
PRANG!
Mata Revelyn langsung terbuka, gadis itu terbangun dari tidurnya karena mendengar suara seperti barang pecah.
Gadis itu lantas duduk di pinggir ranjang, ia mengucek matanya sambil memandang ke arah pintu balkon kamarnya.
"Suara apaan tuh?"
Revelyn bergumam, suara barang pecah itu kembali terdengar lagi dari kamar Leo.
Gadis itu tersentak kaget, dia langsung bangkit dari duduknya sambil berjalan menuju balkon kamarnya.
"Leo? suara apaan itu?" teriak Revelyn dari balkon.
"Leo, lo ganggu tidur gw aja."
"Leo?"
Revelyn mengernyit heran, padahal lampu kamar Leo masih menyala namun cowok itu tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Leo, tell me something."teriak Revelyn lagi, namun pintu balkon kamar Leo belum kunjung di buka.
Gadis itu mendesah berat, namun matanya langsung memicing saat kertas berukuran A4 muncul dari balik gorden pintu balkon kamar Leo.
Di kertas itu tertulis, 'please dont bother me' yang alhasil membuat Revelyn mulai berekspresi serius.
"Le---"
"Velyn?"
Revelyn langsung menoleh, mendapati Regan berjalan menghampirinya.
"Kenapa? kok Kak Regan kayak denger suara barang pecah yak?" tanya Regan, ia berjalan menuju samping Revelyn.
"Suaranya dari kamar Leo, Velyn jadi khawatir."
Regan mengernyit heran, dari raut wajah adiknya sangat kentara bahwa Revelyn mengkhawatirkan cowok itu.
"Memangnya Leo kenapa?"
"Dia nulis di kertas, katanya dia nggak mau di ganggu." jawab Revelyn.
Revelyn sudah cukup lama mengenal Leo. Ia tau bagaimana Leo jika ada masalah yang menghantui pikirannya, dan ia tau jika Leo tidak mau di ganggu berarti masalah itu cukup serius.
"Tenang, sekarang kamu tidur aja. Besok kamu bisa tanya sama dia, sekarang biarkan dia nenangin dirinya dulu." saran Regan, ia mengusap puncak kepala adiknya.
Revelyn mengangguk pasrah, dia pun dan Regan mulai berjalan masuk ke dalam. Sambil menutup pintu balkon, Revelyn menatap sendu balkon kamar Leo sebelum akhirnya segera menarik gordennya.
...🍕...
"Mana pr kalian?"
Semua murid kelas XII IPS-5 terdiam kala Bu Retno, selaku guru Fisika menagih PR pada ketiga anak terbandel di kelas itu.
"Geral! mana pr kamu?"
"Nggak ada bu." jawab Geral santai sambil menguap, hingga membuat Bu Retno semakin naik pitam.
"Kenapa nggak ada?!"
"Nggak tau bu."
Bu Retno semakin mempelototi cowok itu yang duduk di barisan tengah, membuat Axele yang duduk di sampingnya cekikikan menahan tawanya.
"AXELE! KAMU JUGA, MANA PR KAMU?!"
Axele menghela napasnya, sebelah tangannya menopang dagu sambil menatap Bu Retno.
"Bu cantik, saya lupa ngerjain bu."
"KENAPA LUPA?! JANGAN ALASAN KAMU, AXELE! BILANG AJA MALAS!"
"NAH! itu Ibu tau, kenapa nanya lagi." jawab Axele cengengesan, alhasil seisi kelas mati-matian menahan tawa mereka.
"Dasar! mau jadi apa kalian nanti, kalau di sekolah aja malas belajar!"
"Mau jadi alien, Bu." timpal Axele yang semakin membuat Bu Retno marah.
"Jangan menjawab kamu!" kesal Bu Retno sambil menunjuk wajah Axele dengan penggaris.
Axele langsung terdiam, dia membuang muka dari Bu Retno karena berusaha menyembunyikan tawanya.
Bu Retno menghela napasnya, wanita itu lalu menoleh ke arah tempat duduk Leo.
Cowok itu hanya terdiam sambil menunduk. Pandangannya menuju buku pelajaran di atas mejanya, namun pikirannya entah melayang kemana.
"Leo, mana pr kamu?!" tanya Bu Retno dengan suara tegas.
Semua siswa dan siswi menatap ke arah Leo, namun cowok itu tetap diam sambil mendongak.
"Leo!"
Cowok itu menghela napasnya, dia langsung bangkit dari duduknya sambil berjalan keluar kelas. Meninggalkan para murid beserta Bu Retno yang menatap kepergiannya dengan ekspresi kebingungan.
"Leo kenapa?" Geral menoleh, menatap Axele heran. Namun Axele malah mengangkat bahunya sambil menggeleng.
__ADS_1
"Badmood mungkin."
...🍕...
Ketiga siswi kelas XII IPA-1 itu berdiri di tepi lapangan, mereka sedang menonton pertandingan antara tim basket kelas XII IPA-2 melawan tim basket kelas XII IPA-3.
"Itu si Juna dari IPA-2 hebat juga yak, lincah banget dia lari kayak tuyul." ucap Una pada Miselia yang berada di sampingnya.
"Kembarannya, si Edi dari IPA-3 juga tuh." ucap Miselia menambahi.
Revelyn yang sedari tadi fokus pada handphonenya kini menoleh ke arah kedua temannya, dia menaikkan sebelah alisnya heran.
"Siapa yang kalian maksud?" tanya Revelyn heran.
Spontan Miselia dan Una menjawab kompak, "JunaEdi." hingga tawa keduanya meledak.
"Anjir mantap banget, emaknya ngasih nama Juna terus kembarannya di kasih nama Edi." tawa Una puas.
"Kalau di gabungin jadi JunaEdi." timpal Miselia.
Revelyn yang mengerti maksud kedua temannya lantas ikut tertawa, setelahnya dia kembali fokus pada handphonenya.
"Lo kenapa? daritadi main handphone mulu." cibir Miselia, gadis itu lalu mendongak sambil menghela napasnya.
"Leo, gw belum ketemu dia daritadi. Gw khawatir, soalnya kemarin malam gw denger suara barang pecah dari kamarnya." jelas Revelyn murung.
Una dan Miselia saling berpandangan, "lo ke sekolah, bareng nggak?" tanya Una heran.
Revelyn menggeleng, "kata neneknya, Leo udah berangkat duluan. dan gw udah coba chat sama misscall dari pagi tapi sampai sekarang dia belum balas chat ataupun nelpon gw." jelas Revelyn semakin khawatir.
"Mu-mungkin Leo ada masalah?" tanya Miselia, sontak Revelyn menatap temannya itu lekat.
"Masalah apa yang nggak gw ketahui? dia selalu cerita semua masalahnya, kalaupun dia memang ada masalah kenapa dia nggak cerita sama gw?!"
"Ya nggak semua hal bisa di ceritain 'kan? pasti ada beberapa yang dia sembunyiin." ucap Miselia, dia menghela napasnya.
"Miselia benar." timpal Una sambil mengangguk setuju.
"Gw---"
"Revelyn!"
Yang di panggil Revelyn, namun yang menoleh malah Una dan Miselia.
"Eh ada Axele." sapa Una, dia cengengesan sedangkan Axele malah memutar malas bola matanya.
"Revelyn." Geral memanggil lagi, cowok itu lantas berjalan menghampiri Revelyn yang masih tertunduk sambil memandangi handphonenya.
"Apa?" tanya Revelyn, gadis itu akhirnya menatap Geral heran.
"Lo liat Leo nggak? dia tadi keluar kelas pas jam pelajaran pertama, tapi sampai sekarang nggak balik-balik. kami berdua udah nyari, tapi nggak ketemu." cerita Geral, cowok itu nampak cemas akan keberadaan Leo.
Axele geleng-geleng kepala sambil menepuk jidatnya, "jadi, lo tau nggak keberadaan Leo?" tanya Axele pada Revelyn.
Gadis itu menggeleng lemas, "gw juga nggak tau, gw bahkan belum ketemu dia sampai sekarang." jawab Revelyn.
Geral ber-oh sambil mengangguk, mereka semua lantas terdiam.
"Hai Velyn."
Semua mata tertuju pada Vito saat cowok itu berlari kecil menghampiri lalu menyapa gadis itu.
"Sejak kapan dia sok kenal sok dekat sama Velyn?" bisik Una di telinga Miselia.
Miselia lantas berdecak kesal sambil menyikut perut Una.
"Oh hai juga." sapa Revelyn balik.
Vito tersenyum sambil mengangguk, "oh ya gw mau ngajak lo makan di kantin, gimana mau nggak?" tawar Vito.
Awalnya tawaran Vito membuat semuanya saling berpandangan, detik selanjutnya Revelyn tersenyum manis sambil mengangguk.
"Boleh tuh, kebetulan gw lapar nih." terima Revelyn. "kalian mau ikut?" gadis itu menatap Miselia dan Una bergantian.
Namun kedua gadis itu malah menolak ajakannya secara halus.
"Lo duluan aja, gw udah kenyang." ucap Miselia terkekeh.
"Sebenarnya gw lapar, tapi udah kenyang karena liat muka Axele." jawab Una, gadis itu lalu menatap Axele sambil berkedip manja.
Hal itu sontak malah membuat Axele bergidik ngeri.
"Yaudah, ke kantin sekarang?" tanya vito.
"Oke."
Mereka berdua mulai beranjak pergi menuju kantin, meninggalkan ke-empat orang yang masih memandang kepergiaan mereka dengan ekspresi terheran-heran.
Mereka heran, bagaimana bisa Vito sang ketua osis yang jarang sekali terlihat berkomunikasi dengan cewek tiba-tiba mulai menyapa Revelyn dan mengajak gadis itu untuk makan di kantin?
Ada apa dengan Vito?
Kalau Leo tau hal ini, dia pasti marah. Batin Geral.
...🍕...
__ADS_1
Kantin SMA Sanjaya.
Vito tersenyum sambil meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja, dia lalu mengambil duduk di hadapan Revelyn.
"Thank." ucap Revelyn tersenyum, cowok itu mengangguk.
"Oh iya, kita boleh nggak jadi---" Vito menjeda kalimatnya, membuat Revelyn mendongak sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi apa?" tanya Revelyn sambil memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Vito terdiam, dia memandangi wajah gadis di hadapannya cukup lekat. Detik selanjutnya Vito tersenyum sambil menyuap nasi goreng, dia lalu kembali melanjutkan maksudnya.
"Teman?" sambung Vito.
Revelyn tersenyum sambil mengangguk, "kita memang udah jadi teman." ucap Revelyn terkekeh.
Vito sontak mendongak, dia tak percaya dengan ucapan gadis itu.
"Sejak kapan?"
"Sejak lo nolongin gw."
"Oh ya? syukurlah, gw senang." ucap Vito tersenyum hingga kedua matanya hampir terpejam.
Melihat Vito tersenyum lantas membuat gadis itu juga ikut tersenyum.
"Gw nggak nyangka, gw kira lo cuma Ketos judes, jutek, cuek, dan penuh aturan kedisiplinan. Tapi ternyata, lo ramah juga yak." Revelyn berujar sambil terkekeh, sedangkan Vito hanya menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring
"Hanya untuk orang-orang tertentu aja." jawabnya, Revelyn mengangguk sambil ber-oh panjang.
"Oh iya, gw boleh minta nomor telpon lo?" tanya Vito.
Revelyn langsung mengangguk, "boleh." jawabnya.
Mereka berdua lantas bertukar nomor telpon, lalu sesekali tertawa saat salah satu di antara mereka bercanda.
"Velyn!"
Revelyn dan Vito spontan menolah, mereka mendapati kehadiran Leo di tengah-tengah mereka.
"Leo?"
Kedatangan Leo membuat seisi kantin terdiam, mereka semua lantas memperhatikan Leo yang sepertinya marah melihat Vito makan berdua dengan Revelyn.
"Gw kesal! ayo pergi!" tegas Leo.
Cowok itu langsung menarik paksa tangan Revelyn, membuat Vito langsung bangkit dari duduknya.
"Leo tapi makanan gw belum habis."
"Gw nggak peduli!" jawab Leo, cowok itu langsung menarik Revelyn lagi untuk beranjak pergi.
Namun dengan sengaja Vito mengait kaki Leo dengan kakinya sendiri hingga cowok itu terjatuh ke lantai.
Brukk
Revelyn dan orang-orang yang ada di kantin kaget bukan main saat melihat Leo terjatuh, dan sang pelaku hanya tersenyum miring sambil melipat tangannya di depan dada.
Sontak perbuatan Vito membuat Leo langsung bangkit dari lantai, dia lalu berjalan kearah Vito sambil membalas perbuatannya tadi dengan sekali pukulan telak pada pipi Vito.
Buk
"Brengsek lo mau mati yak?!" teriak Leo marah, bahkan membuat seisi kantin terdiam termasuk Revelyn.
Tanpa basa basi lagi, Leo langsung menarik Revelyn lagi. Membawa gadis itu pergi dari kantin.
Namun sepanjang perjalanan Revelyn terus memberontak untuk minta di lepaskan.
"Leo, lepasin!" teriak Revelyn.
Leo melepaskan cengkramannya dari tangan Revelyn, cowok itu berdecak kesal.
Revelyn meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya.
"Lo nyakitin gw!" ucap Revelyn, namun Leo hanya memandangnya sebentar kemudian membuang wajahnya karena masih kesal.
"Lo ada masalah yak?! jawab gw, Leo!" tegas Revelyn lagi.
"Iya! emangnya kenapa?!" akhirnya Leo menjawab, namun nada bicara Leo nampak kasar terhadapnya.
"Lo nggak pernah begini sebelumnya sama gw. Kalau lo ada masalah, cerita sama gw."
"GW EMANG ADA MASALAH! YANG PERTAMA KARENA GW KESAL SAMA LO YANG MALAH MAKAN BERDUA SAMA DIA DI KANTIN!"
"Dan yang kedua---"
Nada bicara Leo terdengar melemah, cowok itu tertunduk murung sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Argh, sialan!" umpat Leo, cowok itu tidak sanggup menjelaskan dan lebih memilih beranjak pergi meninggalkan Revelyn.
"Leo! Leo lo mau kemana?!" Revelyn meneriaki cowok itu, namun Leo malah mengatakan hal yang membuat Revelyn semakin yakin---
"Jangan ganggu gw!"
Bahwa cowok itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
__ADS_1
"Leo." gumam Revelyn, dia memegangi pergelangan tangan kanannya sambil menggigit bibir dalamnya karena cemas akan Leo.
...🍕🍕🍕...