan bagi tim yang tidak berhasil mendapatkan bendera, maka ia gagal, dan sudah pasti hukuman akan menunggunya."
Semua murid mengangguk paham atas penjelasan Pak Bayu, mereka semua terlihat bersemangat untuk permainan kali ini, bahkan saat Pak Bayu mulai membacakan nama setiap anggota tim.
"Baiklah, saya sudah membagi tim kalian, dan sekarang saya akan membacakan nama-namanya. Mohon di simak, dan saya tidak menerima protes apapun kalau kalian mengeluh atas anggota tim kalian.
Mereka mengangguk, lalu menjawab serempak, "siap pak." setelah itu mereka kembali diam sambil menunggu Pak Bayu membacakan list namanya.
"Baiklah, tim satu, dari kelas IPA-1, Revelyn Paulin. Dan dari kelas IPS-5, Leo Andhara."
Semua siswi mengeluh, padahal mereka berharap sekali agar satu tim dengan Leo. Tapi ternyata cowok itu malah satu tim dengan sahabatnya sendiri, Revelyn, sungguh beruntung sekali.
Mendengar bahwa Leo satu tim dengan Revelyn, membuat Vito mengepalkan kedua tangannya.
Vito lalu menoleh, ia menatap tajam Leo yang berada tak jauh dari dirinya. Merasa di tatap, lantas Leo balas menatap, Leo memberikan senyum miringnya pertanda bahwa ia menang kali ini.
__ADS_1
Setelah itu Leo menatap Revelyn yang berada tak jauh di hadapannya, Leo tersenyum, dan Revelyn balik tersenyum meski ia merasa canggung lagi.
Pak Bayu kembali membacakan anggota tim dua, yang juga terdiri dari dua orang.
"Tim dua, dari kelas IPA-1, Una Ananda, dan dari kelas IPS-5, Axele Adinata."
"WHAT?!" teriak Axele tidak percaya.
"YES!" Una malah bersorak dan meloncat-loncat, karena senang bisa satu tim dengan Axele.
"Ada apa Axele? mau protes?" tanya Pak Bayu serius, Axele langsung kicep saat wajah Pak Bayu nampak horror.
Axele mendengus pasrah, ia lalu menatap Una yang tak jauh di hadapannya, gadis itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Axele, alhasil membuat Axele bergidik ngeri.
"Tim tiga, dari kelas IPA-1, Miselia Agatha, dan dari kelas IPS-5 ...." Pak Bayu menjeda kalimatnya, sedangkan Miselia sungguh-sungguh berharap agar ia tidak satu tim dengan cowok kampret.
"Jangan sampai, please," mohon Miselia sambil menangkupkan kedua tangannya.
Melihat tingkah Miselia membuat Geral tersenyum meremehkan, Geral yakin gadis itu berharap tidak satu tim dengan dirinya.
"Geraldio Erlangga," lanjut Pak Bayu.
Namun bila sudah takdir, maka Miselia tidak dapat menolak. Gadis itu berdecak kesal sambil menatap Geral yang juga sedang menatapnya, Miselia lalu mengalihkan pandangannya karena malas sekali harus satu tim dengan cowok kampret itu.
"Lanjut tim empat dari kelas IPA-1, Alana Veronica, dan IPA-3, Vito Stevano." ucap Pak Bayu yang sontak malah membuat Alana kegirangan.
"Yes, gw satu tim sama Vito, memang ya, kalau udah jodoh nggak bakal kemana-mana." ucap Alana, sambil menatap Revelyn dengan senyum sarkastisnya.
Revelyn hanya diam, ia tidak marah saat tau Alana dan Vito satu tim. Lagipula ini hanya permainan, jadi Revelyn tidak perlu khawatir.
Pak Bayu kembali membacakan setiap nama-nama dalam satu tim, sampai pukul 20:30 p.m. Akhirnya Pak Bayu selesai membagi semua tim, ia menutup buku di tangannya sambil menatap semua anak muridnya.
"Ingat, setiap tim berpasangan, saya harap kalian para lelaki bisa menjaga mereka para perempuan." ucap Pak Bayu menatap barisan siswa lalu kembali menatap barisan siswi secara bergantian.
"Kalau ada sesuatu yang terjadi, segera balik ke posko, jangan malah bertindak gegabah sendirian, paham semua?"
"Paham, Pak." jawab mereka serempak.
Pak Bayu mengangguk, "sekarang bubar, dan persiapkan perlengkapan kalian seperti senter atau apapun. Kita akan mulai permainan jam sembilan, saya beri kalian waktu tiga puluh menit dari sekarang!"
Akhirnya mereka semua bubar untuk mempersiapkan perlengkapan, bahkan ada sebagian yang bersantai karena sehabis lelah berdiri.
Miselia mengambil handphonenya yang ada di kantong celana, ia mengernyit heran saat mendapat tiga misscall dari Regan.
"Kenapa?" tanya Revelyn, ia menatap Miselia heran sambil membuka tutup botol air mineral di tangannya.
"Ini Regan, dia misscall gw tiga kali, ada apa ya? gw jadi kangen nih, andai aja Regan nyusul gw kesini." ucap Miselia, ia mendadak cemberut.
Melihat ekspresi Miselia membuat Revelyn terkekeh, "semoga aja dia kesini, karena kangen sama gw." ucap Revelyn sambil menaik turunkan alisnya.
"Kangen sama gw dong, gw kan pacarnya!"
"Gw kan adiknya."
"Gw adiknya."
"Gw jodohnya!" ucap Una sambil menatap kedua sahabatnya malas, sontak Miselia dan Revelyn menoyor jidat gadis itu.
"Nggak usah ikut-ikut lo!" ucap Miselia sambil terkekeh.
"Habisnya kalian dari tadi debat, tuh di belakang kalian ada orangnya." ucap Una sambil melipat tangannya di depan dada.
Miselia mematung, perlahan ia membalikkan tubuhnya, apakah yang di katakan Una benar?
"Hai."
Benar-benar Regan, Miselia tidak percaya cowok itu datang menyusul kesini.
Namun Miselia dan Revelyn hanya diam di tempat, mereka masih tidak percaya Regan benar-benar datang.
Regan menghela napasnya, ia tersenyum sambil menghampiri kedua gadis itu.
"Kok diam aja? nggak senang ya?" tanya Regan, ia bahkan menyentil kening Miselia hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Ekhem, kayaknya Velyn harus pergi deh." ucap Revelyn senyam-senyum.
Regan tersenyum, "peluk dulu baru boleh pergi."
Lantas Revelyn terkekeh, ia mengangguk sambil memeluk Regan erat. Sesudah itu Revelyn menarik tangan Una, mereka berdua harus membiarkan kedua sejoli itu menikmati waktu mereka sebelum permainan di mulai.
"Kok telpon dariku nggak di angkat?" tanya Regan heran.
"Sorry, aku lupa non-aktifkan mode pesawatnya." jawab Miselia garuk-garuk kepala.
"Yaudah nggak papa." jawab Regan sambil mengusap puncak kepala gadis itu.
"Kamu kenapa nggak bilang-bilang mau kesini?"
Regan nampak berpikir sejenak, "biar jadi kejutan." jawab cowok itu santai.
Miselia tersenyum, ia bahagia Regan datang ke acara perkemahan sekolahnya.
"Oh iya, kamu lupa sesuatu." ucap Regan yang spontan membuat Miselia mengernyit heran.
"Lupa apa?" tanyanya heran.
"Pelukan selamat datang." jawab Regan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.
Miselia terkekeh, ia lupa, lantas gadis itu memeluk Regan erat. Miselia sangat mencintai Regan, bukan karena jabatan Regan yang seorang CEO muda, tapi karena sisi istimewa Regan yang bisa membuat Miselia merasakan yang namanya jatuh cinta dan juga bahagia karenanya.
Dari kejauhan Geral yang melihat langsung ternganga seperti orang bego, ia bahkan tidak berkedip memandangi Miselia dan Regan yang nampak bermesraan.
Leo mengernyit heran, ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Geral.
"Lo kenapa?" tanya Leo heran.
__ADS_1
Geral menoleh, "tuh pacarnya, 'kan?" tanya Geral, dan Leo mengangguk.
"Kenapa?"
"Gw merasa kalah telak." gumam Geral menghela napasnya.
...🍕...
21:30 p.m.
Tim satu, Revelyn dan Leo.
Semua tim sudah tersebar di hutan, mereka harus cepat menemukan bendera yang di cari. Karena, siapa cepat dia dapat. Dan yang berhasil mendapat setidaknya satu bendera, maka mereka sudah harus balik ke posko.
"Gw nginjak apa nih?!" pekik Revelyn, gadis itu memang takut jika harus berada di tempat gelap apalagi di dalam hutan.
"Leo! gw takut!"
Leo yang berada di depan Revelyn lantas berhenti, ia lalu mengarahkan senter di tangannya menuju kaki Revelyn.
"Nggak ada apa-apa." ucap Leo tenang.
"Ugh, gw takut ada laba-laba tau!"
Leo menaikkan sebelah alisnya, Revelyn memang takut terhadap laba-laba apalagi laba-laba yang ukurannya cukup besar.
"Di kaki lo."
"Kenapa? ada apa?" ekspresi Revelyn berubah, tubuhnya spontan mematung.
Leo tersenyum, ia lalu sedikit berjongkok untuk menyingkirkan laba-laba yang berada di kaki Revelyn.
Revelyn menghela napasnya, ia lalu bergidik ngeri saat membayangkan laba-laba tadi hinggap di kakinya.
"Sini tangan lo." titah Leo, gadis itu menurut.
"Kita pegangan tangan aja, takutnya entar lo malah nyasar terus jadi tarzan." ucap Leo alhasil membuat Revelyn menabok lengan cowok itu.
"Sembarangan!"
"Canda."
Revelyn cemberut, namun sirna begitu saja saat Leo semakin erat menggenggam tangannya. Akhirnya mereka berdua mulai berjalan meski Revelyn nampak takut jika terinjak sesuatu, namun Leo selalu bilang bahwa ada dirinya dan gadis itu tidak perlu merasa takut.
"Leo, itu benderanya 'kan?" tunjuk Revelyn, ia mendongak ke atas karena bendera itu berada di atas pohon.
"Kenapa harus di atas pohon sih." ucap Leo memutar malas bola matanya.
Revelyn menaikkan sebelah alisnya, ia lalu berjalan menuju pohon besar itu.
"Ada tangganya, niat amat Pak Bayu sampai ngasih tangga segala." Revelyn terkekeh karena ada tangga yang sengaja di tinggalkan agar mereka bisa menjangkau bendera berwarna maron itu.
"Yaudah biar gw aja yang naik."
"Biar gw aja." Revelyn terlihat yakin saat ia menawarkan diri untuk mengambil bendera itu, awalnya Leo terlihat ragu namun pada akhirnya ia mengangguk.
Revelyn tersenyum, ia menghela napasnya sebentar sebelum akhirnya naik ke atas tangga itu.
Dan untungnya Revelyn memakai celana jeans bukan rok pendek, jadi Leo yang berada di bawah tidak akan bisa melihat sempaknya. Eh!
Hal itu malah membuat Revelyn tersenyum karena ia tiba-tiba saja teringat moment saat ia dan Leo memanjat tembok belakang sekolah karena terlambat, dan pada akhirnya ia malah menindih tubuh Leo saat turun dari atas tembok itu.
Eh?
Tiba-tiba tubuh Revelyn hilang keseimbangan, gadis itu berteriak keras saat tubuhnya terjatuh ke tanah.
Bruk
Revelyn tersentak, ia malah jatuh tepat di atas tubuh Leo, bahkan wajahnya dan wajah Leo sangat dekat. Cowok itu diam, mata mereka saling berpandangan cukup lama.
"Eh kodok kepeleset, itu suara apa njir?!"
Samar-samar leo mendengar suara seseorang, lantas ia langsung menggulingkan tubuhnya dan tubuh Revelyn menuju semak-semak.
Namun jantung Leo malah berpacu lebih cepat karena posisinya sekarang berubah, yang awalnya Revelyn di atas tubuhnya sekarang gantian Leo yang berada di atas tubuh gadis itu. Benar-benar pose yang siapapun melihat, pasti akan salah paham.
Deg deg deg deg
Revelyn bersusah payah meneguk salivanya, ia sangat gugup apalagi kepalanya berada di antara kedua tangan Leo yang bersusah payah menopang tubuhnya sendiri agar tidak menindih tubuh Revelyn.
"Eh sorry."
Akhirnya Leo menjauh, ia lalu duduk sambil menepuk-nepuk jaketnya yang kotor.
Revelyn mengangguk, ia juga mengubah posisinya menjadi duduk sambil membersihkan pakaiannya yang juga kotor.
"Lo---" Leo menggantung kalimatnya, ia lalu terkekeh pelan, membuat Revelyn mengernyit heran.
"Gw kenapa?"
Leo masih tertawa, ia merasa lucu saat melihat daun serta kayu kecil tersangkut di rambut Revelyn.
Tanpa mengatakan sesuatu, tangan Leo langsung bergerak menuju rambut Revelyn, Leo membuang daun serta kayu yang tersangkut di rambut gadis itu. Leo lalu membenarkan rambut gadis itu agar kembali terlihat rapi.
Degupan jantung Revelyn kembali berpacu cepat, ia mendongak dan menatap Leo lekat. Mereka berpandangan cukup lama, bahkan perlahan Leo mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Revelyn.
Gadis itu kira Leo kembali ingin menciumnya, tapi ternyata Leo malah memeluknya erat. Cowok itu tersenyum sambil membenamkan wajahnya di pundak Revelyn.
"Velyn ...." lirih Leo yang masih membenamkan wajahnya di pundak Revelyn.
Gadis itu mengangguk, kedua tangannya masih berada di samping tubuhnya, gadis itu hanya membiarkan Leo memeluk dirinya tanpa balas memeluk cowok itu.
"Gw kangen lo, Velyn."
...🍕🍕🍕...
__ADS_1